Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Ini aku, Kevin.


__ADS_3

"Kamu kenapa, Nab? Kenapa tanganmu dingin sekali ada masalah apa?" Nabila tidak sanggup menjawab bibirnya kelu untuk menjawab. Seluruh tubuhnya dingin.


"Lepaskan aku. Aku mohon jangan ganggu aku lagi." Nabila menyeka air mata dengan punggung tangannya.


"Ini aku, Kevin!" bentak Kevin.


Mafia itu kesal mengapa Nabila terus mengatakan 'Tidak mau diganggu' Dia penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi didalam apartemen Reno. Jika dilihat dari wajah Nabila, Mafia itu bisa nebak mereka habis bertengkar mungkin mengenai kehamilan Nabila?


"Brengsek jika dia tidak bertanggung jawab tidak perlu menyakiti kau.aku bersedia menerima kau dalam kondisi apapun,"


Tubuh Nabila membeku, sekujur tubuhnya dingin. Mulutnya terbuka lebar, namun dia masih ragu untuk menatap pria itu, dia bisa merasakan aura kemarahan Kevin. Tapi, wanita itu juga marah, kecewa mengapa pria ini masih terus mengawasi dia, parahnya lagi mengapa dia bisa mengetahui Nabila datang ke apartemen Reno? Masih ia ingat tadi dia berpamitan dengan Leticia, Kevin justru masih menikmati wine tanpa menghiraukan dirinya. Lalu? Mengapa sekarang dia bisa disini, di depan apartemen Reno? Nabila menggelengkan kepalanya dia masih berharap semoga Kevin tidak mengetahui jika ia datang bersama Reno apalagi melihat moment romantis kepalsuan yang tadi sempat Reno perankan. "Bukankah tadi Kevin sedang minum wine bersama sahabat-sahabatnya?" batin Nabila.


Argh!


Memikirkan kelakukan Kevin yang tidak pernah menyerah mengejar dirinya membuat kepala Nabila serasa mau meledak.

__ADS_1


''Ayo, jangan berlama-lama entar dilihat orang,'' timpal Kevin lagi. Dia menoleh ke kiri-kanan memastikan tidak ada yang melihat dia sedang memegang tangan Nabila. Tapi, sejujurnya Kevin berharap ada seseorang yang datang mengejar Nabila di lobby sini ya orang yang diharapkan Kevin itu 'RENO' dia ingin mengajarkan kepada Reno bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik.


Walaupun dia mafia namun Kevin lebih tahu cara menghormati wanita. Dadanya bergemuruh menahan amarah apalagi dia bisa merasakan ketakutan Nabila.


"Nab, ayo masuk ke mobil aku antar pulang, hmm." lirihnya. Didepan wanita ini dia tidak bisa berlaku kasar sekejam-kejamnya dia terhadap musuh namun jika sudah didepan Nabila titel mafia itu tidak ada artinya.


"Baiklah. Tapi antar aku ke apartemen ku saja. Satu lagi kau harus berjanji tidak boleh bicara dengan aku apalagi menanyakan hal yang tidak ada kaitan dengan kau." Nabila mengangguk setuju namun bukan Nabila namanya jika tidak memberikan syarat yang menurut Kevin tidak masuk akal. Nabila berjalan ke mobil percuma menolak pria ini pasti akan terus memaksa hingga dia mau ikut bersama pria ini.


"Baiklah.Aku janji bukan kah aku pria yang penurut?" Kevin tersenyum sinis.


Nabila menoleh menatap Kevin dia mengulas senyum untuk menutupi ketakutan dan bekas air mata yang masih terlihat di wajah nya. Kevin mengeraskan rahangnya hatinya serasa di cubit, sakit rasanya wanitanya diperlakukan begitu.


Nabila menurut tidak menjawab ucapan Kevin. Dia masuk ke dalam mobil Kevin. Melihat Nabila sudah duduk dengan baik dikursi mobil, Kevin menutup lagi pintu mobil. Dia melirik mencuri pandang dari kaca spion ternyata Nabila sedang menangis lalu bergegas mengusap air matanya dengan tisu yang tersedia di dasbord mobil.


"Oh God! Dia membangunkan iblisku yang tidur!" gumam Kevin. Tangannya mengusap kasar air matanya. Pria itu tidak berjalan ke pintu kemudi tetapi masih menyenderkan tubuhnya di balik pintu mobil, berharap Reno datang namun yang ia tunggu tidak muncul.

__ADS_1


"Dasar kau begitu bodoh! please jangan kau tangisi pria itu." lagi-lagi dia hanya bisa membantin tidak bisa berkata atau mengeluarkan amarahnya didepan Nabila karena dia terikat janji dengan wanita pujaannya itu. ' Jangan ikut campur urusan ku' ya kalimat itu masih dipegang Kevin. Walaupun dia bak pahlawan bagi Nabila tapi dia tidak bisa secara terang-terangan menolong Nabila itu yang membuat Kevin tersiksa. Sebenarnya dia ingin sekali mengakhiri janji itu tapi dia tidak ingin mengecewakan Nabila.


Nabila yang sudah menunggu lama di dalam mobil. Akhirnya mengetuk kaca jendela mobil.


Tok...tok...tok...


Kevin menoleh menatap Nabila yang sudah menurunkan kaca jendela mobil.


"Ayo. Katanya mau antarin aku," ujar Nabila.


"Oke,"


Nabila tersenyum melihat Kevin yang berjalan ke arah pintu kemudi. Kemudian dia segera menutup lagi kaca jendela mobil.


" Maaf, aku kelamaan ya." ucap Kevin. seraya memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.

__ADS_1


"Ya udah berangkat yuk, aku capek banget." Nabila memijit keningnya.


"Hmmm." Kevin hanya bisa berdehem. Dia lalu menginjak pedal gas mobil melajukan mobilnya menuju apartemen Nabila. Di dalam mobil tidak ada cerita atau sekedar basa-basi. Nabila terus menoleh keluar jendela sedangkan Kevin menikmati musik yang ia putar didalam mobil sesekali dia menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik seraya bersenandung.


__ADS_2