
Karena kami menimbulkan suara berisik, adik ku Maheera datang ke dapur.
“Ada apa kak? Yah? kenapa kalian berdua ribut sekali?” tanya adik ku seraya mengucek matanya.
“Gini Maheera, katanya ayah mau menggali makam ibu, tolong bantu yakinkan ayah, agar ayah mengurungkan niatnya.” ucap ku dengan mimik wajah memohon. Adik ku tertegun sejenak mendengar ucapan ku.
“Aku setuju dengan ayah, aku juga rindu ibu kak, memangnya kakak enggak rindu ibu?” ujar adik ku dengan polosnya, aku enggak tahu, adik ku mengerti akan yang dia ucapkan atau tidak, yang jelas sekarang aku kalah akan suara.
“Tuh, adik mu saja setuju, baiklah ayah akan letakkan peralatan ini ke dalam mobil, nanti jam 02:00 kita berangkat ke makam, kamu juga harus ikut Khadijah, temani ayah untuk memantau warga.” ucap ayah seraya berlalu dari dapur.
“Maheera, kamu tahu enggak orang yang sudah mati itu, tidak boleh berada di dunia karena tempatnya sekarang adalah alam barzah.” ucap ku dengan memegang kedua pundak adik kecil ku itu.
“Aku tahu kok kak tapi aku rindu ibu, dan tadi malam aku mimpi sama ibu, ibu terlihat kurus, menangis meminta pulang, katanya disana dingin sesak dan gelap, seandainya kakak yang disana, pasti Maheera akan bawa pulang juga, lagi pula Maheera heran, kenapa orang mati harus di kubur kenapa tidak di awetkan saja, seperti di film-film kak?” aku tak tahu apa benar Maheera mendapatkan pengetahuannya itu dari apa yang dia tonton, atau memang ada yang mengajarinya.
“Maheera, manusia itu asalnya dari tanah, jadi kalau sudah mati harus kembali ke tanah,” ucap ku seraya meninggalkan adik ku sendiri di dapur.
“Setelah tamat SD, Maheera tidak boleh masuk SMP, lebih baik masuk pesantren, agar dia tahu ilmu agama dan hal-hal yang tidak boleh di lakukan, hah!!.. aku harus cek apa saja yang di tonton Maheera, jangan sampai fikirannya yang polos tercemar oleh tontonan yang belum mencakup usianya.” aku pun bergegas ke kamar Maheera, untuk memeriksa isi kamarnya.
Di dalam kamar Maheera ada sebuah meja belajar yang di atasnya terletak leptop yang bisa memutar DVD, lalu ku buka laci belajarnya, alangkah kagetnya aku saat melihat banyak sekali koleksi film horor 21+ dan 18+ nya, bukan hanya itu, terdapat pula beberapa kaset film psikopat, aku tak habis fikir, bagaimana kedua orang tua ku membebaskan adik ku yang masih kecil menonton apapun yang ia mau.
Saat aku menggeledah laci kedua meja belajarnya, aku mendapatkan sebuah kain putih.
“Inikan pocong ibu?” gumam ku.
Kriet...!!
“Kak? Ngapain di kamar Maheera.” Kemudian aku menoleh ke arah adik ku yang tengah berdiri di belakang ku.
“Kamu, ngapain simpan tali pocong ibu?” tanya ku.
“Oh, kata tetua desa, itu dapat mengobati rindu kita pada orang yang telah pergi, nanti aku akan buat sebagai gelang tangan, dan kalau tali pocongnya di rendam ke air putih, lalu airnya di minum, aura kecantikan kita akan keluar lo kak, kakak mau coba?” tak ku sangka, adik yang selama ini ku anggap masih seperti balita, ternyata sudah beranjak remaja, atau dia saja yang terlalu cepat dewasa.
__ADS_1
“Maheera, kamu jangan percaya apa yang di katakan tetua desa, kalau kamu rindu, kirim surah pendek sama ibu, dan kalau mau cantik, kamu pakai skincare, bukan minum air tali pocong! Itu namanya syirik Maheera!” aku menghardik adik ku, yang menurut ku telah sesat.
“Iya ya, sana keluar aku mau tidur dulu, nanti kan masih mau temani ayah jemput ibu.” sebelum meninggalkan kamar adik ku, ku ambil semua koleksi filmnya.
“Kakak juga suka ya nonton horor?” tanya adik ku dengan wajah senang.
“Suka, tapi Maheera film ini di peruntukkan untuk orang dewasa, bukan anak kecil seperti kamu, leptop mu juga entah apa isinya, sekali lagi kakak lihat kamu nonton beginian, kakak sita leptop mu!” setelah cukup memberi nasehat pada adik ku aku pun kembali ke kamar ku.
pukul 02:00 aku terbangun setelah mendengar ada yang mengetuk pintu kamar ku.
Tok tok tok!!
“Kak, kak bangun, ayah udah nunggu di mobil tuh,” aku mengucek mata ku yang masih sepat.
“Iya!” sahut ku dari dalam kamar, sebelum keluar, aku terlebih dahulu mengganti baju.
“Lama bangat,” ucap adik ku yang telah sedia dengan setelah baju kaos hitam dan celana jeans warna coklat.
“Ayo, ayah udah nunggu kan?” ucap ku seraya berjalan menuju mobil yang telah terparkir di depan gerbang rumah.
“Wah, ayah sudah memprediksikan semuanya,” batin ku.
Sesampainya kami ke area pemakaman umum, kami bertiga pun turun, ayah memarkirkan mobil di bawah pohon beringin yang rindang tanpa ada penerangan.
“Kalau parkir disini lebih aman, lagi pula pusara ibu mu lebih dekat kalau dari sini jalannya.” ucap ayah, jujur hati ku sangat takut berkunjung malam-malam ke perkuburan, yang siang saja begitu horor buat ku.
Ayah memberikan kami berdua 2 buah senter untuk menerangi jalan.
Ku sorot jalan setapak sempit yang akan jadi pijakan kami menuju kuburan ibu, begitu pula dengan adik ku Maheera yang berdiri di belakang ku, kaki ku makin lama makin kuat getarannya, bulu kuduk ku merinding, suara jangkrik begitu keras di telinga mengiringi perjalan kami di tempat yang keadaannya sangat gelap.
“Khadijah, berikan senter mu pada ayah, ayah mau lihat nama nisannya satu persatu.” ucap ayah yang berdiri di depan ku tanpa sedikit rasa takut, aku pun memberikan senter itu pada ayah, saat ayah sibuk mencari nama ibu, ku lirik adik ku yang berada di belakang ku, tak ku sangka ia sama seperti ayah beraninya.
__ADS_1
“Ada apa kak? Jangan pasang wajah takut begitu dong, namanya orang mati enggak akan hidup lagi, jadi enggak usah takut.” ucap adik kecil ku yang mencoba menenangkan ku.
“Nah, itu dia!” seru ayah, akhirnya kami menemukan makam ibu.
“Khadijah, kamu lihat area sekitar ya, takutnya ada orang, dan Maheera, tolong senter ke arah ayah mencangkul.” Ayah membagi tugas kami masing-masing, aku pun memegang senter seraya melihat kesana kemari.
“Khadijah, kamu matikan saja senter mu takutnya ada yang lihat dari kejauhan.” sesuai instruksi ayah, aku pun mematikan cahaya senter ku, dan mulai mengawasi area sekitar.
Ayah ku pun mulai menggali tanah liat yang sudah mengeras, saat kami sibuk dengan tugas kami masing-masing, tiba-tiba angin kencang berembus, dan seekor burung gagak hinggap di pohon kamboja, tepat di belakang nisan ibu.
uwak wak wak wak....!!
Gagak itu terus berkicau, entah apa artinya, bulu kuduk ku semakin merinding, jantung ku berdegup kencang, aku hanya memohon ampun pada Allah, atas apa yang kami lakukan.
Uwak wak wak..!!
Awalnya hanya satu gagak sekarang berdatangan banyak gagak entah dari mana memenuhi ranting-ranting pohon kamboja.
Semua burung gagak yang ada di pohon menimbulkan suara berisik yang melengking di telinga.
Lailahaillallah Muhammadurrasulullah
Lailahaillallah Muhammadurrasulullah
Lailahaillallah Muhammadurrasulullah
Aku terus berzikir, berharap Allah melindungi kami, tak lama adik dan ayah ku pun ikut berzikir mengikuti ku.
Ku lihat ayah masih berjuang untuk apa yang ia inginkan, dan para burung gagak masih terus berkicau tidak karuan.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu