
Nabila baru saja turun dari Taxi ia bergegas berjalan masuk ke dalam lobby menuju lift.
Ting...
Lift berhenti Nabila keluar dari lift. Dia berjalan menuju pintu apartemennya. Tangannya memijit angka di pintu apartemen. Nabila bergegas masuk karena perutnya yang lapar di tambah lagi sekarang dia gampang sekali merasakan capek.
Namun, baru sampai didepan pintu masuk ada yang mengganggu pemandangannya. Ada sepasang sepatu pria yang tersimpan rapi di rak sepatu sudut pintu masuk?
''Sepatu siapa ya? Kenapa ada sepatu pria di sini?" Nabila mencoba memperhatikan sepatu itu dia merasa sepatu itu tidak asing buat dia namun dia lupa siap pemiliknya.
Hatinya berdebar-debar ia takut jika itu maling yang merampok apartemennya.
"Jangan-jangan ada maling yang masuk? Tapi, mengapa dia meletakkan sepatunya sangat rapi di rak sepatu? Baru kali ini ada maling sopan bangat seperti ini.'' Nabila berjalan mengendap-endap berusaha langkahnya tidak berbunyi, dia sangat takut tapi mencoba memberanikan dirinya.
Tangannya mengusap perutnya, ''Kamu harus tenang ya sayang. Mama akan memberi pelajaran untuk orang tidak tau sopan santun itu.'' Nabila mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Dia selalu membawa gunting kemana dia pergi sebagai alat untuk membelah diri disaat keadaan darurat seperti sekarang ini.
Baru saja ia melangkah masuk ke ruang tamu ada aroma masakan menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
''Seperti aroma masakan? Jangan-jangan malingnya kelaparan?'' Nabila meraih sapu yang ia letakan di sudut ruangan antara dapur dan ruang makan.
Tangan kanan Nabila mengangkat sapu, bersiap-siap untuk memukul orang itu. Sedangkan, tangan kirinya memegang gunting siap untuk menus*uk. Nabila berencana dia akan memukul pakai sapu terlebih dahulu setelah malingnya pingsan baru dia menggunting malingnya.
Benar, dugaan Nabila maling itu sementara sibuk berkutat dengan alat dapur hingga pria berbadan tegap itu tidak menyadari kehadiran Nabila. Dengan cepat Nabila memukul kepala pria itu dengan tangkai sapu.
Plak...
Plak...
Plak...
Nabila melayangkan tiga kali pukulan dikepala pria itu. Kevin kaget dia mengaduh kesakitan, kedua tangannya berusaha menutup kepalanya dengan sedikit membungkukkan badannya ke bawah.
__ADS_1
"Hei...ini aku. Kevin." teriak Kevin dengan mengangkat tangan keatas menutup kepalanya.
"Maling, kau ya? Beraninya masuk apartemen perempuan. Hayo keluar atau aku panggil Securitynya." Nabila terus mengomel tangannya mengayunkan sapu di belakang dan kepala Kevin.
Kevin berusaha melindungi dirinya. Dia menutupi kepalanya dengan kedua tangan kini tangannya yang terkena pukulan sapu.
"Nabila! Stop ini aku!" suara Kevin naik satu oktaf. Tangannya sudah terdapat merah kepalanya sudah sakit semua.
Nabila menjatuhkan sapu dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mengapa kau bisa tau aku disini?" Nabila melangkah mundur satu langkah ke belakang tapi belakangnya menabrak dinding.
Kevin berjalan mendekati Nabila. Dia langsung mengunci Nabila di dinding dapur.
"Aku ke sini karena mengejarmu," ucap Kevin dia menatap Nabila penuh cinta.
"Apa-apaan ini? Kau tau dari siapa aku disini?" Nabila berusaha melepas diri dari kungkungan Kevin tapi tenaganya kalah jauh dari tenaga Kevin.
Mafia itu berjalan kembali ke kompor menyajikan steak yang tadi ia masak diatas piring.
Sesekali Kevin mengusap luka memar di tangan dan ia meraba-raba kepalanya yang terdapat benjolan efek pukulan sapu tadi. Nabila, masih berdiam diri di dinding dapur menyaksikan Kevin yang sedang menyajikan masakan diatas meja makan.
"Ayolah, nanti aku jelaskan. Kau juga harus menjelaskan untuk aku kenapa kau datang ke Paris. Sekarang makan dulu, aku sudah sangat lapar." Kevin mengambil steak dan meletakkan di piring lalu meletakan diatas meja makan. Nabila terus mengamati Kevin dari cara dia menata makanan sudah seperti seorang ahli masak.
Kevin menarik kursi untuk Nabila, " Kemarilah. Aku sudah sangat lapar. Steakku ini sangat enak ini special aku masak untuk kau." Kevin mengangguk kepalanya mememinta Nabila segera datang duduk bersama di meja makan.
Nabila yang sangat menginginkan steak akhirnya menyerah. Dia datang dan duduk di kursi yang sudah di siapkan Kevin.
"Cobalah masakan ku. Aku jamin pasti enak." Kevin meletakkan satu steak tenderloin disaji lengkap dengan kentang, jagung, wortel dan buncis. sausnya sangat enak bisa dicium dari aromanya.
Nabila tidak bisa berkata apa-apa dia menarik piring itu lalu mulai memotong satu potong steak dan menyuapkan dimulutnya.
__ADS_1
"Enak," gumamnya pelan.
Kevin melirik dengan ekor mata, lalu dia tersenyum seraya terus menikmati steaknya.
Satu jam keduanya berada di meja makan tanpa suara hanya dentingan garpu dan sendok. Akhirnya selesai makan.
Kevin berdiri dia menggeser kursinya ke belakang. Mafia itu mengambil piring bekas dirinya dan Nabila. Namun, Nabila menahan piring bekasnya, "Aku bisa melakukan sendiri." Nabila menolak piring bekasnya diambil Kevin.
Namun, bukan Kevin namanya jika dia tidak memaksa.
"Kau capek baru pulang kerja. Biar aku yang mengurus semuanya. Apa kau meragukan keahlian ku membersihkan dapur dan mencuci piring?" Kevin menaikan satu alisnya.
Nabila hanya menunduk dia melihat kearah perutnya berharap Kevin belum menyadari perutnya yang membuncit.
" Istirahatlah di ruang tamu. Aku masih membersihkan piring bekas kita makan ini. Nanti selesai membersihkan dapur aku menyusul ke ruang tamu." Kevin membawa piring bekas tadi dia mulai mencuci dan mengeringkan di rak piring.
Namun, Nabila tidak mau pergi dia masih duduk di ruang makan melihat Kevin membersihkan dapur. Bibirnya tersenyum baru kali ini Nabila melihat mafia itu membersihkan dapur dan mencuci piring. Biasanya Kevin hanya mengandalkan pelayan.
Usai mencuci piring Kevin membersihkan dapur yang tadi berantakan karena dia memasak tadi. Selesai membersihkan semuanya. Dia berjalan menghampiri Nabila. Tangannya meraih tangan Nabilanya.
"Ayo kita ke ruang tamu aja biar bebas duduknya." ajak Kevin. Pria itu bertingkah seolah itu apartemen miliknya.
Saat Kevin menggandeng tangannya Jantung Nabila berdetak semakin kencang.
"Kau dari mana saja?" tanya Kevin. Dia berusaha mencairkan suasana yang tegang.
"Kerja."
"Kerja? Kau ke Paris untuk kerja?" Kevin mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Begitupun dengan Nabila duduk berhadapan dengan Kevin. Nabila menarik mantelnya menutup perut buncitnya.
"Aku hanya ingin mengganti suasana saja." jawab Nabila. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Kevin.
__ADS_1
"Oh, Mengapa jalannya diam-diam? Harusnya kau memberitahu aku." Kevin menaikan sudut bibir atasnya.