
"Kita balik ke Jakarta sekarang"
Aletha menatap malas papahnya. "Aletha, gak akan balik ke Jakarta, sebelum Ustadz yusuf menepati janjinya!"
Bram mengusap wajah kasar. "Nak, cobalah untuk ikhlas! ini sudah menjadi hukum alam"
"Kalo papah mau pulang silahkan pulang!" tegas Aletha
"Kamu jangan egois Aletha! Masadepan kamu bukan hanya untuk Yusuf semata, Kamu itu putri papah, kamu juga harus kuliah agar kamu bisa bekerja di perusahaan papah!!!" Bram sedikit menaikan suaranya
"Terserah" Aletha berlari kecil
Berlari ke danau belakang, sudah satu minggu pencarian itu di berhentikan, karna Timsar mengklaim korban yang lain pasti sudah meninggal. Siapa yang tahu makhluk-makhluk apa yang berada di dalam lautan? Bisa saja para korban menjadi santapan geratis hiu-hiu liar.
Aletha hanya bisa menintikan air matanya, menatap hamparan luas danau tersebut. Saksi cintanya kepada Ustadznya, yang mengajarkannya apa itu pentingnya agama, apa pentingnya etika, dan yang pasti telah berhasil membuat jantung Aletha berdetak kencang, yang mengajarkannya jika hidup bukan sekedar bahagia
"Ustadz kemana? Katanya mau pulang, Ustadz bilang janji adalah hutang. Aletha udah rajin solat kok gak pernah bolos solat subuh, Aletha juga udah ngajar ngaji setiap sore bantuin anak-anak SD. Ustadz cepetan pulang!!!"
Aletha bergumam panjang lebar dengan air mata terus menetes, dari kejauhan pria paruhbaya itu mendekati Aletha
"Assalamualaikum"
Aletha menoleh kesumber suara, lalu mengusap air matanya. "Waalaikumsallam, Pak kyai"
Pak kyai tersenyum lalu duduk di hamparan rumput, Pak kyai menepuk rumput sebelahnya mengisyarakat Aletha agar ikut duduk bersama, Aletha yang mengerti duduk di sebelah Pak kyai.
"Kenapa kamu masih bersedih?"
"Saya tidak rela jika, Ustadz yusuf meninggalkan saya begitu saja" sahut Aletha dengan bibir gemetar
"Mengapa kamu tidak rela jika itu semua sudah menjadi kehendak tuhan..."
Aletha terdiam, lalu Pak kyai melanjutkan perkataannya, "Jodoh dan maut di tangan Allah, Aletha. Kita tidak dapat memutuskan ingin berjodoh dengan siapa, kita tidak memutuskan ingin mati kapan. Kita bisa saja mati muda"
"Sa saya sangat mencintai, Ustadz yusuf. Pak kyai, Ustadz yusuf sudah berjanji akan kembali"
"Yusuf memang belum di temukan, kamu memang bisa berharap, Namun kamu jangan berharap lebih. Kamu harus tetap mengejar masadepanmu, Kamu juga harus menurut perkataan papahmu, Lihatlah papahmu beliau rela meninggalkan pekerjaannya demi kamu, berarti kamu adalah prioritas papahmu, kamu seharusnya tidak mengecewakan papahmu" tutur Pak kyai panjang lebar
"Apa saya sudah mengecewakan papah saya, Pak kyai?"
"Kecewa? mungkin, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya sukses mendapatkan jabatan tinggi, dan bahagia. Jika kamu terus terpuruk dalam kesedihan kamu tidak akan bangkit"
Aletha tertegun dengan perkataan Pak kyai, "Apa saya harus meminta maaf dengan papah saya, Pak kyai?"
"Jika kamu menyadari apa kesalahanmu, kamu bisa meminta maaf kepada papahmu. Saya tidak melarang kamu berlama-lama di Pondok pesantren, saya akan menerima siapapun itu yang berkunjung di pondok pesantren termasuk kamu"
Aletha tersenyum tipis. "Terimakasih, Pak kyai. Saya pamit Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
__ADS_1
Aletha berlari ke mobil papahnya, ternyata Bram tengah menangis lirih dan di sampingnya di kursi kemudi hanya ada Adnan yang larut dengan pikirannya
"Sepertinya aku gagal, Ayu. Aku tidak bisa membahagiakan Aletha, ayu... mungkin aku adalah papah yang buruk"
"Enggak papah enggak buruk" celetuk Aletha
Bram terkejut dengan kedatangan putrinya, Bram pikir Aletha akan tetap menahan egonya
Aletha langsung memeluk papahnya, "Maafin, Aletha ya pah. Aletha salah papah adalah yang terbaik"
Bram membalas pelukan putrinya mengelusnya lembut, "Kamu mau pulang, Nak?"
Aletha mengangguk. "Tapi sebelum pulang, untuk terakhir kali papah anterin Aletha ke laut ya?"
"Iya sayang" Bram kembali memeluk Aletha
"Ekhm anaknya bukan cuma Aletha" deheman Adnan membuat Bram dan Aletha terkekeh
Bram pun memeluk Adnan, mereka berpelukan bertiga
****
Aletha menatap hamparan luasnya lautan, angin-angin menerpa jilbab Aletha. Matanya terpejam tenang menikmati terpaan angin
"Saya yakin suatu saat nanti tuhan berkata lain, saya yakin Ustadz akan kembali dan menepati janji" gumam Aletha lirih
Aletha melempar sebaket bunga yang dirinya beli sebelum ke demarga, Aletha menatap sebaket bunga itu yang mulai terbawa arus air biru tersebut
Aletha berlalu meninggalkan demarga, berjalan kearah kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya. Kedua pria tangguh yang melindunginya, menghidupinya, dan sangat menyayangi
"Kita pulang sekarang, Pah" ujar Aletha lirih
Bram mengangguk lalu menggandeng Aletha memasuki mobilnya, Adnan menyetir mobil dengan di sampingnya adalah Bram dan di belakang Aletha yang melamun menatap luar jendela
"Kamu boleh berkunjung kesini kapan pun" lamun Aletha buyar mendengar ucapan papahnya
"Makasih pah" senyum tipis terukir di bibir gadis cantik tersebut
Hanya senyuman tipis tidak seperti dulu yang selalu ada kekehan, senyum manis dan lebar seakan semua itu sirna dan banyak orang yang merindukannya
Aletha mengirim pesan kepada Tari dan Najwa mereka tidak sempat melepas perpisahaan
Aletha📩
Assalamualaikum... Tari maafin gue ya, gue gak sempet ucapin selamat tinggal. Lo gak marah kan?
Tak lama pesan Aletha di balas
Tari ❤
__ADS_1
Waalaikumsallam, Allhamdulilah kamu udah pegang hp Aletha. Aku udah nungguin kamu hubungin aku, iya gapapa kok aku tahu gimana keadaan kamu
Aletha📩
Maafin gue ya, oh iya gue minta nomernya Najwa dong?
Tari❤
Sebentar
Tari ❤
0823×××××××
Aletha📩
Makasih, Tari. Jangan lupa dateng ke Jakarta. Gue bakalan rindu sama lo mwah
Setelah saling bertukar pesan dengan Tari, Aletha menghubungi Najwa. Sama seperti Najwa dia juga bahagia akhirnya Aletha kembali terbuka
Tanpa sadar Aletha sudah sampai di Jakarta. Aletha sampai di rumahnya, rumah mewah yang menjadi saksi bagaimana Aletha tumbuh di besarkan kedua orang tuanya
"Selamat datang, Nona muda" sapa pembantu Aletha
Aletha membalasnya dengan senyuman, lalu menggeret kopernya untuk memasuki rumah. Aletha menatap rumah besarnya, sama sekali tidak ada perubahan. Memang interior rumah ini tidak boleh di rubah karna Bram yang menegaskan, karna yang mendesaign rumah ini adalah Almarhum istri tercintanya
"Kamu ke kamar ya sayang, bersih-bersih" Aletha mengangguk patuh pada papahnya
Aletha menaiki tangga menuju kamarnya, ada rasa rindu karna sudah seminggu tidak bertemu kedua sahabatnya Tari dan Najwa
Namun, jangan lupakan Aletha juga memiliki kedua sahabat yang siap datang dan menolongnya siapa lagi jika bukan Reni dan Dina
Reni dan Dina langsung ke rumah Aletha, dan langsung masuk ke kamar Aletha. Reni dan Dina tahu masalah itu dari Adnan
"Aletha..." Reni mendekat kepada Aletha
"Reni, Dina" Aletha langsung memeluk kedua sahabatnya. Menangis melepaskan rasa rindunya
"gue tahu apa yang terjadi sama lo" Reni menenangkan Aletha, mengusap pundak sahabatnya
"gue tahu itu pasti sakit" imbuh Reni kembali
Aletha tak kuasa menahan air matanya, "gu--gue benci dengan takdir ren hiks hiks.... K--kenapa tuhan mempertemukan kita jika harus di pisahkan?!"
Dina juga ikut memeluk Aletha. "Tuhan selalu mempunyai rencana di balik skenarionya" kali ini Dina yang mengangkat suara
"Lo cuma harus mengikuti alurya"
TBC❤
__ADS_1
Nih aku Up lagi, buat ganti karna author udah lama gak Up. Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Bintang lima, dan komentar kalian sangat berharga😘