
Kevin pun masuk ke dalam lobby sebelum masuk Kevin menghampiri security yang tadi berjaga di depan pintu lobby. Kevin mengeluarkan amplop lalu memberikan kepada security itu.
''Ini ambil untukmu. Terima kasih karena kau telah bekerja sama dengan baik.Tanpa kau, aku tidak bisa mengintrogasi pria itu dengan lancar." ucap Kevin seraya mengulurkan amplop itu.
"Ahh..bisa aja Tuan. Terima kasih juga tuan." Security tersenyum senang karena mendapatkan uang cuma-cuma.
Ya jika tanpa bantuan Security bisa saja Kevin di tangkap polisi karena mengganggu keamana Apartemen dia juga bisa di tuduh melakukan kejaha**tan atas pemilik apartemen tadi.
*****
Setelah pemilik apartemen dan Nabila masuk ke dalam lift Kevin keluar menghampiri Security itu dia menjelaskan jika Nabila istrinya kabur dari Spanyol karena keduanya selisih paham.
"Istriku sangat marah sekali ketika mengetahui dirinya hamil. Sebenarnya awal kami menikah dia belum setuju memiliki anak namun karena aku ingin sekali segera memiliki anak, aku melakukan itu tanpa izin dia. Dan kemarin dia melakukan tes dan hasilnya dia positif hamil. Dia sangat marah tanpa mendengarkan penjelasan dari aku, dia memilih pergi dari Spanyol.'' Kevin mulai mengarang cerita bebas hingga security itu terenyuh tidak tega.
''Baiklah saya akan berpura-pura ke toilet agar tuan bisa membawa pria itu pergi.'' jawab Security itu.
''Terima kasih pak. Saya hanya ingin mendapatkan password pintu apartemen saja. Saya ingin meminta maaf kepada istri saya dengan memberi dia kejutan. Semoga dengan kejutan yang akan saya berikan istri saya bisa memaafkan saya.'' Kevin berbicara seolah itu benar. Dia memijit keningnya menunjukkan bahwa dia sudah sangat pusing menghadapi tingkah sang istri.
******
''Saya berharap hubungan tuan dan istri tuan segera membaik lagi.'' harap security itu.
Kevin menepuk lengan security itu, ''Aku pun berharap demikian, karena sebenarnya nggak enak tidur sendiri setiap malam." goda Kevin tersenyum usil. Security itu menunduk malu.
" Oya..mobilku saya titip disini saja.'' Kevin menitipkan mobilnya kebetulan depan lobby merupakan parkiran VIP.
''Baik, Tuan.'' sahut Security itu membungkuk.
''Aman, 'kan?'' tanya Kevin memastikan.
''Aman. Ini parkiran VIP," jelas security itu lagi.'
''Baiklah.''
Kevin segera masuk dalam lift. Tidak menunggu lama lift berhenti di lantai sepuluh. Unit yang sama dengan unit Nabila.
''Sisi kiri,'' gumam Kevin. Matanya melirik ke sisi kiri seraya jari telunjuknya menunjuk ke sebuah apartemen nomornya sama dengan nomor apartemen Nabila.
''Ini berarti di sini punyaku.'' Setelah menemukan dia berjalan menuju apartemen yang ia sewa namun saat di unit Nabila. Kevin mengusap pintu Nabila sembari tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
''Kau telah ku tangkap tidak akan ku lepaskan lagi,'' gumam Kevin. Tangannya mengusap sekali lagi di depan pintu entah apa yang Kevin lakukan tapi intinya dia juga sudah mengetahui pin pintu Nabila jika dia mau malam ini juga dia bisa masuk ke apartemen itu. Tapi, Kevin tidak ingin membuat Nabila semakin menjauh dari dirinya dan bisa saja Nabila membenci dia.
Kevin tidak ingin itu terjadi. Dia ingin mendapatkan Nabila dengan usaha.
Hal itu yang paling di takutkan Kevin. Tidak seperti mafia lainnya yang mengangap wanita adalah hal mudah untuk di dapatkan berbeda dengan Kevin, mendapatkan wanita seperti Nabila sangat lah sulit dibandingkan dengan mengejar musuh Kevin merasa lebih cepat menangkap musuh daripada mendapatkan cinta Nabila.
Karena itu dia sangat berhati-hati menarik perhatian Nabila. Ia berjalan menuju apartemennya tubuhnya telah berteriak minta di istirahatkan. Kevin masuk ke dalam kamar kebiasaan dirinya yang harus bersih saat tidur.
Kevin masuk ke kamar mandi dia membersihkan tubuhnya karena ia tidak memiliki baju ganti Kevin memilih bertelanjang dada hanya menggunakan boxer. Ia berjalan keluar dari kamar Kevin merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memainkan ponselnya. Sebelum memejakan matanya Kevin masih menyempatkan diri mengirim pesan kepada anak buahnya.
''Besok belikan saya baju dan mantel. Satu lagi suruh Zuares pergi ke rumah ini...'' Kevin mengirimkan alamat lengkap dia juga memberitahukan untuk mengurus surah pemindahan kepilikan apartemen.
Usai mengirimkan pesan. Kevin meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia pun memejamkan matanya karena besok dia harus menyusun rencana apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan Nabila.
❤️❤️❤️❤️
Ding dong...
Bunyi bel.
Kevin mengerjap ia mengucek matanya yang masih enggan buka tapi bunyi bel pintu terus berdering.
"Mengganggu saja. Apa kehidupan di Paris seperti ini? Cari mati orang ini," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur. Tangannya langsung mengambil ponsel di atas nakas.
Ceklek...
Kevin membuka pintu.
"Masuk," perintah Kevin.
Anak buahnya masuk. keduanya duduk di sofa ruang tamu. Kevin mengusap karena sesungguhnya matanya masih ingin tidur lagi.
Hoam...
"Ini tuan, semua yang tuan minta." Anak buah itu meletakkan paperbag diatas meja sofa.
"Cam**eranya dan alat penya***da**pnya?" Kevin mengernyit karena selain pakaian dia juga sangat membutuhkan alat tadi untuk mengi**ntai kemana Nabila pergi.
"Ini tuan." Anak buah itu mengambil sebuah bungkusan kecil dari kantong mantelnya lalu memberikan pada Kevin.
__ADS_1
"Nah ini yang penting." Kevin menerima bungkus itu dia membuka dan mengamati isi bungkusan itu. Matanya yang tadi tidak bisa buka seketika terang.
Anak buah itu memperhatikan ekspresi bahagia Kevin.
"Sebenarnya apa yang tuanku sembunyikan dari kami? Perasaan tidak ada gosip apapun dari markas besar di Spanyol lalu mengapa tuan Kevin seperti sedang mengawasi seseorang." batin anak buah itu.
"Nggak usa ngebatin saya sudah tau. Sekarang kau boleh pulang nanti akan aku hubungi kau jika aku butuh bantuan.Masih ingat aturannya tidak ada selain kau yang mengetahui aku sedang di Paris. Aku harap kau tidak melupakan itu." Kevin menaikkan satu sudut bibir atasnya. Sorot matanya menatap tajam anak buahnya sebagai tanda peringatan yang tidak main-main.
"Saya mengerti." Tanpa basa-basi lagi anak buah itu segera keluar dari apartemen Kevin dan kembali ke markas.Dalam perjalanan dia bergidik ngeri mengingat tatapan Kevin yang seakan ingin mengambil orga*nnya hidup-hidup.
Usai anak buahnya pergi Kevin masuk ke kamar lagi. dia tidak tidur lagi meskipun tubuhnya masih lelah.Kevin memilih membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Mafia itu tidak kwatir Nabila akan pergi ke mana karena dia sudah menempelkan sebuah cam*era kecil yang bisa mere*kam gambar dan suara Nabila.
❤️❤️❤️
Di Apartemen sebelah, apartemen Nabila.
Masih sama seperti di Spanyol. Nabila pagi-pagi masih di repotkan dengan morning sickness. mengingat kandungannya masih lima minggu.
Huekk..huek...huek...
Nabila mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya yang masih capek di tambah perutnya yang kosong membuat tubuhnya lemas. Ia memegang perutnya seraya menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi.
''Sayang, jangan gini dong please. Mama harus cari kerja hari ini." Nabila mengusap perutnya matanya berkaca-kaca rasanya dia ingin berteriak dan mengatakan kepada dunia mengapa begitu sulit seorang pria menerima anak dari hasil percintaan mereka meski tanpa cinta?
Berdosa kah?
Mengapa?
"Aku tidak butuh dinikahi cukup dia terima anak ini," Nabila menitikkan air matanya.
Nabila menyadarkan dirinya dia berusaha menenangkan diri dari gejolak di hatinya karena dia tidak ingin bayinya ikut merasakan apa yang dia pikirkan. Dia menggelengkan kepalanya.
"Sabar Nab. Demi anak lu."
Setelah tenaganya sudah kembali dia keluar dari kamar mandi. Nabila berjalan ke arah nakas mengambil ponselnya.
Tangannya menggulirkan layar ponselnya. Mengecek mungkin ada pesan dari teman-temannya.
__ADS_1
"Tumben ngga ada yang kwatirin aku?" Nabila menghela napas.
"Ahh aku lupa, nomorku kan Uda aku ganti." Nabila menertawakan kebodohannya sendiri.