Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#36


__ADS_3

"Sus..!! Suster!!" Aletha berteriak histeris di rumah sakit


Banyak korban kecelakaan pesawat yang di tampung dirumah sakit tersebut. Sang suster mendekat kepada Aletha


"Iya mbak?"


Dengan bibir bergetar Aletha mencoba berbicara. "Ko korban atas nama Muhammad Yusuf Ramadhan?"


"Ini mbak cari saja" Suster itu memberikan beberapa kertas atas nama-nama korban yang selamat, meninggal, dan belum di temukan


Aletha membaca di daftar selamat dengan jantung yang berdetak kencang, bibir bergetar dan air mata yang terus mentes Aletha mencoba kuat untuk membacanya. Harapan menginginkan Yusuf berada di daftar selamat pupus, Yusuf tidak tercantum. Jantung Aletha berpacu lebih cepat, tangannya beralih di daftar korban yang meninggal.


Dengan air mata terus menetes Aletha membaca daftar nama korban yang meninggal, nama Yusuf tidak tertera. Aletha beralih di daftar korban belum di temukan


Jantungnya kembali berpacu cepat, dan hasilnya


"Muhammad Yusuf Ramadhan 27 tahun"


Deg


Nama itu, ya nama itu Yusuf berada di nama korban belum di temukan. Aletha tak kuasa menahan air matanya, Kevin merangkul pundak Aletha guna menenangkannya


Takdir seolah bermain-main dengannya, Setelah dia harus kehilangan Bara yang dulu pernah memberikan cinta, kini Aletha harus kehilangan Yusuf yang sudah mengajarkan lebih dari cinta. Namun bisakah kita berharap? Tuhan selalu memberikan keajaiban kepada umatnya


Aletha meraung-meraung menangis sejadi-jadinya, "Aletha dengerin gue Aletha" Kevin memegang kedua pundak Aletha menatapnya dalam


"Lo masih punya harapan Aletha... Lo masih bisa berdoa semoga Ustadz yusuf di temukan, meskipun untuk hidup itu adalah kemungkinan kecil"


Aletha tidak dapat menjawab dan malah semakin menangis. "gue tahu lo sayang sama Ustadz yusuf tha, tapi hati gue juga menyayat lihat lo kaya gini. Jujur di dalam lubuk hati gue, gue masih sayang banget sama lo tha" batin Kevin


"Aletha...!" suara itu bukanlah suara Kevin, melainkan suara Doni dan wanita bule yang tak lain Jane sekertaris Yusuf


"Kak don. U--ust" Aletha tidak dapat melanjutkan kata-katanya air matanya terus jatuh


"Lo harus kuat kita masih punya harapan Aletha, kita balik ya ke pondok pesantren? kita berdoa sama-sama?" Doni mencoba merayu Aletha. Mantan adek kelasnya yang paling bar-bar yang tidak menyangka bisa mengambil hati saudaranya tersebut


Aletha mengangguk lalu masuk ke mobil Doni, sedangkan Kevin membawa motor Alfin menuju pondok pesantren.


1 jam 30 menit mereka sampai di pondok pesantren An-nur. Duka? ya itulah yang di alami mereka. Ada rasa was-was saat Aletha tiba, akankah kabar buruk? atau kabar baik yang akan mereka dengar


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsallam"


"Ba bagaimana, Kevin? Yu yusuf gimana?" tanya Pak kyai dengan gemetar


Kevin menggeleng pelan. "Ustadz yusuf masih berada di korban pencarian"


air mata Pak kyai lolos, menetes dengan perlahan. "Inallilahi wainalilahi rojoiun, ya allah selamatkanlah Yusuf"


"Kemungkinan selamat kecil Pak kyai, Pesawat jatuh di lautan" Kevin menunduk tak kuasa melihat ke haruan tersebut


Doni menatap Aletha, gadis itu terus menangis. "Seharusnya gue nahan lo buat gak pulang, suf!! ini salah gue!!!" teriak Doni dalam hati


Ustadzah aisyah menenangkan Aletha, "Aletha istigfar nak..." Ustadzah aisyah juga ikut meneteskan air mata


Aletha terus menangis menjadi-jadi, "Ayo, Aletha. Kita ke asrama ya?"


Aletha tak bergeming dan terus menangis membuat Ustadzah aisyah iba, "Ya allah Aletha.... kamu harus kuat sayang"


"Ustadz yusuf bilang dia mau pulang Ustadzah hiks hiks, di dia bilang dia janji akan pulang. Ustadz yusuf akan pulangkan?"


Ustadzah aisyah terdiam tak kuasa air matanya terus menetes, Tari dan Najwa memeluk Aletha menguatkan Aletha


"Jahat...!! dunia ini jahat kenapa takdir begitu menyakitkan hiks hiks"


Pak kyai yang melihat menjadi iba, Pak kyai langsung menghampiri Aletha. "Aletha, istigfar ayo ke asrama kamu berdoa ya...?"


"Jahat!!! Ustadz yusuf jahat!!!"


****


Di hari kelulusan tidak dapat menghiasi senyuman di wajah cantik Aletha, air matanya terus mentes


"Dek..." suara itu adalah yang familiar untuk Aletha


"Bang adnan..!!" Aletha berlari memeluk kakaknya, menangis menumpahkan rasa sedihnya


"Ustadz yusuf janji mau pulang kak, tapi kenapa sekarang belum sampai.. hiks hiks" isak Aletha semakin menjadi-jadi di pelukan Adnan


Adnan mengelus rambut Aletha, "Kita cek kerumah sakit ya? siapa tahu ada pengembangan"


Aletha mengangguk cepat, Aletha tidak memikirkan perpisahaannya dengan sahabatnya. Namun, Tari dan Najwa mengerti bagaimana keadaan Aletha

__ADS_1


Sampai Aletha di rumah sakit, Aletha kembali membaca daftar-daftar itu. Namun, nama Yusuf tetap berada di daftar pencarian. Air mata selalu menghiasi wajah cantik Aletha


Adnan memeluk erat adiknya, "Besok kita cek lagi, sekarang kita pulang. Papah lagi otw ke indonesia" Bram sedang berada di Aussi setelah mendapat kabar tentang putrinya Bram langsung terbang ke Indonesia


Aletha menggeleng. "Anterin Aletha ke TKP, kak..."


'Kak' Adnan tidak pernah mendengar kata Kak, terkahir kali Aletha memanggil Adnan kak adalah setelah kepergian almarhum Ibunya


Adnan menggelengkan kepala, "Disana terlalu berbahaya, Aletha."


"gue gak peduli, Kak. Gue pengen lihat Ustadz yusuf" air mata itu terus mengalir


Bola mata Aletha sampai memerah karna terus menangis, Adnan memeluk Adiknya kembali, Adnan menggandeng Aletha untuk ke TKP


Aletha memandang hamparan luasnya lautan, Hanya ada kesedihan di raut wajahnya. Banyak para petugas timsar yang sibuk mengevakuasi korban-korban yang sudah ditemukan


Aletha berlari, Namun ada salah satu petugas menghadangnya. "Maaf, mbak ini area ini tidak boleh di kunjungi"


"Lepasin gue, gue mau lihat cowo gue!" Aletha meronta tangannya di cekal petugas timsar


"Maaf, mas. Biarkan adik saya mengecek sebentar saja?" Adnan berusaha merayu petugas timsar tersebut


Namun, Petugas itu seolah tak tuli dan tetep kekeh tidak mengizinkan Aletha. Adnan menendang kaki petugas itu, Aletha memiliki kesempatan untuk berlari ke tempat korban-korban


Aletha membuka satu persatu kantung mayat tersebut, air matany terus menetes, beberapa korban tidak dapat di kenali karna wajah mereka hancur.


"Hari ini adalah pencarian terkahir, tadi siang petugas sudah mencari ke bagian paling jauh" Aletha menatap tajam salah satu petugas timsar itu


"Cowo gue belum ketemu dan lo mau berhentiin ini semua??? Dimana hati kalian semua? Hah!!!" Aletha berteriak dengan emosi


"Maaf,mbak. Kami sudah berusaha, kemungkinan besar korban yang tersisa sudah tiada"


Aletha hendak menyerang petugas timsar itu, Namun tangannya sudah di cekal oleh Adnan. Adnan memeluk adiknya erat


Takdir jahat, itu lah pikir Aletha. Ya pertemuan memang selalu ada perpisahaan, Aletha berkali-kali merasakan apa itu kehilangan. Di usianya yang masih sangat muda dia harus kehilangan seorang wanita yang melahirkannya, di saat dia sudah beranjak dewasa dia bertemu dengan pria yang memberikan cinta, Namun lagi-lagi dia harus kehilangan cintanya, di saat dia di pertemukan dengan seseorang yang mengajarkan lebih dari cinta, yang mengajarkan 'Hidup tak sekedar bahagia' dan dia harus di tinggalkan dengan sebuah janji yang belum di tepati


Alam seolah mengerti perasaan Aletha, langit mendung menggambarkan suasan hati Aletha. Hancur? lebih dari hancur? Janji yang belum di tepati dan ingin sekali seseorang itu menepatinya. Setelah lamanya mereka harus terpisahkan jarak dan waktu, akankah mereka harus di pisahkan oleh alam?


Namun, Tuhan selalu memberikan keajaibannya. Aletha hanya bisa berdoa semoga, harapan itu bisa terwujudkan


TBC❤

__ADS_1


__ADS_2