
Tekan tombol Like sebelum bacaš
"Ren..."
Reni yang telah selesai makan menoleh kepada Aletha
"Iya?"
"Lo mau gak anterin gue demarga tempat jatuhnya pesawat air one?"
Reni sedikit terkejut, "Dengerin gue! lo gak perlu jauh-jauh kesana, Aletha. Lautan Indonesia itu saling menyatu, lo cukup berdoa di pantai, atau laut sini aja"
Aletha berbinar. "Seriously?"
Reni mengangguk, Aletha langsung menggeret Reni. Mereka pun masuk ke mobil Reni, menuju pantai Ancol
45 menit mereka sampai di ancol, Aletha menenteng 1 baket bunga. Lalu mendekat ke bibir pantai
"Sampai kapan pun, saya akan terus menunggu. Meski pun saya harus kehilangan apapun, saya yakin harapan itu masih ada. Cepatlah kembali sayang"
Aletha melempar sebaket bunganya, air mata menintik merasakan Rindu yang menggebu-gebu. Reni dan Dina memeluk Aletha. Saling merasakan rasa sakit sahabatnya
"Makasih ya gusy, udah anterin gue" Aletha masih menangis di pelukan sahabatnya
Reni juga menangis, "Sampai kapan pun kita akan bantuin lo tha, kita udah temenan lama"
Aletha mengusap air matanya, lalu tersenyum manis kepada dua sahabatnya, "Thanks ya gusy, kalian yang terbaik"
"Yaudah kita balik yuk"
Aletha mengangguk dengan ajakan Dina, saat menuju mobil Aletha melihat pria kecil yang duduk di pinggir jalan. Keadaannya sangat lusuh, pakaiaan kotor, wajahnya juga tidak terawat, dan dia membawa mangkuk yang hanya ada uang 500 rupiah. Aletha mendekat kepada anak kecil itu
"Adik kecil ngapain ada disini?"
Anak kecil itu menoleh kepada Aletha, Namun matanya ketakutan. "Enggak usah takut, Kakak gak akan jahat,"
Anak kecil itu mengangguk, "Kakak siapa?" akhirnya bibir kecil itu berbicara
"Kenalin, Nama kakak Aletha. Adik namanya siapa?"
"Aku lupa"
Aletha ternyuh, melihat kesekitar. "Orang tua kamu dimana?"
Anak kecil itu menggeleng. Aletha yang merasa kasihan memberikan uang 300 ribuan, "Ini untuk beli makanan, di bawa pulang. Jangan disini"
anak kecil itu tersenyum. "Terimakasih Kakak cantik, semoga rezeki kakak lancar. Tuhan sudah mempersiapkan takdir yang baik untuk kakak"
"Oh ya? bagaimana kamu tahu kakak akan bahagia?"
"Kakak akan memiliki suami yang tampan dan baik hati, dia sedang mencari jalan keluar untuk menemui kakak, aku pergi kak terimakasih" Kepergian anak itu membuat Aletha mematung
__ADS_1
"Masyallah, lo baik banget tha" lamun Aletha buyar karna suara Reni
"Ha, iya iya" Aletha langsung masuk ke mobil
Di bangku belakang Aletha melamun, mencerna kata-kata pria kecil itu. Pikirannya melayang kepada pujaan hatinya yang menghilang
"Lo kenapa tha?" Dina melirik dari kaca spion melihat Aletha banyak melamun
"gue kepikiran sama omongan anak tadi"
Dina tersenyum tipis, "Ya semoga aja itu adalah pertanda baik"
Aletha mengangguk pelan. "Langsung balik aja, Din"
Dina mengangguk lalu memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang padat, Dina menggerutu karna sudah siang tapi masih saja macet. Panas matahari dan asap-asap kendaraan membuat polusi untuk udara. untuk menghirup udara segar pun tidak bisa
"Huh, kalo gini gue jadi pengen tinggal di Pesantren" Reni terkekeh mendengar gerutu Dina
"Lu muak sama macet?"
"Iya lah apa lagi asap-asap kendaraannya kan gak sehat. Enakan juga ketempat Pak kyai sejuk udaranya. Ya gak tha?"
Aletha tersenyum, "Iya sih bener disana udaranya sejuk"
"Yaudah kalo disini pengap lo buka sedikit kacanya" ujar Reni
"Percuma dong hidupin AC" Dina melirik jengah Reni
"Bawel banget sih lo, Din. Namanya juga Jakarta yaudah si nerima aja" sahut Aletha
****
"Dari mana dek?"
Aletha menoleh ke kakaknya. "Habis hangout sama temen-temen"
Adnan tersenyum manis, "Allhamdulilah kalo udah mau keluar-keluar"
"gue pikir terpuruk di kegelapan gak akan membuahkan hasil sih kak, itu sih kata Pak kyai. Tapi Aletha gak akan berhenti berharap"
"Lo boleh berharap tapi jangan berlebihan, lo juga harus bisa menerima hati lainnya"
"Kalo untuk pria lain, Aletha belum bisa kak"
Adnan tersenyum tipis, "gue tahu. Tapi lo jangan sampe jadi kaya gini terus"
"Hemmm"
Adnan membuang nafas kasar, "Sampai kapan lo mau kaya gini?"
"Sampai, Ustadz yusuf kembali" Aletha lalu pergi ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya
__ADS_1
Menatap foto pujaan hatinya, air matanya menetes membasahi foto tersebut, "i'm so miss you"
Persetan dengan RINDU! Hal itu sangat candu, bagaimana harus bertemu sedangkan Aletha saja tidak tahu kemana perginya Yusuf.
Aletha mengusap air matanya kasar, lalu mengambil wudhu untuk melaksanakn solat Ashar
"Assalamualaikum wr wb"
"Assalamualaikum wr wb"
Setelah salam Aletha mengadahkan kedua tangannya. "Ya allah, ya tuhanku. Kemana pun perginya Ustadz yusuf berilah keselamatan untuk dirinya ya allah, hamba yakin jika Ustadz yusuf masih hidup ya allah. Pertemukan hamba dengan beliau ya allah, sungguh hamba sangat mencintainya ya allah. Amin yarobal alamin"
Setelah berdoa Aletha mengambil Al-qur'annya, melantunkan ayat-ayat sucinya. Tak sengaja Adnan mendengar ayat-ayat tersebut
Adnan sedikit mengitip dari pintu Aletha, senyum tipis terukir di bibirnya. "Adik gue udah berubah, gue juga yakin Ustadz yusuf masih hidup. dan gue akan bawa Ustadz yusuf buat lo dek"
Lalu Adnan pergi melajukan mobilnya, tempat tujuannya kini adalah Timsar yang melakukan pencarian korban kecelakaan pesawat air one
"Tolong, Pak. pencarian ini harus di lanjutkan kembali!" pinta Adnan kepada pemimpin Timsar itu
"Maaf mas, kami sudah mencari korban di dasar lautan mas, Namun nihil korban sudah menghilang. Kemungkinan besar mereka tenggelem ke paling dalam atau mati di makan binanatang buas lautan"
Brakk
"Jaga biacar anda! Calon suami adik saya belum ketemu, lanjutkan pencarian. Saya akan memberikan komisi 4 kali lipat dari gaji kalian!!!" Setelah menggebrak meja Adnan berbicara dengan nada yang tinggi
"Maaf, Mas anda yang sopan! saya tidak akan menerima sogokan uang!"
Dengan kesal Adnan meningalkan kantor itu, Adnan memacu mobilnya kembali kerumah. Setelah sampai Adnan berjalan ke arah kamar adiknya, Aletha tengah berada di balkon menatap senja
"Aletha..."
Aletha menoleh ke kakaknya, lalu tersenyum tipis, "Dari mana kak?"
"Tadi keluar sebentar"
Adnan juga ikut bersender di balkon menatap langit senja. "Senja itu indah ya kak, Namun hanya sesaat"
Ucapan Aletha membuat Adnan menoleh kepadanya, "Senja adalah contoh bahwa ciptaan Tuhan tidak ada yang abadi"
Aletha tersenyum getir apa yang di katakan kakaknya adalah benar, "Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan" imbuh Adnan kembali
"Suatu saat nanti pasti ada titik terang" dengan begitu yakin Aletha memandangi indahnya senja, langit jingga yang sangat mendamaikan
Adnan juga memandangi senja tersebut. Yang di katakan Adnan memang benar, ciptaan tuhan memang tidak ada yang abadi. contohnya adalah Senja
"Jika senja tenggelam besok masih ada matahari yang berjanji kembali" gumam Aletha lirih
"Entah bagaimana cara sang sutradara menulis skenario tentang kau ataupun aku kala itu hingga hari ini aku merasa kesepian dengan kau berada di pulau berbeda" -Aletha
TBCā¤
__ADS_1
Jangan lupa tekan tombol Like, Vote, Bintang lima, dan komentar kalianš
Koreksi kesalahan author ya š