Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
TERBONGKAR?


__ADS_3

"Non...Maafkan saya. Sumpah, saya benar-benar tidak tau pria itu masuk kapan, tadi saat saya membawa sampah keluar saya kaget melihat pria itu sudah berdiri di depan sofa ruang tamu. Awalnya saya hendak berteriak tapi dia cepat mengatakan jika dia kekasih Nona. Karena. itu saya memberi jalan dia datang ke kamar Nona. Namun, saya tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini. Maafkan saya, Non. Saya siap dipecat, Non." Wanita yang usianya lebih tua dari Nabila dua puluh tiga tahun itu menunduk penuh penyesalan.


Tadi saat mengambil air untuk Nabila, dia sudah menyiapkan diri jika Nabila memecatnya.


"Bi... Untuk apa saya pecat bibi? Bibi tidak bersalah dalam hal ini saya yang terlalu naif, percaya pria itu. Saya dibutakan cinta yang saya sendiri tidak tau cinta seperti apa yang saya rasakan. Saya bodoh memberitahu dia pin pintu apartemen saya. Bibi, tidak bersalah jadi saya mohon jangan mengutuk diri Bibi sendiri." Suara Nabila masih lemah namun pelayan itu masih mendengar dengan jelas setiap ucapan Nabila.


"Terima kasih. Non." ucapnya tulus.


"Jangan berterima kasih. Saya yang bersyukur memiliki Bibi. Jika tidak saya pasti bisa mati karena tidak berdaya diatas ranjang ini. " Nabila tetap tersenyum dia tidak ingin pelayannya itu terus menyesali apa yang dia tidak lakukan.


"Duh..." lirih Nabila memejamkan matanya. Seluruh tubuhnya sakit seperti ditusuk-tusuk jarum tapi bersyukurnya perutnya baik-baik saja. Aneh.


"Non? Apa yang Non rasakan?'' tanya pelayan itu cemas.


''Badanku sakit semua.'' lirihnya lagi menatap sendu pelayannya.


''Sebentar,''


Pelayan itu bergegas mengambil minyak zaitun yang berada diatas meja rias Nabila. Dia datang dan mengoleskan dibagian tubuh Nabila yang memar.

__ADS_1


''Maaf.'' ucapnya. Karena, dia akan mngoles cream dibagian paha. Paha Nabila yang biasanya putih mulus kini berubah warna menjadi biru kehitam-hitaman.


''Pelan, Bi. Ini sungguh sakit.'' Dada Nabila naik turun air matanya jatuh dalam diam.


"Baik Non." sahutnya.


Usai cream di paha. Pelayan itu beralih ke pipi ia mengoles cream itu di pipi dan bagian lengan yang terdapat lebam hitam.


"Non tidur lagi dulu. Ada teh herbal diatas nakas. Saya siapkan sarapan untuk Nona, sebentar. Jika Non butuh bantuan panggil saja.'' ucapnya. Tangannya menarik selimut lalu kembali menutup tubuh Nabila.


''Terima kasih, Bi.'' ucap Nabila melihat ketulusan pelayanya yang merawatnya sepert anak kandungnya.


Lagi-lagi Nabila tersentuh butiran bening itu kembali jatuh membasahi pipinya tanpa permisi.


❤️❤️❤️


Reno sudah kembali apartemennya. Dia masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang berukuran besar itu dengan kesal.


''Argh..,kenapa dulu aku setuju bersandiwara menjadi kekasihnya jika mengetahui niat busuk wanita sialan itu.''

__ADS_1


''Cih...dia pikir aku bodoh?'' Ia tersenyum meringai.


Namun, saat sedang mengumpat ponselnya berdering. Ia bergegas mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.


''Stefani? Jangan-jangan wanita bodoh itu menceritakan kejadian tadi pagi di Stefani?'' Dia ragu menerima panggilan dari Stefani. Dia meletakkan ponselnya diatas ranjang begitu saja. Tau sendiri betapa cerewet ketiga wanita itu jika bicara suaranya melengking mengalahkan burung gereja.


Akan tetapi, bukan Stefani namanya jika tidak melakukan panggilan sampai si penerima telepon menjawabnya. Reno berbaring namun ekor matanya terus melirik ke benda pipih yang terus menyala tanda ada panggilan masuk.


''Reno lu di mana? Tumben dia nggak jawab panggilan dari aku. Awas aja jika dia macam-macam rambutnya aku gundulin.'' gerutu Stefani seraya jarinya menari diatas keybord ponselnya. Stefani hapal benar Reno sangat mencintai penampilannya apalagi rambut bagi Reno itu aset berharganya. Jadi, dia sudah bertekad akan menggundulkan jika dia berani macam-macam dengan Nabila.


''Ren, lu dimana? Kenapa di telepon nggak diangkat di chat pun nggak dibalas.''


Setelah mengirimkan pesan itu kepada Reno. Stefani kembali sibuk menghidangkan sarapan pagi di mansion Leticia.


Reno yang melihat ponselnya sudah tidak ada panggilan masuk. Tangannya segera meraih ponselnya lalu menggeser layar ponsel itu dia membaca chat dari Stefani.


Deg! Jantungnya serasa mau copot. Bayangkan saja jika dia seorang diri disemprot dua istri Mafia. Di mana semua pasti akan diam tidak melarang sejauh mana mereka marah terhadap Reno mengingat Nabila sudah mereka anggap seperti adik kecil keduanya. Tentu mereka tidak akan terima jika mengetahui Reno melakukan kekerasan fisik pada Nabila.


''Benar kata ku. Wanita sialan itu sudah menceritakan semuanya. Karier saya pasti hancur!'' Reno bergegas turun dari ranjang dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sumpah, batinnya tidak tenang ya dia harus segera ke kantor ingin melihat reaksi Walker CEO di perusahaan Bos Mafia itu. Jika pria itu bersikap dingin kepadanya maka karier dia pun pasti tamat tapi jika baik-baik saja maka posisi dia masih aman pikir Reno.

__ADS_1


__ADS_2