
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Nabila pun pamit kepada temannya yang masih menyimpan alat make upnya. Karena, tadi Kevin sudah janji akan menjemput dia di lobby.
''Bye, aku duluan ya.'' pamit Nabila seraya menenteng tas di bahunya.
''Yoi, hati-hati.'' sahut teman Nabila.
''Thanks.''
Usai berpamitan Nabila pun berjalan menuju lift. Setelah lift terbuka Nabila masuk ke lit ia menekan tombol ' L'. Lobby.
Setelah lima belas detik berada di lift akhirnya benda berbentuk kapsul itu pun berhenti tepat di lobby. Nabila segera keluar dari lift ia berjalan menuju depan lobby seraya menggulirkan layar ponselnya untuk menelpon Kevin.
Drthh...
Setelah tiga kali panggilan Kevin sama sekali tidak menerima panggilan Nabila. Nabila pun kesal dia memasukkan ponselnya lagi ke dalam tasnya.
''Laki-laki memang tidak bisa dipercaya.''gumam Nabila seraya menunggu taksi datang.
''Permisi apa benar ini Nona Nabila? Kekasih pak Kevin?'' tanya salah satu pria memakai reben hitam. Pria itu keluar dari mobil datang menghampiri Nabila yang sedang berdiri di depan lobby menunggu taksi.
''Ya, benar. Maaf, kenapa anda mengenal Kevin?'' Nabila tidak heran lagi jika semua orang mengenal Kevin tapi aneh jika mereka mengenal Nabila sebagai kekasih Kevin, "Bukannya Kevin dan kelompoknya selalu tertutup soal pasangan? Karena kwatir keselamatan tapi kenapa pria ini mengenal aku?" batin Nabila. Jujur kedua tangannya sudah berkeringat mengingat Kevin bukan pria baik-baik. Karena itu Nabila tidak ingin berhubungan dengan mafia karena dia sendiri pernah menyaksikan langsung bagaimana Kelompok Kevin menghadapi musuh wkatuniru dipernikahan Stefani dan Karla.
__ADS_1
Nabila melangkah mundur ke belakang dia takut pria itu ada niat jahat dengan dirinya. Nabila berharap semoga Security yang berjaga di depan lobby bisa menolong dirinya jika ada hal yang tidak diinginkan.
Ting...
Saat sedang ketakutan tiba-tiba ada notif pesan masuk. Nabila mengambil ponselnya dari dalam tasnya lagi. Dalam hati dia berharap itu Kevin. Dia segera menggeser layar ponselnya dan membaca pesan masuk.
''Nomor tidak di kenal.'' batin Nabila. Dia pun membuka pesan berbentuk gambar itu.
Nabila menutup mulutnya dengan tangan kirinya rupanya foto itu Kevin bersama seorang wanita. Tangan Kevin sedang memeluk wanita itu dari belakang sementara wanita itu menyenderkan kepalanya di bahu Kevin.
Tubuhnya lemas, tapi dia tidak ingin menangis didepan pria itu. Nabila meremas ponselnya kuat, '' Dia masih sama aja seperti dulu.Nggak berubah dasar rubah berbulu domba.'' Air matanya hampir jatuh kemarin dia sudah berjanji tidak akan dekat dengan pria lagi tapi Kevin datang menawarkan sejuta janji manis kepada dirinya tapi sekarang? Dunia Nabila seakan runtuh kepercayaan yang baru saja dia kasih kembali dihancurkan Kevin.
''Maaf, pak. Tolong jangan halangin jalan saya taksi yang saya pesan sudah datang.'' Nabila berjalan ke depan menuju taksi yang barusan dia panggil namun pria berkaca mata hitam itu menghalangi jalan Nabila.
''Apa buktinya saya bisa percaya anda?'' Nabila menghentikkan langkahnya.Dia menatap kesal kepada pria itu.
''Saya akan menelpon pak Kevin meminta nona berbicara dengan pak Kevin.'' ucap pria itu.
''Omong kosong seperti apa ini? Saya, kekasihnya saja sudah tiga kali menelpon dia tapi tidak diangkat apalagi anda yang bukan siapa-siapa mana mau Kevin menerima panggilan telepon anda?'' Nabila tampak begitu kesal.
Pria itu mengabaikan Nabila, dia mengangkat tangan meminta taksi itu pergi. Taksi itu pun pergi mengikuti perintah Pria berkaca mata hitam yang sedang berdiri didepan Nabila.
__ADS_1
''Ini nona silakan berbicara dengan tuan.'' Pria itu berhasil menelpon Kevin kemudian dia memberikan ponselnya kepada Nabila untuk berbicara dengan Kevin.
Nabila kesal tapi dia akhirnya menerima ponsel milik pria itu.
''Hallo...''suara Nabila sangat kesal.
[Ya, sayang kamu ke sini ya. Please selamatkan aku,'']
Terdengar suara pukulan diperut Kevin dan Kevin sedang menahan sakit.
''Ya aku ke sana.'' Nabila akhirnya percaya dia tidak tega mendengar suara pukulan dan rintihan minta ampun dari Kevin.
[Makasih sayang kamu ikut saja pria yang jemput kamu itu dia tau tempat aku disiksa sekarang. Auh...sakit.]
Usai berbicara dengan Nabila melalui sambungan telepon Kevin pun cepat-cepat mengakhiri panggilan tanpa pamit.
"Baik, aku akan ikut dengan anda." ucap Nabila seraya mengembalikan ponsel pria itu.
Pria itu menerima ponselnya.
''Silakan masuk. Nona tenang saja saya tidak akan melukai nona.'' Pria itu membuka pintu mobil untuk Nabila.
__ADS_1
Nabila tidak menjawab dia memasang wajah judes. Dia pun masuk ke mobil Nabila duduk di kursi belakang sopir. Nabila meletakan tasnya diatas pangkuannya pikirannya hanya berharap semoga Kevin selamat.
Pria yang menjemput Nabila mulai melajukan mobil sesekali dia melirik ke belakang melalui kaca spion mobil.