Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Akan ku bunuh kau.


__ADS_3

Kevin menarik napasnya dia berusaha tenang. Percuma emosi Reno tidak ada di depannya. Kevin juga tidak mau Pelayan itu semakin ketakutan yang ada pingsan dia yang susah sendiri.


" Baiklah.Lanjutkan bicaramu." Kevin memejamkan matanya mendengar semua yang akan diceritakan Pelayan itu. Dia juga berusaha mengontrol emosinya sebaik mungkin.


*****


Pagi-pagi pukul lima pagi sudah menjadi kebiasaan pelayan untuk membuang sampah. Saat sampai ruang tamu dia bertemu dengan seorang pria bertubuh tinggi, tampan dan berkulit putih bersih.


Waktu itu pelayan hendak berteriak ' Maling' namun Reno dengan cepat meletakan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat meminta pelayan itu diam.


''Siapa kamu? Mengapa bisa masuk ke apartemen majikanku?'' tanya pelayan itu ketakutan.


''Tenang. Saya kekasih Nona Nabila. Di mana kamar Nabila saya sudah menelpon dia kalau saya akan datang.'' jelas Reno penuh yakin.


''I...tu.'' tunjuk pelayan itu. ke arah kiri letak kamar Nabila.


Sejujurnya dia tidak yakin dengan pria itu tapi melihat dia masuk tanpa membunyikan bel pelayan itu yakin jika itu benar kekasih Nabila dan Nabila yang meminta dia datang. Aneh tapi ya sekarang seperti ini.


Pria itu dengan kasar mengetuk pintu Nabila. Waktu Nabila membuka pintu dia mendorong kasar tubuh Nabila masuk kembali ke kamar dan terjadilah keributan itu hingga Nona pingsan.


*****


Ceirita pelayan itu namun sejujurnya kaki tanganya sudah lemas ketika ia menatap wajah Kevin yang berubah menjadi dingin seram. Bak seekor singa yang kelaparan yang hendak menerkam mangsanya.


Brugh...


"Reno...akan ku bunuh kau!"


"Jadi dia tau pasword pintu apartemen ini?" tanya Kevin tidak percaya.


"Betul. Menurut cerita Nona dia yang memberikan pin pintu apartemen ini. Karena, Nona sangat mencintai kekasihnya." pelayan itu menunduk.

__ADS_1


"Bodoh. Cinta... cinta ...cinta!" desis Kevin.


"Berapa pin pintu ini?" tanya Kevin.


Pelayan itu dengan ragu-ragu, dia takut Kevin salah gunakan lagi seperti Reno.


"Katakan, berapa pin nya? saya tidak sebodoh pria bren**gsek itu." desak Kevin.


Akhirnya mau tidak mau pelyana itu memberitahu pun pintu apartemen. Kevin bergegas mengganti password pintu itu.


"Sudah . Ini pasword barunya. Jangan bodoh seperti Nona Nabila sembarangan memberikan pin pintu ke orang yang belum tentu baik."


Satu pukulan melayang di dinding apartemen Nabila. Hingga kepalan tangan Kevin mengeluarkan darah segar. Sakit? Tentu tidak sakit. Dia berharap dinding ini Reno. Jadi, dia akan menghajar Reno hingga pria itu tak berdaya dan memohon ampun.


"Kau benar-benar bodoh. Mengapa tadi tidak kau telepon aku?" Kevin memalingkan wajahnya dari pelayan itu. Kwatir dia tidak bisa mengontrol emosi nya.


"Maaf."


"Maaf tadi kami masih mengobrol namun karena kepala saya sakit Nona menyuruh saya minum obat dan beristirahat. Karena, saya sangat mengantuk efek obat yang saya minum itu." sambung pelayan itu lagi.


"Sudah kau masuk saja. Jangan takut nanti saya akan minta salah satu anak buah saya untuk berjaga disini. Ingat jangan membuka pintu sembarangan kepada orang asing kecuali aku atau anak buahku baru kau boleh buka pintu." pesan Kevin sebelum dia meninggalkan apartemen Nabila.


''Baik tuan. Pelayan itu pun masuk kembali ke apartemen sesuai perintah Kevin.


Kevin berlari menuju lift dia harus mencari Nabila. karena dari isi surat itu Kevin bisa menebak Nabila akan pergi keluar dari negara Spanyol. Dia ingat dulu Nabila pernah bercerita gadis itu ingin ke negara...


Lift berhenti di lantai lobby. Kevin bergegas keluar dari lift dia sedikit berlari hingga mengabaikan banyak tatapan mata yang menatap aneh dirinya. Tangannya langsung membuka pintu mobil ia masuk dan kembali menutup pintu mobil.


Plak...


Kevin menutup pintu mobil dengan kasar. Dia segera memasang sabuk pengamannya. Sebelum menginjak pedal gas mobilnya Kevin mengambil earphonenya yang ia letakan diatas dasbord mobil. Kevin tau siapa yang harus dia hubungi untuk melacak keberadaan Nabila saat ini.

__ADS_1


"Hallo ada pekerjaan lagi. Kau cari tahu ke mana Nabila pergi." Setelah mendengar sahutan dari si penerima telepon Kevin segera mengakhiri panggilan. Dia lalu menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan apartemen Nabila.


Drthh...


Baru Sampai di pertengahan kota Madrid ada panggilan telepon masuk. Kevin segera menjawab.


"Bagaimana, sudah tahu Nabila pergi ke mana?"


" Oke. Cek jam keberangkatan dia. Aku masih ada waktu untuk mencegah dia pergi dari sini. Satu lagi aku harap kau tidak melupakan janji kita masalah aku dan Nabila ini tidak boleh ada yang tau selain kau. Awas saja jika semua mengetahui ini berarti kau biang keroknya." ancam Kevin. Lalu ia kembali fokus menyetir menuju bandara. Jangan tanya berapa kecepatan perjam mobil yang Kevin kemudikan tapi jika saat ini ada yang berada dengan Kevin di dalam mobil maka mereka seperti menaiki Rollcooster.


Shiiiitttt...


Kevin menghentikan mobilnya di parkiran bandara. Di bandara anak buahnya sudah menunggu dia di sana. Anak buah itu menghampiri Kevin yang baru keluar dari mobil.


"Tuan."


"Mana mantel, topi dan Kacamata baru." tanyanya pada intinya.


"Ini, Tuan."


"Terima kasih." Dia menerima paperbag dari anak buahnya.


Kevin segera mengeluarkan mantel berwarna hitam, topi hitam dan kaca mata dari paperbag. Dia lalu mengenakan semuanya.


"Apa aku sudah tidak bisa dikenali lagi?" tanya Kevin.


"Sudah Tuan . Anda terlihat semakin tampan, Tuan." puji Anak buahnya.


"Nggak usah ngelawak." sanggah Kevin. Dia memberikan kunci mobil miliknya kepada anak buahnya.


"Kau harus ke apartemen Nabila jaga dua puluh empat jam disana. Nanti aku transfer bayaranmu." suruh Kevin.

__ADS_1


__ADS_2