Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Bab 49


__ADS_3

Sementara di Paris, di sebuah butik mewah, sudah diblokir oleh anak buah Kevin. Di dalam butik itu ada sepasang sejoli yang sedang mencoba semua baju pengantin.


Kevin dengan sabar menunggu sang calon istri di ruangan khusus, ruangan itu memang disediakan khusus bagi pelanggan VIP. Mafia itu duduk bersender di sofa seraya memijit ponselnya.


"Sayang ...ini cocok nggak?" Nabila berjalan keluar dari kamar dengan dibantu seorang pegawai butik itu. Nabila bertanya seraya menunduk ia takut pilihan dia kali ini tidak di setujui Kevin lagi. Untung saja bayi di dalam perutnya pintar tidak rewel sama sekali janin itu sama sekali tidak menggangu Nabila memilih gaun pengantin apalagi ia harus mengenakan satu persatu gaun pilihannya dan Kevin.


Kevin mengangkat kepalanya ia menatap wanita yang telah lama mencuri hatinya itu. Lalu ia berdiri dari sofa melangkah lebih dekat lagi dengan Nabila. Mafi itu kini berdiri berhadapan dengan Nabila.


Nabila mengenakan gaun putih tanpa lengan berwarna putih dihiasi mutiara murni menambah kemewahan gaun itu namun tetap terlihat elegan apalagi gaun itu dikenakan Nabila sungguh terlihat sangat cantik dan elegan meksipun perut Nabila mulai menonjol semakin menambah aura kecantikannya.


"Ini luar biasa. Yuk nikah sekarang aja nggak usah nunggu besok." Kevin meraih tangan Nabila lalu mengecup punggung tangannya, tanpa menghiraukan tatapan kesal Nabila. Kevin malah menatap wajah Nabila lamat-lamat rasanya ia tidak sabar lagi menunggu hari esok.


Wajah Nabila sudah berubah menjadi tomat merah, ia melirik ke arah karyawan butik yang tadi membantu dia mengenakan gaun pengantin itu.


"Aku harap wanita di sampingku ini tidak mendengar ucapanmu tadi," bisik Nabila di telinga Kevin.


Sementara yang mendengar bisikan Nabila, hanya memasang wajah cengir kuda, " Biarin dia juga pasti dulu seperti kita saat ini," balas Kevin. Ia langsung melayangkan satu kecupan di pipi Nabila lagi.


Cup ...


"Santai aja Non, saya sudah terbiasa dengan customer yang seperti tuan Kevin." sahut wanita itu.


"Nah kan, kamu bisa dengar sendiri, 'kan? Dia sendiri sudah terbiasa. Kamu harus terbiasa juga." ledek Kevin sembari mencoel hidung Nabila.


"Terbiasa dalam hal apa dulu?" sela Nabila.


"Terbiasa mendengar pujian dari aku. Kamu cantik sayang, kamu luar biasa. Makasih sudah menerima cintaku." Kevin menyatukan keningnya dengan kening Nabila. Ia menatap wanita yang hanya menghitung jam saja akan sah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Malu ah..." Nabila menunduk, matanya berkaca-kaca mendengar setiap pujian dari Kevin.


" Aku berkata jujur, sayang." Kevin mengusap air mata Nabila lalu tersenyum manis, " Ganti gaunnya kita masih banyak urusan." lanjut Kevin lagi.


Nabila tidak bisa menjawab lagi, karena air matanya terus membasahi pipinya. Wanita itu melirik ke arah karyawan butik itu lalu mengangguk memberi kode bahwa ia akan melepas gaunnya. Wanita itu membantu Nabila mengangkat gaun itu lalu keduanya berjalan ke arah kamar untuk melepas lagi gaun itu. Gaun yang sudah dipilih Kevin dan Nabila. Untuk ia kenakan di hari pernikahan mereka besok pagi.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Reno bergegas menuju area parkir ia masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Pria itu sesekali mengusap wajahnya lalu tangannya memukul stir mobilnya, " Sial**an kenapa dia bisa hamil? Padahal aku selalu mengenakan pengaman." Ia menghela napas panjang. Pandangannya kosong kedepan, hingga ia tidak mendengar suara klakson bersahutan meminta Reno segera menjalankan mobilnya karena lampu sudah kembali berwarna hijau.


Ting...Ting...Ting..


Kaget dengan suara klakson mobil yang bersahuta, Renopun menginjak pedal gas mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan suasana hati yang kesal, "Kenapa sih hari ini semua orang pada nyebelin. Tadi si Chelsea sekarang para pengemudi itu." omel Reno.


Akhirnya setelah setengah jam dalam perjalanan dari kantor ia pun sampai di apartemen miliknya. Reno memarkirkan mobilnya ia bergegas keluar dari mobil lalu berjalan ke arah lift seraya menenteng tas laptop miliknya. Tidak menunggu lama Lift terbuka ia bergegas masuk ke dalam lift, Iima menit kemudian lift berhenti di unit apartemen miliknya.


"Argh... benar-benar menyebalkan!" gerutu Reno dalam hati. Ia melangkah melewati Chelsea yang sudah pulas di sofa panjang itu tanpa membangunkan kekasihnya itu. Maid yang melihat Reno sedang menunduk melepas sepatu di depan pintu kamar, bergegas datang menghampiri Reno, " Tuan...maafkan saya. Nona Chelsea nggak mau tidur di kamar tamu. Padahal sudah saya suruh berulang kali, Non sebaiknya tidur di kamar saja tapi dia terus saja menolak.Nona mengatakan dia maunya tidur di kamar tuan tapi..."


"Hustt..sudah tidak perlu urus dia biar saja dia mau tidur dimana terserah asal jangan dikamarku!" Reno memotong pembicaraan Maid. Wanita paruh baya itu hanya menunduk tidak berani menatap wajah Reno.


"Baik tuan saya permisi ke dapur." pamit itu.


"Hmmm... Tolong seduhkan es kopi untuk saya. Cuaca Ari ini benar-benar panas." Sebelum masuk ke kamar Reno memesan kopi dingin.


"Baik tuan." sahut Maid.


Kemudian Reno melangkah masuk ke kamarnya. Mendengar pintu kamar ditutup Chelsea pun bangun.

__ADS_1


"Maid...tuan sudah pulang?" tanya Chelsea seraya merapikan rambutnya.


"Tuan baru saja pulang." sahut Maid itu.


Chelsea pun bergegas ke ke kamar Reno.


Tok...tok...tok...


Chelsea mengetuk pintu. Namun bukannya membuka pintu Reno memilih mengunci pintu lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Reno....buka pintunya ini aku, Chelsea!" teriak Chelsea dari depan pintu.


Maid yang melihat Chelsea berdiri seperti orang kelelahan ia pun datang membawa air minum.


"Silakan minum dulu. Tuan pasti mandi dia tidak mendengar anda mengetuk pintu kamarnya," ucap maid itu seraya memberi satu cangkir berisi air mineral.


"Terima kasih, " ucap Chelsea seraya meneguk air hingga tanda tanda.


"Sama-sama.".balas maid.


"Saran saya sebaiknya Nona tunggu saja di ruang tamu. Karena kebiasaan tua setelah ia membersihkan tubuhnya baru dia akan datang duduk di sofa ruang tamu." jelas maid.


"Baiklah. " jawabnya lirih


Maid berjalan ke arah dapur lagi ia merasa sangat kasihan pada Chelsea namun apalah daya dia hanyalah seorang Maid di apartemen milik Reno. Kalau saja Reno, anaknya Maid itu pasti sudah memukul Reno.


"Wanita jaman sekarang belum juga nikah, kue apem ya udah di DP lebih dulu." gumam Maid

__ADS_1


__ADS_2