Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#45


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca❤


"Jadi lo ternyata udah sebulan kerja disini, tha?" Aletha mengangguk menganggapi pertanyaan Reni


Reni melanjutkan memakan kentang gorengnya, Aletha ddk tengah duduk ngobrol di meja restoran cakra favorit mereka. Sudah 1 bulan Aletha bekerja dan semua berjalan baik-baik saja, dan Aletha sudah mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit meskipun masih kurang banyak, dan tentu Bram tidak mengetahui apa-apa


"Mas cakra baik kan sama lo, tha?" kali ini Dina yang bertanya


"Baik kok baik banget malahan," Aletha juga ikut memakan kentang goreng karna sedang break


"Ya iyalah baik, orang Mas cakra itu suk..."


"Eh, Aletha maaf menganggu waktu breaknya sudah selesai" belum selesai Dina mengatakan sesuatu si koki yang di bicarakan sudah memotong perkataan Dina


"Ha?!! Ya ampun, maaf mas. gue terlalu asik ngobrol" Cakra tersenyum melihat tingkah Aletha


"Enjoy aja, yaudah lo balik kerja ya"


"Gusy, Sory banget gue harus balik kerja. Assalamualaikum" Aletha buru-buru pergi karna tidak ingin di cap pelayan pemalas


"Waalaikumsallam" salam teman-teman Aletha, sebelum Aletha pergi


Cakra menarik kursi duduk di depan Dina. "Mulut lo lemes banget sih, Din"


Dina yang di marahi Cakra malah cengengesan, "Ya maaf mas. Kan gak sengaja"


Cakra menghembuskan nafas kasar. "Inget lo gak boleh bilang apapun ke Aletha, gue sendiri yang mau bilang ke dia"


"Eits, yang bener mau bilang mas? Aletha udah cinta cowok lain loh" goda Dina mengedipkan sebelah matanya


Ucapan, Dina mampu membuat Cakra insecure. Cakra menghembuskan nafas lesu lalu kembali ke dapur


Sedangkan, Dina tak henti-hentinya terkekeh. "Berisik banget sih, Din" Adit menutupi kedua telinganya


"Gue lucu lihat Mas cakra sedih kaya gitu, langsung patah hati plus insecure"


"Dih lo ledekin sekarang, besok-besok lo yang suka sama Mas cakra ****** lo" ujaran Reni mampu menghentikan tawa Dina


"Ihh, Ya kali gue suka sama cowo super dingin kaya dia. Bisa-bisa gue mati berdiri" Sembari bergidik ngeri Dina mengatakannya


"Gusy, Lihat deh cewek itu cakep banget" kedua gadis itu mengikuti pandangan Adit


"Wajahnya asia, pasti dia orang luar negeri" ujar Reni menatap gadis itu


"Cakep banget ya, gue deketin mau gak ya? One tonight" Dengan senyum nakalnya Adit menatap kedua gadis di depannya


"Berani lo lakuin kaya gitu gue bilangin bapak lo!" ancaman Reni mampu membuat Adit menciut, jika sudah berbicara dengan Bapaknya, Adit tidak dapat berkutik


"Eh, cowok di belakangnya kok pake masker sih? Kalo di buka pasti kelihatan tuh gantengnya" Dina menatap pria yang berada di belakang gadis asia tersebut, Lalu kening Dina berkerut


"Kaya pernah lihat..." gumam Dina lirih

__ADS_1


Dor!!!


Hampir saja jantung ketiga teman Aletha itu terlepas, dan si tersangka malah tertawa terbahak-bahak


"Shit, lo pengen gue mati muda ya, tha?" Adit menatap jengkel Aletha


"Lagian kalian lihatin apa sih? Serius banget" dengan tanpa berdosa Aletha malah terkekeh


Reni dan Adit tidak menjawab masih mengatur jantungnya, "Gue tadi lihat cowok sama cewek asia" Dina yang mengangkat suara


"Ya elah cuma bule lebay banget sih, noh si Exel, frans juga bule di kelas kita dulu" Aletha masih menganggap candaan. Namun, kini muka Dina berubah jadi serius


"Cowok yang sama cewek asia itu, mirip banget sama U---"


"Aletha kamu boleh pulang" Belum sempat Dina mengatakannya lagi, sudah di potong kembali oleh Cakra


"Tapi ini kan belum jam pulang, Mas?" Aletha menanggapi ujaran Cakra


"Gapapa, buat kamu istirahat" Aletha tersenyum girang


"Makasih, Ya mas. Aletha balik dulu ya gusy, Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Setelah, Aletha pergi. Dina hanya bisa menghela nafas kasar


"Menyebalkan"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam" sahut Aletha yang kala itu tengah menyantap makan malamnya dahulu


Pria paruhbaya yang tampak letih itu menarik kursi, melonggarkan dasinya, melipat kemejanya. Aletha dapat melihat jika Papahnya 'Lelah'


Satu-satunya Pria yang sangat hebat dalam menutupi emosi, lelah, dan bebannya. Satu-satunya Pria yang rela melihat anak-anaknya bahagia tanpa memikirkan beban-bebannya. Dan dia disebut dengan Ayah. Pahlawan tanpa pedang yang menopang beban keluarga


"Papah, Capek?" Aletha mendekat dan memijat tangan-tangan Papahnya


"Lumayan, mungkin karna papah terlalu fokus" Bram memejamkan matanya, menikmati pijatan putrinya


Aletha tampak semangat memijat tangan-tangan Papahnya, "Kalo, Papah capek. Seharusnya Papah gak perlu terlalu larut dalam pekerjaan, papah juga harus inget makan siang"


Bram tersenyum mendengar celoteh Putrinya. "Iya, Anakku. Sudah nanti lagi, ayo makan"


Aletha mengangguk, lalu menyantap makanannya bersama Papahnya dalam hening. Aletha memperhatikan Papahnya, seolah kini Bram tengah menopang sebuah masalah besar


"Apa besok aku bisa memberimu makanan enak, Nak? Apa papah besok bisa memberikan rumah yang hangat. Papah tidak ingin merusak kebahagiaanmu, Nak. Tapi papah tidak ada pilihan lain. Maafkan papah"


"Papah mikirin, Apa?" lamun Bram buyar karna suara Aletha


"Ti--tidak, Papah gak mikirin apa-apa kok. Ayo cepat makan"

__ADS_1


Aletha melanjutkan makanannya. "Gue tahu pasti, Papah. Mikirin gimana hidup gue selanjutnya, gue kasian sama, Papah. Tapi gue gak bisa bantu banyak"


"Papah ke kamar duluan, ya tha" Aletha mengangguk, Bram meninggalkan Aletha di meja makannya


Setelah meneguk air putihnya, Aletha pergi ke kamarnya. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan solat Isya


"Assalamualaikum wr wb"


"Assalamualaikum wr wb"


Setelah salam, Aletha mengadahkan tangannya. "Ya allah, ya tuhanku. Dimana pun Ustadz yusuf kini berada berikanlah perlindunganmu, Ya allah. Ya allah, ya tuhanku. Ringankanlah masalah keluarga hamba ya allah, berikanlah kami jalan keluar ini ya allah. Amin"


Setelah berdoa Aletha mengambil Al-qur'annya, membaca ayat-ayat sucinya


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Maaf, kalo papah ganggu kamu baca Al-qur'an"


Aletha tersenyum, lalu melepas mukenahnya. "Gapapa, Pah. Ada apa?"


"Kamu siap-siap ya, Nak."


Aletha mengernyitkan dahinya menatap Papahnya, "Loh, ngapain Aletha harus siap-siap. Emang ada apa, Pah?"


"Nanti, akan ada tamu. Kamu siap-siap ya, dandan juga gapapa. Papah ke kamar ya mau ganti baju, Assalamualaikum"


Bram hendak memutar handle pintu. Namun, tangannya di cekal Aletha. "Ceritakan sama Aletha, sebenarnya ada apa ini?" Bram sedikit terkejut dengan nada bicara Aletha yang dingin


Bram menatap ragu Aletha. "Ja--jadi, be--gini Nak. Papah....."


Bram menceritakan tujuannya.


"Apa!!!!" Aletha berteriak


"Enggak, Pah. Aletha gak mau di jodohin, sampai kapan pun calon suami Aletha. Tetaplah Ustadz yusuf!!!"


Bram hanya bisa menghela nafas. "Ini demi masadepanmu, Nak. Papah tidak tega jika harus membuatmu besok menderita"


Aletha menitikan air matanya, "Kenapa, Papah jahat banget? Aletha cuma sayang sama Ustadz yusuf hiks hiks"


"Tolongin, Papah aletha.. Jika papah tidak bisa membayar hutang itu, maka rumah, saham-saham perusahaan, dan kantor papah pun ikut tersita"


"Aku benci dunia ini!"


"Mungkin hanya sementara aku bisa melupakanmu, Namun saat ini aku sadar. Jika kau tetap hidup dan mati ku" - Aletha

__ADS_1


TBC❤


__ADS_2