
Setelah Kevin pulang. Nabila berjalan masuk ke kamarnya, dia membaringkan tubuhnya diatas ranjang tangannya mengelus perut ratanya, ''Aneh kenapa makan bareng Kevin aku tidak pernah merasakan mual apalagi sampai muntah.'' Nabila memijit keningnya, bingung memikirkan kemauan si janin, " Mau apa sih sayang? Padahal dia bukan ayahmu."
Memikirkan janinnya Nabila baru teringat hasil usg yang mau ia tunjukkan kepada Reno. Nabila bergegas bangun dari ranjang dia meraih tasnya lalu mencari amplop di dalam tasnya berharap amplop coklat itu ada didalam tas yang tadi ia bawa. Sayangnya, sudah dua kali Nabila mengeluarkan semua isi tasnya tetap saja ia tidak menemukan hasil usg itu. Nabila tidak putus asa ia masih berpikir positif wanita itu meraih mantel yang tadi ia kenakan, ia beralih ke mantel yang diletakkan diatas sofa kamar. Dia bergegas mencari didalam saku mantel berharap masih terselip disana tapi hasilnya pun nihil ia tidak menemukan sama sekali. Nabila mengusap kasar wajahnya. Bingung.
Wanita itu mengacak pinggang sembari mengigit kuku jari telunjuknya kebiasaan wanita itu jika panik dia selalu menggigit kukunya untuk mengalihkan perhatiannya.
''Jangan bilang amplop itu jatuh dimobil Kevin,'' gumam Nabila.
Ia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, bingung harus menghubungi Kevin atau tidak. Jika ia menghubungi Kevin, mafia itu pasti sangat bahagia dan berpikir Nabila mulai menerima cintanya tapi jika ia tidak menghubungi Kevin, Nabila kwatir jika Kevin yang menemukan lalu membuka isi amplop itu? Bisa-bisa kehamilannya bisa terbongkar. Semua sudah tahu di kelompok mafia Red Devil tidak ada rahasia diantara mereka. Parahnya lagi kedua sahabat Nabila menikah dengan Bos mafia dan satunya lagi dengan anggota mafia sahabat Kevin. Tidak, bisa-bisa Nabila pasti akan diintrogasi habis-habisan oleh Leticia dan Stefani. Nabila menggelengkan kepalanya, ''TIDAK,'' teriak Nabila sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Membayangkan kedua sahabatnya mengintrogasi dirinya saja Nabila sudah merinding. Bukan apa-apa tapi Nabila daridulu selalu menolak hamil diluar nikah dan s**ex bebas.
"Ayo, Nabila kesampingkan ego mu dulu." batin Nabila.
Nabila lalu memantapkan hatinya untuk menelpon Kevin. Persetan dengan apa yang Kevin pikirkan yang terpenting dia harus mendapatkan amplop itu. Dia bergegas berdiri dari sofa lalu mengambil ponselnya jarinya mulai menggulirkan layar ponselnya ia tersenyum ketika menemukan nomor Kevin yang belum ia hapus dari riwayat panggilan masuk. Karena, Nabila sudah tidak menyimpan nomor ponsel Kevin di daftar kontak. Nabila mulai menekan tombol memanggil lalu ia meletakkan ponsel itu ditelinga kirinya.
Drtth...
Nabila tersenyum saat panggilannya masuk. Tidak menunggu lama Kevin langsung menjawab panggilan telepon Nabila.
''Kenapa? Uda kangen? Aku baru aja masuk kamar kamu malah uda kangen aja,'' goda Kevin dari sambungan telepon.
''PEDE bangat...sorry ya aku itu telepon kamu mau tanya tadi kamu lihat nggak amplop coklat di kursi mobil tadi aku duduk? Tolong dong coba kamu cek lagi please ini urgent.'' Nabila memohon dia berharap semoga Kevin mau mengecek dalam mobilnya.
''Harus sekarang?" Kevin menyugar rambutnya. Mafia itu sebenarnya malas jika harus bolak-balik parkiran apalagi naik turun lift.
__ADS_1
''Hmm..sekarang, please aku mohon.'' Nabila merengek. Air matanya pun sudah penuh dipelupuk mata Nabila. Andai saja ada Kevin didekat Nabila pasti dia tidak akan rela melihat wanita pujaannya menangis.
''Ya...ya...ya...jangan memohon begitu. Aku keluar.'' Kevin tidak tega mendengar Nabila memohon seperti itu.
''Thanks, maaf uda merepotkan.'' ucap Nabila merasa tidak enak.
''Demi cintaku padamu aku nggak masalah harus keluar lagi ke parkiran.'' Kevin terkekeh.
Nabila tidak menjawab lagi dia hanya diam dan mendengar pintu kamar berbunyi menandakan Kevin benar-benar keluar.
"Hallo...jangan matikan panggilannya atau alihkan panggilan ke video aja. Biar kamu juga lihat di dalam mobil nanti," pinta Kevin.
"Itu mau kamu." sela Nabila. Namun, dia tidak menolak Nabila juga berpikir mungkin Kevin tidak tau bentuk amplop yang dia maksud. Nabila pun mengalihkan panggilan ke panggilan video Kevin yang melihat wajah panik Nabila langsung mengedipkan matanya. Nabila tidak merespon dia terus memperhatikan langkah Kevin.
"Gimana mau lihat ke jalan sementara ada bidadari di layar ponsel," goda Kevin.
Nabila hanya mencebik dia tidak bisa menjawab karena jika menjawab maka tidak akan selesai perdebatan mereka. Kevin sudah tiba di parkiran dia segera membuka pintu mobil lalu jarinya menekan camera membalikkan ke arah mobil. Dia juga menekan tombol lampu mobil untuk untuk penerangan mempermudahkan dia menemukan amplop itu, "Coba deh kamu ikutan lihat ada nggak, soalnya nggak ada amplop yang kamu maksud didalam mobil sini," ucap Kevin. Dia mendorong jok kursi agar lebih leluasa mencari amplop coklat yang disuruh Nabila, bahkan ia sampai menunduk mencari dibawah karpet bawah kursi.
"Nggak ada ya." Nabila menghela napas.
"Hmmm...emang isinya apa sih?" tanya Kevin penasaran.
"Surat untuk pernikahan aku dan Reno." jawab Nabila.
__ADS_1
"Hmmm..." Kevin hanya berdehem dia tidak mau menjawab lagi kwatir tidak bisa mengontrol emosinya.
" Maaf uda merepotkan kamu. Thanks ya," ucap Nabila.
"Nggak merepotkan." jawab Kevin.
Setelah mendengar jawaban Kevin. Nabila pun mengakhiri panggilan.
🤍🤍🤍🤍🤍🤍
Nabila menghela napas tangannya masih menggenggam ponsel, ia menatap layar ponselnya, dia berperang dengan suara hatinya ingin menelpon Reno tapi ia masih takut atau jika ia kembali ke apartemen Reno, sementara mobilnya tadi ia tinggalkan di mansion Leticia.
Dia juga takut sekarang sudah pukul dua belas malam bisa-bisa dia dibu*nuh Reno disana mengingat perlakuan Reno tadi membuat Nabila ragu untuk kembali ke sana.
''Semoga nggak jatuh diluar apartemen Reno, bisa jadi bahan gosip penghuni apartemen itu,'' gumam Nabila.
Nabila masuk ke kamar mandi dia mencuci wajahnya untuk menyegarkan pikirannya. Baru saja senang karena perutnya kenyang, masalah baru datang lagi hasil USG hilang, belum lagi disana ia menuliskan pesan untuk Reno dia tidak ingin ada orang yang menemukan dan membacanya bisa-bisa Reno benar-benar membun*uh dia.
Nabila menatap wajahnya di cermin yang dipasang didinding wastafel. Dia bergidik ngeri mengingat lagi perlakuan kasar dari Reno, untung saja pelayan Reno datang jika tidak mungkin saat ini bayinya sudah tiada. Nabila menunduk dia menatap kearah perutnya, ia mengusap lembut perut datarnya.
"Mama janji akan menjaga kamu sebaik mungkin. Jangan takut mama tidak akan pernah rela kamu dicela*kai papamu." gumam Nabila.
Ia pun berjalan keluar dari kamar mandi masuk ke kamarnya lagi, Nabila membaringkan tubuhnya diatas ranjang karena matanya yang sudah sangat mengantuk ia pun tertidur, berharap besok pagi Reno menelpon dia mengenai amplop coklat itu. Ya, lebih baik jatuh di dalam apartemen Reno daripada diluar apartemen bisa viral nantinya.
__ADS_1