
Sore datang, sekolah kami selesai.
Aku pergi ke asrama Kuki terlebih dulu sebelum datang ke restoran itu. Tentu, bersama Rion
Aku sering menemui Kuki semenjak Rion menyatakan perasaan nya, karena asrama Kuki memang terbilang jauh
Aku selalu mengatakan pada Kuki bahwa keadaan baik-baik saja, jadi ia bisa fokus sekolah seperti biasa
Aku tak mau lagi berfikir aku hidup dengan cobaan. Aku sudah cukup merasa lelah dengan otak yang terus bekerja
.
Pamit dengan kuki, dan pergi dari asrama nya.
Aku dan Rion langsung pergi ke tempat yang sudah dijanjikan. Sebuah restoran populer yang baru saja buka cabang baru
Kami mengambil jalur tercepat agar cepat sampai ke restoran. Karena kami sudah terlambat beberapa menit
----------------
Sampainya disana, kami turun dari motor dan masuk ke dalam. Kenzo dan Lily sudah ada di mejanya menunggu kami.
Kami pergi ke meja itu. Memanggil pelayan dan memesan beberapa yang ada di menu.
.
Selagi menunggu pesanan datang, kami banyak mengobrol hal-hal yang aku lewatkan.
"Aku kelewatan banyak hal" batinku
Makanan dan minuman tiba. Itu ditaruh dimeja kami dengan rapih
Kami mulai menyantapnya. Dengan tenang, dan sedikit perbincangan.
Semua itu habis dengan cepat
:"Oh ya, ngomong-ngomong Hanabi. Bagaimana kabar Kuki?" Tanya Kenzo
:"Mungkin aku harus membawanya ke psikolog. Aku rasa dia masih tertekan dengan kejadian itu" jawabku
:"Ya.. jika hanya itu jalan nya. Setidaknya Kuki hanya tau ceritanya, tidak langsung mengalaminya" lanjut Lily
:"Akan semakin buruk jika itu juga terjadi padanya bukan?" sahut Kenzo
:"Kau benar. Aku akan selalu ada disaat kamu butuh. Jadi jangan segan-segan memanggilku selalu" ucap Rion menyemangati
:"Terimakasih semua" Jawabku dengan senyum
****************
Selesai dengan semua obrolan, kami semua pulang kerumah masing-masing setelah berpamitan.
.
Sampai dirumah, aku menaruh sepatuku dan berjalan menuju kamarku seperti biasa.
Sambil bergumam
:"Sepertinya aku harus mengatur otak ku juga, ada baiknya jika aku seorang pelupa"
:"Kamu udah pulang? mau nyemil gak? Ayah bawa banyak cemilan" ucap Ayah yang tiba-tiba datang menghampiri
:"Eh? Ayah. Aku pulang"
:"Iya. Apa kau lelah?"
:"Lumayan, tapi aku mau beberapa cemilan. Boleh?"
__ADS_1
:"Tentu saja, ayo ambil. Ada diruang keluarga"
:"Terimakasih Ayah"
.
:"Ibu, Hanabi pulang" ucapku.
Melihat Ibu ku yang diam seperti patung di sofa. Siapa yang tak betah melihatnya?
:"Apa kondisi Ibu belum membaik? kondisiku juga sama. Dan itu semakin menjadi. Ibu, ibu menyuruh ku untuk terus control dengan dokter. Tapi Ibu sendiri bagai patung yang depresi." Ucapku sembari mengambil cemilan di meja
:"Aku tak suka pemandangan seperti ini. Apa Ibu tak kasihan pada Ayah? Kita baru saja bersenang-senang beberapa bulan sebelumnya. Apa hasil yang ku dapat untuk keluarga akan terus berakhir sama? Ayah juga pasti lelah dengan ini" Lanjutku
:"Aku berusaha membuat semuanya kembali normal. Sedang berusaha" Jawab Ibu dengan nada pelan
:"Lebih baik Ibu buat konsultasi dalam waktu dekat. Aku bisa terus stress kalau melihat kondisi Ibu yang seperti ini"
:"Aku mengerti. Aku... mengerti."
Ibu tiba-tiba menangis disana. Membuatku merasa bersalah atas semua perkataan yang Aku lontarkan.
:"Maaf.Aku juga ingin kembali normal"
Keluarga dengan keegoisan yang terlihat jelas. Aku tidak akan tau akhir cerita keluarga ini. Karena tak punya alasan untuk mengelak bahwa kami memiliki kekurangan yang beruntun
.
Aku kembali ke kamarku dan mengunci pintu.
Semuanya tak benar berarti untukku. Bahkan jika kebahagiaan itu datang kembali, alur hidup yang aku jalani juga pasti terulang
Itu terus berputar dan tak pernah berhenti di jalan yang aku inginkan.
:"Bisakah aku merasa tenang sehari saja? apa yang aku tak suka selalu muncul setelah aku banyak tertawa."
Aku punya cukup banyak keluhan. Dari bagaimana Aku bertahan dan apa yang aku lakukan.
Aku terus bertanya-tanya mengapa semuanya tak pernah terasa benar.
Jika orang lain melibatkan tuhan, maka Aku hanya akan melibatkan pikiranku sendiri.
Orang-orang punya banyak cara yang bisa membuat mereka keluar dari kesengsaraan. Tapi banyak juga dari mereka yang tak dapat cara itu.
Aku juga lelah menerima bahwa Aku begitu lemah. Bahkan aku tak sanggup berdiri setelah ada masalah kecil menimpa.
Yang kulihat dari mereka hanyalah bagaimana mereka bisa hidup. Menjadikan itu alasanku untuk memulai kembali semuanya
:"Konyol jika aku mengharapkan apa yang tak mau aku dapatkan"
Aku menangis di kasurku.
................
Aku tak bisa berhenti menangis setelah itu. Aku hanya menatap cermin di depan kasurku. Melihat jendela disamping kasurku yang terkunci rapat.
Dan menghela nafas sesegukan.
.
Hei, siapa yang terus mencaci maki? Aku bilang Aku akan berhenti. Itulah yang aku janjikan pada diriku sendiri
Pada kenyataan nya aku tak bisa berhenti berpura-pura.
Dan berakhir aku harus menampakan segala keburukan yang aku punya.
.
__ADS_1
:"Kapan semuanya akan berakhir??" Gumamku
Aku benar-benar kecewa. Kenapa aku tak bisa mati saat itu. Padahal itu satu-satunya kesempatan yang pasti berhasil.
****************
Pagi hari setelah semua tangisan tak berguna.
Aku hanya bersiap seperti biasa untuk pergi ke sekolah.
.
Membuka kunci, dan keluar dari kamarku.
Aku melihat Ayah dah Ibu yang sedang duduk disofa ruang tamu.
Melewati mereka ke dapur dan mengambil beberapa makanan yang di meja untuk ku jadikan bekal.
Mengambil minum dan menaruh semua di tas ku.
Aku memakai sepatu ku di depan pintu dan berpamitan.
:"Hanabi, Ibu buat makaroni keju. Ibu harap kamu mau makan ini"
Sontak Aku terkejut. Ini tak pernah terjadi lagi setelah itu.
:"Te-terimakasih bu.."
Aku mengambilnya dan menaruh nya di dalam tas ku. Klakson motor terdengar di depan rumah
:"Ah! Rion sudah menjemput ku. Ayah Ibu. Aku pamit"
:"Hati-hati sayang" ucap Ibu
:"Hati-hati dijalan" lanjut Ayah
:"Iya, kami permisi" jawab Rion
****************
Sampainya disekolah, kami pergi ke kelas kami dan berbincang.
:"Eh, Ibu kamu udah pulih?" Tanya Rion
Aku bisa menduga itu. Karena perbedaannya sangat jelas. Aku bahkan masih terkejut dengan hal ini
:"Aku tak tau pasti. Setelah perbincangan semalam, tapi jika Ibu pulih. Itu lebih baik untukku" Jawabku
:"Benar sih. Aku hanya sedikit terkejut. Perubahannya agak cepat juga"
:"Butuh waktu untuk meladeni nya. Mungkin semua orang yang depresi seperti itu"
:"Ibu mu depresi?"
:"Kemungkinan besar. Lagipula trauma dan ketakutannya terhadap pak tua terlihat jelas."
:"Aku hanya berharap akan ada hal yang lebih baik ke depannya"
:"Ya, Aku juga. Pasti semua menginginkannya"
.
Bel berbunyi. Menandakan jam pelajaran pertama dimulai.
~Ch 68 selesai~
Sankyuu!
__ADS_1