
Anak kecil itu pun berjalan menuju Nabila dengan membawa setangkai mawar di tangannya.
''Kakak...'' panggil bocah itu.
''Ya. Kau memanggilku?'' Nabila yang sedang termenung menatap bocah itu bibirnya mengulas senyum seraya tangannya menyentuh punggung bocah itu.
Bocah itu salah tingkah dia hanya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan benar dia memanggil Nabila.
''Kenapa?'' Nabila menepuk kursi panjang yang ia duduk meminta bocah itu ikut duduk, ''Kemari duduk disamping kakak." Namun bocah itu menolak dengan menggelengkan kepalanya.
''Tidak. Saya ingin memberikan ini untuk kakak. Selamat datang di Paris. Kakak sangat cantik pasti kekasihmu sangat mencintai kakak.'' Bocah itu mengulurkan setangkai mawar putih itu untuk Nabila.
"Seandainya apa yang kau bilang itu benar kekasih ku sangat bahagia memiliki ku pasti aku tidak disini." batin Nabila.
''Kau membuatku terharu. Terima kasih.'' Nabila berkaca-kaca seraya tangannya menerima setangkai mawar dari bocah itu.Lalu dia memeluk bocah itu penuh kehangatan.
''Siapa namamu?'' Nabila menatap bocah itu.
''Namaku, Edward.''
''Namamu sangat bagus.'' Nabila memuji bocah itu.
''Terima kasih. Maaf saya harus pergi.''
Kemudian bocah itu berlari kembali ke Kevin yang tidak sabar mendengar respon Nabila. Sebenarnya dia melihat tapi dia penasaran apa saja yang Nabila bicara dengan bocah itu. Kevin tersenyum sembari mengusap kepala bocah itu.
__ADS_1
''Kerja bagus. Ini untukmu.'' Kevin memberikan sepuluh poundsterling. Setelah dia mendengar semua yang diceritakan bocah itu.
''Terima kasih. Paman.'' Dia sangat senang mendapat uang sebanyak itu tanpa diomelin atau di cubit dulu seperti biasanya dia diperlakukan pengunjung disini.
''Paman...Nanti kau ingin memberi bunga untuk ke kasihmu lagi cari saja aku. Itu tempat aku biasa duduk bersama teman-teman.'' pesan anak itu seraya tangannya menunjuk tempat mangkal ia dan teman-temanny, Mata Kevin mengikuti arah tangan kecil itu.
''Baiklah. Nanti paman pasti butuh bantuanmu lagi.'' Kevin mengangkat jempolnya ke atas. Bocah itu pergi meninggalkan Kevin.
Begitupun dengan lima orang bocah yang tadi menunggu giliran, mereka bergantian memberikan bunga kepada Nabila dan wanita itu sama sekali tidak mencurigai dari mana asal bunga itu. Nabila pikir itu benar bunga sambutan dari warga Paris.
''Mereka sangat ramah dengan para wisatawan.'' Nabila terharu dia menatap sepuluh tangkai mawar di tangannya lalu ia beranjak dari kursi memilih kembali ke apartemennya.
Sesampai di apartemen, di depan lobby Security itu tersenyum ia berjalan menghampiri Nabila.
''Siang pak. Senang orang-orangnya ramah.'' cerita Nabila sekilas.
''Semoga Nona betah di sini. Maaf tadi ada seseorang yang menitipkan ini untuk Nona. Dia juga berpesan semoga Nina menyukai hadiahnya.'' Security itu memberikan sebuah paperbox untuk Nabila.
''Siapa? Saya tidak kenal siapapun di Paris ini. Kira-kira pak kenal orangnya? Atau ciri-ciri orang itu?'' Nabila ragu menerima paperbox itu. Tapi, karena di yakinkan security itu akhirnya dia pun menerima paperbox itu.
''Dia tinggi, tampan dan baik hati.'' Security itu menyebut ciri sedikit mirip pemilik apartemen. Itu semua atas saran Kevin.
''Pak Jack?''
''Betul.''
__ADS_1
''Nanti sampaikan terima kasih ku kepada pak Jack karena saya sulit menghubungi dia.''
''Baik. Nanti saya akan sampaikan.''
Nabila pun membawa paperbox itu menuju lift. Dia penasaran dengan isi paperbox itu di cium dari aromanya seperti cake.
Ting...
Lift berhenti.
Nabila segera keluar dari lift dia berjalan menuju apartemennya. Setelah menekan digit pasword apartemennya pintu pun terbuka Nabila masuk ke dalam apartemennya. Dia meletakan paperbox dan mawar itu di atas meja lalu menunduk melepas sepatunya berganti dengan sandal dalam ruangan.
Nabila mulai membuka paperbox.
''Cheese cake? Dari mana pak jack tau kalau aku sangat menyukai cheese cake?''
Nabila pun mengambil satu potong cake lalu menyuapkan ke mulutnya.
''Hmmm... Lumer banget enak.'' Nabila bergumam seraya terus menikmati cake itu. Hingga cake berukuran sedang itu habis. Nabila menatap kaget isi paperbox itu seraya tertawa dengan tangan menutup mulut.
"Ya ampun sayang kamu kamu kelaparan? Sampai mama tidak menyadari cake satu papperbox habis." Nabila mengusap perutnya.
Kevin menarik napas lega melihat Nabila menghabiskan cake itu.
''Sehat-sehat ya kau dan anak kita.''ujar Kevin tidak peduli janin itu milik siapa tapi dengan enteng dia mengklaim bayi itu anaknya. Kevin beranjak dari kursi lobby bergegas masuk ke dalam lift ia ingin kembali ke apartemen karena tubuhnya sudh menjerit untuk beristirahat
__ADS_1