
Di California.
Di sebuah hotel bintang lima tepatnya bagian outdoor hotel. Lapangan luas yang memang disediakan pihak hotel untuk party outdoor di California. Malam ini alunan musik membius para tamu yang hadir termasuk Reno. Tampilan Reno malam ini sempurna. Reno memakai jas hitam di padu kemeja putih dan tuxedo kupu-kupu hitam. Rambutnya sengaja ia jatuhkan sedikit ke depan semakin menyempurnakan ketampanan seorang Reno. Menyadari banyak mata yang terbius dengan pesonanya membuat Reno hanya bisa tersenyum.
"Hey... lihat pria itu dia sangat tampan."
"Aku akan mendapatkan dia malam ini."
"Apa kau yakin? Pria itu akan menerima ajakanmu?" tanya wanita berambut pirang itu dia seperti meragukan ucapan teman di sebelahnya. Bagaimana dia tidak ragu penampilan pria yang mereka puja itu nyaris sempurna. Bahkan mereka juga membandingkan Reno dengan aktor Korea terkenal. Leeminho.
"Pasti. Kau sadar nggak? Dia itu persis aktor Korea Leeminho." Wanita itu menatap Reno. Para gadis seperti merasakan pancaran sinar bintang yang berkilau menghiasi langit malam. Bintang itu Reno.
''Lihat wajahnya bersinar seperti sinar bintang di malam hari.'' timpal gadis yang lain.
Mendengar pujian para gadis yang berdiri di sampingnya Reno tertawa geli.Risih. Reno memilih pergi dari para gadis itu.
''Dia pergi.'' bisiknya ditelinga salah satu temannya.
Keduany menatapi punggung lebar itu ayang semakin menjauh sembari memikirkan jika dia jadi kekasih mereka.
Reno memilih bergabung dengan para Ceo yang sedang berdiri dekat bagian minuman. Para CEO itu tidak lain mereka teman kuliah Reno dulu. Tampak mereka sedang membahas masalah pekerjaan sesekali mereka tertawa bersama seraya bersulang.
Nabila? Tentu Reno sudah melupakan gadis sialan itu, apalagi ini pesta besar dan megah banyak wanita berkelas yang hadir Reno tidak mau merusak moodnya. Malam ini Reno sangat bahagia dia bisa bertemu lagi dengan teman-teman kuliahnya, bisa dibilang selain ke undangan pernikahan dia juga reunian dengan teman kuliah.
"Wah ada si tampan." ujar Leo teman kuliah Reno dulu.
"Ahh apaaan..." sahut Reno tertawa.
"Tampan tapi sama aja belum laku," sela salah satu temannya.
__ADS_1
"Kapan lu juga nikah?" tanya yang lainya.
Reno hanya tertawa dia bingung harus menjawab apa. Dia j tidak bisa membayangkan jika salah satu temannya mengetahui kelakuan dia yang bersikap kasar terhadap Nabila dan meminta Nabila ...
Memang mereka tidak mengenal Nabila tapi semua pasti merasa kecewa dengan sikap Reno akhir-akhir ini kepada Nabila.
"Jangan bahas wanita dulu. kita ke sini kan untuk hadiri pernikahan Tuan Bruce, sekalian bahas pekerjaan kita. Ngapain mikirin cinta." Uajr Reno mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun kembali ke pokok pembahasan. Melupakan jodoh untuk Reno. Saat sedang bercerita dengan teman-temannya pengantin pria dan wanita datang menghampiri mereka.
"Selamat malam, Tuan. Selamat atas pernikahan, Tuan. Semoga langgeng selamanya. Perkenalkan saya, Reno. Utusan tuan Alfonso. Maaf, beliau tidak bisa hadir di karenakan istrinya tengah hamil besar." Reno berkata seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Saat mereka sedang membahas masalah pekerjaan Bruce mengajak istrinya Lestari bertemu dengan para CEO muda yang berbakat itu.
"Terima kasih, pak Reno. Tuan Alfonso sudah menelpon saya. Dia sudah menjelaskan alasan dirinya tidak hadir di pernikahan saya." Bruce menyambut uluran tangan Reno dengan senyuman ramah.
Keduanya berbicara sebentar lalu Bruce berpamitan karena dia harus menemui sahabatnya yang lain. Kebetulan pestanya outdoor jadi semua tamu undangan berdiri. Bruce dan Lestari mengelilingi lapangan bertegur sapa dengan para sahabat mereka yang meluangkan waktu menghadiri pesta pernikahan mereka.
"Baik, Pak Reno. Semoga anda menikmati acara kami. Saya masih bertemu dengan sahabat saya yang lain." Bruce tersenyum ramah dia mempersilakan Reno untuk menikmati hidangan.Bruce pergi meninggalkan mereka.
Acarapun selesia Reno pulang ke hotel. Pria itu pulang ke hotel tidak sendirian tetapi ia bersama seorang wanita cantik bukan cantik saja tapi nyaris sempurna.
Tadi di pesta mereka berkenalan dan Reno mengajak dia ikut ke hotel. Gadis itu setuju gadis itu yang tadi bersumpah akan memdapatkan Reno dan sumpah dia tadi terwujud. Kini dia san Reno bergandengan menuju kamar hotel.
Reno menempelkan acces cardnya di pintu kamar.
Pintu kamar terbuka, Keduanya saling berpelukan masuk ke kamar hotel. Reno langsung mendorong tubuh wanita hingga wanita itu berbaring di atas ranjang.
Dia yang berpuasa hampir sebulan tidak sabaran lagi. Tangannya langsung melepas jas, kemeja dan celananya Reno membuang ke sembarang arah kini hanya boxer yang menempel ditubuhnya.
Wanita itu menutup wajahnya dia menolak karena Reno sedari di pesta ditawarin minum Reno selalu menolak.
''Aku nggak mau melakukan sebelum kita berdua sama-sama mabok. Ayolah, kita minum satu botol wine setelah itu aku janji akan puaskan kamu di atas ranjang.'' Wanita itu menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
''Kenapa? Aku tidak tahan lagi.'' pugkas Reno. Dia merasa aneh dengan wanita ini sejak di pesta tadi wanita itu selalu menawarkan dia minum namun Reno tidak biasa minum wine di luar apartemennya karena dia sadar diri jika mabok dia tidak bisa mengendalikan diri. Terbukti Nabila hamil karena kesalahan dirinya yang ceroboh saat terpengaruh alkohol.
Reno perlahan naik ke atas ranjang tangannya menarik dress bagian atas wanita itu dengan paksa.
''No, stop!'' tegas wanita itu.
''Cih...bukannya tadi kau ingin mendapatkan ku? Lalu sekarang kau bertingkah seperti wanita mahal? Ck dasar murahan!'' Reno tidak peduli penolakan wanita itu dia tetap berusaha menarik dress wanita itu.
"Aku mau kita minum sebentar dulu. Aku tidak bisa melakukan tanpa kendali alkohol." pinta wanita itu. Matanya sudah berkaca-kaca bisa dilihat dari mata wanita itu dia seperti ketakutan. Namun, apapun alasan wanita itu, Reno tidak mengerti. Yang Reno mau dia harus menyalurkan has**ratnya sekarang.
Plakk...plak...plak...
Tiga kali tamparan melayang di pipi wanita itu. Reno sangat marah dia mendorong kasar wanita yang kini polos tanpa sehelai benang.
''Sialan kau, keluar dari kamarku!'' bentak Reno, seraya tangannya menunjuk ke arah pintu.
Reno benar-benar hilang kendali. Dia tidak peduli wanita itu keluar kamar tanpa busana. Sumpah Reno masih normal, dia masih tertarik kepada wanita namun kenapa wanita itu...Argh Reno sangat muak.
''Menjijikkan!'' umpat Reno.
Dia menarik kasar tangan wanita itu dan menghempaskan kasar ke sofa. Wanita itu menangis dan memohon namun sumpah demi apapun Reno tidak merasa iba sama sekali Reno menyesali dirinya yang langsung membawa wanita itu ke hotelnya tanpa bertanya-tanya dulu. Reno terpesona dengan cantik dan kulit mulus wanita itu tanpa ia tahu dibalik dress cantik itu.
''Sial apa aku, tadi ku pikir aku bisa menyalurkan has**ratku tapi...Argh!'' Dia menarik kasar rambutnya kepalanya tiba-tiba pening belum lagi kepala di bawah sana. Masa dia harus bersolo dengan sabun lagi. Ia mengumpat sembari berjalan ke arah lemari pendingin tangannya meraih botol wine.
Wanita itu bergegas keluar dari kamar Reno tanpa bicara apapun ketika matanya melihat Reno mengambil botol wine hendak melempar ke arah dia.
''Pergi! Kau pikir aku pria apaan. Aku masih norrmal asal kau tau aja si junior ini sudah memiliki bibit!'' Reno memaki wanita itu.Hendak melempar botol wine ke arah wanita itu.
Setelah wanita itu pergi Reno menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ia bergidik ngeri membayangak dirinya hampir saja terjebak dengan kecantikan seorang ben**co**ng.
''Argh.. kepalaku pusing mana si junior minta di tuntaskan.'' Reno mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1