
:"Ahh, mereka bersenang-senang? haha keren"
:"Bagaimana bocah kecil itu bisa akrab dengan sipir? sial"
:"Siksa saja dia nanti, dia pasti tak akan berulah lagi"
:"Kau benar, lebih baik daripada hanya menonton saja"
...****************...
:"Ahh kalahhh"
:"Aku menang lagi! sayang sekali kau harus mengikuti kegiatan besok"
:"Ck"
Pak polisi mengelus kepala ku, tersenyum tulus padaku
.
Di malam hari
Lagi-lagi malam yang ramai di sel penjara, hawa nya panas dan menjengkelkan
Aku yakin siapapun tak akan benar-benar betah berada disini. Apalagi penjara ini diisi oleh orang-orang yang "bodo amat" soal tata krama
Ada kalanya aku ingin menghabisi mereka semua agar hawa nya menjadi damai.
.
.
Ahh, kenapa tiba-tiba pikiranku kosong? hampa lagi? Hah! lucu, datang disaat aku berada di sel penjara? luar biasa.
Ahhh, apa yang harus ku lakukan agar hampa ini menghilang?? Membun*h? mencaci maki? atau apa? apa?
:"Itu dia"
:"Mat* kau"
Bod*h nya mereka berbisik di belakang ku seperti itu.
ZRAPP!
:"Kau kurang teliti soal ku, tuan."
Krakkk..
Suara retakan tulang terdengar nyaring
:"Hey berhenti! dilarang berkelahi!"
Brakk
:"Ahh! sakit! kakak apa yang kau lakukan?!"
:"Kau!"
:"Kau! jangan berkelahi!"
Para polisi yang sedang mengawas. Menangkap mereka dan membantu ku berdiri.
:"Dia lah yang memulai!"
:"Aku hanya diam berdiri! kalian menyerangku!" Ucap ku spontan
Dengan trik topeng yang selalu aku gunakan, aku berhasil mendapatkan perlindungan. Ha, idiot.
.
.
Aku dibawa ke ruang pengobatan. Mendapat pengobatan yang baik, walau aku hanya mendapat luka kecil di wajah dan tangan
:"Kenapa mereka menyerang mu?"
:"Tidak tau"
Semua pertanyaan aku jawab dengan jawaban yang sama. Berbincang dengan polisi lain sangatlah membosankan.
__ADS_1
Aku ingin pak polisi yang biasanya main bersama ku..
.
.
1 tahun sudah terlewati lagi. Kini, aku dibebaskan dari penjara
:"Hanabi syukur lah!"
Ibu memelukku antusias. Menangis sejadi-jadinya
Kak shahiro dan teman-teman mu berkumpul disini, untuk menyambut ku pulang. Tapi aku tidak merasa senang, malah makin hampa. Dan hampa.
:"Selamat tinggal gadis kecil, jangan lakukan hal seperti itu lagi ya"
:"Bu, aku mau ayah sepertinya."
Tanpa kusadari juga, aku bersikap seperti anak-anak lagi. Ingin ini itu dan harus dikabulkan
:"Eh?"
:"Hanabi?"
Pak polisi, kakak, dan semuanya jelas kaget. Karena selama ini aku paling benci sosok ayah siapapun orangnya
:"Aku ingin ayah sepertinya. Pengen"
:"Ahh tuan.. Maafkan dia ya" Ucap Ibu ku panik
:"Ah.. Maaf, apa kalian sudah cerai?"
:"Ah iya, sudah lama. Sejak dia kecil"
:"Kebatulan.. Aku juga sama, tidak diterima di keluarga ku sendiri.. Mungkin aku juga butuh kehangatan, haha"
:"Jadilah ayahku!" Ucapku tegas, tapi kekanak-kanakan
:"Setidaknya, kalau Hanabi bisa tersenyum karena mu, aku bersyukur" Kak shahiro yang spontan
:"Hanabi, akan bahagiaa" Lily bergembira
Bahagia dihari itu. Tapi hanya orang-orang, bukan aku.
...****************...
Apa yang aku minta, benar-benar dikabulkan! ibuku menikah lagi dengan pak polisi?!
Hal idiot seperti ini?! Ahhh aku takut kehancuran! Kepar*t!!
Emosi ku melonjak. Dengan ekspresi datar aku tunjukan ke orang-orang. Mereka senang?! Apa mereka tidak sadar kehancuran akan datang lagi?! Akkhh
Dengan pikiran yang berantakan. Diri meronta ronta ingin keluar dari batas kenyamanan. "Kelelahan"
-Aku ingin sembuh.
Padahal sebenarnya tidak ada masalah, aku hanya ketakutan. Mengingat sesuatu yang tidak berguna seperti itu. Bahkan jika itu tak terjadi sekalipun, banyak kemungkinan aku ak akan pernah percaya bahwa ini nyata. Ini hanya halusinasi. Hanya itu. Hanya imajinasi ku saja.
Kue pernikahan dipotong, tamu bersorak riang
Sementara aku yang ketakutan, langsung pergi menjauh dari pesta pernikahan
Aku yang minta! kenapa aku juga yang benci ngeliatnya!
Pernikahan itu diadakan dekat pantai, dan terdapat pagar yang menghalangi. aku bersandar di pagar itu
Melamunkan apa yang sebenarnya terjadi, memikirkan hal-hal buruk yang tidak berarti. Entah aku sedang memikirkan kehancuran dunia atau apa, tapi sungguh. Melelahkan.
Pernah kah saat kau menginginkan sesuatu, tapi kau melupakan resikonya? sehingga saat itu sudah terjadi, kau malah ketakutan dan hampir menangis karenanya?
Hal umum seperti itu mungkin saja sering terjadi. Akibat karena memang masih memerlukan "hal itu", bahkan kau tak mau berfikir 2 kali. Aku juga begitu. Dan ini dia, sedang terjadi sekarang. Terlalu ingin sampai melupakan resikonya, lalu ketakutan dan pergi bersembunyi untuk menangis
:"Hanabi kau dimana? kue pernikahan itu mau diberikan kepadamu!"
Suara kak shahiro terdengar
Aku langsung menghapus air mata dan berlari pergi masuk kedalam
:"Tadi aku bosan, jadi menunggu di dekat pantai" jawab ku merahasiakan tekanan batin
__ADS_1
:"Yasudah, cepat. Ibu menunggu" Jawabnya dengan Senyuman bahagia
Aku berlari bagai anak kecil yang minta disuapi. Tersenyum lebar dan mengambil kue itu. Aku suapi ibu,dan ayah baruku. Lalu berdoa "Kembali lah menjadi diri kalian sendiri. Tak peduli akan bagaimana, setidaknya kalian bahagia" Ucapku dalam hati
Dan dimulai dari situlah
Kehidupan ku perlahan berubah
setiap harinya, aku selalu..
:"Papa!! lihat, aku menemukan buku bagus, apa aku boleh beli ini?"
:"Hanya 1? cari lah yang lain. Nanti papa belikan semuanya"
:"Sungguh? terimakasih!"
Bahagia
Aku baru mengetahui bahwa ini lah arti keluarga, dari aku yang takut melihat keluarga bahagia. Sampai aku membenci keluarga bahagia. Hingga saat aku mulai menjadi "keluarga bahagia" itu, aku yakin, mereka orang-orang yang beruntung
Terkadang aku sibuk melamunkan masa lalu ku, menangis dan masih tak bisa menerima kenyataan
Dimalam hari, aku selalu menangis di bawah jendela yang terbuka lebar
:"Jangan hanya sekedar mimpi, tolong jadilah nyata. Aku ingin itu jadi kenyataan"
Semua kata ku keluarkan. aku biarkan langit malam mendengar nya
Dengan batinku yang masih tidak percaya, raga ku bersikeras menunjukkannya
Diriku yang mulai sehat bugar, aku yang mulai ceria, aku yang mulai pandai sosial. Semuanya ditunjukkan raga ku sendiri
Tapi ketidak percayaan ku terhadap dunia, membuatku ingin memotong-motong raga ini agar berhenti gil*. Ya, aku anggap ragaku lah yang mulai gil*, hanya batin ku yang sedang waras. Aku menganggapnya seperti itu.
Apa yang harus kulakukan esok hari? disaat kebahagiaan akan datang lagi padaku?
Harusnya aku memberikan senyuman lebar? lalu tertawa. Meminta banyak hal agar semua keinginan ku dimasa lalu terkabulkan?
Tok tok
:"Hanabi, tidurlah nak, ini sudah jam 12 malam, papa tau kau belum tidur"
:"Aku akan tidur, jika kau memberiku lukisan "makna dunia"
:"Lukisan makna dunia?"
:"Ya, papa harus mencarinya sendiri. Aku tidak akan tidur sebelum kau mengatakan lukisan itu sudah kau temukan"
:"Baiklah papa mengerti, tunggulah papa kembali"
Malam-malam begini kau mau apa? pak tua itu.
...----------------...
:"Nak, lihat lah, papa menemukannya!"
Teriaknya di depan untuk kamar
:"Tidak mungkin, mana ada"
Aku membuka pintu, dan melihat lukisan yang pernah ku buat di acara sekolah dulu.
Aku tau makna dari lukisan itu, dan aku sangat ingin melihatnya, tidak menyangka itu bisa kulihat lagi secara langsung.
:"Papa tau kau suka melukis, lalu papa bertanya pada ibu"
Belum selesai bicara, papa jongkok didepanku, sambil melihat ku
:"Apakah hanabi pernah ikut lomba atau acara? Lalu ibumu menjawab pernah, Selesai itu, papa langsung telepon kepala sekolah, minta lukisan itu untuk diambil. pak kepala sekolah nge bolehin, jadi papa ambil sendiri di sana. Gimana? udah mau tidur belum?"
Mendengar nya, hati ku tenang.
:"Pak tua itu bahkan tidak pernah peduli, jadi terimakasih"
Jawab ku dengan senyuman lebar
~ch 44 selesai~
Sankyuu!
__ADS_1