
Di Spanyol.
Reno sedang jogging di taman. Setelah satu jam jogging di taman Reno pulang tapi karena arah apartemennya melewati depan apartemen Nabila. Reno membelokkan mobilnya masuk ke area apartemen Nabila, sesampainya di lobby ia menghentikan mobilnya. Dia turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam lobby.
Reno masuk ke dalam lift menuju apartemen Nabila.
Ting...
Dua menit kemudian lift berhenti di unit apartemen Nabila.
Reno keluar dari lift ia berjalan menuju unit apartemen Nabila. Reno yang percaya masih ingat pasword pintu apartemen Nabila langsung memijit digit pasword pintu apartemen Nabila namun selalu muncul tulisan 'eror'.
''Sialan kenapa dia ganti pin? Sudah dua minggu dia tidak ada kabar ke mana dia?'' gerutu Reno. Pria itu penasaran bagaimana perkembangan janin itu apakah Nabila sudah di menggu**gurkan atau Nabila mempertahankan ba*yi itu? Dia juga heran mengapa wanita itu tidak lagi menelpon dia atau mengirimkan hasil USG lagi? "Jangan-jangan Nabila benar-benar mati?" Dia mengusap kasar wajahnya, "Tidak! kalau mati pasti pelayan cerewetnya itu sudah menelpon Leticia atau Stefani tapi tidak sama sekali." Dia menghela napas.
Ting...tong...
Reno akhirnya membunyikan bel pintu.
Pelayan Nabila berlari kearah pintu dalam hati dia berharap semoga itu Nabila. Tapi sesuai pesan Kevin pelayan itu tidak langsung membuka pintu dia masih melihat dari camera ternyata bukan Nabila, " Hadeh kenapa pria jahat itu lagi?" gerutu pelayan itu.
Pria yang telah menyakiti Nabila itu yang sedang menunggu didepan pintu apartemen. Tidak sabaran. Pelayan itu berlari ke kamarnya dia mengambil ponsel miliknya lalu langsung menghubungi Kevin. Karena, dia tidak mau mengambil resiko lagi.
Drthh...
''Tuan, pria yang menyakiti Nona waktu itu saat ini sedang berdiri di depan pintu apartemen Nona.''
Pelayan itu ketakutan.
[''Biarin. Bibi jangan buka pintunya. Saya akan ke sana sekarang biar aku yang urus dia nanti.]
__ADS_1
Geram Kevin untung saja malam tadi Kevin pulang karena ada pekerjaan yang membutuhkan Kevin. Jadi, ini kesempatan dia bertemu Reno selama ini dia menahan diri karena Nabila masih di Spanyol itu yang selalu membuat Kevin menahan diri tapi tidak dengan hari ini.
"Baik. Tuan."
Pelayan itu pun mengakhiri panggilan. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Kevin, sesekali dia mengintip lewat camera. Karena gelisah ponsel yang ia pegang di pukul-pukul di telapak tangannya.
"Kenapa pria jahat ini datang lagi? Apa dia tidak tau Nona pergi karena perbuatan dia? Gemas aku dengan pria seperti itu. Tampan doang cakep tapi hatinya mirip Lucifer." Pelayan itu meninju didepan camera pintu seakan dia benar-benar memukul wajah Reno.
Tidak lama Kevin datang dia menarik kerah baju olahraga Reno hingga oria tampan itu kaget. Kevin membawa Reno ke samping apartemen dekat tangga darurat. Pelayan itu kaget melihat Kevin begitu kasar menarik Reno sayangnya setelah itu mereka menghilang karena jangkauan camera hanya di depan pintu saja.
"Ahh rugi aku tidak bisa melihat Dia di hajar Tuan Kevin. Bagus, hajar dia tuan aku dukung dari samping eh salah dukung dari belakang. Mulut-mulut kalau dukung dari samping yang ada aku yang ditonjok sama kedua pria itu. Hihihi." Pelayan itu kesenangan sampai salah bicara.
Kemudian, dia kembali membungkus pesanan customer.
♥️♥️♥️♥️♥️
"Lepaskan aku, Kevin." bentak Reno. Dia berusaha melepas tangan Kevin yang menarik kasar kerah bajunya.
Tapi tidak! Kevin masih ingin bermain-main dengan dia. Sudah lama Kevin tidak melemaskan otot-otot tangannya.
"Maksudmu apa? Aku nggak ngerti maksud kau. Kau datang-datang seperti orang kerasukan setan." Reno pun menatap tajam Kevin dia berusaha melepas diri dari Kungkungan Kevin tapi gagal.
"Ck...munafik lu! Sok alim, sok iya, sok cakep, lu." Kevin berdecih.
"Emang aku cakep, uda faktanya. Lu iri?" Reno tertawa mengolok. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Kevin.
Brugh...
Satu kali pukulan mengenai wajah Reno.
__ADS_1
"Cih...Aku nggak akan iri dengan pria yang suka manfaatkan wanita."
Reno mengelap darah segar yang mengalir dari sudut bibir Reno dengan punggung tangannya.
"Apa katamu? Aku manfaatkan wanita? Nabila itu gadis tidak tahu malu." Sorot mata Reno menatap tajam Kevin " Hahaha.... perempuan yang kau sanjung itu menolak kau karena pekerjaan kau itu hina! Apa kau tidak tau? Demi menjauhi kau, wanita itu dengan tidak tahu malu menyatakan cinta kepadaku, hahahah..." Reno tertawa puas.
Brugh.
Satu kali lagi pukulan tepat di perut Reno.
"Tutup mulut busuk Kau! Pekerjaanku tidak hina. Jangan pernah membawa-bawa pekerjaan dalam urusan wanita." Kevin mulai emosi.
Dia marah kenapa urusan cinta harus dikaitkan dengan pekerjaan? Apa Reno tidak tahu seberapa besar dia pertaruhkan nyawanya demi pekerjaan ini? Cukup, Nabila saja yang mengatakan pekerjaan dia menakutkan bukan Reno.
Tidak!
Dia tidak terima hinaan seperti ini.
"Itu Faktanya, Vin. Lu mau dapat apalagi dari dia? Wanita itu udah nggak virg*in lagi. Karena dia dengan sukarela menyerahkan dirinya ke aku! Cih... bodohnya wanita itu dia pikir aku bisa jatuh cinta kepada dia. Hanya karena dia menyerahkan dirinya. Hahah..." Reno berdecih menyeka darah segar yang semakin menetes dari sudut bibirnya.
"Brengs**ek!"
Brug...
Brugh...
Kevin seperti orang kesetan, dia mengha*jar Reno hingga babak belur. Dia tidak peduli rekaman cctv di apartemen itu nanti. Kevin membalikkan badan melihat anak buahnya sedang berdiri di tangga darurat dia lalu berkedip mata dan anak buahnya itu segera berlari ke arah monitor cctv.
Beres.
__ADS_1
Kevin marah dia bisa terima jika dia dihina jelek. Tapi, dia tidak Sudi pria seperti Reno menghina Wanitanya.