
Setelah cintanya di terima Nabila. Kevin memutuskan tinggal di apartemen Nabila.
''Sayang, siap-siap yuk.'' Kevin mengetuk pintu kamar Nabila. Ya karena keduanya belum sah sebagai suami istri. Kevin memutuskan tidur terpisah ia memilih tidur di kamar sebelah kamar Nabila.
Nabila yang baru saja bangun, ia beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju pintu tangannya menarik hendle pintu kamar. Tadi setelah bercerita lama dengan Kevin, Nabila izin tidur sebentar karena ia merasa pinggangnya sakit mungkin efek dari berdiri merias model tadi.
''Siap-siap mau kemana?'' tanya Nabila. ia berdiri di depan pinta matanya menatap mafia di depannya ini sudah rapi.
''Kita dinner di luar, yuk.'' ucap Kevin lagi.
'' Udah malam?" Nabila mengernyit. Perasaan dia baru saja tidur.
"Sudah sayang. Sekarang pukul tujuh malam." Kevin mengusak rambut Nabila
"Sorry aku tidurnya kelamaan. Baiklah. Aku mandi sebentar.'' sahut Nabila.
''Nggak usah dandan sayang. Natural aja wajahnya.'' ujar Kevin dari depan pintu.
Nabila tidak mendengarkan ucapan Kevin karena dia sudah berada di kamar mandi. Kevin duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
Satu jam kemudian Nabila keluar dari kamar, wanita itu mengenakan dress bermotif floral dipadu dengan mantel berwarna hitam.
"Siapa yang menelpon?" tanya Nabila. Ia mengambil sepatunya.
Kevin mendoangakkan kepala dia menatap Nabila. Calon istrinya sangat cantik aura wanita hamil membuat Nabila semakin cantik.
"Cantik." puji Kevin.
"Vin? Aku tanya siapa yang nelpon, tadi dari kamar aku dengar kamu seperti berbicara di telepon." ucap Nabila. Nabila berusaha menunduk untuk memakai sepatunya. Namun, karena perutnya yang sudah membuncit membuat Nabila sedikit kesusahan.
__ADS_1
Kevin segera berdiri dari sofa. Dia mengambil sepatu dari tangan Nabila, " Biar aku yang memakaikan." Kevin berjongkok di depan Nabila. Lalu ia memakaikan sepatu di kaki Nabila, " Tadi Letticia yang menelpon." cerita Kevin.
"Leticia? Kamu tidak mengatakan aku di Paris,'kan?" Nabila tau kedua sahabatnya pasti mengkwatirkan dia. Tapi belum saatnya mereka mengetahui keberadaannya. Nabila berencana dia kembali ke Spanyol barulah dia menceritakan semuanya kepada mereka.
"Aku mengerti. Aku juga tidak ceroboh, sayangku." sahut Kevin seraya mengisi jemari- Nabila dengan jemarinya. Keduanya berjalan keluar apartemen menuju lift. Setelah dua menit lift berhenti di lobby keduanya keluar masih terus bergandengan tangan. Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di depan lobby.
Mafia itu melepaskan genggaman mereka lalu ia membukakan pintu mobil untuk Nabila.
"Silakan." ucap Kevin.
Nabila tersenyum, "Terima kasih."
"Sama-sama,"
Nabila masuk ia duduk di samping Kevin. Melihat Nabila kesulitan memasang sabuk pengaman Kevin pun membantu Nabila tangannya tidak sengaja menyentuh dua buah benda kenyal milik Nabila.
"Maaf aku tidak sengaja." ucapnya. Karena, Kevin tau janin yang ada di rahim Nabila bukan janinnya. Maka dari itu Kevin memutuskan tidak akan menyentuh Nabila hingga wanita itu melahirkan. Bukan karena jijik tapi Kevin tau ajaran agamapun melarang itu, Jika menikah dengan wanita hamil dimana anak itu bukan anak dari diirnya maka haram hukumnya untuk melakukan hubungan suami-istri walaupun sudah sah sebagai pasangan suami-isteri.
"Kita harua bersabar sampai anak kita lahir sayang." goda Kevin.
"Ihh lagian siapa yang pengen." sewot Nabila.
"Aku baca di artikel wanita hamil memiliki hormon se***x tinggi." Kevin mulai menginjak pedal gas mobil lalu melajukan mobil menuju restoran yang sudah dipesan Kevin.
"Hmmm..." Nabila hanya berdehem. Karena apa yang dikatakan Kevin benar, terkadang dia merindukan sentuhan pria tapi Nabila cukup sadar diri. Dia tidak memiliki pasangan.
"Tapi, kamu jangan kwatir setelah anak kita lahir siap-siap begadang." Kevin berkedip.
"Syaratnya sudah kamu penuhin?" Nabila mendelik.
__ADS_1
"Sudah. Tinggal blokir dan hapus nomor mereka." Kevin memberikan ponselnya untuk Nabila.
"Untuk apa?" Nabila bingung melihat Kevin memberikan ponselnya untuk dia.
"Blokir dan hapus semua nomor wanita yang ada di ponselku." Kevin menghentikan mobil sebentar.
"Nggak.Nanti pulang kamu sendiri yang hapus. Aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu karena terpaksa." tolak Nabila.
"Siap ibu negara. Satu hal yang harus jamu tau aku tidak pernah melakukan dengan terpaksa. Jujur selama ini aku masih ke club' kadang karena aku butuh pelampiasan. Belum lagi aku stres memikirkan keberadaan kamu." Mobil kembali melaju menuju restoran.
Nabila terharu dia tidak menyangka ada mafia sebaik Kevin. Tangannya meremas tangan Kevin, " Thanks. Untuk semuanya. Aku akan menjadi istrimu yang baik, aku janji akan berusaha sebaik mungkin walaupun tidak bisa sempurna." ujar Nabila.
"Aku tidak butuh kamu merubah diri. Cukup berada disiniku, mensupport aku dan merawat anak-anak kita." Kevin melirik Nabila sebentar lalu ia kembali fokus menyetir. Nabila tersipu malu.
******
Akhirnya setelah satu jam dalam perjalanan Kevin menghentikan mobil di salah satu restoran ternama yang berada di dekat Menara Eiffel. lampu-lampu yang terpasang dimenara Eifel semakin menambah suasana romantis.
Keduanya keluar dari mobil Kevin langsung menggandeng tangan Nabila. Mereka berjalan menuju restoran Paris.
"Pesan semua yang kamu mau." ucap Kevin, dia memanggil salah waiters yang berdiri di depan kasir. Waiters itu datang membawa menu makanan.
Nabila segera memesan makanan, selama ini Nabila sangat hemat untuk membeli makanan karena ia kwatir biaya melahirkan tidak cukup.
"Hanya itu?" tanya Kevin setelah ia membaca pesanan makanan Nabila.
"Cukup. Jangan boros dua bulan lagi aku lahiran." bisik Nabila di telinga Kevin.
Hahaha...
__ADS_1
"Sayang kau pikir uangku bisa habis hanya karena kau pesan banyak makanan?" Kevin tertawa. Dia juga bangga dengan pola pikir Nabila. Tidak seperti wanita-wanita sebelumnya yang ia kenal di mana mereka lebih mengutamakan uang Kevin dan ha*srat.