Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Terharu.


__ADS_3

Di Apartemen Nabila.


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi Nabila merasakan perutnya mendadak tidak enak. Mual. Nabila menyibak selimut ia turun dari ranjang bergegas masuk ke kamar mandi benar saja baru juga sampai depan wastafel perutnya sudah menuntun ia mengeluarkan isi perutnya.


Huek...huek...huek...


"Sayang," lirihnya. Tubuhnya lemas, perlahan tangannya mengusap perut ratanya. Kedua tangannya menopang sisi wastefel. Nabila berdiam sejenak mengumpulkan lagi tenaganya.


Setelah tenaganya terkumpul Nabila menekan kran air. Tangannya meraih tisu lalu membersihkan mulutnya. Ia menatap wajahnya di cermin yang menempel di dinding kamar mandi tepat diatas wastafel.


Nabila menyentuh pipinya yang masih ada bekas lecet mungkin itu terkena kuku Reno. Ia menghela napas, matanya terpejam akhirnya butiran kristal itu jatuh lagi tanpa ia minta.


Argh..sialan.


''Nabila, come on, please jangan menangis lagi.'' Ia tersenyum sinis menatap bayangan dirinya di kaca itu. Merasa kasihan dengan dirinya dan janin yang berada di perutnya. Nabila menggelengkan kepalanya.


"Nak...Dia tidak pantas menjadi Ayahmu. Kelak dewasa nanti Mama akan menjelaskan mengapa kamu hidup hanya bersama mama. Ya mungkin begitu jauh lebih baik." batin Nabila. Air matanya semakin deras mengalir. Ia menunduk sedih dibawah kaca itu dengan kedua tangan menopang diatas wastafel.


"Hufft...Deal sayangku." gumam Nabila.


Sepuluh menit menangis di depan kaca membuat hatinya lega. Akhirnya Nabila memutuskan membersihkan tubuhnya. Karena, pagi ini dia berencana ke rumah sakit untuk mengecek kondisi janinnya. Nabila kwatir janinnya kenapa-kenapa mengingat tadi Reno menghempaskan tubuhnya di atas ranjang cukup kuat dan ia merasakan punggung serta pinggangnya sakit. Benar dia tidak merasakan sakit di perutnya tapi dia ingin memastikan saja.


Setengah jam membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Nabila akhirnya keluar dari kamar mandi tubuh sudah segar. Dia berjalan keluar hanya mengenakan handuk kimono berwarna biru.


Nabila berjalan ke arah meja rias. Dia mendudukkan pantatnya diatas kursi depan meja riasnya. Ia mengambil hair dryer yang tersimpan di dalam laci meja rias, Nabila menancapkan kabelnya di terminal listrik lalu jarinya menekan tombol hair dryer itu Nabila mulai mengeringkan rambutnya.


Namun, saat sedang mengeringkan rambutnya ponselnya berdering. Nabila beranjak dari kursi menuju nakas yang berada di samping ranjang. Ia meraih benda pipih itu lalu menggeser layar ponselnya.


"Stefani? Ada apa ya? Tumben dia menelepon aku sepagi ini," gumam Nabila saat ia menatap layar ponselnya ternyata yang menelpon Stefani.


Nabila menggeser tombol hijau itu lalu menempelkan di telinga nya, "Hallo, Fan? Ada apa?" tanya Nabila.


[Nab, lu benaran di apartemenmu?] tanya Stefani. Nabila tersenyum ternyata sahabatnya sangat mencemaskan dirinya.


''Iya. Aku di apartemenku. Mobilku nanti sorean aja baru aku ambil ini masih sibuk bangat ada banyak pesanan.'' Terpaksa Nabila berbohong. Ya sementara anggap saja berbohong demi kebaikan tidak apa-apa namun sebenarnya hatinya sakit.


'[Syukurlah jika lu di apartemen. Tadi pagi kita semua cemas mana nomor mu dan Reno di hubungi nggak ada yang terima. Kita kwatir banget.]


Lagi-lagi Stefani membuat Nabila berkaca-kaca. Nabila merasa dirinya beruntung di saat kekasihnya membenci dia namun kedua sahabatnya sangat menyayangi dia.

__ADS_1


''Thanks, Fan. Lu sudah kwatirin aku. Peluk virtual, Fan.'' Nabila mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


[Kita sudah seperti saudara Nab. Lu kenapa? Dari suara aku bisa tebak lu sementara menangis. Jangan bilang Lu dan Reno sedang berantem.]


Deg


Jantung Nabila serasa mau copot. Dia kwatir Reno telah membongkar kehamilannya karena dia kesal dengan hasil USG yang jatuh di depan pintu apartemennya. Atau Kevin?


''Nggak, Fan. Kami baik-baik saja,'' Nabila kembali berbohong, ''Ya udah tutup dulu ya aku mau bungkus pesanan costumer.'' Nabila segera mengakhiri panggilan tanpa Ia menunggu jawaban dari Stefani.


Nabila membawa ponselnya ke meja rias. Dia lanjut mengeringkan rambutnya. Setelah lima menit mengeringkan rambut. Nabila mulai merias wajahnya. Dia mengambil Foundation mengoles di pipinya untuk menutupi bekas tamparan Reno tadi. Setelah itu Nabila mulai mengoles lagi dengan bedak, tidak lupa ia menggoreskan lipstik berwarna senada di bibir indahnya.


"Sudah." Nabila memutar badannya didepan kaca memperhatikan tubuhnya yang mulai lebih berisi.


Dia lalu meraih ponsel memasukkan ke dalam tasnya. Tas tenteng dari salah satu brand ternama di Spanyol itu dia tenteng di bahu kirinya. Tampilan Nabila pagi ini tidak seperti wanita yang sementara hamil tetapi mirip seorang gadis. Ya...ya... pancaran aura wanita hamil memang sangat cantik benar bukan? Nabila menghela napas keputusan sudah dia ambil. Kaki jenjangnya membawa dia keluar dari kamarnya.


"Bi, saya masih pergi ke tempat Leticia." Pamitnya kepada sang pelayan. Saat ia bertemu pelayannya sedang merapikan ruang tamu.


"Non, sudah sehat? Makan dulu, Bibi sudah buatkan sarapan." Pelayan itu benar-benar mengkwatirkan kondisi Nabila.


"Saya sudah sembuh, berkat pijitan Bibi. Nggak usah, nanti sarapannya di tempat Leticia aja." Nabila menyentuh bahu pelayannya seraya mengulas senyum indah.


"Syukurlah.Bibi sangat senang mendengar Non sembuh." Pelayan itu tersenyum tulus. Dalam hati dia berharap semoga majikannya tidak bertemu dengan pria sakit itu lagi.


"Hati-hati, Non." pesan pelayan itu.


Setelah berpamitan Nabila pun berjalan keluar menuju lift turun ke lobby apartemen.


Karena, mobilnya masih di tempat Leticia. Nabila memutuskan menggunakan taxi. Nabila duduk di kursi yang tersedia di lobby. karena menurut app yang dia pesan rute perjalanan taxi itu masih jauh.


🥰🥰🥰🥰🥰


Kevin sudah selesai mensortir senjata dia bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Vin, lu mau ke mana?" tanya Gareth datang menghampiri Kevin.


"Aku ada urusan di luar sebentar. Nanti udah beres baru aku ke sini lagi. Sorry ya Bro." sahut Kevin.


"Ya udah lu hati-hati. Ingat jangan buat masalah" pesan Gareth. Karena dia tau benar sahabatnya itu. Jika apa yang tidak sesuai maunya dia bisa nekat melakukan hal bodoh dan tentu akan merepotkan mereka semua.

__ADS_1


"Lu tenang aja aku bukan anak kecil lagi." Kevin menyalakan mesin mobilnya kakinya mulai menginjak pedal gas mobil.


Beep beep beep....


Bunyi Klakson.


Kevin memacukan mobilnya menuju Apartemen Nabila. Dia tau jika Nabila tidak ke Mansion berarti dia masih di apartemen. Kevin tidak bisa tenang jika tidak melihat langsung kalau wanitanya itu dalam keadaan baik-baik saja.


Satu jam dalam perjalanan akhirnya mobil sport putih itu berhenti di depan lobby Apartemen Nabila.


Kevin keluar dari mobil ia menutup kepalanya dengan topi berwarna hitam, tidak lupa untuk membuat Nabila tidak mengenali dia. Kevin juga mengenakan mantel hitam serta kaca mata hitam.


Dia berjalan menunduk masuk ke dalam lobby. Kevin memilih duduk di pojokan.


Matanya menangkap sosok wanita cantik itu sedang bermain ponsel di kursi lobby. Yakin itu Nabila, Kevin bergegas ke lift dia masuk ke dalam lift menuju unit apartemen Nabila.


Sesampainya di unit apartemen Nabila , Kevin keluar dari lift. Dia menekan tombol bel pintu Nabila. Pelayan itu datang dia langsung membuka,'kan pintu.


"Tuan yang waktu itu minta makan malam-malam itu? Teman Nona Nabila?" tanya pelayan itu.


"Tepat sekali. Saya ke sini mengajak Ibu bekerja sama dengan saya. Semua yang aku lakukan ini untuk kebaikan Nona Nabila. Bagaimana, Ibu mau?" tawar Kevin.


Pelayan itu menimang sembari mendengar penjelasan Kevin. Hingga akhirnya dia pun setuju karena dia tau Nabila butuh seorang kekasih yang benar-benar melindungi dia. Kevin menaikan satu alis tidak sabar menunggu jawaban setuju atau tidak dari pelayan itu.


"Baiklah." Pelayan itu setuju.


"Great." Kevin menjentikkan jarinya. Dia sudah lebih tenang karena pelayan Nabila ikut mendukung dia.


Kevin menghela napas lega. Dia mengeluarkan satu amplop putih dan memberikan kepada pelayan itu. Tanpa bicara Kevin segera kembali ke lobby.


♥️♥️♥️♥️


Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Taxi pesanan Nabila pun datang, berhenti di depan pintu lobby masuk.


Nabila berjalan keluar tanganya membuka pintu Taxi. Lalu Nabila masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang sopir.


"Pak, antarkan saya ke jalan XX." ujar Nabila seraya memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.


"Baik. Kita berangkat sekarang." sahut Sopir taxi.

__ADS_1


Taxi itu menuju alamat tujuan Nabila. Sementara Kevin memukul keningnya.Karena, kehilangan jejak Nabila.


"Argh... kemana dia?" Kevin mengusap kasar wajahnya.


__ADS_2