
Makan malam dengan hening, Aletha menyantap makanannya
"Kamu sudah siap untuk kuliah, Aletha?" akhirnya Bram mengangkat suara
Aletha menghentikan makannya. "Tunggu, Aletha siap ya pah. Aletha butuh waktu"
Bram tersenyum tipis, "Iya gapapa, papah mengerti kok"
"Makasih pah"
Aletha kembali melanjutkan makannya, Aletha kembali ke kamarnya menatap foto pria tampan yang sangat dia rindukan
Bram tidak sengaja melihat putrinya menangis
Tok
Tok
Tok
Aletha mengusap air matanya, menoleh ke pintu yang memang lupa dirinya tutup. "Papah?"
Bram tersenyum lalu mendekat kepada Aletha, "Kok nangis lagi?" Bram mengusap air mata Aletha
"Enggak, Aletha gak nangis kok" bohong Aletha dengan senyum paksakan
"Aletha sebenarnya papah tidak menyukai kamu menangis terus seperti ini"
Aletha memeluk papahnya mendekap erat papahnya, "Aletha masih sangat merindukan, Ustadz yusuf pah"
"Kamu boleh merindukan, Yusuf." suara Bram sedikit tidak suka
"Apa papah sudah tidak suka dengan, Ustadz yusuf?"
"Bukannya begitu.... dengarkan papah"
Bram menghelas nafas panjang, "Kamu pernah mendengar cinta pertama anak perempuan berada dalam Ayahnya?"
Aletha hanya mengangguk, "Maka dari itu papah cemburu jika kamu terus menangisi pria lain, Papah ingin papah yang selalu menjadi cinta pertama anak papah.... papah gak masalah kamu berhubungan dengan pria manapun asalkan pria itu menjamin masa depan kamu"
Aletha sedikit terkeleh, "Papah cemburu?"
Dengan gaya cemberut Bram mengangguk, Aletha terkekeh kecil dan langsung memeluk Papahnya. "Papah itu akan tetap menjadi cinta pertama Aletha"
Bram tersenyum membalas pelukan Aletha. "Kamu janji jangan sedih-sedih lagi, papah gak mau anak gadis papah matanya merah"
Aletha mengangguk pelan. "Kalo, Aletha lelah. Apa, Aletha boleh menangis?"
"Aletha tidak akan lelah karna papah akan menggendong Aletha" Bram menggelitiki putrinya membuat gadis itu geli
"Hahahha geli pah, hahaha udah pah...." Bram menghentikan gelitikannya
"Papah ngeselin" kesal Aletha memanyunkan bibirnya
Bram mengusap kepala putrinya, lalu mencium pucuk kepalanya. "Tidur ya, Nak. Udah malem"
Aletha mengangguk, sebelum pergi Bram menyelimuti Aletha. Bram keluar kamar Aletha menuju kamarnya
__ADS_1
Aletha belum tertidur matanya kembali terbuka, lalu berjalan ke arah balkon menatap bintang-bintang yang bertebaran dengan bulan yang bersinar
"Jika, Ustadz ada di salah satu bintang itu. Saya cuma mau bilang jika saya rindu dengan Ustadz"
Rindu? obatnya adalah bertemu! Lalu bagaimana Aletha menemui Yusuf yang dirinya saja tidak mengetahui keberadaanya, Konyol memang merindukan seseorang tapi tidak harus menemuinya dimana.
Harapan? hanya bisa berharap dan terus berdoa, berserah diri kepada Allah. Mengharapkan sebuah keajaiban illahi yang mungkin tidak akan pernah terjadi
Jatuh di lautan dalam? Apa ada harapan untuk hidup kembali? Bagaimana jika para korban tidak bisa berenang? bagaimana jika korban meninggal di tempat karna pesawat terjatuh langsung di dasar lautan dalam?. Bagaimana jika ada hiu-hiu liar yang menyantap daging-daging mereka?
Untuk selamat? korban yang selamat hanya puluhan tertuju untuk orang-orang bernasib baik yang handal berenang, Yusuf? pria itu, Aletha bertanya-tanya berharap Ustadznya berenang menjauh lalu ketepian
"Saya akan terus berharap dan menunggu janji Ustadz"
****
"Aletha...!!"
Aletha menggeliat dari tidurnya, matanya membuka dengan perlahan kedua sahabatnya membangunkannya dari mimpinya
"Huh kalian bikin mimpi gue ancur"
Reni dan Dina terkekeh pelan, "Mimpi apasih sayang?" Dina menoel-noel dagu Aletha
"gue ngimpi nikah sama Ustadz yusuf" suara Aletha lirih namun dapat di dengar kedua temannya
"Kita hangout yuk?" ajak Reni mengalihkan pembicaraan
Aletha mendengus kesal. "Bentaran gue mandi"
Aletha pergi ke kamar mandi membersihkan diri, padahal masih pagi dan kedua sahabatnya dengan kedua temannya sudah membangunkannya.
Aletha sudah siap, tak lupa dia memakai parfum favoritnya, "Kita mau kemana sih?"
Kedua temannya tersenyum merekah, "Allhamdulila, Lo udah segeran" Reni merangkul pundak Aletha
have fun, gusy!!" ujar Dina semangat
Setelah berpamitan dengan papahnya dan di izinkan, Aletha pergi dengan teman-temannya. Tak lain pergi ke mall, untuk bersenang-senang melupakan seluruh luka, itulah kata Reni
Aletha melihat-lihat baju-baju berlengan panjang yang menurutnya imut, Aletha memilih baju-baju longgar. Kedua sahabatnya pun sama mereka tidak pernah menggunakan pakaiaan seksi
Aletha memilih beberapa outer dan beberapa celana uniqlo, hoddie Adidaz, hoddie gucci, dia juga membeli beberapa sepatu seperti Nike, Adidaz, Vans.
Sama dengan sahabat-sahabatnya mereka memilih sepatu tanpan hak. Toh, mereka sudah tinggi. 160 cm sudah bisa di katakan tinggi untuk perempuan Indonesia
"Wah, tumben belanja banyak beib" tanya salah satu assiten pribadi pemilik brand yang Aletha beli
"Iya, Teh santo.. Lagi pengen beli baju-baju aja"
"Eh kok, Teh santo sih, selalu deh kan udah di balik nama eke Teh sinta" dengan nada centilnya laki-laki setengah perempuan itu mengelak ujaran Aletha
Aletha terkekeh. "Iya, Teh sinta yang cantik"
Teh sinta tersenyum manis. "Teh tumben udah nongol" celetuk Reni yang datang dengan banyak belanjaan
"Iya beib, eke kemarin sakit tapi sekarang udah sehat. Lama juga ya eke gak lihat beib Aletha sekarang makin cantik deh" goda Teh sinta dengan senyum centilnya
__ADS_1
Aletha terkekeh mendengarnya, "Teh sinta juga cantik"
"Cantik-cantik punya terong!!" ledekan Dina membuat orang-orang yang mendengar tertawa
Sedangkan, Teh sinta pura-pura cemburut walau sudah biasa di ledeki oleh Dina. "Eke kalo bilang terong-terong!"
"Haha maaf teh, mukanya jangan jelek gitu dong" Teh sinta menoyor jidat Dina
"Kamu ya beib, jelek kamu kalo ledekin eke" dengan centilnya Teh sinta berjalan ke arah kasir meliuk-liuk tubuhnya bak model
Aletha terkekeh geli melihat kelakuan pria setengah wanita tersebut. "Udah lama tahu gue gak pernah nongkrong di mall ini" gumam Aletha lirih
"Kita makan yuk tha, ketempat biasa pasti. Mas Cakra udah kangen banget sama lo" goda Dina
"Mas Cakra masih kerja apa di resto itu?"
Dina memutar bola matanya jengah, "Iya bawel, dia masih jadi koki. Buruan ayuk ah lo gak kangen makanannya?"
Aletha mengangguk dengan semangat mereka ke restoran yang berada di mall tersebut, Lebih ramai dari resto-resto yang lainnya
Aletha duduk dengan teman-temanny di meja pojok, Dina pergi ke dapur koki. Pegawai-pegawai sudah mengenal Aletha, Dina, dan Reni hampir setiap hari ketiga gadis itu pasti makan di restoran ini
"Mas cakra..."
Cakra yang saat itu tenga mempleting masakannya menghentikan aktivitsnya, menatap pelanggan langgannanya
"Eh, Dina. Mau makan apa?" Cakra kembali berkutat dengan makananya
"Mas harus nemuin seseorang"
"Siapa?" enggan menoleh Cakra masih fokus dengan masakannya
"Aletha"
1 kata itu menghentikan aktivitas Cakra, lalu menatap Dina
"Aletha kembali, you're seriously?"
Dina mengangguk lalu menarik lengan besar Cakra, pria tampan bertubuh jakung itu mengikuti langkah gadis tersebut. Pandangannya beralih kepada gadis yang sedang tertawa, gadis itu kini berubah menjadi bidadari
"Aletha...!"
Aletha mengalihkan pandangannya menatap lelaki jakung tersebut, "Hay mas cakra!" Aletha tersenyum tipis
"Lo udah balik ternyata"
"Iya dong kan gue udah lulus" senyum tipis terukir di wajah Aletha
Cakra mengangguk, "Oke gue akan buatkan makanan spesial buat kalian!"
"Diskon dong untuk perayaan Aletha udah balik" pinta Reni dengan tawanya
Cakra mengangguk cepat lalu meninggalkan gadis-gadis itu. "gue seneng lihat ketawa gini tha"
"gue juga seneng bisa ketawa"
Aletha tersenyum getir tidak menyangka jika dirinya harus jatuh ketempat kegelapan yang terdalam.
__ADS_1
"Semesta sengaja membuatmu terjatuh, bukan untuk mendengarmu mengeluh, ia hanya ingin kamu belajar bagaimana bangkit dari rasa sakit" -Aletha
TBC❤