
Nabila mengambil pasta dan sikat gigi dia menggosok giginya. Usai menggosok gigi dan membersihkan mulut dengan air. Nabila keluar dari kamar mandi kakinya langsung menuntun ia keluar dari kamar tujuannya dapur.
Nabila berjalan ke arah lemari pendingin tangannya menarik handle lemari pendingin dua pintu itu pun terbuka.
"Duh, aku lupa, 'kan aku belum belanja stok makanan." Nabila berdiri melihat ke dalam lemari pendingin yang kosong tidak ada apa-apa di dalam sana. Ia menertawakan kebodohannya mengapa ia sampai lupa? Padahal jelas-jelas dia baru masuk apartemen ini tadi malam tentu belum ada stock makan di lemari pendingin di depan dia ini.
Ia menghela napas karena perutnya benar-benar lapar.
"Argh...sabar ya sayang mama ke supermarket belanja makanan dulu." Dengan berat hati Nabila berjalan lagi kamar.Tangannya mengambil tas dan ponselnya yang semalam ia letakan di atas nakas, tangannya menggulirkan layar ponselnya mencari letak supermarket terdekat di apartemen melalui aplikasi penunjuk arah.
"Di sini." Nabila tersenyum akhirnya dia mendapatkan Supermarket terdekat tepat di depan apartemen, " Lumayan tidak keluar ongkos transportasi." gumam Nabila. Tapi saat ia ingin mengembalikan ponsel ke dalam tasnya ada yang menggangu matanya.
"Ada pesan masuk. Tumben setahuku nomor ini nggak ada yang tau." Karena penasaran Nabila menggulir layar ponselnya hingga kebawa ia membuka pesan chat itu.
[Selamat pagi. Sudah bangun? Sarapan bersama, mau?] Chat dari nomor pribadi tidak ada nama ataupun nomor yang tertera. Tidak lupa si pengirim chat memberi dua emoticon hati.
Dahi Nabila mengernyit memikirkan siapa pengirim pesan itu.
"Reno? Tidak mungkin dia saja tidak mengin**ginkan b*ayiku." Nabila mencebik.
"Tapi siapa ya! Darimana orang itu tahu nomor baruku? Jangan-jangan ada set*an yang selalu mengikuti aku pergi? Bukannya aku sudah mengganti no*morku." Nabila berdecak kesal dia heran mengapa ada orang usil yang mengganggu dia pagi-pagi seperti ini.
Dia melanjutkan membaca notifikasi satu lagi yang membuatnya penasaran, "Ada yang mentransfer uang?" Nabila mengingat lagi nomor ini dan nominal yang masuk di rekeningnya.
"Pak Jack? Mengapa dia mengembalikan uang aku ya?" Nabila menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang dia pikir Jack membatalkan jual beli apartemen ini lalu jika benar ke mana dia harus pergi? Ini pertama kali Nabila datang di Paris.
"Bagaimana ini? Aku kan orang baru di sini." Nabila menitikkan air matanya dia merasa dirinya tidak beruntung lahir ke dunia ini karena tidak ada keberuntungan yang berpihak kepada dirinya. Dari orang tua, kekasih dan sekarang tempat tinggal?
__ADS_1
Nabila menghela napas.
[ Nona jangan sedih. Saya mengembalikan uang karena saya bersyukur berkat doa Nona putri saya sudah jauh lebih baik. Terima kasih Nona atas kebaikan hati non. Anggap saja apartemen ini tempat penginapan garyis untuk Nona selama di Paris."]
Nabila membaca pesan ini dia tidak habis pikir kenapa dia menemukan orang sebaik Jack? Pria yang usianya kira-kira lima puluh tahun itu begitu baik hati.
"Terima kasih pak. Saya janji jika saya sudah mendapat pekerjaan saya pasti mengembalikan uang pak Jack.'' Nabila menekan tombol send sayangnya pengiriman pesan gagal.
''Hmmm, mengapa aku diblokir pak Jack?'' Ia bertanya kepada dirinya sendiri.
Kemudian Nabila memejamkan matanya mengusap air mata dengan tisu. Ponselnya ia masukkan lagi ke dalam tas. Untuk saat ini dia ingin melupakan semua beban hidupnya yang tidak pernah lelah datang silih berganti. Nabila ingin hari ini dia fokus mencari pekerjaan tapi sebelum itu dia ingin mengisi kantong tengahnya dulu karena sang janin sudah melayangkan protes di dalam sana.
Nabila kemudian meneteng tasnya lalu berjalan keluar kamar. Tangannya menarik handle pintu lalu kembali menutup pintu apartemenya. Nabila masuk ke dalam lift.
Ting...
Dua menit kemudian lift berhenti di lobby Nabila keluar dari lift wanita hamil muda itu berjalan keluar lobby menemui Security yang berjaga di depan pintu.
''Pagi pak. Pak, maaf saya mau nanya apa benar sesuai yang saya lihat di aplika*si ada supermarket yang letaknya di depan apartemen sini?'' tanya Nabila memastikan seraya menunjukkan lokasi supermarket di ponselnya.
''Betul. Nona keluar dari sini lurus lalu belok kiri nah disitu supermarketnya. Ada tulisan besar di depan itu.'' jawab Security itu.
''Baik. Terima kasih, pak.''
''Sama-sama.''
Nabila pun keluar dari lobby dia berjalan menuju supermarket sesuai yang diarahkan security itu.
__ADS_1
Nabila tersenyum ternyata benar yang dikatakn Security itu ada supermarket besar yang terletak di seberang jalan. Nabila pun masuk ke supermarket dia mulai mengambil makanan untuk stock di lemari pendingin. Setelah merasa cukup makanan yang dia belanja Nabila berjalan e arah kasir untuk melakukan pembayaran.
♥️♥️♥️♥️♥️
Melihat Nabila keluar dari apartemen Kevin bergegas ke apartemen Nabila. Dia menekan digit pasword yang di berikan pak Jack. Kevin menghela napas ternyata Nabila belum mengganti paswordnya. Dia membuka pintu lalu meletakkan satu cam*era di ruang tamu benda kecil berbentuk bola mata kucing itu di tempel di guci yang ada bunga tepat di sudut sofa, dia pun juga memasang di dapur, serta kamar. Kevin melakukan itu dia ingin mengetahui ke mana Nabila pergi. Dia sangat tahu Nabila belum pernah ke Paris. Kevin kwatir Nabila tersesat, selain itu dia memang selalu ada di samping Nabil meskipun mengawasinya dari kejauhan.
Usai memasang cam*era pengin*tai di tiga titik yang menurut Kevin tempat kebiasaan Nabila duduk. Dia keluar dari apartemen Nabila tanpa mening*galkan je*jak apapun.
''Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan seperti aroma mawar ini.'' tulis Kevin di kartu yang ia tempelkan d bucket mawar putih sengaja Kevin letakkan di depan pintu, seakan ada orang yang baru kirim.
Kemudian Kevin kembali ke kamar karena tadi dia baru saja pulang dari jogging untuk sarapan dia juga membeli bunga untuk Nabila.
Kevin mulai membuka ponselnya seraya menyenderkan tubuhnya di sofa. Jarinya menari di layar ponsel. Kevin sedang mengatur menu ponsel untuk sambungan camera.
''Beres.'' Kevin meletakkan ponselnya diatas meja sofa.
♥️♥️♥️♥️
Ting...
Nabila keluar dari lift kedua tanganya membawa belanjaan. Nabila meletakan dua paperbag berisi belanja di depan pintu.
"Bucket bunga? Dari siapa ya? Apa ini semacam ucapan penyambutan bagi penghuni baru?" pikir Nabila dia pun dengan ragu mengambil buket yang tadi diletakkan di depan pintu lalu membaca kartu kecil yang terselip di buket. Benar untuk dirinya. Nabila pun membuka kartu dan membaca.
"To Nabila."
''Hai, Nabila. Selamat pagi, semoga hari mu menyenangkan seperti aroma mawar ini."
__ADS_1
"From pengag**um rah*asia mu."
Nabila mengangkat kedua bahunya seraya mengembalikan kartu ucapan di buket itu. Nabila membuka pintunya. Dia membawa masuk dua paperbag belanjaan dia tadi beserta bucket itu. Dia meletakkan bucket di atas meja sofa karena ia harus memasukan belanja tadi ke dalam lemari pendingin.