
Di Perusahaan.
Di ruang kerja Reno tidak tenang. Pria tampan itu berjalan ke arah jendela dia berdiri dengan dua tangan di masukkan ke dalam kantong celana pandangan Reno lurus kedepan menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi sungguh indah dilihat dari ruang kerjanya.
Kring kring kring...
Tiba-tiba ada panggilan telepon membuat Reno kaget.
"Huff panggilan dari siapa lagi?" Reno bergumam. Seraya mengayunkan kakinya menuju meja kerjanya. Sesampai di meja kerjanya Reno langsung meraih gagang telepon lalu menempelkan ditelinganya.
"Baiklah. Saya segera ke sana." Usai menjawab panggilan telepon, Reno meletakkan lagi gagang telpon. Ia menghela napas panjang badannya tiba-tiba lemas. Pasrah jika ia harus di pecat.
Reno keluar dari ruang kerja ia berjalan menuju ruangan Walker. Pria yang memiliki tinggi badan 185 cm itu kalut. Bagaimana tidak kalut dia saja belum mengetahui kenapa Alfonso dan Glen datang. Benar, ini perusahaan Alfonso dan dia bebas datang kapan saja tapi Reno takut kejadian tadi pagi sudah sampai di telinga Alfonso itu artinya mereka datang untuk memecat Reno?
"Tenang...tenang... tenang." Reno menenangkan dirinya sebelum tangannya mengetuk pintu ruang kerja Walker. Reno menarik napas lalu membuang napas dengan kasar.
Tok tok tok
Dia mengetuk pintu ruangan Walker tapi sesungguhnya jantungnya sedang tidak baik-baik saja.
"Masuk."
Deg...
Mendengar sahutan dari dalam ruangan meminta ia masuk. Jantungnya berpacu semakin kencang. Dia merasa oksigen dalam tubuhnya sudah menipis. Pingsan tentu tidak dia juga penasaran mengapa dia di panggil Alfonso.
Ceklek...
Reno menarik gagang pintu dengan ragu. Sebelum melangkah masuk Reno menyebulkan kepalanya dia melirik mencari keberadaan Alfonso. Melihat benar ada Alfonso. Reno pasrah di pecat atau tidak apapun keputusan dari Alfonso dia siap menerima.
"Permisi."
Reno membungkukkan badannya memberi hormat.
"Duduk, Ren." ucap Alfonso santai.
Reno sedikit merasa lega melihat sambutan Alfonso yang biasa saja tidak seperti orang yang sedang marah.
"Terima kasih." ucap Reno
"Hmmm." Alfonso hanya berdehem.
♥️♥️♥️♥️♥️
Nabila sudah tiba di salah satu rumah sakit disana ada seorang dokter kandungan yang cukup terkenal di negara Spanyol.
__ADS_1
"Terima kasih. Pak." Nabila menyerahkan dua lembar poundsterling kepada sopir taksi itu.
"Terima kasih. Non." balas sopir taksi itu.
"Sama-sama." balas Nabila.
Nabila keluar dari taksi. Dia berjalan ke arah ruang pendaftaran untuk mendaftar terlebih dulu untuk mengambil nomor antrian pasien.
Setelah mendapatkan nomor antrian beruntung Nabila mendapat nomor antrian urutan dua. Lega setidaknya dia tidak menunggu terlalu lama di sini. Tiga puluh menit menunggu nama Nabila akhirnya di panggil seorang berbaju putih. Perawat. Ia pun berdiri dari kursi berjalan masuk ruang periksa dokter cantik itu.
"Pagi, Dok." sapa Nabila saat ia masuk ke dalam ruang periksa.
" Pagi juga ibu Nabila." Dokter cantik itu senyum ramah.
"Silakan duduk."
"Terima kasih."
Nabila duduk di kursi berhadapan dengan dokter . Dia mulai menyampaikan keluhannya.
"Baik. Sebaiknya ibu berbaring dulu saya akan periksa dulu untuk memastikan keadaan janin ibu.'' ujar dokter itu.
Nabila segera berbaring di bed pasien. Sebelum melakukan pemeriksaan ia membersihkan tanganya dengan alkohol terlebih dahulu. kemudian dia menekan tombol dilayar monitor.
"Baik, Dok."
Setelah mendapat persetujuan dari Nabila. Ia mulai membuka kancing blouse Nabila. Setelah melepas kancing blouse. Perut Nabila di olesi gel lalu ia mulai menjalankan transducer di perut Nabila. Tampak di layar monitor janin yang masih berbentuk biji wijen itu baik-baik saja bahkan jantungnya berdetak normal sesuai usia janinnya.
''Kandungan ibu sudah masuk lima minggu ya buk.'' ucap dokter tangannya masih menggerakan transducer diperut Nabila, " Jantungnya bagus. Ibu dengar ini dtek Jantungnya," Dokter itu memberi waktu kepada Nabila mendengar jantung anaknya, Air mata Nabila tidak tertahankan ketika melihat ada bayangan bulat kecil bergerak disana.
"Sayang maafkan Mama," cicitnya dalam hati.
.Dokter itu tersenyum.Ia sudah terbiasa menyaksikan tangisan calon ibu. Itu lumrah karena siapa pun orang itu dia pasti bahagia ketika melihat ada nayawa lain sedang berbaring di dalam rahimnya.
"Bagaimana, sudah tenang Bu?" ucap dokter itu seraya membersihkan gel di perut Nabila dengan tisu. Lalu ia menutup lagi kancing blouse Nabila.
"Sudah. Dok." Nabila tersenyum.
Kemudian Nabila bangun dari bed pasien. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Terharu, melihat janinnya baik-baik saja. Ia juga merasa bersalah mengingat kejadian subuh tadi.
Nabila tersenyum kecut seraya mendudukkan tubuhnya di kursi untuk mendengar saran dari Dokter.
Usai melakukan USG dan mendengar semua saran dari dokter. Nabila pun membawa hasil USG itu dengan hati yang tenang.
"Terima kasih.Dok." ucap Nabila sebelum meninggalkan ruangan dokter.
__ADS_1
"Sama-sama, buk. Janinnya di jaga baik-baik karena ini masih rentan kegug**uran." saran dokter.
"Baik." Nabila tersenyum.
"Aku bersumpah mulai detik ini hingga aku mati nanti aku akan menjauhi pria yang bernama Reno untuk selama-lamanya." batin Nabila.
🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍
Kevin kembali ke markas karena tadi dia sudah berjanji jika urusanya selesai dia akan segera pulang ke markas.
Mobil sport putih itu berhenti di depan gedung serba hitam yang di jaga ketat banyak anak buah berbaju serba hitam dilengkapi senjata. Semua menunduk melihat Kevin turun dari mobil apalagi wajah pria itu ditekuk seperti bunga lagi yang sudah berabad-abad tidak disiram air.
''Sudah beres?'' Andre langsung menyambar Kevin.
''Hemm...Sudah.'' Kevin mendudukan tubuhnya di sofa ia bersender seraya memijit kening. Matanya terpejam tidak ingin melihat siapa-siapa kecuali Nabila.
Gareth dan Andre yang melihat Kevin sedang galau merasa heran.
"Daripada lu uring-uringan nggak jelas. Ambil ini aku beli dari Rusia." Gareth memberikan cangkir berisi kepada Kevin. Namun, Mafia itu menolak dia terus memijit keningnya.
" Thanks aku lagi nggak Mood." ucapnya.
'Ada apa sih lu? Kalau ada masalah cerita ke kita. Kenapa lu diam saja? Ini mengenai Nabila? Kenapa sih lu terus saja kejar dia secara kau tau dia uda menjadi kekasih Reno." oceh Andre.
Kevin tidak peduli dia tersenyum sinis.
"Betul. Sadar Vin, lu itu banyak sekali wanita yang tergila-gila kenapa masalah wanita lu seperti orang kehilangan arah? Ayo kita ke club' sekarang." Gareth berdiri bersiap-siap berangkat ke club tempat mereka melepas stres.
" Tidak. Kalian berdua pergi sendiri aja. Aku lagi nggak mood." Tolak Kevin. Dia berdiri dari sofa, "Kamu akan paham. Ketika hatimu jatuh kepada orang yang tepat," gumam Kevin.
Kevin meninggalkan Gareth dan Andre di bar itu. Kedua sahabatnya itu menatap Kevin heran seraya menggelengkan kepala. Sementara Kevin masuk ke salah satu kamar di markas itu. Kevin membaringkan tubuhnya di atas ranjang seraya menatap ke atas langit-langit kamar.
"Kamu ke mana?" Gumam Kevin seraya memejamkan matanya. Jika boleh dia ingin tidur berharap bangun nanti memori tentang Nabila sudah menghilang sungguh perasaan cinta ini telah menyiksa batin Kevin tapi sekuat apapun dia melawan tetap saja hatinya tidak bisa melupakan Nabila.
🤍🤍🤍🤍
Reno, Walker, Alfonso, dan Glen tertawa di ruangan Walker. Perasan takut tadi seketika berubah menjadi bahagia. Bagaimana tidak Reno mendapat kesempatan pergi ke California menghadiri undangan dari salah satu kolega Alfonso bukan sekedar menghadiri undangan biasa tetapi untuk mengajak bekerja sama.
"Aku nggak bisa tinggalin istriku di mansion sendirian. Jadi kau yang aku utus ke sana." ucap sang presiden perusahaan.
"Baik. Saya berjanji tidak akan mengecewakan tuan." sahut Reno.
"Syukurlah berarti si bodoh itu belum cerita ke siapapun." batin Reno.
Dia sangat senang di utus Presiden perusahaan ke California dengan kepergian dia. Nabila tidak bisa mencari dia untuk waktu yang lama. Satu minggu. Reno terus tertawa bayangan dia ingin dipecat sirna begitu saja.
__ADS_1