Jika Hari Esok Datang

Jika Hari Esok Datang
Ch 47-Kenangan hampa


__ADS_3

Jam 23.57


Sebentar lagi. 3 menit lagi.


Ahh, sekarang tahun berapa ya..


Apa yang akan terjadi esok hari? panjang umur... selalu sehat raga batin dan hati. Buat semuanya menjadi mungkin


Segala harapan ku tuang di menit terakhir itu. Sampai..


Jam 00.00, Jdarr jdarr


Suara kembang api memenuhi puncak acara.


:"Kuki, kakak ingin bicara sesuatu"


:"Hm??"


Aku berjongkok, menatap mata nya yang begitu polos.


:"Maaf ya, kakak suka ngomong yang gak gak. Kakak sayanggg Kuki, dan kakak pengen jadi orang yang bisa buat Kuki senyum bahagia"


:"Kuki juga! Kuki juga pengen!! biar kakak senyum terus setiap hari! gak nangis nangis lagi!" Jawabnya antusias


Sementara aku hanya memperhatikan. Ayah, ibu, dan kak Shahiro yang tersenyum pada kami


Dan teman-teman ku. Lily, Kenzo, Rion. Yang dengan antusias juga mulai meriahkan tahun baru dengan senyum mereka


Tahun baru yang cerah. Melebihi kemampuan ku sendiri


.


Harapan..


:"Kuki mau buat harapan apa?" Tanyaku masih paa posisi yang sama


:"Hmm.. kerja? Kuki mau punya uang sendiri!"


:"Kalau begitu kita sama"


:"Keren! Yey!!"


.


.


Sebenarnya bukan hanya itu, mungkin harapan yang benar-benar ingin ku capai, adalah batin ku yang bebas. Walau aku tidak berharap banyak


Atau sesuatu yang lebih dari itu. Entah apa.


Pernah dengar istilah hidup tanpa pikiran? sepertinya itu bukan istilah, yah. Pokoknya seharusnya ada kata-kata itu


Seperti kau hidup di dunia, tanpa keinginan sama sekali. Seperti kau meng iyakan saja alur dunia dan enggan untuk kau ubah. Mungkin kau akan mengatakan "itu rumit"


Itu yang kumaksud. Dengan berharap bukan berarti kau akan berubah, masih harus berjuang juga nantinya. Itulah sebabnya aku tidak yakin sama sekali. Soal apa yang harus aku harapkan pada diri ku sendiri. Yang bahkan tidak kupercayai.


Terkadang di hari yang terlihat sempurna, ada saja hal menyebalkan yang terlintas di kepala. Yang membuat kesan sempurna itu seakan-akan hancur tak tersisa


 


Kami pulang ke rumah. Sementara waktu menunjukkan pukul 01.12, yang artinya mulai datang pagi hari


.


Sampai dirumah, entah apa yang terjadi. Tapi rumah dihias dengan sangat rapih. Lampu kerlap kerlip, dengan meja dan kursi di wilayah taman kami. Seperti pesta ulang tahun di luar rumah. Atau acara sakral?


Kak shahiro membuka pintu, dengan membawa nampan besar, ia tersenyum pada kami dan pergi ke taman. Tempat meja berada


:"Mau hanabi bantu gak kak?"


:"Udah gak papa, kamu duduk manis aja. Kita mau rayain tahun baru bareng-bareng, pasti pada capek semua. Iyakan?"


:"Ok...."


Lalu setelahnya, berbahagia lah kami di pagi itu


.

__ADS_1


.


Apa kau pernah menduga tentang apa yang akan terjadi hari ini?


Yang terkadang sesuai dugaan atau tidak sama sekali


Aku benar-benar berfikir tentang apa yang akan terjadi, tapi versi negatif nya. Seperti, kapan aku akan jatuh, atau kapan aku akan mendapatkan kesialan di hari itu.


Selalu menjadi kebiasaan sedari dulu, yang jelas saja. Makin buruk pikiran itu, makin buruk juga kepribadian ku


Seperti dulu.


Flashback


:"Bisa kau berhenti mengikuti?! Lama-lama kau benar-benar menjengkelkan!!"


:"Bukankah kau menerimaku sebagai sahabatmu?"


:"SETIDAKNYA JANGAN MEMBUNTUTI KU IDIOT, KAU INGIN KU BUN*H HAH?!"


.


:"Dokter, kau bilang manusia akan mat* pada waktu nya kan?"


:"I-iya.. Apa yang mau ku lakukan?"


:"Tentu saja, bun*h diri"


.


:"Sangat bosan, apakah warna darah ditanganku masih bagus? Mari kita buktikan"


.


.


.


Flashback off


mengerikan. Alangkah baiknya jangan ditiru


Bahkan setiap orang memiliki cara hidup mereka masing-masing. Seperti yang selalu ku katakan


Jadi seharusnya kita bisa menjalankan nya. Benar kan? Walau mungkin menurut kalian itu benar-benar sulit dilakukan


.


Terkadang semua ingatan di masa lalu bisa kita lupakan dengan begitu mudahnya, tentu saja. Tanpa kita sadari. Lalu ingatan itu kembali di waktu yang tidak tepat. Disaat kita frustasi dan cemas. Benar-benar diambang kemat*an kita saat itu


Aahhh.. Mulai terlihat jelas semua kenangan itu.


.


:"Kuki udah ngantuk?" Ucapku coba menghindari suasana tenang


:"Mau tidur.." Jawabnya


:"Hanabi mau temenin Kuki dikamar"


Aku menggendong Kuki ke dalam rumah dan membawa nya ke kamar. Menidurkan nya dikasur ku dan aku pergi membuka jendela "lagi".


:"Aku buka sedikit saja, untuk bagianku. Biar Kuki gak kedinginan" Gumamku


.


Aku bosan memikirkan apa yang akan terjadi atau apa yang harus ku lakukan.Terkadang itu membuat mood ku hilang


aku tidur saja, aku juga sudah lelah.


 


Siang hari, jam 12.00


:"Kakakk bangunn.. Kuki laperr"


Aku merasakan badan ku digoyang.

__ADS_1


Sementara aku masih terlelap. Mencoba membuka mataku


:"Hhh.. iyaa?? Kuki mau makann?" Ucapku masih sempoyongan


:"Iyaa.. Kuki laper"


:"Mau makan apaa?"


:"Masakan kakak!"


Ugh langsung kena ulti. Hampir tak pernah memasak lagi sampai aku tak tau aku masih bisa memasak atau tidak


:"Ya baiklah, kakak akan coba. Ayo kita kedapur"


Kuki bersemangat, ia langsung turun dari kasur ku dan langsung membuka pintu


:"Jangan lari ditangga, bahaya" Ucapku sedikit berteriak


Kemana yang lain? rumah ini sepi


.


:"Kuki mau makan apa?"


:"Hmm.. Nasi goreng!!"


:"Oke"


.


Dulu aku gemar memasak. Aku mengira-ngira semua bumbu yang dituang adalah harapan. Lalu makanan yang berhasil kubuat adalah impian ku yang tercapai. Dan aku mulai berhenti memasak sejak umur 11 tahun, karena tak punya motivasi apa-apa lagi. Alias kosong selalu menghantui


Aku coba ingat-ingat resep nasi goreng. Beberapa kali melihat buku resep masakan milik ibu


Dan selang beberapa waktu terlewati, nasi goreng itu selesai! Dan itu berhasil!


.


:"Nih, Hati-hati masih panas"


:"Woaaaaaa, hehe, makasih kakakk"


Jawabnya bahagia


.


Baiklah, mungkin aku akan memasak untuk diriku juga. Apakah disini ada mayonaise?


Aku lebih suka makan dengan roti sebenarnya, entah kenapa, mungkin karena lebih enak saja


.


Semua bahan sudah ada. Aku hanya tinggal membuat sandwich.


.


.


Sembari membuat sandwich yang tebal, melihat adikku makan dengan lahap masakanku itu. Entah kenapa rasanya senang, dan mungkin bangga. Karena sejujurnya, walau dulu aku memasak, aku hanya memakannya sendirian. Tak ada yang bahkan mencicipi. Karena ibu juga tidak mungkin keluar kamar saat pak tua itu ada dirumah.


Ingin rasanya mendapatkan pujian atau apresiasi dari orang-orang disekitarku. Tapi aku menahan niat itu saking tak percaya dirinya aku saat itu


Bukan menjengkelkan, aku memang tak merasa pandai. Sampai pada akhirnya aku hanya mengiyakan semua perkataan tak peduli seperti apa


.


:"Udah habis?"


:"Mau lagi!!" Ucapnya


:"Kakak buatin lagi mau?"


:"Mau!"


:"Yaudah tunggu ya"


Dan itu, itu membuat ku merasa lebih baik. Walau hanya sekedar soal makanan

__ADS_1


~ch 47 selesai~


Sankyuu!


__ADS_2