Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Dekat Eifel.


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam mobil Kevin berpindah di bagian kursi kemudi. Ia lalu mengeluarkan satu amplop berisi sejumlah poundsterling lalu memberikan untuk kedua anak buahnya.


"Untuk kalian berdua. Kalian berdua boleh pergi sekarang. Nanti aku akan menghubungi kau jika aku perlu bantuan." ujar Kevin.


Kevin memang tidak menceritakan jika dia datang ke Paris untuk mengawasi wanita yang ada di dalam taxi itu. Dia tidak mau dua anak buahnya ini menyebarkan gosip di markas.


"Baik. Tuan. Terima kasih." Anak buahnya mengangkat amplop sebagai isyarat mereka berterima kasih untuk bayaran itu.


"Hmmm....Nanti saya share-lock jika saya sudah mendapatkan penginapan." lanjut Kevin.


"Baik, Tuan."


Kedua anak buahnya pun pergi meninggalkan Kevin di dalam mobil itu. Mafia itu terus mengawasi Taxi di depan mobilnya.


"Belum berangkat aja." gumam Kevin. Jarinya mengetuk-etuk stir mobil. Dia tidak sabar ingin tahu tempat tinggal Nabila yang baru atau penginapan? Kevin juga ingin tahu apakah Reno juga sedang di Paris atau tidak?


Argh...


Segitunya besarnya cinta Kevin untuk Nabila.


*****


Sopir Taxi menutup bagasi mobil. Ia membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil tidak lupa memasang sabuk pengaman.


"Tujuannya sesuai map ya, Nona." tanya sopir taxi sebelum dia menginjak pedal gas mobil.


''Betul pak. Tepat bersebelahan dengan menara Eifel.'' sahut Nabila.


''Baik.''


Sopir taxi pun mulai menginjak pedal gas mobil. Roda taxi mulai bergerak mengantarkan Nabila menuju tujuannya.


Di dalam mobil Nabila menghubungi sorang pria melalui chat. Sengaja dia tidak menghubungi melalui panggilan karena Nabila tidak ingin obrolan dia di dengar sopir taxi.

__ADS_1


''Pak, saya sudah meluncur menuju apartemen.''


[Baik, Nona. Saya sudah menunggu di apartemen.'']


''Okey. Ini rahasia. Aku tidak mau satu orang pun bisa melacak keberadaan saya di Paris.'' balas Nabila.


[Beres, Non. Semua sudah saya atasi.]


"Baik. Terima kasih." Setelah menghubungi orang yang menyewakan apartemen itu. Nabila mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya tidak lupa dia mematikan ponsel karena tidak ingin salah satu sahabatnya atau Kevin menghubungi dirinya.


""""""""""""


Setelah Reno datang melakukan kekerasan fisik di apartemennya. Nabila akhirnya menyerah dia memutuskan untuk meninggalkan Spanyol untuk keselamatan dirinya dan sang calon anak.


Karena itu, Nabila pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan janinnya baik-baik saja seraya menanyakan apakah dia bisa melakukan penerbangan jauh?


''Janin ibu baik-baik saja.'' jawab dokter waktu itu.


"Baiklah. Jika aku tidak menikah di sana setidaknya anakku lahir di Paris." Nabila tersenyum dia mengambil ponselnya lalu mulai mencari apartemen murah di sekitar Eifel.


Takdir pun mendukung rencana Nabila. Baru saja Nabila menscroll layar ponselnya di laman pencarian internet yang muncul pertama adalah sewa apartemen murah di Eifel. Tidak perlu menunggu lama Nabila langsung menghubungi nomor yang tertera dibawah iklan itu.


"Apakah tuan pemilik dari apartemen ini?" Nabila mengirimkan gambar dan lokasi apartemen yang tertera di iklan itu.


[Benar. Saya pemilik dari apartemen itu.]


"Kebetulan saya juga sedang mencari apartemen terdekat di menara Eiffel. Tapi pak saya sewa apartemen untuk waktu yang lama bukan satu atau dua tahun saja bila perlu saya mencari apartemen yang dijual karena saya akan tinggal di Paris untuk selamanya." karena Nabila tahu sewa apartemen biasanya npake batas waktu. Nabila takut jika sudah waktunya pindah dia belum menyewa apartemen lagi atau pas dia lahiran dia pasti akan sibuk dengan anaknya. Karena itu Nabila berpikir jika ada yang jual lebih baik beli saja daripada sewa.


"Baiklah. Jika, Nona ingin membeli apartemen saya kebetulan saya rencananya mau menjual apartemen ini. Nggak apa dibayar dengan mencicil saya mengerti asal tidak kabur. Hehehe," ujar pemilik apartemen itu seraya terkekeh.


Kabar bagus, Nabila langsung setuju dia yakin dia pasti bisa membayar cicilan apartemen itu apalagi harga yang ditawarkan pun masih bisa di jangkau tidak terlalu mahal.


Setelah sepakat harga beli apartemen yang pas dengan isi tabungan Nabila. Akhirnya Nabila pun memutuskan menyiapkan pakaian di dua koper. Nabila mengambil kesempatan waktu sang Pelayan mengeluh kepalanya sakit dan mengantuk.

__ADS_1


Sebenarnya Nabila tidak tega jalan tanpa pamit tapi dia benar-benar tidak ada pilihan lagi. Akhirnya sebelum ia pergi Nabila menuliskan pesan untuk sang Pelayan agar tetap tinggal di apartemen miliknya. Nabila pun berjanji dia akan terus mengirim uang bulanan untuk sang pelayan.


Selesai menulis surat itu Nabila melipatnya dengan rapi. Dia meletakkan surat itu diatas meja sofa lalu ia pun pergi dari apartemen dengan menggunakan Taxi tepat pukul tujuh malam.


*****


Kevin terus mengikuti Taxi itu. Tentu dia selalu menjaga jarak agar sopir taxi itu tidak mencurigai dirinya sedang mengikuti mereka. Satu jam dalam perjalanan akhirnya Taxi itu berhenti di lobby salah satu apartemen tepat berada di samping Eifel. Kevin pun menghentikan mobil di depan lobby apartemen itu. Dia memandangi gedung tinggi itu jauh dari kesan mewah, Standar.


"Eiffel? Nabila, tenang berjanji akan mewujudkan mimpimu kita akan menikah di Eifel." Janji Kevin. Ia seperti kehilangan akal melupakan cinta dan dirinya selalu di tolak Nabila dengan alasan pekerjaan Kevin yang menakutkan. Kevin juga seorang Casanova dimana wanita dulu bagi Kevin hanya sebagai pemu**as has**ratnya. Tapi, senakal-nakalnya Kevin dia tau siapa yang harus memu**askan. Wanita malam.


" Berarti Nabila akan tinggal disini? Atau hanya menginap sementara? Argh... Jangan-jangan si brengsek itu sudah berada di sini?" Kevin memejamkan matanya berharap itu hanya pikiran bodohnya saja. Ia lalu membuka lagi matanya mengawasi wanita itu yang belum juga keluar dari Taxi.


"Kenapa kau lama seka..." Belum juga selesai bicara Wanita yang tengah hamil muda itu keluar dari dalam taxi dengan menenteng tas dibahu kirinya


"Argh...dia cantik sekali." Kevin mengigit bibir bawahnya.


Wanita itu berjalan menuju seorang pria yang sedang duduk di kursi sembari menikmati secangkir kopi hangat. Maklum sekarang sudah pukul satu malam waktu Paris. Sementara sopir taxi meletakan dua koper di samping kursi Nabila duduk.


"Apa-apaan? Kenapa dia bertemu dengan pria lain? Jangan-jangan otak waras nya mulai hilang akan kupatahkan leher pria itu." Kevin meremas stir mobilnya. Ia menggertakkan giginya menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.


Kevin pikir Nabila kan menjadi Wanita penghibur karena putus asa atau mungkin itu sugar Daddy Nabila? Tapi, kapan Nabila memiliki sugar Daddy? mengingat Nabila selalu dalam pengawasan Kevin.


"Argh...Apa kau lupa aku selalu menerima kau apa adanya." Ia memukulkan kepalanya di atas stir mobil.


Jujur jika tidak sedang menyamar. Kevin pasti sudah membunuh pria itu. Napasnya naik turun, Ia ingin membuka pintu mobil namun mengurungkan niatnya lagi.


"Okey, akan aku awasi kau dari sini." Ia berbicara sendiri sembari matanya mengawasi Nabila dan pria itu dari dalam mobil.


Matanya memanas hatinya sakit seperti di tusuk jarum. Ketika ia melihat Nabila bersalaman dengan pria itu apalagi mereka berbicara begitu akrab. Seperti orang yang sudah saling mengenal lama? Benarkah atau hanya perasaan Kevin?


"Fix..itu sugar Daddy Nabila. Dia lebih menyukai om-om." Kevin menertawakan kebodohannya. Ia mengusap kasar wajahnya, Matanya menatap Nabila tanpa ia sadari pipnya sudah basah.


"Kevin.Kau menangis lagi?" Ia tersenyum bodoh.

__ADS_1


__ADS_2