Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Bab 48.


__ADS_3

Reno pun bergegas merapikan meja kerjanya. Setelah meja kerjanya rapi Reno berjalan keluar menuju parkiranan mobil. Saat menunggu lift terbuka ponselnya berdering. Reno mengambil ponselnya dari kantong celananya, dia menggeser benda berbentuk pipih itu.


Reno menghela napas panjang, aslinya dia malas menerima panggilan telepon dari wanita itu tapi Reno tidak menyukai jika ponselnya terus saja berdering.


''Apakah kau tidak bisa sabar? Aku peringatkan kau, ini panggilan terakhir darimu.'' Setelah mengatakan begitu Reno langsung mengakhiri panggilan telepon dari wanita itu.


''Wanita memang racun,'' gerutu Reno. Dia buru-buru masuk ke lift tidak menyadari Walker sedang menertawakan dirinya.


''Dari dulu uda aku bilang wanita itu racun, '' sahut Walker.


Reno meringis dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


''Pak Walker...tidak makan siang?'' tawarnya.


''Ini mau makan siang. Apa kau mau mentraktirku? Tapi, sepertinya kau sedang dibuat pusing oleh wanita lagi,'' goda Walker lagi.


Reno tidak menjawab. Tidak beberapa lama lift berhenti, ''Maaf pak saya duluan,'' pamit Reno.


''Hmmm...'' Walker tertawa dia merasa lucu dengan Reno. Pria itu senang jadi playboy tapi giliran di minta tanggung jawab kebingungan sendiri.


Reno berjalan menuju parkiran pria tampan itu segera membuka pintu mobil lalu ia pun masuk dan duduk di kursi kemudi. Reno mulai memacukan mobilnya menuju kafe yang sudah di janjikan.

__ADS_1


Sementara di dalam kafe seorang wanita cantik sedang menunggu Reno dengan gelisah sesekali wanita itu mendoangakkan kepala melihat keluar mencari sosok itu. Akhirnya, bibir wanita itu mengukir senyum pria yang ia tunggu baru saja keluar dari mobil.


Reno berjalan begitu cepat memasuki kafe, Ia mencari wanita itu. Karena, tahu Reno mencari dirinya wanita itu melambaikan tangan ke arah Reno.


Reno tersenyum kecut ia bergegas menuju wanita itu, "Maaf aku telat." Ucap Reno seraya mendudukkan pantatnya dikursi.


"Nggak apa-apa kau datang saja aku sudah senang banget," sahut wanita itu tersenyum hangat.


"Hmmm..." gumam Reno.


"Kau mau pesan apa?" tawar Reno.


"Aku sudah pesan," sahut wanita itu.


"Selamat menikmati,"


"Terima kasih," ucap Reno.


Melihat Pramusaji sudah pergi Chelsea menatap Reno.


"Reno..."panggil Chelsea.

__ADS_1


"Aku lapar. Ayo makan dulu selesai makan baru kau bicara," jawab Reno ketus.


"Baiklah." Chelsea mulai menyuapkan steak ke mulutnya namun baru saja mencium bau daging Chelsea mulai mual. Wanita itu akhirnya meletakkan lagi garpu diatas piring dia memilih memainkan ponselnya . Reno tidak peduli dengan keadaan Chelsea, pria itu terus menikmati makan siangnya.


Setelah setengah jam, Reno pun selesai makan. Pria itu melihat makanan Chelsea yang masih utuh merasa heran, " Kau tidak makan?" tanya Reno.


"Tidak. Ternyata bayi kita tidak menyukai daging." Chelsea memasang senyum manis.


"Bayi? Maksudmu?" Bola mata Reno hampir saja keluar dari kelopak matanya.


"Aku hamil anakmu, Ren. Apa kau lupa, bulan kemarin kita melakukan itu dan kau tidak menggunakan pengaman." ujar Chelsea bersemangat.


"Apa? Kau juga hamil?" Reno berdiri dari kursi suaranya tinggi hingga beberapa orang yang makan di kafe itu pun melihat ke arah Reno.


"Lagi? Siapa lagi selain aku dan Nabila, Ren?" Suara Chelsea bergetar air matanya pun luruh begitu saja. Sumpah demi Tuhan dia tidak ingin nasibnya seperti Nabila.


"Kita bicarakan nanti aku harus kembali ke Kantor." Reno melihat jam di tangannya. Dia merasa risih karena banyak mata yang melihat ke arah dia dan Nabila.


"Tidak bisa. Aku ingin ikut bersamamu ke kantor." Chelsea memaksa ikut bersama Reno ke kantor.


"Kau pikir itu perusahaan aku? Jadi kau bebas pergi ke kantor tempat aku kerja? Tidak bisa! Sebaiknya kau tunggu aku di apartemenku saja di sana ada bibi yang menemani kau disana," tolak Reno

__ADS_1


Chelsea akhirnya menyerah dia tidak mau memaksa diri lagi, dia tidak ingi. Reno berubah pikiran lagi. Karena. bagi Chelsea, Reno mau bertemu dia saja itu sudah lebih baik.


"Baiklah aku tunggu kau di apartemen." jawab Chelsea.


__ADS_2