
Tidak pernah lagi ku pikirkan tentang ini sama sekali. Aku sudah cukup berusaha dengan apa yang ku bisa, jadi aku beristirahat.
Sudah lebih dari 4 hari aku izin tidak masuk sekolah, aku tak peduli dengan apapun lagi. Saking lelahnya, aku bahkan tak peduli ini akan membuatku tetap dikelas atau naik ke kelas 2 SMA. Seharusnya mereka sadar juga kalau aku adalah seseorang yang tak memiliki kemampuan apapun.
Aku banyak bercerita ya? Sangat minta maaf. Aku bingung harus memulai cerita seperti apa
.
.
.
Aku kembali ke kamar lalu tidur
Malam hari
:"Kak shahiro tidak dirumah?"
Aku menoleh ke sana dan ke tempat yang lain, tapi tak terlihat siapa-siapa. Aku mencari kak shahiro di sekeliling rumah, Lalu kembali masuk dan melihat jam dinding di atas TV ruang tamu
:"Ini masih jam 7 malam.. aku bosan, ingin keluar."
Cklek, pintu rumah ku kunci
Sambil menelpon kak shahiro, aku berkeliling sambil melihat sekitar. Jalan-jalan mencari jajanan yang bisa membuat ku lebih rileks dengan dunia luar
.
.
.
Suara angin malam terdengar, dinginnya malam terasa. Ramainya suasana dengan percakapan-percakapan orang-orang sekitar, dengan disertai bau-bau khas dari jalanan.
Berjalan santai sambil mencoba menenangkan pikiran, Merileks kan semua anggota tubuh. Mencoba bernafas perlahan dan mencoba tetap tenang. Ini bekerja, tapi tak bisa mencapai waktu lama. Karena malam pasti akan berubah menjadi pagi lagi. Dan tak setiap malam aku bisa keluar seperti ini.
Ini menyegarkan, suasana malam juga membuatku nyaman. Sangat simple tapi tetap tak berguna juga jika aku tak bisa mengendalikannya. Seperti, disaat kau berada diluar sini saat malam hari, kau seperti sedang menjelajah dunia yang tak pernah kau ketahui sebelumnya. Dan bisa lebih mengenal banyak orang walau hanya sekali pandang
Bagaimana kabar ku dirumah? itu adalah hal yang paling ku tidak suka.
.
.
:"Silahkan neng roti isi nya"
:"Terimakasih banyak pak, ini uangnya"
:"Terimakasih kembali"
.
.
:"Bang, saya beli piscok nya 5k"
:"Oke neng siap"
.
__ADS_1
Aku membeli banyak jajanan pinggir jalan
Lalu setelah itu aku kembali ke rumah, memakan semua jajanan sendirian dikamar. Sambil merenung melamun dan juga bermain handphone. Kegiatan yang benar-benar biasa dilakukan manusia jaman sekarang.
.
Aku yang malas membersihkan sampah-sampah makananku, aku yang sangat malas untuk bangkit dari tidurku, serta aku yang malas melihat kearah pintu. Adalah hal yang tak pernah terlewatkan. Tak ingin mengotori kamar, aku benar-benar berusaha membenarkan pikiranku dan mulai merapihkan sampah-sampah itu.
:"Si*l sekali, apa sampah-sampah ini tidak bisa jalan sendiri? Menyebalkan"
:"Rasanya ingin keluar lagi. Kak shahiro belum pulang juga, padahal tadi katanya akan segera pulang setelah membeli makan"
Dari kamar, aku keluar ke arah dapur untuk membuang sampah makanan tadi. Disana aku mendengar suara ketukan, jika itu kak shahiro, dia pasti akan langsung masuk
Aku berteriak dari dapur "SIAPA?!"
Tak ada jawaban, aku pergi ke arah pintu. Tak membukakan nya, aku hanya diam lalu bertanya lagi "Kau siapa? Orang atau setan? Aku tak boleh menggunakan pisau jadi aku tak bisa membun*h mu" Ucap ku santai
:"nak, kau bicara seperti itu kepada ayah?"
Sontak aku kaget, lelaki tua ini datang lagi?!
Hanya bisa terdiam mematung. Aku langsung mengunci pintu sementara lelaki tua itu berteriak minta dibuka kan pintunya sambil menggendor gendor pintu itu
.
Aku masuk ke kamar, segera menelepon kak shahiro
Drrtt drrttt drttt
Bunyi telepon yang terus tak diangkat itu
Si*l!!
Aku kembali ke pintu, masih mendengar suara kebisingan
:"KEMBALI KAU KE RUMAH MU PAK TUA! UNTUK APA KAU KEMBALI KESINI?!"
:"Kau berani melawan hah?!"
Jawabnya dengan nada dingin yang khas
:"Ayah? Sejak kapan kau ayah ku? Ayah ku sudah pergi semenjak umurku 6 tahun!"
:"Kau berani mengatakan itu? Anak si*lan!!"
Aku mulai panik, padahal aku sudah melupakan kekerasannya. Tapi aku panik, entah kenapa aku takut. Sangat takut.
.
:"Pergi lah sebelum aku menyeret mu pergi pak"
Tiba-tiba suara kak shahiro terdengar. Suara yang aku harapkan datang akhirnya muncul
:"Kakakkk, kakkk aku takuttt.. KAKAKKK" Teriakku, dan aku pun menangis histeris
Kak shahiro membuka pintu, orang tua itu di dorong keluar dan langsung mengunci kan pintu
Memeluk ku dan membawa ku ke dapur
__ADS_1
:"kamu tunggu sini, kakak beli banyak makanan, kamu makan duluan aja. Kakak bakal segera selesai"
Ucapnya sambil mengelus kepalaku
Ia langsung pergi keluar rumah lagi, dan aku mendengar suara-suara kebisingan di luar sana. Makin berkumpul, dan makin keras suaranya
Aku tak tahan, aku keluar rumah lalu langsung berteriak
:"BERISIK!!!"
Tetangga-tetangga yang sedang menyaksikan pertengkaran kakakku dan orang tua itu, melihat ke arah ku dan langsung bergosip dengan mudahnya
:"Bahkan orang-orang seperti kalian lebih pantas mat* karena hanya bisa ber nyinyir saja selama hidup." Ucap ku ketus
:"PERGI KAU PAK TUA, BISA KAH KAU MAT* LEBIH CEPAT? AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU"
:"Hanabi tenang lah, sini"
:"Pak, lebih baik kau pergi dari sini jika tak ada urusan apapun!"
Aku dipeluk erat oleh kakakku, menenggelamkan kepalaku dan membalas pelukannya itu. Tak ingin mendengar apapun, aku hanya bersenandung dalam hatiku agar telingaku ini tak mendengar apapun
:"Aku disini untuk mengambilnya!"
:"Untuk apa yang mengambil nya? Apa hak mu hah?"
:"Karena dia anakku!"
:"Hal seperti itu bukan lah alasan utama! Jelas-jelas kau meninggalkannya dan tak pernah peduli, sementara kami lah yang merawat nya, dan kau masih menganggap dia anakmu? Omong kosong belaka"
Dibanding perdebatan kakak ku dengan pak tua, lebih berisik lagi para tetangga yang bergosip kesana sini sambil melihat kearah kami. Ibaratkan dunia tanpa bicara, mereka tak akan bisa.
.
Beberapa menit sudah berlalu, aku yang sudah tidak betah langsung berlari ke dalam rumah tanpa sepatah kata
:"Tidurlah!"
Kak shahiro berteriak
.
Didapur, aku masih mendengar suara kak shahri dan pak tua itu berdebat tentang diriku. Aku mengambil pisau, lalu berjalan perlahan agar tak disadari mereka berdua
Tetangga-tetangga hanya heboh bergosip di malam itu, tak memperhatikan apa-apa
Setelah menurutku aman, aku langsung berlari kencang dan menusuk pak tua yang harus kusebut "ayah" Itu
:"Jika kau mengerti kata muak, aku yakin kau akan segera paham" Aku mengelus kepala pak tua itu dengan lembut
Kak shahiro hanya terdiam di tempat, begitu juga orang-orang yang sedang bergosip riya
Sementara aku hanya menikmati pemandangan darah yang terus mengalir dari pak tua, sambil tersenyum. Melihatnya kesakitan walau aku yakin dia tak akan mat* semudah ini
:"Seru" Ucapku singkat
~ch 41 selesai~
sankyuu!
__ADS_1