KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXX (Saranjana)


__ADS_3

Namanya Saranjana, gadis berusia 20 tahun, cantik dan juga baik hati.


Hari ini dirinya resmi di persunting oleh pemuda tampan tinggi kekar bernama Ardi yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua darinya.


Meski itu pernikahannya hasil perjodohan, tapi Saranjana merasa sangat bahagia.


Hari ini, adalah pertama kalinya bagi Saranjana menampakan kaki di rumah suaminya yang berada di desa Tulungai, yang jaraknya memakan waktu 5 jam dari rumah orang tuanya.


Rumah tua berbahan kayu yang terletak jauh dari pemukiman warga, yang di sekitarnya adalah hutan belantara, itu adalah tempat tinggal Ardi, yang kini di isi berdua dengan Saranjana.


Meski begitu, Saranjana tak memiliki keluhan apapun, sebab Ardi yang baik hati sudah mencukupi segalanya.


Malam harinya, Saranjana terbangun dari tidurnya, saat ia melihat ke dinding, jam telah menunjukkan pukul 02:00 dini hari, lalu Saranjana melihat ke sebelahnya, ternyata Ardi sang suami tidak berada di sampingnya.


“Kemana mas Ardi pergi?” gumam Saranjana, seraya beranjak dari atas kasur.


Padahal malam ini adalah malam pertama mereka, namun karena kelelahan, Saranjana tertidur, seingatnya suaminya juga rebahan di sebelahnya, tahu-tahu saat bangun sudah tidak ada.


Saranjana yang kini keluar kamar mencari keberadaan Ardi.


Setelah lama mencari, ia mendapati Ardi sedang rukuk di halaman rumah yang keadaannya temaram, mendongak ke pohon beringin besar yang ada di hadapan Ardi.


Saranjana tak mengerti, mengapa Ardi berbuat demikian, lalu perlahan Saranjana mendekat.


Tab! Saranjana memegang pundak Ardi, yang seketika membuat Ardi tersadar.


“Sayang.” Ardi yang terlihat bingung memegang tangan istrinya yang berada di pundaknya.


“Mas ngapain rukuk disini? Apa leher mu tidak sakit mas?” tanya Saranjana.


Namun Ardi tak dapat menjawab apapun, dirinya pun bingung mengapa ia berada disana.


“Ayo kita masuk.” ajak Saranjana pada Ardi.


Keesokan harinya, saat Saranjana membalik ikan mas yang sedang ia goreng, tanpa sengaja ia melihat dari jendela kaca yang tepat di hadapannya, ada sosok pria berdiri di antara pepohonan yang ada di belakang rumah mereka.


Saranjana yang tak punya fikiran negatif pun mengabaikan hal itu dan lanjut membalik ikannya yang sebentar lagi akan matang.


Setelah selesai, Saranjana menata hasil masakannya di atas meja makan.


Lalu ia beranjak ke kamar untuk membangunkan suaminya.


“Mas, mas, bangun mas.” Saranjana mengelus lembut puncak kepala suaminya. Yang tak lama Ardi pun terbangun dari tidurnya.


“Sayang, ada apa membangunkan ku?” tanya Ardi.


“Ayo kita makan dulu mas.” seru Saranjana.


“Kau saja yang makan, aku tidak lapar sayang.”


“Tapi....”


“Sudah, aku mau tidur dulu, nikmati makanannya ya Sayang.” karena Ardi menolak, akhirnya Saranjana makan sendirian di meja makan.


“Masa mas Ardi enggak lapar? Sepulang dari rumah orang tua ku, mas Ardi belum makan atau minum sedikit pun.” ucap Saranjana pada dirinya sendiri.


Pada malam harinya, Saranjana yang ingin buang air kecil terbangun dari tidurnya, saat ia lihat ke sebelahnya, Ardi suaminya ternyata tak ada bersamanya.


Saranjana pun melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 02:00 dini hari.


Saranjana yang memang sudah terdesak untuk buang hajat, buru-buru keluar kamar menuju kamar mandi, yang letaknya ada di belakang rumah mereka.


Saat Saranjana keluar melalui pintu dapur, tiba-tiba ada sekelebatan hitam melintas secepat kilat di hadapannya.


“Hah!” ia yang kaget sontak memegang jantungnya.


“Apa itu tadi?” Saranjana bertanya-tanya dalam batinnya.


Suasana malam yang gelap dan mencekam, sempat membuat hati Saranjana gentar untuk meneruskan hajatnya.


Namun karena sudah di ujung tanduk, Saranjana mengumpulkan keberaniannya berlari menuju toilet yang di belakangnya adalah hutan belantara.

__ADS_1


Saat ia sedang asyik-asiknya buang hajat, tanpa ia sadari, ada sepasang yang mengintipnya dari celah pintu kayu toilet.


Setelah selesai, Saranjana keluar dari dalam toilet, ketika ia akan masuk ke dalam rumah, ia teringat akan Ardi.


“Enggak mungkinkan, mas Ardi ada di depan pohon itu lagi?” gumam Saranjana.


Namun, karena penasaran, Saranjana mencoba mencek ke halaman rumah, benar saja, ia melihat Ardi dengan posisi rukuk mendongak ke pohon beringin yang rimbun.


Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri saking takutnya, ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.


Lalu dengan cepat Saranjana menghampiri suaminya.


Tab!


“Mas! Ngapain lagi disini? Ada apa mas?” tanya Saranjana penuh selidik.


Karena penasaran akan yang di lihat suaminya, Saranjana pun berdiri tepat di bawah pohon, lalu mendongak, namun Saranjana tak melihat apapun.


“Kamu lihat apa mas di atas?”


“Eng-enggak, enggak ada sayang.”


Saranjana yang tak mengerti membantu Ardi berdiri rukuk nya.


Retek! Terdengar bunyi tulang punggung Ardi saat akan berdiri. “Mas, ayo kita masuk.” Saranjana memapah suaminya masuk ke dalam rumah.


Pagi harinya, setelah selesai memasak Saranjana pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya.


“Mas, ayo bangun mas, makan dulu.”


“Um...??” Ardi membuka matanya.


“Ayo, makan dulu mas, dari kemarin mas belum makan.” ujar Saranjana.


“Aku enggak lapar sayang.” ucap Ardi, yang membuat Saranjana mengernyit.


Pada malam harinya, Saranjana sengaja tidak tidur untuk menyelidiki suaminya.


“Ya ampun, ternyata aku ketiduran.” saat Saranjana melihat ke sebelahnya seperti biasa Ardi sudah tak ada di sampingnya.


Lalu ia pun bergegas keluar rumah, tak lupa membawa sebuah senter.


Di luar, ia sudah melihat suaminya dengan posisi seperti biasa.


Lalu ia tepuk punggung suaminya, dengan kencang.


Puk!!


“Hah!” Ardi terkejut.


“Ngapain kamu disini?” tanya Ardi.


“Seharusnya aku yang tanya, ngapain mas disini setiap malam?” tanya balik Saranjana.


“Aku enggak tahu, ayo kita masuk ke dalam.” ajak Ardi padanya.


“Baik.” ucap Saranjana, Ardi melangkah terlebih dahulu.


Lalu Saranjana yang belum menemukan jawaban atas keanehan yang ia alami pun mencoba masuk ke dalam pohon beringin yang sangat rimbun.


Tek!


Saranjana menekan tombol on senternya, ia arahkan cahaya senter ke atas pohon beringin, selanjutnya ia sorot kesegala arah, namun ia tak menemukan apapun.


Saat ia ingin balik kanan, ia terpikir ingin mencoba posisi Ardi yang biasa ia lihat.


Lalu Saranjana rukuk, meletakkan kedua tangannya di lutut, lalu senter ia masukkan ke mulutnya.


Lalu perlahan ia mendongak, deg deg deg deg! jantungnya berdetak kencang.


“Hah!” buru-buru Saranjana menjauh dari pohon beringin itu, dan berlari ke arah jalan raya, keluar dari pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Saranjana berlari dan terus berlari di kegelapan malam dengan membawa senter sebagai penerangan.


Hampir 2 jam ia berlari, karena merasa cape ia pun berhenti.


“Hah.. hah.. hah..” nafasnya memburu karena lelah dan ketakutan.


Saat ia melap keringat di keningnya, ia kaget bukan main.


Karena posisinya sekarang masih ada di depan pohon beringin.


“Enggak, enggak mungkin.” Saranjana mundur perlahan, sampai ia menabrak sebuah tubuh.


“Hah!” deg deg deg deg deg!!


Jantungnya kembali berdetak kencang, keringat dinginnya bercucuran deras, saat ia menoleh ke belakang, ia melihat ternyata itu adalah Ardi.


“Enggak-enggak.” batin Saranjana.


“Kenapa enggak masuk ke dalam rumah? Kenapa malah terpaku melihat pohon ini?” tanya Ardi.


Saranjana tak mau masuk ke dalam rumah, namun Ardi memegang erat tangannya dan memaksanya masuk ke dalam.


“Siapa dia sebenarnya? Apa dia mas Ardi yang sebenarnya? Mengapa tadi aku melihat mas Ardi di lilit oleh akar-akar pohon beringin? Tubuhnya terbujur kaku, apa yang sebenarnya terjadi?” batin Saranjana.


Saat telah sampai ke dalam kamar, Saranjana melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 02:02 dini hari.


“Apa ini?” Saranjana makin tak mengerti, pada hal dia sudah menghabiskan waktu yang lama, tapi setelah ia masuk kembali ke rumah, semua hanya berjalan selama 2 menit.


Ardi yang ada di hadapannya pun kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk tidur.


Lalu Saranjana mengambil handphone yang ada dalam tasnya.


Saat ia lihat jam pada handphonenya ternyata benar waktu masih menunjukkan pukul 02:02 dini hari, setelah itu ia melihat ke kalender handphonenya, yang menunjukkan 03 Agustus 2015.


Saranjana memegang jantungnya yang bergetar hebat.


03 Agustus adalah hari pertama ia masuk ke dalam rumah Ardi. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Hingga matahari telah menyingsing, Saranjana tak tidur sedikit pun, lalu ia keluar dari dalam kamar menuju dapur.


Saat ia melihat kembali kalender handphonenya, tetap saja menunjukkan tanggal 03 Agustus.


Ketika Saranjana keluar karena ingin ke toilet, ia mencium bau busuk yang sangat menyengat, saat ia ikuti, bau itu menuntunnya ke dalam hutan.


Ia pun berjalan, dan terus berjalan, hingga langkahnya terhenti, saat ia melihat seorang wanita duduk bersandar di sebuah batang pohon besar yang tingginya menjulang ke langit.


Saranjana tahu siapa wanita itu, air mata ketakutan seketika mengalir.


Ya, itu adalah Saranjana, duduk dengan masih memakai kebaya hijau dari ibunya, itu adalah baju yang pertama kali ia pakai menuju rumah Ardi.


Ia menangis sejadi-jadinya, ia yang melihat seluruh tubuhnya telah di lahap belatung merasa ngeri sendiri.


“Akh!!! Akh!!” Saranjana berteriak sekencang-kencangnya.


Lalu dari belakangnya ada suara yang berkata “Selamat, kau telah resmi menjadi warga halus Tulungai, Ardi suami mu telah meninggal beberapa hari sebelum ia datang melamar mu, yang menggantikannya adalah aku, hahahaha.”


Saat Saranjana menoleh ke belakangnya, ternyata itu adalah makhluk hitam berbulu, tinggi besar, mata merah menyala, dan memiliki taring panjang hingga menyentuh tanah.


“Enggak, enggak mau!” Saranjana menangis histeris.


“Hahaha...., kau takkan bisa kemana pun, sekali masuk ke area kami, harus tinggal bersama kami, seharusnya kau yang akan menikah selidiki dulu latar belakang calon suami mu, bukan malah asal terima, hahahah.” ucap sang Genderuo dengan tawanya yang melengking.


SELESAI.


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir juga ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1



__ADS_2