
Akhirnya mobil Kevin berhenti tepat di lobby apartemen Nabila. Kevin bergegas keluar dari mobil dia membukakan pintu untuk Nabila.
"Akan ku antar kau sampai didepan pintu apartemen," ucap Kevin.
Nabila yang hendak keluar dari mobil membiarkan satu kaki diluar pintu sementara satu kaki lagi masih di dalam mobil, " Untuk apa?"
"Memastikan kau benar-benar masuk ke apartemen mu dengan selamat." Kevin mengedipkan matanya membuat Nabila menaikkan bibir atasnya.
"Bukannya tadi sudah Jan..."
Belum juga Nabila selesai bicara Kevin sudah memotong ucapan Nabila,. "Itu tidak ada dalam perjanjian tadi. Kau hanya mengatakan aku diam tidak boleh menanyakan apapun yang tidak ada kaitan dengan aku. Bukan kah tadi sepanjang perjalanan kita diam-diaman?" Kevin tersenyum merasa diri menang.
Nabila memutar mata malas. Dia pun turun karena capek berdebat percuma juga pria itu pasti akan memaksa ikut.
"Terserah. Aku mau masuk capek, mau tidur," Nabila berjalan masuk lobby meninggalkan Kevin yang masih menutup pintu mobil.
"Cantik-cantik ketus." Kevin terkekeh geli seraya mengikuti Nabila dari belakang.
"Aku dengar," sela Nabila. Dia melirik Kevin.
"Bagus dong kalau dengar artinya pendengaran mu masih bagus," timpal Kevin santai. Pria itu memasukan kedua tangannya ke kantong celana masing-masing sembari terus tersenyum dia melangkah masuk ke lift mengikuti Nabila yang sudah masuk lebih dulu didalam lift.
"Lama-lama kau bisa jadi pengawalku," sindir Nabila.
"Daridulu aku memang pengawal pribadimu tanpa bayaran." Kevin mengedipkan mata.
"Menyebalkan," sungut Nabila.
"Tapi keren,"
Perdebatan itu berakhir setelah lift berhenti. Nabila dan Kevin segera keluar dari lift dia terus mengikuti Nabila dari belakang sesekali dia bersiul.
"Ya udah balik sana," ucap Nabila kesal.
"Kan belum sampai depan pintu mu," sahut Kevin. Dia berjalan lebih cepat lalu berjejer dengan Nabila tangannya melingkar dileher Nabila lalu merapatkan tubuh Nabila ke dalam dadanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Nabila. Tidak peduli kau bosan mendengar ungkapan aku ini tapi ini lah hati dan perasaanku, untukmu." Kemudian dia melepas lagi Nabila.
"Apa-apaan sih." Nabila memasang wajah marah.
"Aku mencintaimu, Nabila." ulang Kevin lagi.
"Bermimpi aja terus, sampai kapan kau bisa bangun dari mimpi mu." Nabila memijit digit password pintu apartemennya. Lalu dia bergegas masuk tangannya hendak menutup pintu namun Nabila kalah cepat Kevin sudah menahan pintu dengan kakinya.
"Nggak sopan bangat, udah diantarin gratis nggak nawarin minum." Kevin melirik jam mahal yang melingkar ditangan kirinya, "Udah pukul sepuluh malam pantasan aku lapar." Dengan tidak tau malunya Kevin masuk ke dalam apartemen Nabila tanpa menunggu jawaban setuju dari Nabila. Dia lantas duduk di sofa sembari menaikkan kaki kiri diatas kaki kanannya, matanya menatap Nabila yang kesal kepadanya.
"Siapa juga yang minta diantarin." sungut Nabila. Dia berjalan melewati Kevin yang masih duduk santai disofa ruang tamu terus ke kamarnya.
Pelayan Nabila belum tidur, Kevin melambaikan tangan kepada pelayan itu dia meminta Pelayan itu datang menghadapnya.
"Ada yang bisa di bantu, Tuan?" tanya pelayan itu sopan.
"Nona Nabila, punya stok makanan apa aja di dalam lemari pendingin?" tanya Kevin santai.
"Ada burger, pasta, spaghetti." Wanita paruh baya itu menyebut beberpa makanan yang ada di lemari pendingin Nabila.
"Baik, Tuan." Pelayan itu membungkukkan badan dia lalu berjalan kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan Kevin.
Sudah menjadi kebiasaan Kevin makan ditengah malam. Pekerjaan dia yang bekerja di malam hari membuat Kevin menjadi kebiasaan makan tengah malam.
Nabila sudah berganti pakaian dia lalu keluar dari kamarnya mencoba mengintip Kevin dari balik dinding ternyata mafia itu tidak main-main, dia masih duduk santai di sofa ruang tamu dengan tangannya direntangkan di lengan sofa. Lebih menjengkelkan lagi Kevin menyetel televisi lalu menaikan volume tinggi membuat Nabila kesal.
"Pendengaran kau sudah terganggu? Uda bertamu di rumah orang, bertindak pun sesuka hati." Nabila meraih remote televisi, dia menyetel lagi volume kembali ke standar.
"Sengaja. Biar yang tidur bangun." Kevin tersenyum sembari menepuk sofa di sampingnya, " Sini duduk dekat aku." panggil Kevin.
"Nggak mau. Ingat aku mau menikah, jangan sampai kau melupakan itu." ujar Nabila.
"Menikah? Tadi saja kau menangis-menangis. Dasar, pintar sekali bersandiwara." batin Kevin.
Pelayan pun datang membawakan dua piring berisi spaghetti Mozarella. Tadi diam-diam Nabila menyebul keluar kepalanya dari kamar. Dia pun memesan Spaghetti yang sama dengan Kevin. Nabila masih ingat waktu di taman dia makan es cream bersama Kevin sama sekali tidak mual apalagi muntah karena itu malam ini dia ingin mencoba lagi makan Spaghetti bersama Kevin lagi. Nabila ingin tau dia masih muntah atau tidak lagi. Karena, perutnya sebenarnya lapar hanya saja Nabila malas makan karena setiap makan dia harus mengeluarkan kembali semua yang di makannya.
__ADS_1
"Dua porsi? Satu untuk siapa? Bukannya tadi aku pesan satu porsi aja?" protes Kevin. Ia masih ingat tadi dia memesan satu psori lalu mengapa sekarang jadi dua porsi?
"Satu untuk aku," jawab Nabila cepat.
Kevin menahan tawa, "Tadi katanya nggak mau makan, diet takut gendut." gumam Kevin seraya menyuapkan Spaghetti ke dalam mulutnya.
Nabila hanya memutar mata malasnya. Dia tidak mau menanggapi ocehan receh Kevin, karena cacing dalam perutnya sudah berdemo. Nabila terus menyuapkan spaghetti suap demi suap ke mulutnya hingga membuat Kevin pun melongo.
"Bukannya tadi di mansion dia makan dikit udah muntah.Tapi, Kenapa sekarang dia seperti orang yang tidak pernah makan setahun? Jangan bilang bayinya juga setuju aku jadi ayahnya. Asyik... dapat dukungan dari si janin. Makasih cintanya papa Kevin," batin Kevin.
Kevin menghentikan makannya, dia mendadak jadi kenyang melihat Nabila makan. Menyadari Kevin hanya menatap dirinya, Nabila melirik Kevin, "Kenapa melihat aku seperti itu? Apa hari ini aku terlalu cantik ?" Nabila tertawa lalu melanjutkan makannya. Lelehan keju mozzarella yang langsung meleleh di dalam mulut membuat selera makan Nabila membaik. Benar saja tidak sampai setengah jam satu porsi Spaghetti sudah habis dimakan Nabila. Dia lalu meletakkan garpu dan sendok ke dalam piringnya.
Glek..
Nabila langsung bersendawa. Kevin yang mengerti hanya tersenyum. Rasanya dia ingin memeluk wanita itu tapi Kevin masih menahan diri.
"Udah kenyang?" tanya Kevin.
"Hmm," Nabila mengangguk. Tangannya mengusap-usap perut ratanya. tanpa Nabila sadari Kevin mengamati gerakan refleksnya.
"Oh aku pikir kamu masih lapar, ini masih ada punyaku habisin aja nggak apa-apa." ucap Kevin. Dia menyodorkan piring berisi Spaghettinya.
"Nggak. Aku uda kenyang. Sekarang mataku jadi ngantuk bangat." Nabila menutup mulutnya dengan tangan karena habis menguap. Wanita itu heran mengapa sampai selesai makan dan anehnya sudah sepuluh menit berlalu tapi dia sama sekali tidak merasakan mual justru dia merasakan mengantuk berat.
"Ya udah tidur sana aku juga mau pulang. Makasih ya jamuan makan tengah malamnya. Sering-sering jamu aku seperti ini." goda Kevin. Karena dia sekarang sudah tahu jawabannya.
"Terima kasih udah antarin aku." ucap Nabila.
"Sama-sama," balas Kevin.
Setelah berpamitan Kevin berjalan keluar dari apartemen Nabila. Kevin menghela napas, ia merasa lega wanita pujaannya akhirnya bisa menghabiskan satu porsi Spaghetti, hebatnya Nabila tidak muntah sama sekali.
Sebelum berjalan masuk ke dalam lift. Kevin berdiri ia menatap pintu apartemen Nabila, "Seandainya kamu mengizinkan aku menemani kamu makan aku selalu siap Nab. Demi janin mu tidak kekurangan nutrisi dan kamu juga tidak kurus. Sayangnya, kamu masih bersandiwara mempertahankan Si brengs*ek itu." batin Kevin, dia menatap pintu Nabila lamat-lamat. Kevin menunduk sedih berjalan masuk ke dalam lift. Berat langkahnya meninggalkan Nabila sendiri di apartemen ini tapi apa dayanya dia tidak ada hubungan apapun dengan Nabila.
"Aku hanya bisa mencintai mu dalam diamku," batinnya seraya menekan tombol lift menuju lobby apartemen.
__ADS_1