Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#43


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca❤


"Seriusan tha, Lo mau cari kerja?"


Aletha hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Reni, lalu Aletha melanjutkan makan baksonya di kantin kampus bersama sahabatnya


"Papah gue sih bisa aja ngasih kerjaan tha, but lo masih kuliah jadi kalo di kantor belum bisa" Dina berbicara lirih merasa tidak enak dengan Aletha


"Kalo di butik nyokap, lagi gak cari karyawan" sama halnya dengan Dina, Reni memberitakan hal yang sama


Aletha menghembuskan nafas lesu, "Gimana caranya gue dapet uang?"


"Kenapa lo gak kerja di resto atau caffe-caffe aja?" usulan Adit membuat Aletha berbinar


"O, iya. Kenapa gue gak kepikiran, tumben pinter lo dit" pujian Aletha membuat Adit tersenyum puas


"gue duluan ya, gue mau ketemu Mamahnya mas cakra. Assalamualaikum" tambah Aletha


"Waalaikumsallam"


Dengan semangat Aletha berlari kecil keluar kampus, berdiri di pinggir jalan untuk mencegat taxi, tidak butuh waktu lama satu taxi berhenti di hadapannya. Aletha lalu menyuruh supir taxi itu untuk melajukan mobilnya ke salah satu mall besar di Jakarta


30 menit mereka sampai setelah membayar Aletha menuju tempat resto Cakra, pegawai-pegawai menyapa Aletha karna bisa dibilang Aletha ddk adalah langganan paling setia. Aletha langsung masuk kedapur koki


"Assalamualaikum"


Cakra masih asik memasak, dan masih tidak sadar dengan kedatangan Aletha. "Mas cakra..."


"Eh, A--Aletha? Waalaikumsallam, maaf gue gak denger suara lo" Cakra hanya bisa tersenyum kikuk


"No problem, gue kesini cuma mau tanya. Tante mira nya ada di ruangan gak?"


"Mamah? Mamah ada kok di ruangan" Cakra tersenyum manis


Aletha mengangguk. "Yasudah. Assalamualaikum"


"Waalikumsallam"


Aletha lalu berjalan menuju ruangan Tante mira, Tante mira adalah Ibu dari Cakra sekaligus pemilik restoran besar dengan makanan beraneka ragam. Makanannya unik karna dimasak anak pemilik Restoran ini sendiri yang tak lain Cakra


"Assalamualaikum, Tante"


Mira yang saat itu sedang menelfon terkejut dengan keadaan Aletha, "Waalaikumsallam. Aletha ya ampun kamu kapan pulang" Tante mira langsung memeluk Aletha


Mereka juga sangat dekat, karna Mira adalah sahabat Bram, "Udah lama, Tante. O iya Tante maaf ganggu"


"Eh, enggak dong. Ada apa? ayo sini duduk" Aletha menurut ajakan Mira. Lalu mereka berdua duduk disofa


"Ada apa sayang? tumbenan kamu temuin, Tante?"


Aletha tersenyum kikuk, dan ragu. "Jadi begini, Tante. Sebenarnya Aletha mau minta bantuan sama, Tante. Bisa nggak Aletha kerja disini?"


"Kerja?" Mira tampak terkejut dengan ujaran Aletha, Aletha hanya bisa mengangguk

__ADS_1


"Pasti, Bram. Ada problem" batin Mira


"Emang kamu mau kerja apa sayang?"


"Apa aja, Tante. Aletha terima kok" jawab Aletha cepat


"Sebenarnya kalo di kasir sudah ada yang mengisi, kalo untuk koki juga sudah penuh. Cuma tinggal pelayanan yang masih kurang" Tanpa menunggu apapun Aletha mengangguk cepat


"Apapun itu, Aletha mau kok Tante"


Mira tersenyum. "Yasudah kamu bisa bekerja besok"


"Tapi, Tante. Bisa gak Aletha kerja partime? Jadi Aletha kuliah pagi, nanti setelah pulang kuliah Aletha kesini?"


Mira mengangguk, lalu mengelus kepala Aletha. "Kalo ada masalah cerita sama, Tante sayang"


Aletha terdiam


****


Luasnya hamparan lautan, dengan angin sepoi-sepoi yang sangat menyejukan. Burung-burung beterbangan menambah kesan kedamaiaan


Aletha hanya bisa selalu menatap luasnya lautan. Jika memang seseorang meninggal mungkin mereka bisa mengunjungi ke pemakaman. Namun, bagaimana dengan korban kecelakaan pesawat yang terjatuh di perairan? Mayatnya saja tidak ditemukan


"Saya gak tahu ini sudah berapa bulan, Ustadz menghilang. Saya lelah dan saya ingin berhenti. Namun, Ustadz sudah berjanji mau pulang, saya terus menunggu. Tapi kenapa masalah berdatangan bertubi-tubi? Disaat seperti ini pasti Ustadz yang datang dan memberikan masukan. Saya sangat membutuhkan Ustadz, Cepatlah kembali"


byur


"Ekhm" deheman seorang pria membuat Aletha terkejut


"Aa--arjuna??"


Pria berbadan tinggi tegap itu menatap hamparan luasnya lautan. "Sangat panas, dan lo rela panas-panasaan cuma mau lemparin bunga-bunga?"


Aletha terdiam, lalu mengangkat suara. "Apa urusan lo?"


"Gue cuma aneh aja sama lo. Toko bunga, bunganya udah habis semua kayanya"


Aletha melirik ke Arjuna, "Ya gapapa lah kan gue beli"


"gue juga mau beli, tapi habis lo beliin."


Aletha terkekeh pelan, "Kan banyak toko yang lain"


"Nah itu dia setiap gue ganti toko mau beli bunga, pasti penjaga tokonya bilang kalo sudah di borong cewek cantik yang selalu beli mawar merah"


Aletha tersenyum tipis. "Lo kan bisa beli selain mawar"


"gue kan juga mau beli mawar merah, buat orang yang gue cinta. Katanya penajaga toko mawar merah menggambarkan rasa cinta kepada orang yang sangat di rindukan" tutur Arjuna dengan menatap Aletha


"Lo bisa kok pesen Online, buat cewek lo"


Arjuna membuang nafas berat. "Sayangnya gue gak punya cewek, gue cuma cinta sama satu cewek dan sayangnya dia lebih cinta sama orang lain"

__ADS_1


Aletha mengernyitkan dahinya, "Siapa sih emang?"


"Lo"


Satu kata itu mampu membuat Aletha terdiam. "gue duluan Assalamualaikum"


Arjuna menatap punggung Aletha, lalu berteriak. "Dan gue akan terus berusaha, Aletha...!!!"


Aletha tidak menoleh kebelakang dan langsung mencegat taxi untuk segera pulang.


Di dalam mobil Aletha menatap Arjuna


"Jika memang Ustadz yusuf jodohku, kembalikan dia ya allah. Jika jodohku orang lain lupakan seluruh kenangan hamba dengan Ustadz yusuf" ujar Aletha dalam hati


Air matanya kembali menitik kembali. Berat memang harus di tinggal orang yang sangat kita cintai, itu saja perginya entah berada dimana


"Kenapa nangis, Neng?"


Lamun Aletha buyar karna suara supir taxi. "Enggak, Pak. Cuma kelilipan kok"


"Saya tahu masalah anak muda kaya, Neng. Palingan putus sama pacarnya, kalo gak ya di selingkuhin"


Aletha tersenyum getir. "Jika hanya putus hubungan dan masih bisa melihatnya saya masih bisa senang, Pak. Namun melihat dan mengetahui keberadaannya saja tidak, mungkin alam saya sudah berbeda dengan DIA"


Supir taxi itu tersenyum, "Doakan saja terus, Neng. Semoga allah mempertemukan kalian di sepertiga malam mu, Neng"


"Saya tidak pernah lelah berdoa, Pak" Aletha mencoba tersenyum walau ingin sekali menangis sejadi-jadinya


Karna sibuk mengobrol tanpa sadar mereka sampai di perumahan Aletha. Lalu memberikan beberapa lembar uang kepada supir taxi tersebut


"Kebanyakan ini, Neng"


Aletha tersenyum. "Bonus untuk, Bapak. Sudah mendengar keluh kesah saya dan mengizinkan saya menangis di mobil tadi"


Supir taxi itu menerima dengan senang, "Setiap manusia memiliki garis takdir sendiri-sendiri, Neng. Tuhan sedang mempersiapkan takdir untuk, Neng. Semoga rezekinya lancar"


"Amin, Pak" Supir taxi itu pun pergi


Aletha lalu masuk ke kerumahnya,mendapati papahnya tertidur di sofa


"Papah" Aletha mencoba membangunkan papahnya. "Papah kayanya capek banget"


Aletha berjalan kedapur mencari pembantunya. "Bi"


Pembantunya itu menoleh, "Eh, Non. Sudah pulang?"


"Siapkan air hangat untuk papah ya, Bi. Aletha mau masak"


Pembantunya tersenyum lalu pamit untuk mengerjakan tugasnya. Kini Aletha akan berkutat dengan dapur


"Baikalah dapur ayo kita berperang"


TBC❤

__ADS_1


__ADS_2