
Setelah menghabiskan wine dicangkirnya Kevin berdiri dari sofa, Dia memilih menyusul Gareth dan Andre ke taman belakang. Namun saat dilorong menuju taman belakang Kevin bertemu Nabila yang akan ke taman belakang juga.
''Bareng, yuk.'' ajak Kevin.
''Duluan. Aku masih tunggu Stefani,'' tolak Nabila. Wanita itu sengaja menoleh kebelakang mencari Stefani.
''Ya udah aku duluan.'' Kevin yang kesal ditolak Nabila. Dia menuruni anak tangga begitu cepat meninggalkan Nabila sendiri di lorong itu.
Namun, saat satu kakinya hendak menuruni anak tangga terakhir. Ia menghentikan langkahnya, rahangnya mengeras. Sorot matanya menatap tajam sosok yang sedang tertawa bersama Gareth dan Andre. Pria itu tertawa tanpa beban.
"Brengsek! Ternyata dia sudah datang," batin Kevin.
Tangannya sudah mengepal, ia mengingat lagi sikap pria itu yang meninggalkan Nabila seorang diri ditaman. Dia berusaha menahan emosinya namun hatinya seperti dicekram begitu keras. Sakit rasanya jika mengingat lagi wanita yang dia cinta disakiti pria itu. Namun, seberapa besar usahanya, wanita itu tetap milih Reno.
''Dari mana aja lu, Vin?'' tanya Andre, mengagetkan Kevin.
''Dari apartemen lah, emang aku ada tempat tinggal lain, selain apartemen dan markas?'' sewot Kevin.
''Nggak usah sewot, sini bantu racik bumbu. Hari ini tugas para pria yang menyajikan makanan.'' Andre langsung membawa beberapa bumbu yang sudah disiapkan dia meletakkan diatas meja lalu menepuk kursi meminta Kevin duduk.
''Ya nanti aku yang racik,'' gumam Kevin. Matanya melirik tajam ke arah Reno. Kemudahan, dia mendudukkan pantatnya dikursi. Andre tersenyum, dia meninggalkan Kevin yang duduk sembari bergumam tidak jelas.
❤️❤️❤️❤️
Reno membawa daging yang sudah selesai dibakar ke meja di mana ada Kevin yang sedang meracik bumbu.
''Butuh bantuan?'' Reno menawarkan bantuan.
''Nggak perlu!'' tolak Kevin tegas.
''Lu kenapa? Perasaan dari tadi sewot mulu.'' tanya Reno polos.
__ADS_1
''Emang aku kenapa?'' Kevin meletak'kan sendok yang dipegangnya diatas meja dengan kasar. Dia mengeraskan rahangnya, rasanya ia ingin mencekik pria yang tidak tau diri ini. Nabila yang baru saja sampai langsung menghampiri Reno.
''Ada apa?'' tanya Nabila. Tangannya langsung melingkar dilengan Reno. Pria itu kaget, Nabila tiba-tiba datang merusak moodnya. Kevin, yang melihat drama Nabila hanya menaikkan sudut bibir atasnya.
Namun, Reno tidak bisa menolak gandengan tangan Nabila karena dia dan Nabila sudah berjanji akan bersandiwara jika ada orang lain didepan mereka, perjanjian itu dibuat dari awal Nabila meminta Reno untuk menjadi kekasih bohongannya.
''Kevin lagi galau, mungkin.'' sahut Gareth.
"Hmmm," Nabila hanya berdehem. Dia sudah tahu kenapa mafia tampan itu sewot seperti itu.
"Perempuan lagi?" Andre menatap Kevin, ia menggelengkan kepalanya. Andre tidak habis pikir mau dengan cara apa lagi mereka menasihati Kevin untuk berhenti memikirkan Nabila.
"Cih, Kevin...Kevin...kalau hanya urusan wanita buat apa stres. Sekarang itu perempuan lebih banyak dari pria tinggal jentik jari wanita datang dengan sendirinya." Reno lupa dengan ucapan dia itu telah menyakiti hati Nabila.
"Aku dan Kau beda." sela Kevin kesal.
"Udah, nggak usah ribut." Nabila melepaskan lengan Reno. Hatinya sakit seperti dicubit sangat keras ternyata Reno selalu menganggap rendah wanita.
💦💦💦💦💦
Makan malam pun tiba, semua sudah duduk ditaman ditemani api unggun. Suasana malam yang cerah ditemani cahaya bintang dan bulan semakin menambah suasana romantis. Kedua pasangan yang sudah menikah saling bersuap-suapan.
Berbeda dengan Nabila, dia yang baru saja menyuapkan satu gigitan daging ke mulutnya langsung merasa mual. Karena tidak ingin semua orang curiga dan berhenti makan Ia bergegas ke kamar mandi. Kevin yang melihat Nabila berlari ke kamar mandi langsung meletakkan cangkir yang berisi winenya. Dia menyusul Nabila di kamar mandi.
Kevin berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu Nabila. Usai mengeluarkan isi perutnya Nabila berjalan keluar dari kamar mandi.
"Sayang, jangan gini dong.Kita lagi di mansion Mommy Cia." Nabila yang tidak menyadari keberadaan Kevin, dia berjalan keluar dari kamar mandi sembari mengusap lembut perut datarnya.
Kevin mengernyit, "Jadi benar Nabila sedang hamil?" batin Kevin.
"Ehem..." Kevin berdehem matanya menatap diperut Nabila. Nabila yang mendengar ada suara deheman segera mencari asal suara itu.
__ADS_1
Belum juga Nabila menemukan asal suara itu, Kevin sudah mencengkeram lengan Nabila, " Ikut aku sebentar.Aku mohon kali ini jangan pernah menolak lagi. Aku bisa bertindak diluar dugaan mu!" ancam Kevin.
Nabila kaget, tanganya tiba-tiba ditarik Kevin? Jangan-jangan pria ini sudah melihat dia sejak tadi? Ia menatap Kevin, " Lepaskan! Kamu apa-apaan seperti ini?" Nabila berusaha menolak tangan Kevin.
"Jangan berisik. Nanti didengar mereka yang di taman, apa kau mau?" ujar Kevin. Dia mengeratkan cengkraman dipergelangan tangan Nabila. Hingga lengan wanita itu memerah.
"Tapi, jangan tarik tanganku. Ini sangat sakit." Tangan satunya berusaha melepas cengkraman tangan Kevin.
"Baik. Tapi kau janji ikut dengan aku ke dapur. Ingat, jangan ingkar, jika kau menolak, tau sendiri akibatnya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," ancam Kevin.
"Aku janji tapi tolong lepaskan tanganmu," Nabila memohon dengan tatapan memelas. Bagaimana dia tidak memohon tubuhnya sudah lemas karena baru sja mengeluarkan semua isi perutnya, sekarang Kevin sudah mengganggu dirinya.
"Baiklah." Kevin melepas tangan Nabila. Dia mengabaikan tatapan Nabila, pria itu berjalan ke dapur diikuti Nabila dari belakang. Sesampainya didapur, Kevin menarik kursi lalu mempersilakan Nabila duduk.
"Duduk di sini. Aku ambilkan teh herbal." Kevin berjalan ke kabinet. Dia membuka pintu kabinet mengambil cangkir dan teh herbal di laci kabinet.
Setelah mengambil teh herbal Kevin langsung menyeduhkan dengan air hangat.Lalu dia membawa cangkir berisi teh herbal itu ke Nabila.
"Ini diminum." ujarnya seraya meletak'kan cangkir berisi teh diatas meja tepat depan Nabila.
"Ha? Kenapa aku disuruh minum teh?" Nabila bingung dengan sikap Kevin.
"Bukannya kau habis muntah? Kebiasaan orang Spanyol habis mengeluarkan isi perutnya biasanya minum teh herbal untuk melegakan perut dan tenggorokan." jelas Kevin, dia lalu menarik kursi duduk berhadapan dengan Nabila.
"Tau dari mana aku muntah?" Nabila memutar mata malasnya namun dia juga tidak menolak teh herbal buatan Kevin.
"Hahaha, Nab. Apa sih yang tidak aku tentang kau?" Kevin menggelengkan kepalanya.
"Maka itu aku minta kau berhenti mengawasi aku." Nabila menatap Kevin kesal.
"Ya, nanti aku akan pikirkan lagi. Tapi, sekarang habiskan teh herbal itu perut mu akan lega." punya Kevin.
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-kenapa. Hanya asam lambungku yang lagi kambuh." Nabila menyesap teh herbal itu. Benar ucapan Kevin, baru beberapa kali sesapan perutnya sudah terasa lebih enakan.