
jika dikaitkan dengan apa yang aku pikirkan, maka itu wajar bukan? inilah caraku bertahan, aku akan berusaha untuk meyakinkan diriku kalau aku tidak bisa, Dan raga itu pasti akan membutikkan kalau aku mampu sebenarnya.
ini usaha, bukan rekayasa. itu yang ingin kuucapkan.
tapi terkadang tetap saja aku ingin sekali mengakhiri segalanya, dimulai Dari pikiran-pikiran kotor yang selalu menghasutku untuk melakukan hal jahat.
lalu aku yang selalu berfikir kenapa aku hidup sementara aku ditakdirkan seperti ini?
rasa takut akan apa yang terjadi nanti nya pada ku, apalagi disaat banyak orang mulai membenciku kembali.
ingin mat*, ingin mat*! AKU INGIN MAT*!!
terucap dengan jelas bukan? walau itu tak bisa didengar siapapun. itu hanya batinku. aku yang menggerutu, aku yang marah, aku yang kecewa. semua kata-kata yang kukeluarkan hanya sebatas kata untuk diri sendiri.
.
.
kembali pada kenyataan ini, halo lagi untuk diriku sendiri.
aku merenungi diri di bawah jendela ku seperti biasanya, ya, berharap dengan ini akan ada perubahan nanti nya walaupun aku tau tak akan pernah ada kesempatan baru.
:"dengar-dengar, kak asara mendapatkan kasih sayang di sekolah nya. walaupun kata orang-orang dia masih saja di siksa oleh kedua pembunuh itu" kataku bicara sendiri
aku melihat bulan yang jauh disana, sangat jauh.
menatap langit-langit malam yang gelap tapi keindahannya bisa terlihat.
:"kuharap tak akan ada yang terluka"
angin berhembus kencang, malam itu menjadi malam yang dingin. dan aku... mencoba melompat keluar Sana.
aku yang sudah berada di atas jendela itu, melihat kebawah Sana. memprediksi apakah aku akan mat* jika aku melompat atau justru aku hanya akan terluka saja?
aku berfikir aku akan mat*.dan itu lah kenapa aku melangkahkan kakiku ke depan
terdengar jelas suara langkah kaki yang begitu cepat, menangkapku.
:"IDIOT!! TOLONG JANGAN LAKUKAN ITU..."
rion mendekapku, begitu erat. sampai aku merasa sesak dan tak bisa bernafas. sementara ia sendiri gemetaran saat ini
:"apa? aku hanya mengecek jendela itu" jawabku
:"hah..? sungguh? aku tak akan percaya!"
:"percaya lah, aku takut mati kau tau?"
.
nyaris sedikit lagi padahal.
:"aku... aku tak ingin kau pergi.."
rion mulai menangis memelukku, pelukannya semakin erat, seakan mengatakan "berhentilah sejenak"
Menanggung konsenkuesi hidup dan menjalaninya bukan menjadi pilihan utama bukan?. Rasa hampa yang di rasa juga belum tentu akan menghilang. Jika memang benar adil itu ada didunia, maka selayaknya orang-orang memperlakukan hal yang serupa dari kata "adil" Itu. Jika memang kami kalah dalam pertandingan ketat ini (hidup), maka biarkan lah kami melakukan sesuatu yang benar-benar kami inginkan sebelum pergi.
-arisawa miya-
.
.
.
:"hey.. aku tidak bisa bernafas" aku tertawa setelahnya
:"maaf"
rion melepaskan pelukannya, dan melihat ku layaknya peliharaan kecil yang sedih karena ditinggalkan
dia imut.
__ADS_1
:"apa-apaan kau, sungguh kekanak-kanakan" kataku
aku mengelus kepala rion, menatap matanya dan mengatakan
:"tak ada yang abadi didunia" kataku sambil tersenyum
angin berhembus kencang menembus ke dalam kamar. dingin nya malam, sunyinya malam.
:"oh, ngomong-ngomong, ibuku dimana?" tanyaku
:"dia bilang dia sedang pergi beberapa hari untuk acara perusahaan kakek.."
:"ah.. pantas saja aku tak melihat nya sama sekali hari ini"
:"bagaimana kau bisa tau?" tanyaku lagi
:"aku menelepon nya tadi"
.
.
pembicaraan muncul di malam itu, perlahan melupakan apa yang terjadi tadi nya. menganggap itu hanya lah masa lalu yang tak pantas diungkit lagi.
-kami masih harus berusaha semaksikal mungkin, sampai batas akhir kami habis.
.
.
besoknya
aku berdiam diri dikamar, mengunci pintu dan mulai menjadi gil*
layaknya sebuah petir yang menyambar tepat di dekatku, aku sangat ketakutan hari itu, padahal tak terjadi apa-apa
takut akan hal-hal yang tidak jelas adanya.
berharap ini akan berakhir secepatnya.
.
.
sudah cukup lama aku berdiam di kamar, terduduk diam di atas kasur ku yang lembut
sore hari tiba, rion sudah kembali kerumah
terdengar jelas suaranya yang memanggil-manggil namaku
:"hanabi.. hanabi kau dimana?" tanya nya di bawah Sana
aku tak menjawab.
:"aku kekamarmu ya??"
terdengar langkah kaki menuju kamarku itu, langkah yang terdengar semakin dekat
dan akupun menoleh
cklek
:"hanabi, aku belikan makanan untukmu" kata nya di depan pintu
:"terimakasih" jawabku lemas
aku turun dari kasur ku dan berjalan kearah nya, mengajaknya ke dapur untuk makan bersama
ia mengangguk-angguk berartikan setuju
.
hari yang terlewati begitu cepat, tapi bagiku, itu sangat lah lama
__ADS_1
dan hari esok tiba, hari ini, aku harus masuk ke sekolah
jika tidak, mungkin teman-temanku akan khawatir
.
.
disekolah
aku hanya terdiam, melihat kelasku dari luar
begitu ramai, membuatku takut tanpa sebab.
tak tahan dengan apa yang akan terjadi setelah melewati hari itu, aku hanya berlari seperti sedang dikejar monster yang sangat menyeramkan. berlari disepaniang koridor...
bruk!
:kurang ajar! berani sekali kau menabrakku?!" kata kak asara di bawah ku
:"ka-kak asara?"
aku langsung berdiri dan mencoba membantu nya tapi dia berdiri sendiri dan langsung menamparku begitu keras.
....
orang-orang yang sedang berjalan di koridor, berhenti. begitu banyak orang yang menyaksikan
aku yang hanya menunduk diam mulai ambil keneranian, setidaknya untuk ungkapkan bahwa aku juga sama tak berdaya seperti yang lainnya
:"brengs*k kau memang! tak mau dengar!!"
kak asara menamparku beberapa kali.
LEMAH
.
.
:"UDAH CUKUP BANGS*T!!!! LU KIRA GW GAK CAPEK APA HAH?!! GW SAMA LU ITU SAMA!!! CUMA CARA ORANG MANDANG KITA AJA YANG BEDA!!! LU DI SAYANG KARENA ORANG TUA SIALAN ITU! SEMENTARA GW DIANGGAP ANGIN, DISEPELEKAN KARENA MASALAH KELUARGA GW YANG GAK BEGITU BERAT!" teriak ku begitu kencang
orang-orang disana terdiam, melihat kearah ku dengan tatapan jijik.
:"aku yakin itu akan dimulai lagi" batinku
aku hanya menunduk pasrah setelahnya
menangis tanpa suara dan mungkin tak akan diketahui yang lain.
aku mendengar nya dengan jelas, kata-kata kasar yang mereka berikan untuk ku
sementara yang aku inginkan adalah mendengar kan jawaban dari kak asara
:"anak bodoh"
terdengar jelas ucapan kak asara yang membuat ku sangat frustasi. dia membicarakan nya dengan nada yang begitu... kecil. tapi aku mendengarnya dengan jelas seperti ia sedang mengataiku menggunakan mic dengan suara keras
.
.
.
perlahan, mereka menghilang. dunia menjadi hitam putih, sunyi,tak ada siapapun disana, bahkan hewan sekalipun.
suara udara yang terdengar sangat jelas, air mata yang jatuh ke lantai koridor.
kupastikan aku tak akan pernah mau hidup lagi apapun yang mereka tawarkan pada ku.
~ch29 selesai~
sankyuu!
__ADS_1