Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Bangun Non.


__ADS_3

"Non..." Pelayan itu akhirnya memberanikan diri menyentuh punggung Nabila. Sumpah demi Tuhan dia sudah memikirkan hal buruk itu. Bagaimana jika yang dipikirkan pelayan itu menjadi kenyataan? Pelayan itu tidak bisa membayangkan jika majikannya sudah ...ahh..tidak...tidak! Dia tidak mau menjadi saksi didepan pihak kepolisian.Tidak! Mendengar bunyi sirene aja dia ketakutan. Apalagi...


"Non, bangun tolong jangan nakutin saya." Air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Ia menggerakkan bahu Nabila namun masih tetap sama tidak ada respon, dua kali pun masih sama akhirnya pelayan itu berlutut ditepi ranjang dia sedikit lebih keras menggerakkan tubuh Nabila.


"Too..." Nabila berkata namun tubuhnya masih lemas jejak air matanya masih menempel dipipi hingga ke hidung. Ia kembali diam menggantungkan ucapannya.


"Oh Tuhan terima kasih akhirnya Nona merespon." ucap pelayan itu penuh syukur.


''Non. Akhirnya Non bangun.'' Ia melupakan apa status dia dan Nabila tanpa memikirkan sekat itu lagi. Pelayan itu langsung memeluk Nabila.


''Bi...'' lirihnya pelan menatap nanar Pelayannya.

__ADS_1


''Non, saya bantu Non membaringkan Nona dengan baik.'' ujar pelayan itu seraya tangannya berada dibawa tengkuk Nabila satu tangan lagi berada di bagian paha Nabila, ''Pelan-pelan Non.'' ucapnya seraya membantu Nabila berbaring dengan posisi terlentang. Ia meluruskan kedua kaki Nabila yang tadi ditekuk menjadi lurus.


''Makasih, Bi.'' Nabila menyeka air matanya.


Pelayan itu tidak bisa menjawab dadanya sesak tenggorokannya seketika kering. Tidak tega melihat kondisi Nabila saat ini. "Pria bre**ngsek teganya kau menyakit gadis baik-baik ini." batinnya, ia menangis dalam diam. hatinya sungguh pilu tidak sanggup membayangkan apa saja yang pria itu lakukan kepada majikannya itu hingga Nabila tak berdaya seperti sekarang.


Setelah berbaring dengan benar. Nabila perlahan membuka matanya ia menatap pelayannya diiringi ulasan senyum memaksa.


"Bi..." Akhirnya airnya kembali jatuh kaki tangannya bergetar. Ia masih syok dengan kedatangan Reno yang tiba-tiba dan perlakuan kasar Reno kembali dia rasakan yang kedua kalinya. Tiga bulan menjalin hubungan dengan Reno, pria itu selalu menampilkan sisi manisnya hingga Nabila terlena dia merasa dunia dia hanya untuk Reno dan Reno. Ya walaupun dia juga tau Jalinan cinta itu atas dari permintaan dirinya namun setelah pertama kali Reno merenggut mahkota berharganya pria itu berubah menjadi manis meskipun kata cinta tidak pernah dia keluarkan dari mulutnya untuk wanita yang sudah dengan tulus__iklas__ menyerahkan mahkota yang ia jaga selama dua puluh enam tahun itu kepada Reno.


"Iya Non. Non, apa yang Non rasakan?" tanya pelayan itu ragu-ragu. Menyadari Nabila yang sedari tenggelam dalam pikirannya.

__ADS_1


"Air." ia kembali memejamkan matanya. Tubuhnya masih sakit semua ditambah tenggorokannya kering karena tadi ia kebanyakan berteriak.


"Baik, Non. Tunggu di sini sebentar saya akan segera kembali." Pelayan itu bergegas keluar dari kamar Nabila menuju dapur. Ia membuka pintu kabinet mengambil cangkir lalu mengisi dengan air. Ia juga bergerak cepat menyeduhkan teh hangat herbal lalu meletakkan diatas baki.


Setelah air dan teh hangat tersusun rapi di dalam baki. Pelayan itu membawanya dengan hati-hati masuk kembali ke kamar Nabila.


"Non. Saya bantu Nona bangun, ya." Sebelum membantu Nabila bangun dia meletakkan baki diatas nakas. Kemudian pelayan itu membungkuk sedikit lalu membantu Nabila bangun.


Nabila bersender di headboard ranjang. Pelayan mulai mengambil cangkir berisi air mineral lalu membantu meminumkan pada Nabila. Mata pelayan itu menatap nanar Nabila. Dia tidak tega melihat kondisi Nabila saat ini berantakan dengan bekas tamparan merah di pipi Nabila ditambah lagi rambut Nabila yang acak-acakan tidak seperti Nabila biasanya.


"Terima kasih. Bi." Nabila memejamkan matanya. Tenaganya mulai kembali namun belum seluruhnya.

__ADS_1


"Sama-sama. Non." Ia kemudian meletakkan cangkir berisi air mineral yang masih setengah cangkir kembali ke dalam baki.


Pelayan itu mengusap-usap punggung Nabila lalu tangannya perlahan turun ke bagian wajah mengambil helaian rambut Nabila yang menutup wajah cantik itu ia menyelipkan rambut itu kembali di samping telinga Nabila.


__ADS_2