Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#52


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😈


Mungkin hari ini menjadi hari tersibuk, Pondok pesantren An-nur. Mereka tengah membantu persiapan pernihakan, Aletha dan Yusuf.


Dan yang pasti sangat melelahkan, karna akan banyak tamu yang datang. Aletha sengaja mengundang seluruh temannya, Untuk melihatkan kepada publik, jika suaminya seorang Ustadz. Di tikung tahu rasa kau Aletha haha


Kedua insan yang besok akan menikah, tengah berada di masa-masa di pingit atau tidak boleh di pertemukan. Yusuf yang berada di Pesantren, sedangkan Aletha yang berada dirumah Ustadzah aisyah yang tidak jauh dari Pesantren


Tidak henti-hentinya, gadis itu menggerutu ingin bertemu, Yusuf. Keempat sahabatnya hanya bisa memijat pelipis. Tentu, yang di repotkan pasti Reni, Dina, Tari, dan Najwa. Karna merekalah yang ditugaskan menjaga, Aletha


Sedangkan, yang lain sibuk dengan urusan persiapan pernikahan.


"Norak tau gak!? Pakek acara di pingit-pingitan, apaan sih udah 2020 juga!!"


"Berisik banget sih woy! Lo tuh besok mau nikah kena sawan tahu rasa lo" Reni akhirnya menimpali gerutu, Aletha


"Aletha, kamu sama Ustadz yusufkan belum mukhrimnya. Jadi sabar ya..." Najwalah yang akan menjadi penasihat, Aletha


Aletha hanya bisa menghembuskan nafas kasar, "Ya. Kan besok gue udah nikah, ketemu boleh dong"


"Tapi, ini sudah menjadi adatnya tha. Apalagi Ustadz yusuf itu seorang Ustadz, dia pasti tidak keberatan dengan acara pingit-pingit ini" imbuh Najwa lagi


"Tapi, gue kan kangen"


Teman-teman, Aletha yang mendengar perkataannya hanya memutar bola mata jengah


"Alay! Kemarin baru ketemu udah bilang kangen" Aletha hanya membalas pelototan tajam dengan ledekan Dina


"Suka-suka gue dong, Waktunya lama banget sih. Jadi pengen keburu nikah" Najwa tersenyum mendengar ujaran, Aletha


"Gak sabar banget sih, kamu tha" kali ini Tari yang angkat suara


"Emang gimana sih, Naj. Nikah gimana rasanya?" Najwa yang di tanyai Aletha menjadi gugup


"Emmm, Gi--gimana ya?"


"Assalamualaikum, ukthi-ukthi" celetuk pria berkaca mata yang memotong perkataan Najwa


"Waalaikumsallam"


"Ada apa, dit?" tanya Dina sinis


"Wait-wait, gak usah pada garang gitu dong, Adit ada bawa makanan buat kalian. Sebenarnya, ini makanan dari Pondok pesantren sih. Nih di makan" Adit memberikan dua kresek besar, yang di dalamnya ada banyak makanan ringan


"Wah. Makasih, dit" Tari langsung menyambar makanan tersebut


"Capek banget gue, dari tadi ngangkatin kursi" gerutu, Adit. Sembari memijat kaki-kakinya


"Lembek banget sih lo jadi cowok, baru juga gitu" Adit hanya memandang sinis, Dina


Mereka pun memakan makanan yang di bawakan, Adit


****


"Oke, di sana. Itu nya jangan deket-deket banget, Nah sip"

__ADS_1


Di pondok pesantren orang-orang sibuk dengan persiapan, Yusuf yang akan menikah pun juga ikut andil


Dan yang lain membantu WO yang mempersipakan semuanya


"Kaliankan nikah di jawa, jawa identik dengan janur kuning. Kita pasangin janur kuning di depan" Fara memberi usulan


Yusuf diam, tampak berpikir. "Saya setuju sih, Tapi udah sore mau cari dimana ?"


"Rumah warga sekitar pasti banyak!"


"Oke saya setuju usulan kamu, Fara!" Yusuf akhirnya menyetujuhi


"Oii, Doni sini lo!" Doni yang merasa namanya di panggil melihat ke sumber suara, disana tampak Fara yang sehabis meneriakinya


Doni pun berjalan menghampiri keduanya. "Kenapa?"


"Gue butuh bantuan lo, sekarang lo pergi ke rumah warga sekitar minta janur kuning!" Doni melotot mendengar perintah Fara


"Yang bener aja dong? Inikan udah sore, besok aja ngapa? Nikah juga masih besoknya" jawab Doni tak suka


"Haduh, Don. Kita itu harus siapin semuanya dengan cepat! Kalo mepet-mepet gimana?!!"


Doni memandang sinis Fara. "Iya gue cari"


Doni tampak celingukan mencari seseorang, Dia tersenyum saat melihat pria tampan yang sibuk menata meja dan pria tampan berkaca mata yang baru tiba


Doni menghampiri pria tampan yang sibuk menata meja. "Eh, Jun. Bantuin gue ya?"


Arjuna, yang sedang sibuk. Lalu menatap Doni, "Ada apa?"


"Temenin gue nyari janur kuning"


Doni hanya bisa menghembuskan nafas berat, lalu dirinya berlari kecil menuju pria berkaca mata


"Heh! Temenin gue yuk, nyari janur kuning"


"Nama gue, Adit. Bukan heh!" Adit memandang sinis Doni yang sedang merangkul pundaknya


Sedangkan, Doni. Hanya cengengesan. "Yuk, mau ya dit?"


"Iya, gue mau!"


Akhirnya, Doni dan Adit pergi ke rumah warga sekitar. Setelah melewati pasar, mereka baru menemukan permukiman desa


Doni, sangat sibuk dengan sepatunya karna terkena tanah liat. Karna kemarin hujan, maka tanah itu menjadi basah


"Aduh, Doni. Kalo lo cuma sibuk ngelapin sepatu kapan kita nyarinya nih?" Adit hanya bisa memandang jengah, Doni


"Sepatu mahal nih, 500 juta kena tanah"


"Sombong amat lu!"


"Eh, Mas-mas ngapain?" celetuk seorang gadis muda


Doni dan Adit langsung terkesima dengan kecantikannya. "Wonten nopo mas? (Ada apa mas?"

__ADS_1


"An--nu, mbak kita nyari janur kuning" sahut Adit tergagap


"Oh, janur kuning. Ternyata masnya mau nikah to?" Dengan nada centilnya gadis muda itu menggoda


"Aku masih lajang, mbak" jawab Adit antusias


Gadis muda itu tersenyum genit, "Yowes ayo sini kalo mau nyari janur kuning"


Mereka menurut mengikuti langkah gadis itu, gadis itu membawa kedua pria itu di halaman belakang rumahnya. Seperti perkebunan ada banyak tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kelapa


"Bapak, tulung jupukno janur kuning buat cowok dua itu (Bapak, tolong ambilkan janur kuning buat cowok dua itu)" gadis muda tampak berbicara dengan seorang pria paruhbaya


"Iyo, nduk. Dijak lungguh sek kancane (Iya, di ajak duduk dulu temennya)"


Pria paruhbaya itu pun mulai mengambil janur-janur muda dari pohon kelapa. Adit dan Doni hanya duduk sembari menggunu


"Iki le, Sek meh nikah anake, Pak kyai to? (Ini, Yang mau nikah anaknya, Pak kyai ya?"?)


Doni tampak bingung dengan pertanyaan pria paruhbaya itu, Adit yang paham bahasa jawa langsung menimpali


" Enggeh, Pak. Ustadz Pondok pesantren mau menikah" sahut Adit


Mereka pun menerima janur kuning tersebut. "Matur suwun, Pak, mbak"


Setelah berterimakasih, Doni dan Adit berjalan untuk kembali ke pondok pesantren


"Kok lo lancar banget ngomong jawanya, dit?" Adit tersenyum dengan pertanyaan, Doni


"Iya lah orang gue itu orang jogja, solo sama jogja juga gak jauh"


Doni, tampak terkejut dengan jawaban Adit. "Jadi, lo orang jogja. Kok lo kulaihnya di Jakarta?"


"Gue di suruh, bulek. Buat jagain Reni disini, yaudah gue kulaih di Jakarta. Makanya gue antusias banget kalo, Aletha mau ke pondok pesantren, kan ini daerah jawa" Doni mangut-mangut mendengar celoteh, Adit


"Makanya wajah lo ke jawa-jawaan tulen"


"Eh tapi gue ganteng ya!"


Doni yang mendengar tertawa keras, "Haha ganteng apaan kaya kodok gitu!"


"Halah raimu iku sek koyo kodok, kodok ijo turut sawah (Halah wajahmu itu yang kaya kodok, kodok hijau yang di sawah)"


Doni terdiam karna dia tidak paham dengan ucapan Adit


"Dit, lo tadi ngomong apa?"


"Wis menengo nek ra paham, raimu koyo wedhus dong ra? (Udah diem kalo gak paham, wajahmu kaya kambing tahu gak?"


Dan akhirnya Doni hanya bisa menampakan wajah bodoh karna tidak paham


**Stay tune terus ya, maaf kalo cerita ini membosankan. Saya tidak memaksa untuk membaca cerita saya, Jika cerita ini membuat bosan kalian bisa mencari cerita lain yang tidak membuat bosan menurut kalian !


Maaf jika author banyak kesalahan, maaf jika ada salah kata, typo bertebaran, salah ejaan. Tolong di maklumi author bukan author pro


Jika cerita ini tidak seperti ekpetasi kalian, kalian bisa membuat cerita kalian sendiri sesuai ekpetasi kalian.

__ADS_1


Dan, Terimakasih yang sudah mengkeritik author, komen kalian berharga banget, author langsung bisa perbaiki. Terimakasih😘


TBC**


__ADS_2