Jodohku Ustadz Pesantren

Jodohku Ustadz Pesantren
#41


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😈


"Ren, Kita ke demarga dulu ya?"


Reni mengangguk menyetujuhi perintah Aletha. Reni lalu memacu mobilnya untuk ke demarga dimana tempat pesawat itu terjatuh


Tak lama mereka sampai di demarga, tempat itu sangat sepi. Karna tidak banyak yang tahu adanya tempat indah tersebut


"Kalian disini aja, gue gak akan lama" Ketiga teman Aletha mengangguk


Lalu, Aletha berlari kecil menuju demarga. Aletha memandangi luasnya lautan


"Assalamualaikum, Ustadz yusuf. Ustadz apa kabar? Maafin, Aletha udah gak pernah kesini. Kata, Reni. Lautan indonesia itu saling menyatu jadi Aletha doain Ustadz dari pantai ancol" Aletha tersenyum getir, air bening yang di tahannya juga menetes


"Gak ngerasa udah 7 bulan kita gak ketemu, tepatin janjinya kok lama banget sih? Oh iya Aletha tadi ke toko bunga, Saya ada beli mawar merah buat Ustadz. ini untuk orang yang sudah menghilang lama. Saya gak akan berhenti berharap karna saya yakin keajaiban itu ada" Aletha lalu mengusap air matanya


Byur


Sebaket bunga itu di lempar ke tengah laut, lalu terbawa arus air cerah terasebut. Aletha tersenyum tipis, Lalu membalikan badanya


Baru beberapa langkah menuju mobil


Bruk


Aletha terjatuh orang yang menabraknya malah meninggalkannya begitu saja, Aletha menatap punggung pria itu


"Ustadz yusuf? tapi parfumnya berbeda, tapi kenapa punggungnya sama?"


"Woyy!! ngapain lo dudukan disitu?" lamun Aletha buyar karna teriakan Adit


Aletha lalu bangkit dari duduknya, mendekat ke mobil Reni. Setelah itu duduk di samping Dina


"Gusy, Kalian lihat cowok yang nabrak gue tadi?" Aletha tampak antusias, ada terbesit keyakinan jika itu adalah Yusuf


"Iya, Lihat tapi dia pakai masker, sama topi kita gak bisa lihat jelas" sahut Dina antusias


"Gue ngerasa itu, Ustadz yusuf! Ya walaupun parfumnya beda, tapi punggungnya sama banget sama, Ustadz yusuf" Aletha berceloteh panjang lebar


Reni menatap dari kaca spion, "Punggung laki-laki kan sama semua tha, Contohnya Adit, gini-gini punggungnya juga lebar dan tegap"


"Nah kalo jadi sepupu sekali-kali muji-muji gue dong!" Adit tampak bangga dengan senyum gigi kudanya


Reni menoyor jidat adik sepupunya, "Gue cuma jadiin lo contoh!"


Adit mengusap jidatnya, "Tapi, tha. Lo ngapain tadi ke demarga, Lo ngomong apa?" tidak menghiraukan perkataan Reni, Adit malah bertanya kepada Aletha

__ADS_1


Aletha yang di tanya malah melamun, Adit hendak menanyakan hal lagi, Namun langsung mendapat isyarat dari Dina untuk diam


Mendengus kesal Adit lalu menatap jalanan, 45 menit mereka sampai di Pondok pesantren An-nur


Aletha menatap Pondok pesantren tersebut, banyak perubahaan. Ada beberapa bangunan baru, Mushola juga lebih besar, sudah 7 bulan Aletha tidak pernah datang


Aletha turun dari mobil di susul ketiga temannya. Kedatangannya membuat sorot para Santri dan santri wati, Bagi yang senior pasti sudah mengenal Aletha. Namun bagi yang junior mereka berpikir Aletha adalah Santriwati baru


"Assalamualaikum, Fiki" salam Aletha saat mengetahui Fiki tengah menyapu halaman depan.


Meski sudah lulus sekolah, Fiki memutuskan untuk tetap tinggal di Pesantren. membantu bersih-bersih contohnya


"Waalaikumsallam, mbak Aletha. Weh apa kabar mbak? udah lama gak pernah dateng" Fiki tampak senang kini melihat Aletha lebih segar


"Maaf ya gue sibuk kuliah akhir-akhir ini, Oh iya Fik. Pak kyai ada?"


Fiki mengangguk cepat. "Ada ada di ruangannya mbak"


Aletha tersenyum mendengarnya, "Makasih, Fik. Gue duluan ya Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Disusul ketiga temannya Aletha berjalan menuju ruangan Pak kyai. Pondok pesantren sekarang lebih luas, pikir Aletha


Di ruangan Pak kyai, ternyata Pak kyai tengah membaca kitab suci Al-qur'annya


Aletha mengetuk pintu terlebih dahulu


"Assalamualaikum"


Pak kyai menghentikan aktivitas bacanya, lalu menatap ke pintu berjalan lalu membukanya


"Waalaikumsallam, Loh Aletha?"


****


"Ternyata, Pak kyai. Masih merawat danau ini"


Aletha menatap luasannya danau, kenangan-kenangannya bersama Yusuf terlintas di pikirannya. Setelah berbincang di ruangan Pak kyai, Aletha ingin melihat danau belakang Pesantren. Ketiga teman Aletha juga sibuk memutari Pondok pesantren


Tak lama pria paruhbaya itu datang, membawakan 2 cangkir teh


"Di minum"


Aletha tersenyum kepada Kyainya tersebut. "Pak kyai, Saya mau cerita"

__ADS_1


Pak kyai mengangguk, "Ceritakan saja jika kamu siap cerita"


"Jujur, Pak kyai. 7 Bulan ini saya belum bisa melupakan Ustadz yusuf, apa Ustadz yusuf itu masih hidup?"


Pak kyai terdiam sesaat, lalu mengangkat suara. "Saya tidak tahu karna saya bukan tuhan. Namun, ini juga sudah 7 Bulan. Kamu tidak apa jika ingin masih mencintai Yusuf, Namun kamu ini perempuan Aletha. Kelak kamu juga akan mempunyai suami, Tidak tahukan siapa jodohmu?kamu bisa menyimpan Yusuf di hati kirimu, dan suami mu di hati kananmu"


"Saya tahu, Pak kyai. Tapi saya belum siap saja, saya butuh waktu, saya akan terus mencoba. Saya juga tidak akan pernah melupakan Ustadz yusuf saya akan terus mengenangnya"


Pak kyai tersenyum tipis. "Memang, Aletha. Terasa menyakitkan jika harus ditinggalkan karna kematian"


Aletha merasa heran dengan nada bicara Pak kyai, "Pak kyai pernah merasakannya?"


"Pernah, dulu saya memiliki istri yang cantik. Di hari melahirkannya saya harus kehilangan istri dan anak saya"


Aletha ternyuh mendengarnya, air matanya juga ikut menangis. "Maka dari itulah kamu pasti mendengar istilah Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan" imbuh Pak kyai


"Pak kyai, mengikhlaskannya?"


Pak kyai mengangguk. "Cukup lama saya berusaha melupakan istri saya, setelah 5 tahun saya menikah dengan Umi Khadijah, dan ternyata itulah jodoh saya yang di kirimkan tuhan"


Aletha terdiam, lalu Pak kyai melanjutkan ucpannya. "Hubungan lama itu tidak menjamin jika dia adalah jodohmu"


"Benar Pak kyai, saya sekarang tahu" Suara Aletha lirih namun Pak kyai dapat mendengar itu


"Tidak apa, saya dulu seperti kamu. Tidak mau dengan siapa pun, malahan saya berencana gak mau punya istri"


Aletha tersenyum tipis, Lalu sekilas Aletha mengingat tentang pria yang tak sengaja menabraknya


"Oh iya, Pak kyai. Saya tadi tidak sengaja di tabrak seorang pria, dia seperti Ustadz yusuf, tubuhnya tinggi, tegap. Tapi parfum pria itu berbeda dengan yang sering di gunakan Ustadz yusuf" tutur Aletha semangat


Pak kyai tersenyum. "Mungkin karna kamu sangat merindukannya, banyak para pria berbadan tegap dan tinggi, yang penting kamu jangan lelah berdoa"


"Saya akan terus berdoa agar tuhan memberikan keajaiban"


Pak kyai tersenyum tipis. "Saya juga terus mendoakan, Yusuf. Yusuf itu dulu anak yang badung"


"Benarkah, Pak kyai? Apa dia dulu sangat nakal?" Aletha tampak semangat


"Benar, dia lebih dari kamu. Selalu bolos solat, tidak pernah mengaji. Kerjanya tidur terus di asrama, kerjaannya cuma berantem sama santri yang lain"


Aletha tertawa keras. "Beneran, Pak kyai? Ustadz yusuf kaya gitu?"


Pak kyai mengangguk, sedangkan Aletha tertawa, "Kalo Ustadz yusuf udah dateng, Saya akan ledekin Ustadz dengan Kartu AS ini"


"Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri, dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta"- Author

__ADS_1


TBCā¤


__ADS_2