Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#50


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca❤


Aletha tidak bisa mengatakan apa-apa, bibirnya terasa kelu. Dia sangat gugup untuk bersuara dan hanya sebuah anggukan kecil yang artinya dia menerima lamaran, Yusuf


Yusuf tersenyum, lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Aletha. "Apapun, yang terjadi. Jagalah cincin ini"


Aletha mengangguk, dan betapa terkejutnya Aletha, banyak balon-balon beterbangan. Dan orang-orang melihat kejadian itu, dimana dirinya di lamar Ustadznya


Yusuf dan Aletha berjalan ke arah Bram, Bram menatap Yusuf tajam. "Izinkan saya menjaga, anak anda" Yusuf membalas tatapan, Bram. Mengisyarakat bahwa dia mampu untuk menjaga putrinya


Saat itulah, tatapan Bram berubah hangat. Bram memeluk Yusuf, Yusuf membalas pelukannya, 'hangat' pelukan hangat singkat waktu Yusuf merasakan bagaimana pelukan seorang Ayah. Selama dia lahir dia tidak pernah mendapatkan dekapan seorang Ayah


"Saya izin kamu, untuk menjadi masadepan anak saya" ujar Bram tegas


"Allhamdulilah"


Puji syukur mereka panjatkan, lalu mereka berpesta kecil-kecilan, makan bersama, dan bernyanyi-nyanyi bersama.


"Assalamualaikum"


Suara itu Aletha tampak familiar, Aletha yang semula duduk mengobrol di kursi bersama teman-temannya menoleh ke sumber suara


Betapa terkejutnya dia melihat, kedua sahabatnya. Yang selalu sabar mengajarinya membantu untuk berubah


"Tari, Najwa!!!" Aletha langsung memeluk kedua gadis itu, menumpahkan rasa rindu


Tentu kedua gadis itu berjasa bagi Aletha. Tanpa mereka mungkin, Aletha. Sudah kabur dari pondok pesantren dari awal


"Kami sudah mendengar, jika kamu di lamar Ustadz yusuf, Kami bersyukur ternyata Ustadz yusuf masih hidup" ujar Najwa lembut


"Kita tunggu undangan pernikahannya loh..." Aletha terkekeh mendengar godaan Tari


"Hay. Tari, Najwa!!" sapa Dina, mereka sudah mengenal baik


"Eh, iya ada Dina sama Reni. Kalian apa kabar?" Tari langsung duduk bersama dan mengobrol dengan Dina dan Reni


"Kami baik kok, kamu makin cantik ya" Tari tersenyum mendengar pujian dari Reni


"Oh iya, Kenalin ini Adit, adik sepupuku yang di buang" perkenalan dari Reni untuk Adit, yang sedikit candaan itu mengundang tawa


Adit yang mendengar mendengus kesal. "Mulut lo kalo bilang, gue ganteng-ganteng kaya gini, lo bilang buangan"


Mereka tertawa mendengar gerutu, Adit. Tari tampak berbisik kepada, Aletha. "Kevin dimana?"


"Kevin sekarang sibuk kayanya, terkahir kali gue lihat. Dia udah pake seragam Tentara" Tari tampak terkejut mendengar jawaban Aletha

__ADS_1


"Jadi, Kevin. Udah jadi Tentara? Dia akan sering pergi dong" Tari tampak sedih, padahal dia merindukan orang yang dia kagumi


"Lo suka ya sama, Kevin?" tanya Dina dengan candaan


"Jyailah, cowok kaku kaya Kevin aja. Mending-mendingan juga adik gue nih, jomblo gak laku-laku dia. Ambil juga gapapa kalo bukan anak Tante gue pengennya sih di buang" lagi dan lagi ledekan Reni membuat Adit kesal dan malah mengundang tawa


"Assalamualaikum"


Sapaan itu, suara pria yang sudah lama Aletha tidak melihatnya. Pria pertama yang dirinya temui di pondok pesantren ini


"Waalaikumsallam"


"Zulfan?"


Zulfan tersenyum kepada Aletha. "Apa kabar, Aletha? Aku udah tahu kok kamu akan segera menikah dengan Ustadz yusuf. Sebelumnya maaf tidak memberi tahu kalian, sebenarnya aku sudah menikah dengan, Najwa"


Ujaran Zulfan membuat Aletha dan Tari melotot. Kedua manusia cantik itu menatap Najwa menyelidik


"Lo nikah kok gak bilang-bilang, Naj?" Aletha mulai mengintrogasi Najwa


"Maaf, tha. Pernikahanku dan Kak zulfan sebenarnya tidak di publik" Aletha mengangguk dengan jawaban Najwa


"Assalamualaikum"


Yusuf menatap Zulfan, lalu menjabatnya. "Apa kabar, Zulfan?"


"Baik, Pak ustadz"


"Kok cuma pada duduk-duduk sih? Ayo disana ada permainan ada yang mau ikut?" ajak Yusuf


Mereka menyetujuhi lalu berjalan ke arah halaman depan pondok pesantren yang ramai


****


Aletha bersorak menyemangati kakaknya dan Yusuf yang sedang bermain, sepak bola api. Sedikit berbahaya. Namun, mengasyikan


Permainan tradisional yang di gemari kalangan muda. Yusuf tampak handal dalam permainan itu, Adnan pun mencoba mengimbangi


Berbeda dengan, Adit. Yang malah menghindar jika bolanya mendekat


"Itu itu bolanya, awas-awas!!" teriakan Adit selalu heboh, alasanya takut terkena api


"Ayo, Ustadz yusuf!!!" Aletha memberikan semangat dengan senyum manis menawan


Yang lainnya juga menonton dan memberikan semangat.

__ADS_1


"Gue jadi malu deh rekomendasiin si, Adit buat ikut. Ngebantu kagak bikin kalah iya" mereka terkekeh mendengar gerutu, Reni


"Kalo lo malu, lo aja yang gantiin, Adit sono" balas Dina


Reni mendengus kesal, "Itukan permainan cowok. Ya kali gue yang cantik ini di suruh lari-larian"


"Tapi kayanya asik deh, jadi pengen coba" ujar Aletha


Reni memutar bola mata jengah. "Gimana sih lo tha? Katanya mau berubah jadi anggun, ketemu sama bola udah mau balik sifat ajaibnya"


"Kadang gue itu mikir, untuk apa gue harus merubah sifat gue yang emang dari sononya. Gue jadi kangen aja sama kelakuan gue yang dulu, gue juga bingung sih jadi pengen banyak tingkah lagi kaya pas SMA"


"Tidak ada yang menyuruh kamu berubah menjadi anggun, setiap pasangan itu pasti ada kekurangan masing-masing. Dan tugas pasangan adalah melengkapi kekurangan masing-masing" Aletha terkejut dia mengenal pemilik suara itu


"Ustadz yusuf bukannya tadi main?" tanya Aletha basa basi


Yusuf tersenyum manis. "Saya sudah selesai, saya mendengar gerutu kamu. Mau bagaimana pun kamu, menurut saya kamu tetaplah cantik"


Blush


Semua orang bisa melihat pipi Aletha memerah karna malu, Aletha sibuk menyembunyikan pipinya. Seorang wanita cantik berwajah asia itu mendekat kearah mereka


"Hallo selamat malam!" sapa Chelsea dengan bahasa indonesia yang kaku


"Selamat malam"


"Maaf, saya tidak ikut solat. Saya beragama katolik"


Mereka yang mendengar tersenyum. "Emm, Maaf ya, Nona chelsea. Nona chelsea sebagai tamu malah mempersiapkan makanan saat kami solat tadi" ujar Ustadzah aisyah


"Ah, tidak apa-apa. Saya pikir itu akan mempersingkat waktu" Senyum tulus terukir dibibir Chelsea


Begitulah Indonesia meski berbeda mereka tetap bersatu jua, Walaupun Chelsea bukanlah warga negara Indonesia mereka tetap memperlakukan dirinya dengan sopan. Dan meskipun Chelsea bukanlah umat Islam mereka tetap memperlakukan dengan baik, mereka saling membantu tanpa melihat perbedaan, kasta, dan agama


Bagi mereka manusia itu sama, berawal dari tanah dan akan berakhir ke tanah. Jangan sombong jika derajatmu tinggi karna harta tidak akan di bawa mati, jangan sombong jika parasmu sempurna besok akan menua. Jangan menghina seseorang yang lebih rendah darimu, Tuhan maha adil. Tuhan bisa membolak-balikan takdir


Jangan lupa istigfar kita semua pendosa yang berbeda jalan berbuat dosa


Jangan banyak gaya nanti meninggal


Mereka semua bermain kembang api, terhias tawa kebahagiaan di wajah mereka. Aletha pun sama merasakan senang


"Jangan persingkat waktu ini, izinkan aku menikmati setiap waktu. Ingin rasanya aku menghentikan waktu. Namun, waktu akan terus berjalan. Aku hanya bisa berdoa untuk besok di masadepan" -Aletha


TBC❤

__ADS_1


__ADS_2