
Budayakan Like Sebelum Baca❤
"Bau gosong apa ini?" Pembantu rumah tangga itu mengendus-endus
Saat mendapati dapur yang berantakan, dan kompor yang menyala Bi Ijah melebarkan matanya
"Astagfirluloh, Non" Bi ijah langsung mematikan kompor, sedangkan Aletha meringkuk
"Non, gapapa?" Aletha malah nyengir
"Maaf bi, Tadi minyaknya meledak" Bi ijah hanya bisa geleng-geleng kepala
"Ada apa, Bi? Kok bau gosong gini?" tanya seorang pria paruhbaya yang baru bangun dari tidurnya
"Eh, Papah. Udah bangun" Aletha hanya bisa tersenyun gigi kuda
"Kamu ya yang bikin kekacauaan dapur?" Aletha menggigit bibir bawahnya mengangguk pelan
Sama halnya Bram geleng-geleng kepala. "Masak apa sih kamu, sampe mau bakar dapur?"
Bram melihat ke sebuah wajan, terdapat beberapa tempet. Namun, warnanya sangat hitam
"Apa ini tha?" Bram tampak bingung dengan makanan di depannya
"Itu tempe goreng pah, Lihat" dengan pedenya Aletha membalikan tempenya
Bram terkejut dengan bentuk tempe yang dibuat putrinya, "Tempe kok mukanya item begini"
Aletha kembali nyengir. "Sebenarnya, Aletha mau masakin papah. Tapi ternyata goreng tempe aja susah, soalnya tadi minyaknya kena tangan Aletha, pah"
Bram hanya bisa geleng-geleng kepala, membuat Aletha sedih. "Papah gak suka ya kalo Aletha masakin, Papah?"
"Enggak gitu, tha. Papah malah khawatir kalo dapurnya kebakar terus kamu kena api gimana? Udah sekarang kita masak berdua"
Seketika mata Aletha berbinar, "Beneran papah mau masak sama Aletha?"
Bram mengangguk. "Bi, siapkan bahan-bahannya ya"
"Iya, Tuan"
Bram memasang celmek di tubuhnya, Aletha memperhatikan papahnya. Dengan lihainya pria paruhbaya itu memotong-motong sayuran, seperti wortel, kubis, dan ubi-ubian. Lalu dengan tidak takutnya Bram menggoreng daging, tempe, dan tahu
"Papah ternyata hebat masak ya!" puji Aletha
Sembari masak Bram tersenyum mendengarnya. "Mamah, Kamu dulu sering ajarin, Papah"
"Wah, sayang ya Mamah gak sempet ajarin Aletha"
"Kan ada papah sama Kak adnan"
Aletha mengkerutkan keningnya. "Emang, Kak adnan bisa masak?"
Bram terkekeh lalu memasukan irisan-irisan sayurannya. "Kakakmu dulu sering bantuin, Mamah masak"
"O, Iya pah. Papah udah lama gak ketemu Pak kyai, Pak kyai titip salam sama Papah"
__ADS_1
Bram lalu mengaduk supnya, "Besok lusa papah kesana deh,"
Aletha tersenyum, lalu membantu Bi ijah menata piring-piringnya ke meja makan. Bram pun datang dengan beberapa makanan yang tampak menggiurkan
Bram memasak sup ayam, ayam goreng, tempe dan tahu goreng, dan sambal bawang. Makanan sederhana kesukaan Almarhum mamah Aletha
"Emmm, enak banget sih masakan, Papah"
Bram tersenyum melihat putrinya makan dengan lahap. "Mamah kamu juga suka banget sama sambal"
"Berarti, Aletha. Sama dong sama mamah?"
Bram tersenyum kecut, "Ya, itulah alasan papah tidak pernah mencari wanita lain. Bagi papah sosok Ayu sudah ada di diri kamu Aletha"
Aletha tersenyum lalu melanjutkan makannya. "Papah, nyuruh gue buat lupain Ustadz yusuf. Dia sendiri aja sampe sekarang gak lupain mamah! Papah gak adil banget" gerutu Aletha di dalam hati
"Ekhm, Kamu sudah hubungi Kakak kamu?" Lamun Aletha buyar karena pertanyaan Bram
"Belum sih, Pah. Kakak suka susah di hubungi"
Bram mengangguk, "Jika suatu saat kita pindah rumah ke rumah yang lebih sederhana apa kamu bersedia Aletha?"
Aletha terdiam, Lalu mengangkat suara. "Kalo, Aletha. Dimana pun tempat tinggalnya asalkan aman untuk tempat berteduh di kala panas dan hujan"
Bram tersenyum kecut
"Maafkan, Papah nak. Mungkin besok kamu tidak dapat merasakan kemewahan lagi"
****
Dan langsung di sambut Cakra, "Assalamualaikum, Aletha" sapanya
"Waalaikumsallam, Mas cakra. Gue telat ya?"
Cakra tersenyum, lalu menggeleng. "Lo gak telat kok, Ini bajunya gue baru tahu kalo lo mau kerja disini"
Aletha menerimanya. "Makasih, Mas. Kalo gitu gue duluan ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Aletha lalu masuk ke ruang ganti, mengganti pakaiaan seragam pelayan di restoran ini. Setelah itu mulai melaksanakan pekerjaannya
"Anterin ke meja nomer 12 ya tha"
Aletha mengangguk, lalu nampan meletakan piring yang sudah di hias Cakra. "You can do it!" Cakra memberikan Aletha semangat
Aletha tersenyum lalu berjalan menuju meja pesanan. "Ini makanan dan minumannya silahkan di nikmati"
"Aletha?"
"A--arjuna??"
Aletha tampak terkejut dengan yang di layani kali ini adalah teman kampusnya. "Lo ngapain kerja tha?"
"gue cuma mau cari uang dengan keringat gue sendiri" sahut Aletha acuh
__ADS_1
"Keterlaluan, ini pasti karna penipuan itu dan Ayah yang selalu menagih hutang. Keluarga Aletha pasti sedang krisis keuangan" batin Arjuna
"Gue pamit, kalo ada apa-apa panggil aja" Aletha hendak pergi. Namun, tangannya di cekal oleh Arjuna
Aletha menatap tangannya, Arjuna pun melepaskan pegangannya. "Sory, gue cuma mau ngomong sama lo"
"Hmm, sory jun. Gue gak bisa gue mau balik kerja. Permisi"
Arjuna hanya bisa menghela nafas membiarkan Aletha pergi, Arjuna yang sudah tak berselera meninggalkan restoran itu
Mengendarai mobilnya menuju rumah Ayahnya, Mobil Arjuna harus terjebak di lampu merah yang panjang. Pandangannya beralih kepada gadis berwajah asia dengan seorang pria
"Pria itu?"
Tin Tin Tin
Klakson dari belakang membuat Arjuna memacu mobilnya. Tak lama Arjuna sampai di mansion besar milik Ayahnya
Kedatangannya di sambut oleh pelayan-pelayan. Arjuna menggunakan lift untuk keruang kerja Ayahnya
Masuk tanpa mengetuk pintu sudah menjadi kebiasaan Arjuna. "Ahahaha, Anakku memang tidak pernah sopan"
"Ayah tersisa berapa bulan, Pak bram mengembalikan hutang-hutangnya?" tanyanya tanpa basa basi
"3 bulan lagi"
"Ck. Bisakah, Ayah ikhlaskan saja uang itu?"
Willy mengkerutkan keningnya menatap tajam Arjuna. "Enak saja, Ayah itu sudah membantu, Pak bram. Dan dia wajib membayar hutang"
"Ayah, Apa ayah tidak kasian dengan keluarganya. Beliau memiliki seorang putri yang harus kuliah, sampai-sampai putrinya rela bekerja menjadi seorang pelayan di restaurant, Ayah."
Kini, Willy. Menatap tajam putranya, "Katakan pada, Ayah! Apa hubunganmu dengan putrinya, Pak bram?"
glek
Arjuna menelan air liurnya. "A--arjuna gak punya hubungan apa-apa"
"Kamu itu tidak pandai berbohong, Arjuna. Katakan saja kamu pasti memiliki rasa bukan sama putrinya, Pak bram?"
Arjuna terdiam lama, lalu Willy kembali mengangkat suara. "Jika kamu mengakui perasaanmu, Ayah akan membantumu menikah dengan putrinya, Pak bram"
Arjuna masih terdiam, mencoba menimang-nimang. "Tapi yah.... A--arjuna"
"Kamu suka kan?"
Arjuna mengangguk pelan, Willy tertawa terbahak-bahak. "Tenanglah putraku, Ayah akan membuat gadis pujaan mu menjadi milikmu. Secepatnya akan menjadi milikmu"
"Dia mencintai orang lain, Yah..."
Ujaran, Arjuna. Menghentikan tawa Ayahnya. "Lalu apa masalahnya? Siapa kekasih gadismu itu? pasti kamu jauh lebih tampan darinya"
Arjuna hanya bisa tersenyum tipis
"Akhirnya...."
__ADS_1
TBC❤