Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Paris?


__ADS_3

Kevin bergegas masuk ke dalam bandara meninggalkan anak buahnya di tempat parkiran karena hanya dia sendiri yang menyusul Nabila sementara Bruno membawa mobilnya kembali ke apartemen. Langkah Kevin tergesa-gesa sangat cepat dalam hati dia berharap semoga masih ada kursi kosong untuk dirinya supaya bisa satu pesawat dengan Nabila. Dia berjalan ke arah loket penjualan tiket pesawat. Kevin berdiri bersender di dinding matanya memperhatikan setiap orang-orang yang melewati dia menuju pintu masuk untuk antirna boarding pass. Kevin berharap salah satu dari orang-orang itu Nabila. Namun, bola matanya hampir keluar sosok yang di cari Kevin tidak ada.


''Selamat malam tuan ada yang bisa kami bantu?'' tanya kasir loket. Mengagetkan Kevin yang fokus mencari keberadaan Nabila.


''Malam juga, masih ada tiket tujuan Paris?'' tanya Kevin. Ia berdiri tidak tenang matanya mencari sosok wanita yang membuat dia hampir gila. Nabila.


Kevin masih ingat dengan rapi dulu Nabila pernah mengatakan dia ingin sekali ke Paris dan benar saja tadi di lacak anak buahnya, Bruno. Nabila menggunakan pesawat dengan jadwal pemberangkatan pukul sembilan malam dengan negara tujuan Paris.


''Untuk kelas ekonomi sudah habis. Hanya sisa kelas bisnis itu pun tinggal satu kursi.'' Wanita yang bertugas sebagai penjual tiket pesawat itu seperti meragukan Kevin tidak mampu membeli tiket kelas bisnis.


''Shi*ft...Aku beli itu.pemberangkatan pukul sembilan__ malam kan? Sekarang ini__?" tanya Kevin memastikan. Pembicaraannya penuh penekanan hingga wanita itu menunduk ketakutan.


"Iya benar, Tuan."


"Baiklah. Saya bayarnya pakai kartu saja karena saya tidak biasa menyimpan uang cash.'' Kevin tersenyum sinis wanita ini benar-benar menganggapnya rendah bisa saja Kevin membeli bandara ini sekaligus jika ia mau. Apa wanita ini tidak tahu siapa anggota dari kelompok mafia Red Devil? Jika ia mau, malam ini Kevin berangkat ke Paris menggunakan pesawat pribadi tapi dia tidak ingin masalahnya menggangu pekerjaan sahabat-sahabatnya karena dia tau sahabat-sahabatnya pasti akan ikut melibatkan diri dalam masalah yang saat ini ia hadapi. Kevin tidak mau itu terjadi karena dia masih mampu menyelesaikan masalah itu sendiri.


''Bisa, Tuan.'' sahut pelayan itu.


"Tolong cepat karena saya lagi mengejar seseorang." ujarnya seraya mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya lalu memberikan kepada kasir loket itu.


Betapa kaget kasir loket itu ketika melihat kartu yang diberikan Kevin. Kartu berwarna hitam?Karena dia tau yang menggunakan kartu ini hanya beberapa orang di Spanyol karena nominalnya diatas satu miliar.


Usai membayar dan mendapatkan tiket pesawat. Kevin bergegas pergi dari loket. Dia masuk lalu berjalan menuju antrian boarding pass. Namun, saat ia hendak melihat ke arah depan ada sosok yang sementara mengantri untuk pengambilan boarding pass. Lega, bahagia semua bercampur aduk menjadi satu. Ingin rasanya dia pergi memeluk wanita itu tapi dia tidak ingin wanita itu semakin menjauh dari dirinya.


"Hmmm...Ternyata kau disini. Apa kau tidak tahu dengan keputusanmu ini kau hampir membuatku gila?" gumamnya.

__ADS_1


Nabila sudah mendapat boarding passnya dia berjalan menuju ruang tunggu menunggu keberangkatan pesawat. Begitupun dengan Kevin dia juga cepat memberikan tiket untuk mendapatkan boarding pass. Kebetulan di ruang tunggu mereka harus berpisah mengingat Kevin di bagian kelas bisnis sementara Nabila kelas ekonomi.


Akhirnya satu jam menunggu di ruang tunggu dan dua kali drama penundaan pesawat karena adanya kesalahan teknis. Nabila menghela napas lega setelah pengumumana dari pihak bandara meminta para penumpang segera menuju pesawat karena setengah jam lagi pesawat Paris Air akan segera take off menuju Paris, Perancis.


Nabila berdiri dari kursi tangannya menenteng tasnya di bahu kiri. Malam ini cuaca cukup dingin ia lupa membawa sarung tangan dan syal. Nabila memasukkan dua tangan ke dalam saku mantelnya. Helaan napas lega keluar dari mulutnya saat ia melewati koridor menuju pesawat.


"Sayang, let's go kita bisa." Ia menunduk melirik ke arah perutnya diiringi senyum sinisnya.


Ia bersyukur mulai sekarang dan selamanya ia bebas dari tekanan Reno. Tidak mengapa anaknya lahir tanpa seorang ayah asal anaknya selamat dan dia juga bebas dari tekanan batin. Nabila hanya ingin anaknya lahir dan dia juga tidak depresi karena yang dia baca dari dari laman internet ibu hamil harus benar-benar jauh dari tekanan batin dan harus selalu bahagia semua itu untuk tumbuh kembang janin di dalam rahimnya.


Nabila melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat sesampainya didepan pintu pesawat ada dua Pramugari cantik yang menunggu di depan pintu untuk pengecekan boarding pass.


Nabila memberikan boarding passnya ke salah satu pramugari yang berdiri didepan pintu masuk.


''Selamat malam Nona.'' sapa Pramugari.


"Kursinya di 11C ya." ujar Pramugari itu seraya mengembalikan boarding pass Nabila.


"Baik.Terima kasih." Nabila melemparkan senyum manisnya. Hingga ia membuat seorang pemuda dibawah tangga pesawat sana mengigit bibir bawahnya ingin rasanya pria itu berlari keatas pesawat membawa Nabila dalam pelukannya, bergandengan tangan dan berkata ,' Ayo nkita bersama," menuju kursi pesawat duduk berdua sembari saling bergenggaman tangan erat.


Argh...


Siapa Nabila? Hingga seorang Kevin dengan pesonanya yang luar biasa selalu menghipnotis setiap wanita yang melihatnya bisa bertekuk lutut tak berdaya kepada seorang Nabila? Gadis yatim piatu yang besar dipanti asuhan?


"Pak? Gimana jadi?" tanya seorang pria itu yang sedari menunggu jawaban dari Kevin.

__ADS_1


"Ahhh...Jadi dong." Kevin kaget ia cepat menoleh menatap pria yang mengajak dia bicara.


"Ini boarding pass saya." Pria itu memberikan boardingnya kepada Kevin mereka bertukaran kursi.


"Terima kasih. Ini ambil untuk kau." Kevin memberikan lembaran poundsterling dan juga boarding passnya.


"Terima kasih juga pak." Pria itu pergi menaiki pesawat begitu juga Kevin.


Mereka bertukaran kursi Kevin akhirnya memilih kursi kelas ekonomi untung saja ada seorang pria yang mau bertukaran boarding passnya.


****


Waktu menuju pesawat tanpa sengaja pria itu menabrak bahu Kevin hingga Kevin menatap tajam pria itu.


"Maaf, tuan saya tidak sengaja." ucap pria itu.


"Baik. Tidak apa-apa. Apa anda juga akan berangkat menggunakan pesawat Paris Air?" tanya Kevin. Keduanya jalan bersama menuju pesawat.


"Iya benar Tuan." sahut pria itu ketakutan.


"Jangan takut saya bukan pembunuh." Kevin tau pria itu ketakutan.


Pria itu mengangguk tapi jujur sebenarnya badannya sudah gemetaran. Bagaimana tidak ketakutan tadi tidak sengaja dia melihat wajah Kevin anggota mafia yang ditakutkan di Eropa.


"Anda mengunakan class bisnis atau ekonomi?" tanya Kevin lagi.

__ADS_1


"Ekonomi tuan."


"Apa kau mau kita bertukaran kursi? Kebetulan istri saya lagi marah dia mau kabur ke Paris sayangnya dia mengunakan kelas ekonomi dengan pesawat yang sama." cerita Kevin. Ia berbohong jika Nabila istrinya.


__ADS_2