Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Izinkan aku memelukmu.


__ADS_3

Hai selamat pagi, maaf dua minggu saya tidak up bukan sengaja tapi saya sakit. Saya juga sudah mengkonfirmasikan kepada editor. Maaf, bukan menggantung tapi kesehatan saya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Terima kasih untuk kakak-kakak yang masih mau menunggu🙏


❤️❤️❤️❤️❤️


Kevin duduk bersender di sofa ia menghela napas berulang kali. Buru-buru datang dari Spanyol. Niat hati ingin menanyakan semua yang dikatakan Reno kepada Nabila. Namun, melihat wajah pucat Nabila lidahnya kelu tidak sanggup untuk menanyakan semua itu. Nabila hanya diam dia menunduk, ia tidak memiliki keberanian menatap Kevin. Malu tentu sangat malu bagaimana jika Kevin mengetahui diirnya hamil? Bagaimana jika Kevin, mengetahui Reno mencampakkan dia begitu saja. Padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin menunjukkan kepada semua bahwa hubungan dia dan Reno baik-baik saja?


Argh..


jika waktu dapat diputar ulang Nabila tidak Sudi mengenal pria bren*gsek itu.


Lima menit...


Keduanya masih saling diam-diaman.


Sepuluh menit...


''Ehem...''Akhirnya Kevin berdehem untuk mencairkan suasana.


Nabila mengangkat kepalanya, dia menatap Kevin.


''Kenapa?'' Sedikit banyak dia tau karakter Kevin. Mafia itu berdehem berarti ada sesuatu yang dia tidak suka.


''Kau belum menjelaskan kepadaku alasan kau datang ke Paris.'' Kevin menaikkan satu sudut bibirnya keatas, kedua alis tebalnya saling bertaut. Jujur dia tidak suka menatap wajah melas Nabila. Wanitanya itu sepertinya kurang tidur. "Atau wanita hamil memang pucat? Argh..aku tidak suka melihat wajah dia seperti ini. Sangat menyedihkan." geram Kevin dalam hati.


''Apa yang harus aku jelaskan kepadamu?'' Nabila mencebik.


''Semuanya.'' Kevin memperbaiki duduknya, dia memajukan tubuhnya ke depan sorot matanya menuntut jawaban dari Nabila. Jujur.

__ADS_1


''Harusnya aku yang bertanya darimana kau tau pasword pintu Apartemenku? Dari mana kau tau aku berada di Paris? Kenapa kau suka sekali mencampuri hidup aku!'' Nabila menaikkan kaki kiri diatas kaki kanannya kemudian ia meletakan tangan kirinya diatas paha kiri, wanita itu menopang dagu, wajahnya berpaling dari tatapan Kevin. Ya, dia tidak bisa ditatap Kevin seperti itu. berbahaya. Jantungnya tidak aman untuk kesehatanya.


''Aku memiliki banyak jaringan yang dengan mudah melacak keberadaanmu. Apa kau lupa siapa aku?'' Kevin berdecih dia pun meraih rokok dari kantong celananya lalu meletakan dengan kasar di atas meja. Pusing. Dia ingin merokok tapi ia ingat wanita di depan dia itu sekarang sedang hamil.


''Jangan merokok di sini.'' protes Nabila cepat.


Nabila tidak ingin bayinya menghirup asap rokok walaupun masih di dalam perutnya itu tidak baik untuk wanita hamil.


''Kenapa? Bukannya pacarmu itu juga perokok?'' Karena cemburu ia tiba-tiba menyebut nama Reno. Padahal ia sangat membenci menyebut nama iblis itu. Amarah Kevin yang tadi sudah mulai reda tiba-tiba naik lagi.


Nabila tidak merespon dia hanya tersenyum sinis. Bagi Nabila, Reno sudah mati, dia pun sudah lupa pernah memiliki kekasih bernama Reno.


''Nab, apa kau mendengarkan ku?'' tanya Kevin.


''Ya. Telingaku masih sehat.'' sahut Nabila. Ketus. Ia masih kesal karena Kevin menyebut nama pria itu.Pria yang tidak bertanggung jawab atas benih yang sudah ia tanam di perutnya.


Hahaha...


Nabila tertawa renyah.


''Harus?'' Dia menatap sinis Mafia itu.


''Tentu. Harus!'' Dengan percaya diri Kevin menjawab.


''Baiklah. Aku ke sini karena ingin mengganti suasana. Aku ingin kerja tanpa ada ganguan dari kau lagi. Aku tidak suka kau membuntuti aku kemana aku pergi. Aku tidak nyaman.'' Nabila berbicara tanpa menatap wajah Kevin. Dia tau jika dia menatap Kevin bisa jadi pria itu mengetahui dirinya sedang berbohong. Itu sangat berbahaya.


''Oh.'' Kevin hanya ber 'O' ria. Tapi, wajahnya kini sudah merah padam, tangannya mengepal bahkan buku-buku tangannya kini sudah memutih. Ingin rasanya dia membanting meja di hadapan Nabila ini.

__ADS_1


''Sudah puas? Sekarang kau harus menjelaskan pertanyaan yang aku tanyakan tadi.'' tegas Nabila, sorot matanya menuntut jawab jujur dari Kevin.


''Cih... Kau pikir aku bodoh?'' Kevin kembali mendesak Nabila. Ia mengusap wajahnya berharap hatinya bisa dingin menghadapi sikap Nabila yang berbelit-belit.


"Lalu? Jawaban seperti apa yang kau tunggu?" salak Nabila.


"Jawaban, tentang semua yang dikatakan Re..." Kevin terdiam dia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia bergegas berdiri dari sofa lalu berjalan ke arah wastafel Kevin membasuh wajahnya dengan air berharap hati dan pikirannya dingin. Tidak terpancing dengan emosinya sendiri. Berdiam sejenak di wantafel berusaha menenangkan dirinya.


Air mata Nabila diam-diam jatuh membasahi pipinya. Dia sudah tau maksud dari kevin.


"Jangan-jangan Kevin sudah mengetahui aku hamil?" batin Nabila.


Kevin berjalan dari dapur menuju ruang tamu dimana Nabila sedang mengusap air matanya dengan tisu. Kevin menghentikan langkahnya dia menyesal telah membuat wanita itu menangis. Perlahan namun pasti ia melangkah menuju tempat Nabila duduk. Tangannya langsung menarik paksa Nabila.


Wanita itu mendongak menatap Kevin. Matanya sembab semakin membuat Kevin sedih. Kini Nabila sudah berdiri di depan Kevin, jarak antara mereka sangat dekat bahkan hidung mancung keduanya sudah hampir saling menyentuh. Dengan cepat Kevin nenarik tubuh Nabila. Ia memeluk tubuh Nabila begitu erat dan penuh cinta.Hangat.


Nabila tidak menolak ia hanya diam dan pasrah, ya saat ini dia butuh bahu untuk bersandar. Ia ingin melepaskan semua yang selama ini ia pendamkan sendiri.


Nabila tidak membalas pelukan Kevin, namun tubuh Nabila bergetar hebat. Kevin tau Nabila sedang menangis tangan kirinya mengusap-usap punggung Nabila.


"Menangislah." Hati Kevin seperti diremas-remas, sakit. Ia menatap langit-langit ruangan apartemen seraya menggertakkan giginya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kevin lagi seraya tangannya masih terus mengusap punggung Nabila. Namun wanita itu masih terus menangis.


"Nab?"


"Biarkan aku seperti ini dulu. Izinkan aku memeluk tubuhmu sebentar saja."Suaranya serak menandakan ia sedang menangis.

__ADS_1


"Dam*n'it," geram Kevin.


__ADS_2