Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Cantik.


__ADS_3

Setelah memasukkan semua stock makanan yang ia belanja dari supermarket tadi ke dalam lemari pendingin. Nabila pun bergegas membawa pasta, keju dan beef ke arah dapur. Nabila mulai menyiapkan bahan masakannya, sembari menunggu pastanya yang ia rebus matang. Nabila mulai memotong daging dan bumbu lainnya.


Hampir setengah jam berkutat dengan alat masak di dapur. Nabila mulai menghirup aroma masakannya perutnya yang lapar dan janin di dalam seakan ikut menghirup aroma masakan sang ibunda ikut merespon. Dua kali tendangan ia rasakan di perutnya.


"Udah ngga sabar?" gumam Nabila sembari mengusap perutnya yang mulai menonjol.


Nabila segera menyajikan diatas piring pasta dengan topping keju dan daging asap. Ia meletakkan diatas meja lalu tangannya menarik kursi ia pun duduk. Tersenyum melihat porsi sarapan pagi ini Nabila menggelengkan kepalanya, tidak biasanya dia makan pasta di pagi hari apalagi dengan porsi besar.


Nabila mulai menyendok Pasta lalu mnyuapkan ke mulutnya lelehan keju dan daging asap sangat nikmat. Dia pun makan dengan lahap hingga ludes tak tersisa, tangannya mengusap perutnya yang sedikit menonjol seperti bola sembari menyenderkan tubuhnya di kursi.


''Kenyang bangat, semoga saja tidak keluarin lagi sayang dagingnya mahal,''celutuknya diiringi senyum dari bibir tipisnya. Tapi, sejak dia berada di Paris, Nabila memang sudah tidak merasakan morning sickness.


****


Tanpa Nabila sadari ada seorang pria tampan yang tengah menatap dia dari layar ponsel bibirnya mengulas senyum.Terharu. Tangannya mengusap-usap laayr ponsel. " Aku sudah tenang melihat kau baik-baik saja." ia berbicara sendiri.


Ya dia terharu dan senang melihat wanitanya makan tanpa mengeluarkan makanannya lagi. Tanpa Kevin sadari cairan bening itu keluar dari sudut matanya.


Mafia ini menangis hanya karena seorang Nabila. Julukan yang disematkan pada dirinya sebagai pria tampan yang membuat wanita bertekuk lutut tidak lagi berlaku hanya karena seorang gadis bernama Nabila. Yang Kevin sendiri tidak tau dari mana asal usul gadis itu, Kevin hanya tau dia gadis yatim piatu yang besar di panti lalu bekerja sebagai MOU pribadinya Leticia. Dulu Leticia masih sebagai model.


''Kau bahagia? Tanpa aku membuntuti kau lagi? Tega kau, Nab. Aku tulus mencintai kau tapi kau menolaknya tanpa melihat seberapa besar perjuanganku mendapatkan dirimu. Aku mohon kali ini jangan menolak aku lagi bukan karena kau mencintai ku tapi setidaknya karena kasihan kepada diriku." Persetan dengan harga diri, yang dia inginkan hidup bersama Nabila. Dia mencintai Nabila tidak peduli Nabila membalas cintanya atau tidak bagi Kevin memiliki Nabila itu yang terpenting sekarang, "Lagian lebih baik mencintai daripada dicintai, bukan?" Entah prinsip ini Kevin dapat dari mana tapi inilah faktanya . Tangannya menggenggam erat benda pipih itu. Rasanya oksigen di dalam tubuhnya hampir habis jika dia terus berdiam diri di kamar ini, menatap wajah ayu itu hanya dari camera pengi**ntai. Yang Kevin inginkan memeluk wanita itu, mencium dan mengungkapkan perasaannya kepada wanita sesegera mungkin.


"Dam**n,"

__ADS_1


Kemudian Kevin berdiri dari ranjang Ia segera mengambil mantelnya yang diletakan di sofa lalu keluar dari apartemen menunggu Nabila di lobby. Kevin yakin wanita itu pasti keluar jalan-jalan tidak mungkin akan berdiam diri di dalam apartemen itu terus.


Benar saja satu jam kemudian Nabila pun keluar dari lift. Dia memasukkn kedua tangannya ke dalam mantelnya lalu berjalan keluar lobby.


Kevin melihat Nabila sempat berbicara sebentar dengan security lalu berjalan keluar dari area apartemen.


Kevin bergegas masuk ke dalam mobilnya dia mulai mengikuti Nabila dari belakang. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan paling rendah, saat Nabila menoleh ke belakang dia mulai melaju dengan kecepatan rata-rata.


Setelah setengah jam berada di belakang Nabila akhirnya sampai juga di menara Eifel. Ternyata Nabila datang di Eifel. Kevin tersenyum saat melihat Nabila berselfi ria disekitar Eifel.


"Dasar gadis camera. Lihat saja dia seperti model yang gagah meraih awards." Ia berbicara sendiri seraya menggelengkan kepalanya.


Kevin pun memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari mobil dia tau apa yang harus dia lakukan.


Ia membeli lima tangkai mawar putih dan lima tangkai merah yang dijual setelah membayar harga bunga itu. Kevin mencari anak-anak disekitar Eifel. Karena, dia tahu benar biasanya para preman menyuruh anak-anak uantuk meminta-minta disekitar Eifel.


Benar saja, dugaa Kevin tepat. Di dekat pintu masuk Eifel ada dua kelompok anak kecil mereka sedang bercanda ria menunggu para pengunjung datang. ia pun berjalan menghampiri enam anak yang sedang duduk berkelompok kira-kira berusia sekitar delapan dan sembilan tahun.


Kevin tersenyum ramah kepada mereka, anak-anak itu ketakutan mereka melangkah mundur kebelakang. Takut. kevin tahu baik karena dulu sebelum dia dibawa oleh bos mafia dia juga dulu disuruh seperti itu dan selalu takut melihat ada pria besar menghampiri dia. Seperti reaksi anak ini sekarang ketakutan melihat dia.


''Hai...kalian pada ngapain?'' Kevin berjongkok menyamai tinggi mereka dengan membawa bunga mawar ditangan kanan di belakang punggungnya.


Keenam bocah lelaki tidak menjawab mereka masih takut . Kevin tersenyum, dia sadar mungkin anak-anak itu takut melihat wajahnya yang seram.

__ADS_1


"Jangan takut, paman orang baik." Ia tersenyum lagi.


Akhirnya keenam bocah itu pun tenang mereka pun perlahan mendekati Kevin.


"Sini, lihat ke arah air mancur itu.Ada seorang gadis cantik dia mengenakan mantel coklat. Lihat dia sedang mengambil gambar dirinya? Apa Kalian melihat gadis itu?" Kevin menunjukkan tangannya ke arah Nabila. Mata keenam bocah itu mengikuti tangan Kevin. Lalu mengangguk bersama.


"Iya, dia cantik, Paman." Dengan polosnya mereka memuji Nabila.


"Tentu. Dia kekasih paman. Tapi, Paman lagi sedih." Kevin mulai menunjukkan wajah sedihnya.


"Kenapa? Bukan sepasang kekasih itu saling mencintai?" tanya seorang bocah yang berusia sembilan tahun.


"Benar. Tapi tidak selamanya pasangan kekasih selalu mencintai, kami lagi berselisih paham." Kevin menatap bocah itu lalu mengusap bahu lelaki kecil itu.


"Karena itu, paman kesini minta tolong, Kalian mau nggak bantu paman?" tanya Kevin. Ia menatap bocah-bocah itu penuh mohon, " Jangan takut paman bayar kalian. Hayo...ada yang mau uang nggak?" Kevin mulai mengeluarkan jurus mautnya.


"Mau." sahut keenamnya serentak sembari menganggukkan kepala mereka.


"Sstt...jangan kencang-kencang nanti kekasih paman tau kalau paman ikutin dia ke sini." Kevin meletakan jari telunjuknya di bibirnya lalu melirik sekilas kearah Nabila memastikan gadis itu masih tetap duduk di sana.


"Good!" Kevin mengusap kepala mereka. Karena, Nabila masih asyik berselfi dia juga tidak menyadari kehadiran Kevin di Eifel.


:Hufft..." Ia menarik napas lega akhirnya anak-anak ini mau menolong dia tidak mengapa dia harus mengeluarkan uang asal Nabilanya milik dia.

__ADS_1


__ADS_2