Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Dia istriku.


__ADS_3

Setelah berbicara sebentar dengan pria itu. Nabila mengetik di layar ponselnya lalu menunjukkan ke pria itu, " Ini pak saya cicil setengah harga dari ini ya." ucap Nabila.


"Terima kasih, Non."


"Saya yang harusnya berterima kasih." Nabila tersenyum seraya mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya tidak lupa ia menonaktifkan.


Kevin semakin penasaran sebenarnya apa yang Nabila dan Pria itu bahas? Sehingga Nabila sampai menunjukkan isi ponselnya kepada Om itu?


Hampir setengah jam Nabila dan pemilik apartemen itu berbicara. Nabila pun selesai membayar setengah harga dari harga apartemen.


"Baik karena sudah larut malam saya izin istirahat." Ia berdiri dari kursi sembari menenteng tas di bahu kiri dia.Sementar kedua tangannya menarik dua koper di tangan kiri-kanan.


Melihat Nabila yang kesulitan Pemilik apartemen itu menawarkan bantuan.


"Biar saya bantu membawakan salah satu kopermu, Nona." izin pria itu sopan.


"Oh...Terima kasih banyak, Tuan." Nabila tersenyum tentu dia merasa sangat di bantu. Nabila memberikan satu koper untuk pria itu.


"Sama-sama." balas Pria itu seraya menerima koper dari tangan Nabila.


''Lihat saja akan ku patahkan tangannya.'' geram Kevin.


Ting...


Keduanya masuk dalam lift menuju lantai sepuluh.Unit apartemen Nabila. dua menit berada dalam lift akhirnya.


Ting...


Lift berhenti di lantai sepuluh unit apartemen Nabila. Nabila mendorong salah satu kopernya begitupun pria pemilik apartemen itu dia mendorong salah satu koper Nabila mengekor dari belakang Nabila.


Wanita itu mulai menekan digit di pasword pintu tadi dia sudah diberitahu oleh pemilik apartemen rencananya Nabila juga akan mengganti password pintu apartemennya nanti. Mungkin besok sekarang tubuhnya sangat lelah butuh di istirahatkan.


Kemudian Pria itu membawa dua koper Nabila masuk meletakkan berjejer di ruang tamu apartemen, Nabila.


''Terima kasih, pak, sudah membantu saya membawakan koper."


"Wah, Apartemennya sudah dibersihkan.'' Nabila tersenyum dia senang pemilik apartemen ini sangat baik dan rajin. Pandangnya mengedar di sekitar ruangan apartemen. Nyaman, bersih.Sama dengan apartemen Nabila yang di Spanyol bedanya besok dia akan mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan pelayan. Tidak masalah dulu di panti Nabila sudah di latih mandiri, bekerja keras ajdi Nabila tidak kwatir soal itu.


''Semua perabotan dapur kamar dan ruang tamu lengkap,'' sambung Nabila lagi.


''Sama-sama Nona.Betul. Ini dulu apartemen saya bersama keluarga tempati. Semoga Nona bahagia tinggal di sini.'' Pria itu bercerita sekilas.


''Tentu, pak. Saya sangat bahagia.'' timpal Nabila. Dia menghela napas lega seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Pria itu pun pamit karena koper Nabila semua sudah di masukin ke dalam apartemen.

__ADS_1


''Baik, Non. Saya permisi karena ini sudah tengah malam.'' ucap pria itu.


''Makasih ya pak. Maaf banget loh tengah malam bapak masih bersedia menunggu saya di sini.'' Nabila merasa tidak enak hati.


''Tidak apa-apa Non. Kebetulan saya sangat membutuhkan uang untuk kesehatan putri saya.'' cerita pria itu.


''Ya ampun, pak. Sekali lagi maafkan saya, pak. Saya berdoa semoga putri bapak segera sembuh dari sakit yang ia derita.''ucap Nabila sopan.


''Amin,'' balas pria itu.


Setelah berpamitan pria itu pun keluar dan pulang meninggalkan Nabila di apartemen itu.


Nabila membawa kedua kopernya masuk ke dalam kamar. karena badannya yang lelah. Perjalanan dua jam Spanyol-Paris di tambah lagi perjalanan dalam taxi hampir satu jam menuju apartemen membuat badan dan mata Nabila tidak bisa untuk merapikan pakaian ke dalam lemari atau sekedar membersihkan dirinya.


''Tidur aja deh. Badanku capek banget.'' keluh Nabila. Dia meletakkan tasnya di atas ranjang seraya menjatuhkan tubuhnya. Ia berbaring dengan tangan satu di letakkan diatas kening tangan satu lagi mengusap perutnya.


''Kamu harus kuat dukung mama ya jangan rewel besok mama akan mencari pekerjaan di sini. Kita, harus bekerja keras untuk kehidupan kita berdua di sini, Paris.'' gumam Nabila. Matanya perlahan terpejam menuju alam mimpi.


***


Karena, Nabila sudah masuk ke apartemen, Kevin melepas masker dan topinya. Ia pun keluar dari mobil menunggu pemilik Apartemen itu tepat di depan pintu lobby.


Grep...


Pria itu sangat kaget ketika dirinya ditarik dengan kasar oleh Kevin. Ia juga sangat kaget ketika yang menarik tangannya adalah salah satu anggota mafia Red Devil.


''Red Devil? Salah ku apa?'' batin pria itu ketakutan.


"Tuan apa yang Tuan inginkan? Maaf setahu saya, saya tidak melakukan kesalahan apapun." pria itu mulai ketakutan. Dia tahu dengan siapa dia berbicara tapi dia tidak melakukan kesalahan. Lalu mengapa mulutnya di bekap, di pelintir tangannya ke belakang seolah dia seorang penjahat atau musuh bisnis.


''Jangan banyak bicara! Turuti perintahku! Maka kau bisa selamat." Kevin mendekatkan bibirnya di telinga pria itu lalu berbisik penuh ancaman.


''Masuk!'' titah Kevin. Tangan satunya membuka pintu mobil satu tangan lagi tetap melintir tangan pria itu.


Dia membuka pintu mobil dan mendorong masuk pria itu ke dalam mobilnya. Seperti sapi di cocok hidung, pria itu menurut dia masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di kursi belakang sopir, tanpa bertanya apapun.


Plak..


Mafia itu menutup pintu mobil dengan kasar. Kevin duduk bersebelahan dengan pria itu. Kevin menodongkan pistol di kepala pria itu teriring senyuman misterius khas Kevin.


''Katakan dengan jujur setiap pertanyaan yang akan aku tanyakan. Jangan berbelit-belit. Ingat satu kali anda berbohong satu kali timah panas ini bersarang di dalam kening anda. Anda tahu aku tidak sekedar mengancam tetapi aku bisa membuktikan itu.'' Kevin menarik pelatuk dia menunjukkan kepada pria itu ada sepuluh peluruh yang di dalam pistol itu berarti jika dia berbohong timah panas itu akan bersarang dalam kepalanya.


Tidak


Tidak

__ADS_1


Dia memiliki seorang gadis berusia dua puluh tahun yang tengah berjuang melawan sakitnya, kanker darah. Dia harus pulang dengan selamat pasti putrinya tengah mencari dia.


''Baik, Tuan.'' Dia menganguk cepat tidak ingin lama-lama bersama mafia berdarah dingin ini. Di tambah ia terus membayangkan putri kesayangannya itu tengah memangil namanya. Daddy.


''Ada hubungan apa anda dengan istri saya?'' Kevin langsung ke inti permasalahan. Dia tidak suka berbelit-belit.


''Istri? Anda jangan bercanda tuan. Saya tidak serendah yang tuan pikirkan saya sudah menikah kami juga sudah di karunia seorang anak. Lalu, mengapa saya harus berselingkuh?'' Pria itu tidak terima di tuduh selingkuh. Enak saja emosi boleh jangan asal nuduh begitu.


Plak...


Satu kali pukulan di kursi mobil.


''Lalu, wanita yang barusan kau ajak ngobrol siapa. Cih...Dia menunjukkan nomor ponsel segala. Jangan bilang aku tidak melihat semuanya. Ini semua kelakuan mu ada sini.'' Kevin menunjukkan rekamanan video yang tadi ia ambil dari mobil dengan kamera ponsel.


Sedikit buram karena terhalang kaca.


''Ini istri anda?'' pria itu melotot. Dia benar-benar tidak tahu jika dia tahu itu istri mafia gila ini dia juga tidak akan setuju apartemennya di beli Nabila. Dia masih sayang nyawanya.


''Hmmm...'' Kevin berdehem wajahnya dingin tatapanya sulit diartikan.


Takut?


Tentu. Pria ini sangat ketakutan, tapi dia harus menjelaskan kesalah pahaman ini.


''Dia wanita dari Spanyol. Dia bercerita dia mau di bunuh kekasihnya karena itu dia kabur dari Spanyol. Dan tinggal di Paris. Mungkin tadi Tuan melihat dia menunjukkan transaksi pembayaran saat Nona Nabila menunjukkan ponselnya di saya. Sumpah demi Tuhan saya tidak berselingkuh Tuan. Anda hanya salah paham.'' Pria itu menjelaskan secara detail.


Bahu Kevin merosot ke bawah di iringi helaan napas lega. Sungguh, dia menyesal telah menuduh Nabila memiliki sugar daddy. Dia tadi sempat setuju dengan Reno jika bayi yang di kandung Nabila bukan bayi Reno.


Argh...


Terkadang penyesalan selau datang terakhir. Emosi selalu membuat seseorang kalap menuduh tanpa mengetahui cerita sebenarnya. Untung saja dia tidak tersulut emosi dan melakukan pembunuhan.


Kevin masih menahan emosinya.


Dasar jiwa mafia semua selalu ingin menang sendiri.


''Dia membeli apartemen kau? Dia akan tinggal disini?'' Kevin memastikan ucapan pria itu.


''Betul, tuan.'' Pria itu mengangguk.


''Dia hamil. Sementara hamil anak aku. Kami hanya selisih paham. Aku mana tega ingin membunuh dia? Istri saya hanya mengarang cerita'' Kevin memukul kursi itu untuk melampiaskan emosinya.


Kevin dengan bodohnya mengaku seenaknya sendiri. Bagaimana jika Nabila mendengar semua itu mau taruh dimana mukanya? Hamil anaknya? Istri? apa cinta bisa sebodoh itu?


''Argh..berapa uang yang sudah dia bayar? Katakan akan aku ganti semua uangnya. Tentu kau juga harus menjaga rahasia ini.'' Kevin mengulurkan tangannya meminta ponsel pria itu.

__ADS_1


__ADS_2