
Nabila masuk ke dalam mobil. Wanita itu berencana akan menemui Reno sebentar. Nabila segera melajukan mobilnya menuju apartemen Reno. Di dalam mobil ia berulang kali menelpon Reno namun panggilannya di tolak calon Ayah dari janinnya itu. Nabila tersenyum, dia coba mengirim chat.
"Bisa ketemuan? Hanya sebentar aja nggak lama." Setelah mengirimkan pesan, Nabila menatap hasil USG dalam hati ia berharap semoga Reno bisa menerima anak yang sementara ia kandung. Namun, pesannya cekliz satu.
Nabila tidak menyerah, dia menepikan mobilnya ditepi jalan.Lalu, ia melakukan panggilan sekali lagi. Ternyata dugaan Nabila benar, Reno telah menonaktifkan ponselnya.
Nabila, memukul stir mobilnya, frustasi tentu ia sangat stres bayangkan saja pria yang sudah menanam benih di rahimnya, diminta pertanggung jawaban justru pria itu menolak dan mulai menjauh dari Nabila. Wanita itu tersenyum sinis dengan satu tarikan napas, dia melajukan mobilnya lagi menuju apartemen Reno tidak peduli apa yang akan terjadi disana tapi dia butuh kepastian dari Reno.
Nabila membelokkan mobilnya masuk ke apartemen mewah itu, Dia lalu memarkirkan mobilnya didepan lobby saja. Kemudian, Nabila keluar dari mobil ia berjalan masuk ke lobby mencari lift. Setelah menemukan lift Nabila bergegas berjalan ke lift, ia pun masuk ke lift menuju unit apartemen Reno yang berada di lantai empat.
Sesampainya di unit 43 Nabila memijit digit password pintu, sayangnya sudah empat kali dia menekan digit password selalu salah.
__ADS_1
"Jangan-jangan Reno sudah ganti password pintunya?" Nabila mengacak pinggangnya. Dia menarik napas untuk bersabar. Kemudian, dia tidak hilang akal wanita itu menekan bell.
Ting-Tong...
Pelayan yang sementara di ruang tamu melihat camera ternyata Nabila yang sedang berdiri didepan pintu tampak Wanita itu sangat gusar.
"Nona Nabila," batin pelayan itu. Kemudian, pelayan itu berjalan ke pintu ia hendak membuka pintu namun Reno ya g sudah berdiri dibelakang pelayannya dengan cepat menahan tangan pelayannya itu. Dia memberi isyarat dengan menggelengkan kepala, " Biar saya saja yang buka. Kau selesiakan saja pekerjaan kau didapur," suruh Reno, lalu menyuruh pelayannya itu kembali ke dapur tentu dengan suara yang sangat pelan. Setelah melihat pelayannya pergi bukannya membuka pintu ia justru mematikan lampu ruang tamu. Pria itu duduk gelap-gelapan diruang tamu menunggu apakah Nabila masih menekan bell atau akan pergi.
Kevin yang sedaritadi berdiri dibalik batas dinding berdiri antara unit nomor 43 dan 44 menghembuskan napas kasar. Dia meletakkan tangannya didinding lalu menopang kepala dilengannya. Kevin berusaha mengendalikan emosinya, sumpah untung Reno bukan musuh jika tidak dia sudah habis ditangan Mafia tampan satu ini.
Menyadari Nabila berjalan menuju lift, Kevin pun bergegas melewati tangga biasa dia tidak mau keberadaan nya diketahui Nabila. Kevin, melihat Nabila masuk ke dalam mobilnya dia pun bergegas masuk ke mobil mengikuti Nabila mengikuti Nabila seperti biasa hingga Nabila sampai di apartemennya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kenapa kamu dicuekin seperti tadi? Apakah orang yang mau menikah seperti itu, saling mengabaikan? Argh, kenapa Hatiku sakit bangat lihat dia diabaikan seperti itu?" Kevin meletakkan kepalanya diatas stir mobil, jarinya mengetuk stir mobilnya, mengendalikan emosinya. Kemudian, mafia itu pun memutar balikan mobilnya lagi kembali ke apartemen miliknya karena waktu sudah menunjukkan pukul 21:00.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Mentari pagi telah menyapa dunia, Nabila mengerjap ketika sinar mentari menerobos masuk melalui celah ventilasi. Ia menutup wajah dengan tangannya karena silau mentari langsung mengenai matanya. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing Nabila meringis dengan tangan memegang kepalanya ditambah lagi perutnya yamg tidak enak.
"Argh, mual lagi." Kemudian Nabila bergegas turun dari ranjang berlari menuju kamar mandi, seperti biasa dia mengeluarkan isi perutnya. Nabila mengusap lembut perut ratanya.
"Sayang, please jangan muntah terus seperti ini dong, Nak. Kalau mama keluarin semua makanan yang dimakan apa kamu nggak kelaparan didalam perut mama? Hmm?" ujar Nabila seraya tangannya mengelus lembut perut datarnya.
Kini dia lebih tenang, walaupun Reno belum menunjukkan lampu hijau menerima calon anak mereka tapi Nabila sudah memikirkan semuanya. Setelah mengeluarkan isi perutnya Nabila memilih membersihkan tubuhnya karena pesanan costumer belum ada yang dibungkus.
__ADS_1