Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Izinkan aku menjadi ayahnya.


__ADS_3

Kevin mengangkat tangan kanannya perlahan tangannya menyentuh kepala Nabila. Ia mengusap lembut rambut Nabila membiarkan wanitanya menangis didadanya, untuk mengeluarkan semua yang selama ini dipendamnya sendiri. Sementara tangan kirinya menarik pinggang Nabila semakin merapat dengan tubuhnya. Begitu juga dengan Nabila, ia menyenderkan kepalanya di dada Kevin, dua tangannya sudah melingkar dipinggang mafia itu. Nyaman.


''Menangislah sepuasnya. Jangan di tahan, keluarkan semuanya yang selama ini menyiksa batinmu.'' Ia mengengadah keatas matanya berkaca-kaca, Kevin menangis menyesal kenapa dulu dia memilih mengalah, hanya karena dia mencintai Nabila? Tapi, kenyataannya wanita itu tidak bahagia. Kemesraan yang selama ini di tunjukkan Reno dan Nabila hanya dusta. Tangan Kevin mengepal, gerahangnya pun mengeras.'' Argh...Reno Reno.'' batin Kevin.


Setelah puas menangis dan merasa lega Nabila lalu melepaskan tangannya dari pinggang Kevin, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Kevin. Namun, dengan cepat kedua tangan Kevin menahan bahu Nabila, kedua mata dua insan berbeda gendre itu saling bertemu.


Hening


Hampir sepuluh menit kedua mata saling mengunci disana. Kevin akhirnya tersenyum dia menarik tubuh Nabila lalu memeluknya lagi kali ini sangat erat seakan ia tidak ingin melepas wanita itu lagi. Hingga Nabila merasakan oksigen di tubuhnya hampir habis.


"Lepaskan! Kau hampir membunuhku." Nabila memukul pelan dada Kevin.


Sementara yang dipukul memamerkan deretan gigi putihnya merasa tidak bersalah lalu sedikit menunduk karena tubuhnya yang lebih tinggi dari Nabila.


"Sudah lega, hmm?" tanyanya lembut.


Nabila tidak menjawab ia hanya mengangguk.


"Sekarang kita sudah bisa duduk?" Kevin masih menunduk dia menatap wajah Nabila. Wanita itu hanya diam, Lagi-lagi Nabila mengangguk menandakan ia menyetujui permintaan Kevin.


"Baiklah. Yuk." Kevin menarik lembut tangan Nabila. Ia menuntun Nabila duduk di sofa lalu ia pun duduk disamping Nabila. Tangannya mengisi jemari- jemari kurus Nabila. Kemudian ia membawa tangan Nabila menempel di dadanya seraya ia meremas jemari Nabila.


Kevin menggelengkan kepala matanya tidak lepas dari wajah Nabila. Wajah yang ia rindukan selama ini, yang hampir saja membuat dia gila hingga ia melupakan pekerjaan dia hanya untuk mengejar wanita yang saat ini sedang berada disampingnya.


Lega, tentu Kevin merasa sangat lega. Tapi, ada yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Apakabar?" tanyanya berhati-hati tidak ingin membuat wanita itu tersinggung. Karena, Kevin diam-diam mencari di laman internet mencari tau apa saja yang harus dihindari saat menghadapi wanita hamil? Dan dari laman internet dia mengetahui jika wanita hamil moodnya sering berubah-ubah.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Nabila meraih tisu lalu mengusap air matanya.


"Hmm...aku tau itu. Tapi..." Jeda sebentar.


"Aku ingin menanyakan sesuatu tapi maaf jika kamu nggak mau menjawab nggak apa-apa. Aku hanya ingin tau kebenaran saja." Ada helaan napas dari Kevin menandakan dia sebenarnya berat bertanya tentang apa yang dikatakan Reno tapi dia juga penasaran.


"Tanyakan saja, aku pasti menjawabnya." sahut Nabila.


"Sorry, kamu..."


"Aku hamil? Ya Aku hamil." butiran bening itu jatuh lagi dipipi chubby Nabila. Suaranya serak menandakan wanita itu sedang menangis. Nabila tau maksud Kevin, karena itu sebelum Kevin bertanya Nabila sudah memotong pembicaraan Kevin.


"Bu...kan! Bu...bukan itu." Kevin bingung. Tenggorokannya mendadak kering. Dia tidak tega tapi Nabila sudah berkata mau tidak mau dia harus mendengar semuanya.


"Cukup Nabila!" Dengan cepat Kevin menempelkan jari telunjuknya di bibir Nabila. Suara Kevin pun naik satu oktaf membuat Nabila kaget. Ya benar, karena Kevin tidak ingin mendengar nama Reno lagi.Karena dia takut lepas kendali.


Nabila kaget dia tidak menduga jika Kevin bisa membentak dia.Ini pertama kalinya Kevin membentak dirinya.


"Itu kebenarannya." Nabila tersenyum sinis. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Kevin.


Kevin menggelengkan kepala meminta Nabila berhenti berbicara, ia melepaskan genggaman tangan mereka lalu mafia itu berdiri dari sofa yang tadi ia duduki. Kevin membelakangi Nabila seraya melipat kedua tangan di dada bidangnya.


"Aku sudah mengetahui semua itu dari mulut pria itu." ia mengangkat sudut bibir atasnya, sakit. Tentu hatinya sangat sakit pria mana yang mau melihat wanita yang ia cintai terluka seperti itu?

__ADS_1


"Lalu, mengapa kau harus datang ke Paris? Harusnya kau minta dia bertanggung jawab." Bukan tidak mengetahui Reno sering berlaku kasar terhadap Nbaila namun Kevin ingin dengar sendiri dari Nabila.


"Tidak. Dia tidak mau menerima anakku. Untuk apa, aku bertahan disana jika yang ku dapat hanyalah siksan batin?" Air mata Nabila semakin deras mengalir. Luka lama yang sudah lama dia kubur kini dibuka Kevin lagi.


''Dia tidak menginginkan kalian berdua tapi aku menginginkan kau dan janin itu.'' sahut Kevin. Dia membalikkan tubuhnya lalu melangkah perlahan mendekati Nabila yang sedang duduk di sofa. Kevin perlahan menunduk lalu ia berlutut di hadapan Nabila tangannya meraih kedua tangan Nabila mengisi jemari-jemari kurus itu dengan jemarinya, Sorot matanya menatap tajam Nabila perlahan Kevin menunduk mencium punggung tangan Nabila.


''Aku, menerima janin itu. Tidak peduli benih siapa di dalam sini aku tetap menerima dia dan aku akan menjadi ayah dari janinmu. Jadi, izinkan aku menjadi ayah dari anakmu." Kevin menatap Nabila, sorot mata Kevin meyakinkan bahwa ucapan dia bukan hanya bualan tapi ia serius menerima Nabila dan janin itu.


Nabila menggeleng dia menolak, "Kenapa kau tidak yakin?" tanya Kevin.


"Aku tidak pantas dicintai orang sebaik dirimu. Aku sudah..." Sesak didadanya. Penyesalan Nabila semakin mendalam.


"CK, Asal kau tau aku tulus mencintaimu, aku mencintai Nabila yang dulu dan sekarang bahkan sampai aku mati nanti. Apakah kau pikir aku mengejar kau karena ingin menikmati tubuhmu? Tidak. Aku mencintai kau karena kau wanita sederhana, kau yang selama ini aku cari. Bukan wanita lain, paham?'' Kevin mengangkat kepalanya menatap Nabila yang sedang berurai air mata. Seulas senyum manis tercetak dibibir Kevin, ''Hmm? Kenapa kau belum yakin? Karena pekerjaanku?" lagi-lagi Kevin tersenyum. Tangannya ingin sekali menyentuh perut Nabila namun Kevin sadar dia belum mendapat izin.


Nabila menggeleng, "Anak ini bukan anakmu" sahut Nabila.


"Sekarang dia sudah menjadi anakku, jika izin itu kau berikan.'' lanjut Kevin lagi.


Nabila diam, lidahnya kelu untuk berkata ia tidak menyangka pria yang dulu selalu ia tolak dengan besar hati menerima janin dari pria lain? Pria yang di minta Nabila untuk membuat Kevin menjauh dari dirinya. Tapi, hari ini mafia itu datang dan bersedia menjadi ayah dari janinnya? Tidak, Nabila belum yakin dia juga sadar akan perbuatan dia terhadap Kevin. Nabila ingat, dia pernah mengatakan pekerjaan Kevin itu hina.


''Tuhan, mengapa engkau mempermainkan takdirku? Pria ini layak mendapatkan wanita baik-baik. Aku tidak pantas berada di sampingnya.'' batin Nabila. Ia melepas tangannya dari genggaman Kevin, ''Aku tidak bisa, Vin. Aku bukan Nabila yang dulu aku sudah kotor.''


''Kata siapa kamu kotor? Hanya pria breng*sek yang mencampakkan wanita sebaik kamu.'' Kevin tertawa garing.


"Kau keras kepala. Sifatmu tidak pernah berubah." Nabila tersenyum.

__ADS_1


"Jadi? Izinkan aku menjadi ayahnya." Kevin menatap Nabila seraya berkedip.


"kau." Nabila tertawa lalu dengan cepat Kevin melingkarkan tangannya dipinggang Nabila sembari menempelkan kepalanya di kedua paha Nabila, "Terima kasih. Aku janji akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk kamu dan anak-anak kita." ucap Kevin.


__ADS_2