
🚫Peringatan kata-kata kasar dan kekerasan, diharapkan bijak dalam membaca🚫
.
.
.
.
:"AYAH! IBU!! BERI AKU PENJELASAN!!"
Melihat kak Shahiro yang terkapar dilantai. Serta darah yang terus mengalir, membuatku panik dan marah. Segera ku telepon ambulance dan mencoba menggendong kak Shahiro ke sofa ruang tamu
:"AYAH! IBU!" Teriak ku tak terjawab.
:"DATANG ATAU MATI SAJA KALIAN!" Kesal dengan segalanya, aku mencari mereka kesana kemari. Sampai tempat terakhir, gudang rumah kami.
:"Jika aku melihat kalian, beri aku penjelasan atau kalian mati ditanganku!" Ucapku menggerutu sambil berjalan ke arah gudang.
Dengan samar, suara orang-orang yang seperti ditutup mulutnya bergema disana.
Aku membuka pintu, dan menghindari pak tua yang ingin memukul.
:"BREN*SEK MANA LAGI YANG BERANI MELAWAN?!"
Tolong, sulit mengendalikan emosi ku yang memuncak. Apalagi karena melihat kak Shahiro yang begitu kritis. Tak sadar diri.
:"KAU! APA KAU TAU SIAPA YANG KAU PAPARKAN BADANNYA KE LANTAI?!"
Aku menarik kerah baju dari orang asing itu. Dan muka itu harus ku lihat lagi setelah sekian lama.
:"Kau? kau datang lagi? hey, ayahku yang sekarang seorang polisi. Dan kau hanya buronan. Kau akan kembali ke sana, sebelum mati!!"
Memukulnya lagi berkali-kali sampai ia tepar dengan semua kelakuannya. Membuatnya pingsan dan menyelamatkan kedua orang tua ku.
.
.
Tak ingin bicara apa-apa, aku langsung pergi tanpa menatap mereka dan berusaha membuat kak Shahiro tetap sadar.
:"Kak! kakak!!! KAKAK!!"
Kenapa tidak bangun? hey, bangunlah. Bangunlah. Aku akan membun*hmu jika kau tidak bangun. BANGUN
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suaraku yang berteriak saja. Sudah malam, akan mengganggu semua tetangga di sekitar.
Mereka mungkin akan kerumah kami dan melihat hal ini. Dan mungkin mereka akan mengatakan "Mereka mulai lagi"
Bisa kuduga semua itu.
.
Kak Shahiro tetap tak membuka mata. Dimana ambulan itu?
Aku menelepon ambulan lagi.
__ADS_1
Dan baru yang ini, ambulan benar-benar datang. Hey, ambulan yang ketelepon sedari awal pergi kemana? lihat betapa inginnya mereka membuat seseorang dijemput ajalnya.
Sepertinya dunia makin acak. Makin aneh, makin menyebalkan.
Mereka membawa kak Shahiro pergi ke rumah sakit. Ibu ikut bersama mereka. Sementara Ayah langsung bertugas.
Aku? aku hah? berharap apa kalian. Aku hanya mematahkan satu tangannya lagi. Belum puas.
.
.
:"BREN*SEK!! KAU ANAK DURHAKA!! BERANI KAU MELAWAN SEKARANG?!"
:"SI*LAN!!! ORANG TUA YANG SUDAH TAK PUNYA APA-APA LAGI SEPERTIMU MAU MEMARAHIKU?!! NYAWAMU AKAN HILANG JIKA AKU TAK MENAHAN DIRIKU!!!" Jawabku dengan lantang
Aku tak bisa lagi menganggapnya sebagai orang tua ku atau bahkan orang dewasa. Tak bisa lagi kuhormati. Tak bisa lagi ku biarkan dia terus ada di dunia.
Dunia bukan tempatnya. Dia akan tersiksa
:"KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MALU!!"
:"Tapi aku lebih malu lagi memiliki ayah pemabuk dan buronan sepertimu. Aku juga sama, karena aku keturunanmu. Tapi kau lebih buruk dari apa yang pernah ku lakukan sampai saat ini. Aku yakin kau punya masalah hidup, sampai jalan yang salah menjadi pilihan. TAPI APAKAH PANTAS KAU BERTINDAK SEWENANG-WENANG KEPADA KELUARGA DAN DARAH DAGINGMU SENDIRI?!"
:"LIHAT SIAPA YANG MENIMBULKAN TRAUMA MENDALAM PADA DARAH DAGINGNYA?! YANG MENIMBULKAN TUMPUKAN LUKA DIDALAM RAGA BELAHAN JIWANYA?! SIAPA YANG MEMULAI PERTENGKARAN TAK MASUK AKAL?! KAU BUKAN SEORANG AYAH, ATAUPUN ORANG DEWASA. KAU HANYALAH BOCAH YANG TAK TAU ATURAN HIDUP!!" lanjutku penuh amarah
Pak tua itu hanya terdiam. Entah apa yang dia pikirkan
:"Hey tidak sopan kamu! gitu-gitu juga dia tetap ayah kamu!!" Ibu-ibu komplek menyahut
:"Kalau begitu, mau kah kau menjadi istrinya?"
:"Kenapa anda tidak mau? padahal anda sendiri yang bilang bahwa dia tetap ayah saya"
:"Ya karena dia memang ayahmu! bersyukur kamu lahir di dunia!"
:"Apa aku pernah bilang kepadanya lewat mimpi bahwa aku minta dilahirkan dari nya?"
:"Hah?!"
:"Tidak pernah kan? lalu kenapa anda tidak mau menjadi istrinya? jawab aku."
:"Ya, sepertinya dia benar-benar tidak punya-"
:"Kalau begitu semua jelas kan? kenapa dia tak pantas dikatakan sebagai seorang ayah"
Aku pergi dari sana, menelepon Rion dan minta diantar ke rumah sakit tempat kak Shahiro di rawat
Malam itu menunjukkan pukul 02.15
Benar-benar larut malam. Dan kejadian tak disangka seperti itu muncul dalam rumahku yang "hampir" harmonis.
Kacau. SEMUA KACAU
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah lewat beberapa hari. Keadaan sudah mulai mereda. Membaik secara perlahan
__ADS_1
Tapi lagi dan lagi. Ibu mulai tak suka jika ada hal yang berkaitan tentang pak tua. Ayah sabar, dan tetap menyayanginya. Sehingga Ibu tidak begitu mengekang nya.
Tapi tetap saja. Bukan hanya trauma yang orang itu berikan. Tapi juga luka dan takut yang mendalam. Membat kami merasa menjadi orang gagal yang tak pantas menginjak kaki di dunia.
Bahkan kami pernah sampai berfikir, bahwa tanah benar-benar tak suka pada kami. Menolak kehadiran kami. Begitu juga langit yang selalu mendung saat kami melihat ke padanya.
Bagaimana? panjang bukan? jalan kisahku.
Membuatku begitu muak. Aku hanya berfikir kapan kebahagiaan berpihak padaku. Setidaknya sehari benar-benar tanpa masalah.
Aku ingin terus tertawa tanpa ada halangan ketika sampai kerumah. Tak ada makian saat diluar ruangan. Tak ada gosip saat aku pergi.
Benar-benar mengharapkan kesempurnaan datang padaku lalu membiarkan ku bahagia. Di dunia kelam ini.
.
.
Aku menengok kak Shahiro yang koma di ranjang rumah sakit.
:"Hey bangun, bangun. Aku datang. BANGUN"
PLAK!
Bekas kemerahan akibat tamparanku, terlihat dengan jelas di wajahnya
Terdengar mungkin, karena itu nyaring
Tapi bukannya makin kesal, aku menangis sejadi-jadinya
"Kapan kau akan sadar lagi?" batinku dengan segala keluhan.
.
.
Kak Shahiro!
.
:"Kak, cepat bangun. Aku tak punya rumah disini. Kakak, kalau gak mau ku bun*h ayo bangun. Kak"
Merengek seperti anak kecil. Lebih bodoh nya lagi, kepada orang yang sedang koma.
Menangis sejadi-jadinya sampai saat seseorang datang tetap saja masih ada air mata mengalir di wajah.
Ayah bertanya padaku kemarin. Apa yang aku rasakan saat melihat kak Shahiro terkapar dilantai? sampai mengatakan akan membunuh Ibu dan Ayah karena tak menjawab
Aku jawab pertanyaan itu. Aku kesal, dan takut. Aku takut kehilangan rumah. Aku sedih, karena kak Shahiro adalah kakak ku yang paling aku sayangi. Aku senang, setidaknya kuki tidak menjadi korban. Aku juga muak, karena seharusnya aku yang mendapatkan kekerasan itu.
Aku menyesal, benar-benar menyesal. Karena aku pergi sehari sebelum kejadian. Dan baru kembali saat kejadian itu sudah terjadi.
Dan rasa lainnya. Cemas, panik. Bahkan kosong ada dalam 1 raga ini.
Ah lelah. Kak, tolong sadar untuk ku.
~Ch 61 selesai~
__ADS_1
Sankyuu!