
Kevin sementara berkumpul dengan sahabat-sahabatnya di ruang bawah tanah. Ruangan yang terdapat di mansion tapi hanya diketahui beberapa orang saja. Semua serius mendengar pembicaraan Bos mafia. Namun, tiba-tiba ponsel Kevin bergetar.
Kevin mengeluarkan ponselnya tanpa ia mengganggu pembahasan para sahabat Mafianya. Ia berdiri dari sofa berjalan sedikit menjauh tangannya mulai menggeser layar ponsel kemudian ia menempelkan benda pipih itu ditelinga kirinya.
[Hola, Tuan. Tolong ke apartemen Nona sekarang.] ucap wanita itu sontak membuat Kevin mengernyit. Mafia itu kaget belum juga dia menyapa tapi pelayan itu langsung berbicara tanpa jeda.
"Ada apa, Bi? Apa yang terjadi dengan Nabila?" desak Kevin. Dia melangkah dua langkah kaki untuk menjauh dari teman-temannya. Malam ini Alfonso mengundang mereka semua berkumpul di Mansion untuk membahas kerja sama yang ditawar salah satu teman lama Alfonso. Namun, hingga tengah malam Kevin tidak melihat Reno. Harusnya dia juga hadir mengingat mereka membahas masalah perusahaan, Reno sebagai wakil CEO kenapa tidak ikut andil?
"Pokoknya tuan harus segera datang." Kevin mendengar suara isakan pelayan itu membuat pikiran Kevin sudah berlari kemana-mana.
Jangan-jangan Reno mengajak Nabila pergi?
Nabila di siksa Reno lagi?
Semua itu berputar di kepala Kevin. Ya, kenapa semua bertepatan sekali? Nabila pergi Reno pun tidak kelihatan batang hidungnya di mansion? Kevin memang tidak tahu Reno sat ini sedang di California karena urusan pekerjaan.
"Baiklah. Saya segera ke sana." Kevin langsung mengakhiri panggilan. Ponselnya ia masukkan kembali ke kantong celananya lalu dia berlari menuju pintu depan Mansion tanpa ia pamit terlebih dulu kepada sahabat-sahabatnya. Kevin bergegas masuk ke dalam mobil.
Saat di pintu gerbang Mansion Kevin mengeluarkan kepalanya, "Bale, Jika salah satu dari mereka mencari aku, bilang aja aku lagi ke apartemen ada yang aku lupa bawa." pesan Kevin sebelum ia meninggalkan mansion Alfonso.
"Baik, tuan." sahut Bale seraya membuka pintu gerbang masuk mansion.
Kevin memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ia melewati banyak kendaran tanpa mendengarkan makian dan protes pengemudi lain ditengah jalan.
Ting tong...
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama Kevin sudah tiba di depan pintu apartemen Nabila.
Gelisah
Kwatir
Semua bercampur aduk.
''Oh Tuhan di mana pelayan itu?'' Kevin tidak sabaran dia sudah menekan bel namun pelayan itu tak kunjung membuka pintu. Napasnya tersengal-sengal karena menahan sesak di dadanya entah perasan apa itu tapi sangat menyiksa hati Kevin. Ingin rasanya dia mengumpat.
"Pelayan tidak...'' Belum juga ia selesai mengumpat pelayan itu menarik gagang pintu.
Ceklek...
"Kenapa kau lama sekali?" Dia menajamkan tatapannya sembari mengusap kasar wajahnya.
"Maaf saya baru keluar dari kamar mandi."
"Alasan!" desis Kevin.
Tangannya menerima surat yang diberikan pelayan itu, "Apa ini? Karena surat ini kau meminta aku ke sini?'' geram Kevin.
Kevin mengusap kasar wajah lagi hanya ini caranya dia untuk meredam emosinya. Jujur jika bisa dia ingin menghajar pelayan tua ini. Kenapa dia berani sekali mempermainkan dirinya. Namun, berhadapan dengan wanita Kevin sangat menghormati wanita. Dia juga tidak tega melihat wajah syok pelayan itu. Kevin juga semakin kwatir. Dia ingin menerobos masuk ke dalam apartemen namun pelayan itu menahan dia.
''Kenapa kau menahanku?'' Kevin menggertakan giginya. Ahh.. wanita itu tidak tahu siapa Kevin? Mafia yang suka mengeluarkan organ tubuh manusia?
__ADS_1
''Maaf, 'kan saya, tuan. Tapi sebelum tuan masuk tuan tolong baca isi dari surat itu. Ini sangat penting. No...'' Suaranya mengambang seperti layangan putus.
''Diam.'' Kevin mengangkat tangannya meminta wanita itu diam.Kevin tidak mau mendengar ucapan pelayan itu lagi saat ini dia harus konsentrasi membaca surat itu.
*Bibi maafkan Nabila ya. Nabila pamit pergi dari sini. Nabila pergi menenangkan diri sebentar ke kota yang sangat Nabila ingin datang sejak dulu. Bibi Jangan kwatir Nabila akan mengirim uang bulanan bibi. Nabila mohon maaf pergi tanpa pamit. Tapi Nabila memiliki alasan tertentu mengapa pergi diam-diam tanpa pamit kepada Bibi. Bibi tolong jaga apartemen ini hingga Nabila kembali. Satu lagi jangan pernah memberitahukan kepada siapapun termasuk Nona Leticia dan Stefani. Biarkan saja nanti jika Nabila sudah tenang maka Nabila yang akan menelpon dan menjelaskan semuanya kepada mereka.
Maafkan Nabila ya, Bi*.
Pelayan itu ketakutan namun air matanya tidak ingin surut. Semakin Kevin meminta dia berhenti menangis justru butiran kristal bening itu semakin deras keluar membasahi pipi yang tidak lagi kencang. Keriput termakan oleh usia.
Kevin meremas kertas itu hingga Kumal. Lalu ia melempar dengan kasar ke bawah lantai. Pelayan itu menunduk dia memungut lagi surat itu lalu merapikan dengan rapi lagi dan memasukkan ke dalam kantong celananya. Hanya surat itu menjadi pelepas rindunya jika dia merindukan Nabila, "Sejak kapan dia menghilang? Hah! Saya bayar kau itu artinya kau harus terus mengawasi dia lalu kau ngapain saja di dalam apartemen ini. Masa iya apartemen sekecil ini kau awasi seorang saja kau tidak bisa?Hingga gadis itu menghilang baru kau sadar." Kevin sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah pelayan itu. Tangan kirinya menahan di dinding tangan kanannya sudah mengambang ke atas ingin rasanya dia mencekik wanita itu lalu melemparnya dengan kasar di lantai.
"Arghh...shi**ft." Kevin menjatuhkan tangannya dengan kasar. Dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Maaf, 'kan saya tuan. Siang tadi Nona pulang dari rumah sakit dia habis pergi berobat karena seluruh badannya sakit semua." cerita pelayan itu.
"Sakit? Kenapa tadi pagi saya ke sini kau tidak mengatakan itu? Apa uang yang saya kasih tadi kurang, ha!" Kevin menggertakkan giginya. Bagi Kevin seluruh hartanya habis untuk membayar orang-orang untuk menjaga Nabila tidak mengapa, asal wanita pujaannya itu tetap berada disampingnya meskipun bersatu Kevin ragu itu tidak mungkin karena Nabila selalu menolak cintanya.
"Bagaimana saya menceritakan kepada Tuan. Sementara tuan tadi buru-buru pergi?" sela pelayan itu.
"Tunggu, berarti tadi pagi saya bertemu dia di lobby.Itu Nabila sementara menahan sakit?" Kevin menarik napas lalu membuangnya dengan kasar ia mengangkat kepalanya keatas.
"Baiklah.Lalu?" Kevin berusaha tenang. Tapi sejujurnya dia panik takut kehilangan Nabila untuk selamanya. Okey, jika dia hanya pergi untuk menenangkan dirinya bagaimana dia pergi dan tidak kembali?
''Argh...Nabila kau ke mana, sayang. Akan ku hancurkan dunia ini jika kau pergi dari hidupku." batinnya. Air matanya membendung dipelupuk mata tajam itu.
__ADS_1