
Reno tertawa, lalu berjalan keluar dari lift bersama Walker. keduanya berpisah di lorong Karena ruangan Reno berada di sisi kiri sementara ruangan Walker di sisi kanan.
"Jangan ngelamun nanti kesambet, ingat sebentar meeting." Walker memperingati Reno. Kemudian ia pun masuk ke ruangan kerjanya. Meninggalkan Reno yang masih tertawa menatap ke arah Walker.
Kemudian ia melambaikan tangannya tanda ia mengerti pembicaraan Walker. Reno menghela napas untuk sementara dia masih bisa bernapas dengan baik tapi entah nanti Bos besar datang dia masih bisa bernapas seperti saat ini atau tidak, semua tergantung Nabila.
Ia membuka pintu lalu masuk ke ruang kerjanya dengan wajah tekuk. Beruntung sekretarisnya belum datang jadi tidak melihat tingkah Reno barusan yang tidak tenang. Pria yang selalu dijuluki 'pria baik-baik' itu melihat ke ruangan sekretarisnya.
"Syukurlah, Britney belum datang." Sesampainya di ruang kerjanya Reno mendudukkan tubuhnya di kursi kerja. Dia menopang kepalanya dengan kedua tangannya dengan kedua siku di topang di atas meja kerja, bayangan dirinya memukul Nabila dengan kasar kembali melintasi pikirannya.
"Reno...ceroboh sekali sih kau. Kenapa selalu tidak bisa menahan diri?" Dia menarik kasar rambutnya. Mengutuk perbuatan tadi pagi di apartemen Nabila. Reno pikir seandainya tadi pagi dia tidak ke apartemen Nabila mungkin Alfonso tidak akan datang ke perusahaan? Atau Stefani tidak akan menghubungi dia. Semua masih abu-abu mengapa dua orang ini mendadak membuat dia tidak tenang. Gelisah.
Tok...tok...tok...
Terdengar ada ketukan di pintu ruangannya. Reno mendoangakkan kepala menatap kearah pintu. Panik.
"Masuk!"
Karena sudah mendapat izin masuk, Britney pun membuka pintu ruangan Reno. Jangan tanya detak jantung Reno, sudah melewati batas normal semakin cepat. Reno pikir Alfonso yang menyuruh sekretarisnya memanggil dia?
"Semoga tidak." batin Reno.
Ceklek...
"Selamat pagi, Pak Reno." sapa Sekretaris sopan.
"Pagi. Ada apa?" Reno menatap sekretarisnya dengan tatapan aneh, seperti serigala yang hendak menerkam mangsanya. Dag dig dug... jantungnya serasa mau putus.
"Saya mengantarkan berkas untuk..."
"Letakkan di atas meja aja nanti baru saya periksa. Ini untuk meeting nanti, 'kan?" Potong Reno. Ia menarik napas lega. Lega dugaan dia salah.
"Baik. Betul pak saya mengantarkan berkas untuk meeting sebentar." Kemudian wanita cantik itu meletak'kan berkas itu di atas meja kerja Reno.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Permisi, pak." Sekretaris itu hendak keluar namun dengan cepat Reno memanggil lagi.
"Rit, tolong buatkan saya kopi tanpa gula." Reno memijit keningnya.
"Baik, Pak." Kemudian ia membungkukkan badan berpamitan meninggalkan ruangan Reno.
Menunggu kopinya Reno mengeluarkan ponsel dari kantong jasnya. Dia yang sejak tadi memikirkan soal Nabila dan kedatangan Bos besar membuat Reno gelisah, jarinya menggeser layar ponselnya. Reno ingin baca chat dari Stefani.
__ADS_1
[Reno, kau dan Nabila pingsan? Sehingga nomor kau maupun Nabila sama-sama susah di hubungi.]
Reno meletakkan ponselnya di atas meja.
''Benar dugaanku Stefani pasti akan terus chat sampai aku baca dan balas.'' Ia menghela napas lega setidaknya Stefani belum tau dia hanya mengkwatirkan Nabila. Reno dengan berat hati membalas pesan dari Stefani.
"Aku di kantor, Fan. Nabila semalam pulang dari jalan-jalan dia langsung kembali ke apartemennya. Kata Nabila dia kecapean jika harus kembali ke mansion lagi. Ada apa?" Reno lalu mengklik tombol kirim.
''Harapanku saat ini hanya Nabila. Semoga gadis licik itu tidak menceritakan apapun di kedua sahabatnya." Ia berbicara sendiri.
Sekretaris datang membawa kopinya.
"Permisi,"
"Hmmm,"
Britney meletakkan kopi diatas meja Reno. Dia lalu berpamitan keluar karena sejujurnya Britney tidak nyaman dengan tatapan Reno.
Reno menatap ponselnya menanti balasan dari Stefani. Tanganya meraih cangkir kopi lalu menyesapnya, " Lumayan buat hilangin pusing." Kemudia ia meletakkan lagi cangkir kopi itu di atas meja.
♥️♥️♥️♥️♥️
Kevin sudah tiba di mansion. Ia melirik ke sana-kemari namun ia tidak menemukan wanita yang ia cari.
"Jangan-jangan dia masih tidur? Tapi, aneh. Arghh... mungkin dia pergi ke apartemen Reno mencari amplop coklat itu? Kenapa aku begitu bodoh nggak memikirkan itu." batin Kevin.
"Bi..." panggil Kevin.
"Tuan, memanggil saya?" jawab pelayan itu.
"Bi, Nona Nabila sudah datang?" tanya Kevin, matanya mengawasi sekitar lorong kwatir ada yang datang.
"Nona Nabila nggak datang. Tadi malam dia pergi bersama pak Reno." jelas pelayan itu.
"Ouh...Terima kasih." Kevin meneruskan langkahnya menuju ruang makan menemui sahabat-sahabatnya yang sedang sarapan pagi bersama.
"Wah...setiap pagi begini terus lumayan pelayan di apartemen makan gaji percuma." Sindir Kevin kepada kedua temannya Gareth dan Andre.
"Kalau lapar makan bukan nyinyir." balas Andre.
"Nggak aku udah kenyang. Cepatan katanya mau sortir senj**ata. Soalnya nanti setelah dari markas aku ada urusan di luar." Kevin menarik kursi lalu duduk disamping Gareth.
"Hmmm...urusan diluar atau ngawasi Nabila." sela Stefani.
Mendengar ucapan Stefani. Kevin tertawa, '' Dua-duanya boleh.'' Entah apa maksud dari ucapan Kevin tapi ucapannya itu sudah mengganggu pikiran waras Leticia.
__ADS_1
Semua sudah selesai sarapan. Alfonso di temani Glen pergi ke perusahaan. Sementara Kevin, Andre dan Gareth pergi ke markas untuk mensortir senja*ta pesanan dari Ch**ina.
♥️♥️♥️♥️
Di kantor.
Meeting sudah selesai. Reno membawa berkas di tangan dia melangkah begitu pasti menuju lift. Sesampainya di depan lift Reno menekan angka dua puluh, lift berhenti Reno segera masuk tanpa memperhatikan siapa yang ada di dalam lift itu.
''Eh...ahh.. Oh...selamat...'' Ia gelagapan hendak berkata apa. Reno baru sadar sat dia menoleh ke samping ternyata ada orang yang dia berusaha hindari.Namun, orang itu satu lift dengan dirinya. Tangannya meremas berkas itu, dia sungguh-sungguh tidak tenang berada di dalam lift. Tangannya keringat dingin.
''Pagi, pak Reno.'' sapa Alfonso. Di kantor Alfonso memang bersikap dingin bahkan dia juga memanggil Reno dengan sebutan 'Pak'. Formal.
Reno hanya membungkukkan badan tanda ia memberi hormat.
''Duh semoga bukan karena masalah tadi pagi, bisa habis tubuh saya di cincang-cincang. Ngeri.'' batin Reno sembari bergidik ngeri.
''Reno, kau kenapa?'' tanya Glen yang melihat sikap Reno tidak tenang.
''Itu saya kebelet pipis.'' sahut Reno sekenanya. Persetan dengan tanggapan mereka Reno hanya ingin menyelamatkan dirinya.
Alfonso dan Glen saling memandang melihat sikap aneh Reno hanya bisa menggelengkan kepala, heran.Pria yang selalu terkenal wibawa, kalem dan profesionl hari ini sikapnya berubah seratus delapan derajat. Ada apa?
Sementara Reno terus menatap ke angka lift berharap benda berbentuk kapsul ini segera sampai di lantai dua puluh.
Ting...
''Pak Reno. Silakan liftnya sudah berhenti.'' ucap Alfonso tenang.
Reno masih bergeming. Pikiran dia melayang hingga tidak mendengar ucapan Alfonso.
Puk puk puk...
Glen menepuk bahu Reno.
''Jangan sentuh aku.'' bentak Reno. Ia menggerakkan bahunya tanda ia menolak di tepuk.
"Reno?"
Mendengar suara itu Glen. Barulah dia sadar, "Maafkan saya pak." ucapnya cepat . Reno canggung sungguh ia sangat canggung.
''Duh Reno fokus.'' Ia mengutuk dirinya dalam hati.
"Kau sakit?" tanya Glen cepata. Sebelum Reno keluar dari lift.
"Maaf. Saya sedang tidak sehat." bohong Reno.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pulang istirahat di apartemen saja," suruh Alfonso.