Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Masih waraskan?


__ADS_3

DI Apartemen Kevin.


Mafia itu tampak sedang gelisah dia berjalan kesana-kemari di ruang tamu apartemen miliknya.


''Sekarang sudah pukul delapan pagi, tumben bangat dia belum bangun. Setahu aku, Nabila biasanya bangun pukul tujuh pagi,'' Kevin bergumam. Ahh...Kevin sampai segitunya dia mengenal Nabila. Ponselnya ia tepuk-tepuk ditelapak tangany sudah tiga kali dia melakukan panggilan ke nomor Nabila tapi tidak ada jawaban tiga kali mengirim pesan tapi hanya cekliz satu kali pesan suara hanya tawaan pun sama tidak dibuka.


Gelisah, kwatir takut semua bercampur menjadi satu. Sejak tadi malam Nabila meminta Kevin mencari amplop coklat di dalam mobilnya. Kevin sama sekali tidak bisa tidur dia terus memikirkan apa isi di dalam amplop coklat itu hingga tadi malam dia melihat Nabila sepanik itu? Ingin rasanya dia pergi ke apartemen Nabila namun dia merasa tidak etis pagi-pagi sudah bertamu. Dia juga bingung harus memberikan alasan apa jika ditanyai mengapa ia bertamu sepagi itu? Tidak mungkin dia menumpang sarapan pagi di sana, 'kan?


''Bi, tolong buatkan saya kopi tanpa gula.'' ucapnya. Memikirkan Nabila membuat otaknya sakit.


''Baik, Tuan.'' jawab pelayannya sedikit heran. Pelayan itu belum beranjak dari hadapan Kevin membuat mafia itu mengernyit heran. Dia menghentikan gerakan tangan yang sedang memijit keningnya, menatap heran pelayannya.


''Kopinya habis?'' tanyanya heran.


''Masih ada tuan.'' Ia masih menunggu. Pelayan itu berpikir Kevin salah bicara.


''Lalu, mengapa kau masih berdiri di depan ku?'' Kevin sudah mulai emosi.


''Tuan yakin minum kopi di pagi hari? Bukannya setiap pagi tuan selalu minum teh Mate?'' Pelayan itu memastikan benar atau tidak permintaan Kevin barusan. Dia takut salah menyiapkan minuman bisa-bisa dia yang kena semprot amarah dari Kevin mengingat suasana hati mafia itu sedang tidak baik-baik saja.


Pelayan itu tau benar Kevin dan teman-temannya sangart menyukai teh Mate. Teh Mate ini sangat terkenal di benua Eropa dan Amerika. Selain rasanya pahit teh ini sangat bagus untuk kesehatan. Teh mate tidak sama dengan teh lainnya yang sama mengandung kandungan kafe*in tapi tidak membuat gelisah.


Oleh karena itu Kevin dan teman-temannya selalu rutin meminum teh mate dipagi hari untuk dapat meningkatkan fokus namun dengan risiko atau efek samping rendah. Karena itu mate sangat digemari para Mafia hingga pesepak bola dunia itu salah satunya bintang bola dunia Lionel Messi selalu rutin meminumnya. Agar stamina mereka terjaga dan fokus mengerjakan pekerjaan mereka.


"Nggak aku mau kopi. Bi." tegasnya sekali lagi. " Baiklah, jika bibi tidak mau buatkan, biar aku sendiri yang akan membuatnya." Dia hendak berdiri dari sofa namun dengan cepat Pelayan itu pergi.


"Baik. Maafkan kelancangan saya, Tuan. Saya segera pergi." sahut pelayan itu dia bergegas pergi dari hadapan Kevin.


Kevin menghela napas dia menyenderkan tubuhnya dengan kasar disenderan sofa.


"Dia membuatku gila. Kenapa cinta kadang membuat orang bodoh?" Lagi-lagi pikirannya kembali ke Nabila.


Drthhh...

__ADS_1


Karena mengkwatirkan Nabila. Ia sampai mengabaikan panggilan masuk.


Drthhh...


Ia tersadar ternyata ponselnya yang bergetar, "What? Alfonso?" Ia langsung berdiri, tangannya langsung menggeser layar ponsel lalu menempelkan ditelinganya.


"Ada apa, Al?" tanyanya. Ia mengusap kasar wajahnya. Pikirannya masih di wanita itu.


[Kau tidak bunuh diri, 'kan?]" Terdengar Alfonso terkekeh dari seberang sana.


"Siapa?" Kevin kaget.


[Kau. Kami semua di mansion mengkwatirkan kau. Kenapa tadi malam menghilang? Apa kau kecewa melihat Nabila dan Reno pergi berdua? Tapi syukurlah kau masih hidup.]


"Ahhh..gila kau, Al. Aku masih waras selagi Reno belum melingkarkan cincin nikah di jari wanita itu aku masih berhak mengejarnya." Ia tersenyum dan memang ucapanya tidak main-main.


[ Makin nggak waras kau, Vin. Udah cepatan ke markas ada senjata yang baru datang dari Ru*sia kau harus mendampingi anak-anak mensortir semuanya itu.]


Panggilan pun berakhir. Kevin menyugar rambutnya. frustasi. Dia sebenarnya masih menunggu kabar Nabila tapi pekerjaan harus di utamakan. Iya kali dia bosnya dia bisa seenaknya memberi perintah. Tapi, Kevin masih status bawahan memang benar tidak ada sekat diantara dia dan Bos mafia itu. Namun, dia sadar bisa hidup semewah sekarang berkat tangan dingin Alfonso. Jadi, apapun itu entah menyangkut perasaan cinta atau amarah tetap pekerjaan harus diutamakan.


Kevin bergegas mengambil kunci mobil tidak lupa pistol ia selipkan di bagian pinggangnya. Hal ini yang tidak di sukai Nabila. Wanita itu sangat trauma dengan senjata, Nabila masih ingat kejadian empat bulan lalu, penyerangan di pernikahan Stefani masih tersusun rapi di memori Nabila. Karena itu jika berkumpul di mansion Nabila selalu berusaha tidak melihat ke arah pinggang Kevin atau teman Mafia Kevin yang lainnya.


Kevin bergegas keluar dari apartemen, dia masuk ke dalam lift menuju parkiran mobil.


Ting...


Lift berhenti ia keluar, langkahnya begitu cepat menuju mobilnya. Kevin masuk ke dalam mobil dan segera ia melajukan mobilnya menuju Mansion terlebih dulu. Harapan Kevin semoga Nabila sudah disana mengingat mobilnya masih di mansion. Bisa sajakan wanita itu pagi-pagi sudah di mansion untuk mengambil mobilnya.


"Mobilnya kan masih di mansion. Semalam dia perginya dengan si brengs*ek." umpatnya. Kemudahan, ia menambah kecepatan mobil tidak peduli banyak pengemudi yang mengumpat karena merasa terganggu dengan cari kemudi Kevin. Tapi, itu sudah menjadi makanan Kevin sehari-hari dia selalu menyalip mobilnya di jalan jika keadaan darurat seperti saat ini.


❤️❤️❤️❤️❤️


Reno sudah tiba di kantor. Dia berjalan begitu cepat tanpa memperhatikan Walker yang sedang menunggu di depan lift.

__ADS_1


"Reno, lu mimpi apa pagi-pagi uda datang." tegur Walker merasa heran.


"Emang sejak kapan aku datang telat?" Reno balik bertanya.


"Tapi, nggak sepagi ini. Reno." sahut Walker.


"Nggak lagi bosan aja di apartemen." Keduanya masuk ke lift bersama.


"Jangan bilang kau nggak dapat servis dari Nabila makanya kepala mu pusing." goda Walker saat keduanya di dalam lift.


"Jangan bahas wanita itu dulu." Entah sadar atau tidak ia berkata tanpa memfilter ucapannya.


"Tumben. Biasanya lengket seperti perangko." sahut Walker.


"Itu dulu sebelum dia hamil tapi sekarang dia hamil, Walker. Aku pusing ternyata aku dijebak wanita sialan itu."


"Kan lagi di kantor. Hari ini meeting pagi ya." Reno mengalihkan pembicaraan.


"Ya, ada Klien dari Jerman. Kau yang bertemu dengan dia ya, soalnya aku masih ada pertemuan dengan Bos besar." ucap Wlaker.


Deg...Sumpah demi pantat ayam tulang Reno mendadak lemas. Bicara tentang bos besar berarti Alfonso? Dia, ' kan suami dari Leticia yang berarti sahabat Nabila.


"Mati aku jangan bilang tuan besar mau mengintrogasi aku. Ahh wanita itu Pengen ku masukin ke karung terus ku buanga ke segitiga bermuda biar hilang tanpa jejak!" batin Reno lagi.


Ting...


Lift berhenti di lantai dua puluh dimana itu ruangan Reno dan Walker berada. Namun, Reno tidak beranjak keluar dari lift, pria tampan dengan ciri khas jakun terindah sejagat itu hanya bergeming dengan tubuh masih bersender di dinding lift.


"Reno, woy kau nggak keluar?" Walker melambaikan tangan didepan wajah Reno.


"Ha? Sudah terbuka?" Reno seperti orang bodoh. Dia masih bingung menatap Walker.


"Tu, liht liftnya sudah terbuka." Walker menggelengkan kepalanya dia tidak percaya melihat Reno pagi ini. Pria ini seperti kesambet. Datang kantor pagi-pagi di tambah lagi perilakunya seperti orang linglung.

__ADS_1


"Mungkin dia dan Nabila sedang ribut? Tapi apa iya hanya karena wanita dia bisa jadi linglung? Ini yang aku takutkan untuk pacaran karena wanita itu racun ." batin Walker.


__ADS_2