
Sesampainya didepan pintu apartemen Reno memijit digit pasword pintu, ketika pintu terbuka Reno langsung mendorong tubuh Nabila hingga wanita itu jatuh tersungkur dilantai. Keromantisan tadi seketika berubah seperti jadi kiamat bagi Nabila.
"Masuk!" bentak Reno. Kemudian dia kembali menutup pintu.
''Apa-apaan ini, Ren!'' teriak Nabila. Wanita itu mendongak seraya berlinang air mata menatap memohon pada Reno. Namun, pria itu tersenyum sinis melangkah mendekati Nabila.
''Katakan, tadi kau menghilang itu kemana? Bertemu si mafia itu, 'kan?'' Ia berjongkok menyamai tinggi dengan Nabila, tangan satunya menopang di lututnya satu tangan lagi menangkup wajah Nabila. Wanita itu tidak bisa melawan, ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan berlinang air mata.
"Dasar murahan!" hina Reno.
Sesak rasanya mendengar hinaan Reno. Pria yang dulu ia banggakan kepada semua sahabatnya, pria yang dia banggakan didepan Kevin tapi pria itu justru menyakiti dia bukan hanya mental tapi juga fisik.
''Tuduhanmu itu tidak benar.'' Nabila memejamkan matanya menahan sakit dipipinya.
"Alasan!" Reno melepaskan tangannya dari pipi Nabila. Dia lalu berdiri kemudian tangannya menarik kasar tangan Nabila. Pria itu memaksa Nabila berdiri. Nabila menolak, dia menggelengkan kepalanya.
Plak...
__ADS_1
Karena Nabila tidak menuruti perkataannya Reno lalu melepaskan satu tamparan dipipi Nabila.
"Cukup, Ren. Ini sangat sakit." Nabila memegang pipinya.
"Sakit? Lebih sakit mana dibohongi atau tamparan?" Sorot matanya menatap tajam Nabila.
"Aku tidak mengerti apa yang kau tuduhkan! Aku berani bersumpah, Ren.Please jangan sakiti aku di perutku ada anakmu." Nabila berlutut dia memohon ampunan.
"Anak? Aku tidak yakin itu anakku." ucap Reno, tatapannya jijik melihat wajah Nabila.
''Jangan pergi!'' Walaupun dia menyakiti Nabila tapi nyali ciut jika berurusan dengan mafia-mafia yang sementara berkumpul dimansion sana. Reno sudah tahu Nabila pasti akan kembali ke mansion dan bisa habis dia jika mereka melihat wajah lebam Nabila. Reno hapal benar bagaimana kelakuan para mafia itu mereka tidak akan segan-segan mengeluarkan organ tubuhnya.
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi!
''Aku mau pulang, jika kau tidak menginginkan anak ini, aku tidak mengapa. Tapi, pintaku jangan kau ganggu kehidupan kami.'' Nabila langsung membalikkan badan ingin pergi meninggalkan apartemen Reno tapi sayangnya Nabila kalah cepat. Reno berhasil mencekal lengan Nabila sangat kasar hingga wanita itu memekik kesakitan.
__ADS_1
''Lepaskan! Siapapun yang ada diluar sana tolong selamatkan aku,'' teriak Nabila bercucuran air mata.
''Teriak saja, tidak akan ada yang mendengar. Apartemen ini kedap suara,'' ujar Reno.
Nabila berusaha meronta melepaskan diri dari cekalan tangan kekar Reno. Nabila berusaha melepas diri namun Reno masa bodo dia seperti tidak mendengarkan teriakan Nabila.
"Masuk ke kamar!" titah Reno.
"Tidak! Aku mau pulang." sanggah Nabila.
Namun, tiba-tiba pelayan Reno muncul dari balik dinding. Reno yang menyadari itu segera melepas tangan Nabila. Wanita itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia lalu menghempaskan tangan Reno, berhasil melepas diri dari cekalan Reno. Dia cepat-cepat membuka pintu lalu kabur menuruni anak tangga manual tidak melalui lift kwatir Reno mengejar dia.
Kevin yang melihat Nabila muncul melalui tangga biasa mengernyit apalagi Kevin melihat di wajah wanita pujaan itu masih terlihat basah. Nabila tergesa-gesa keluar dari lobby, hingga tidak menyadari Kevin mengikuti dia dari belakang.
Nabila hendak memanggil taxi namun Kevin sudah terlebih dulu menarik tangannya hingga Nabila kaget dia pikir itu Reno yang sudah menyusul dia.
''Tidak, lepaskan aku. Aku tidak ingin berhubungan dengan mu lagi.'' Nabila berkata tapi dia tidak sanggup menoleh menatap wajah orang itu.
__ADS_1