
Siti adalah seorang gadis desa berparas cantik, bertubuh tinggi semampai yang memiliki rambut hitam sepanjang pinggang.
Ayahnya sudah lama berpulang ke sang khalik, meninggalkan ibunya yang bernama Fatimah yang sekarang berusia 52 tahun, Siti 18 tahun dan kedua adiknya yang bernama Ahmat 11 tahun dan Dini 8 tahun.
Sejak 2 tahun terakhir kesehatan ibu Siti menurun tak dapat lagi bekerja, yang mengharuskan Siti jadi tulang punggung menggantikan ibunya berladang.
Siti yang sehari-harinya terlihat polos dan lugu ternyata memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen api, kekuatan itu sudah turun temurun di klan mereka yang berasal dari negara Api bagian Timur.
Walau begitu Siti hanya akan mempergunakan kekuatannya pada saat genting dan mendesak saja.
Sebab ia terauma akan kejadian di masa lalu, tepat 18 tahun yang lalu, karena kecerobohan yang ia lakukan dalam menggunakan kekuatannya ia tak sengaja membakar desa.
Saat itu salah satu warga meminta tolong untuk membakar rumput ilalang di kebunnya tepat di pinggir desa, Siti yang masih kecil belum dapat menguasai kekuatannya secara penuh, ia pun mengeluarkan api yang teramat besar dan tak dapat mengendalikannya, akibatnya api menjalar sampai ke desa, melalap rumah-rumah warga hingga terbakar hangus menyisakan arang.
Karena kesalahan yang ia perbuat, Siti beserta keluarganya di usir dari desa dan kini tinggal di tengah hutan.
Pada suatu hari yang cerah Siti berangkat menuju ke sawah untuk mencangkul jalan aliran air agar masuk ke sawah mereka.
Disana dia di kejutkan oleh dua ekor burung yang sedang asyik mempermainkan sesuatu. Karena Siti merasa penasaran dia pun mendekat.
Terrnyata ke dua burung itu sedang memperebutkan seekor cacing yang lumayan besar dari ukuran biasanya.
Cacing itu berdarah karena terkena patukan burung, Siti yang merasa iba kemudian mengusir kedua burung yang mencoba memakan cacing tersebut.
Hus... hus...
Setelah kedua burung itu pergi, Siti mengambil cacing itu dari tanah dengan tangannya, lalu membawanya ke bawah pohon kelapa.
“Kasihan, pada hal kamu juga makhluk Tuhan, kenapa mereka ingin memakan mu? Mereka juga pastinya tidak mau di makan oleh manusia, sudah kamu di sini saja ya, sembunyi ke dalam tanah” ucap Yalisa sembari meletakkan cacing itu di tumpukan di daun yang telah mengering.
“Lagian, cacing kok muncul ke permukaan?” Dengan polos Siti berbicara pada cacing itu.
Setelah beberapa saat di bawah pohon kelapa, ia pun menuntaskan tugasnya membuat jalan aliran sungai.
Tak terasa matahari pun mulai turun ke bawah bukit, Siti pun bergegas pulang sebelum gelap, saat ingin pulang ke rumah, ia teringat akan persediaan beras mereka yang sudah habis.
Siti jadi bingung dan merasa sedih, ia pun kembali menyandarkan tubuhnya di batang pohon kelapa sembari duduk, Siti yang belum dapat solusi mulai termenung, fikiran nya tak jelas kemana-mana.
Lalu perlahan dari bawah dedaunan yang sudah kering, cacing yang Siti tolong tadi memperhatikannya.
Karena tak mau berputus asa, Siti berdiri dari tempat duduknya, dan memutuskan segera tetap pulang.
Kemudian tanpa sengaja Siti melihat cacing yang ia tolong tadi masih berada di tempat yang sama.
Lalu Siti memperhatikan cacing itu dengan sangat seksama, karena ia merasa ada yang aneh dengan makhluk itu, si cacing yang menerima tatapan tanpa berkedip itu pun merasa gugup.
“Apa hanya perasaan ku saja ya, Sepertinya cacing ini malu karena aku memperhatikannya?” batin Siti.
Siti yang tadinya resah akan beras yang sudah habis tiba-tiba memiliki sebuah ide.
“Cacing, Maaf ya, aku harus menjadikan kamu umpan, keluarga ku lebih penting dari keselamatan mu, sekarang ayo kita ke sungai memancing.”
Siti pun meraih cacing dari tanah, dan meletakkannya di dalam tas karungnya, menuju tempat yang di tuju, yaitu sungai besar yang letaknya tak jauh dari sawah Siti.
Saat Siti akan mengaitkan cacing ke mata pancing, Siti seolah tak tega, dan Siti juga merasa sayang sekali kalau cacing itu harus mati begitu saja, karena cacing dengan ukuran 25 cm belum pernah ia temukan sepanjang hidupnya. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Siti memutuskan untuk memeliharanya saja.
Karena tak jadi memancing ikan, Siti pun bergegas pulang ke rumah dengan tangan kosong.
_____________________
“Siti kenapa kamu lama sekali pulangnya? ibu tadi resah sekali takut ada apa-apa,” ucap ibunya.
__ADS_1
“Maaf bu, tadi Siti resah karena enggak dapat membawa makanan apa-apa dari sawah, Siti juga gagal mancing bu, maaf bu Siti cuma baya cacing pulang,” tutur Siti.
“Cacing? Memangnya cacing bisa di makan?” ucap ibunya keheranan.
“Enggak bu, aku hanya bawa cacing ini pulang ke rumah karena kasihan, dia tadi di perebutkan oleh dua ekor burung, ku fikir juga lebih baik di pelihara, karena cacing ini begitu langka bu, lihatlah ukurannya yang besar.” serru Siti yang mulai mengeluarkan cacing itu dari tasnya, dan menunjukkan pada ibunya.
“Ya ampun, anak ibu kenapa nih, apa kamu lagi sakit Siti?” Ucap ibunya
“Enggak bu.” Sahut Siti, Seraya berjalan menuju dapur, dan meletakkan cacingnya di atas meja.
Kemudian Siti yang berdiri di depan tungku perapian mereka memasak, kembali merasa murung, karena sudah begitu larut, tapi ia dan keluarganya belum makan apa pun.
Siti yang tak tenang mondar-mandir, lalu beberapa kali ia melihat ke arah cacing yang ia tolong tadi.
“Coba cacing kau bayangkan! Kami makan hanya dari hasil panen saja, dan kalau panen gagal kami tidak akan merasakan betapa enaknya itu nasi panas, dan kalau hal itu terjadi, kami harus bekerja keras setiap hari menombak dan memancing ikan sebagai makanan pokok, Raja pun tak pernah melihat kami ada cacing!”
Hardik Siti seraya mengeluarkan api dari 10 jemarinya.
“Apa kamu tahu, Raja kami itu bermarga Ha, dia membuang keluarga ku karena kesalahan masa lalu yang tidak ku sengaja membakar desa, dan karena kekuatan yang api uang ku miliki, kami tak dapat tinggal di desa kelahiran sendiri.” tutur Siti menceritakan kembali peristiwa masa lalu kepada cacing peliharaannya.
Siti merasa sedih sekali dengan kehidupan mereka, api yang tadinya menyala-nyala, kian meredup mengikuti perasaan Siti. Tiba-tiba adiknya Dini datang menghampirinya.
“Kakak, jangan marah-marah lagi, nanti kakak membakar rumah ini, apa kakak mau binatang di hutan ini mengusir kita juga?” ucap Dini
“Maaf Din, kakak enggak sengaja,” sahut Siti.
Dini yang kasihan pada kakaknya, mulai menghapiri dan mengelus bahu Siti.
“Sudahlah, semua itu hanya masa lalu, Raja kita hanya ingin melindungi rakyatnya kan? lagian, pemimpin mana yang mau rakyatnya terancam?” ucap Dini.
“Iya Din, kamu benar juga, terimakasih sudah menenangkan kakak.” sahut Siti.
Saat mereka berdua sedang asik berbincang, tak sengaja tangan Dini menyentuh benda aneh, dingin dan agak menggelikan di tangannya, saat Dini menoleh untuk mencari tahu apa itu, Dini langsung berteriak.
“Tenang Din, Itu Cuma cacing, enggak berbahaya!” sahut Siti dengan gelak tawa yang keluar dari mulutnya.
“Ca.. cacing kok sebesar itu? Apa mungkin cacing siluman kak?” ucap Dini.
“Bukan, mana ada cacing siluman di dunia ini, kakak menemukannya di sawah, sudahlah, tenang sedikit” tutur Siti.
“Buang saja kak, aku tidak suka sama cacing itu” titah Dini.
“Enggak, aku enggak mau membuangnya, aku rasa ini adalah sebuah keberuntungan, siapa tahu, dengan menolong cacing ini kita dapat berkah.” ucap Siti.
“Kalau di jadikan umpan kail, pasti dapat ikan yang besar” sahut Dini.
Si cacing yang mendengar perkataan Dini langsung menggeliat menjauhi Dini.
“Engfak boleh,” ucap Siti.
“Aku enggak mau tahu, enggak ada tempat untuk cacing ini kak.” Hardik Dini, seraya pergi meninggalkan Siti di dapur sendirian.
“Kamu kenapa Din?” ucap Ahmad yang menuku ke dapur.
“Enggak apa-apa,” sahut Dini.
“kakak, Dini kenapa?” tanya Ahmat pada Siti yang sedang duduk di atas lantai tanah di dapur merek.
“Oh, Itu, dia tidak suka dengan cacing ini!” sahut Siti seraya menunjuk ke arah si cacing.
“Waw! Cacingnya besar sekali kak, tapi, bukannya kakak bawa ikan malah bawa cacing.” ucap Ahmat.
__ADS_1
“Ahmat, hari ini kakak tidak punya rezeki akan ikan, tapi apa salahnya kita menolong binatang malang ini, kita juga harus menyelamatkan makhluk lain gang kesusahan, meski dia tidak sama dengan kita, mengerti?” tutur Siti menasehati adiknya.
“Iya kak, aku mengerti,” sahut Ahmat
“Mat, kamu tidur ya, agar rasa lapar mu tidak terasa” titah Siti.
“Iya kak,”
Ahmat dan Siti berlalu meninggalkan dapur menuju kamar mereka masing-masing.
Sementara si cacing yang Siti tolong mereka tinggalkan di dapur begitu saja.
Ternyata si cacing merasa kasihan terhadap Siti dan keluarganya, yang ternyata serba kekurangan, karena tidak mau jadi cacing yang tidak tahu terimakasih, si cacing mengeluarkan kekuatan ajaibnya.
Si cacing berjuang sekuat tenanga untuk menghidangkan beberapa makanan di atas meja dengan sihurnya, si cacing menggerakkan tubuhnya kiri dan kanan lalu menggelindingkan badannya, seolah sedang melakukan mantera.
Cling!!
Cling!!!
Dari cahaya putih yang keluar bukan makanan, melainkan sebuah gaun putih yang sangat indah.
“Ya ampun, usaha ku sia-sia saja, bagaimana aku akan menolong Siti?”
Si cacing merasa sangat kecewa akan ketidak mampuannya menolong Siti.
Lalu si cacing pun merebahkan badannya di atas gaun indah tersebut.
“Siti maafkan aku,” gumam si cacing.
Pagi harinya saat Siti menuju ke dapur, dia kaget melihat sebuah gaun indah yang berada di atas meja, lalu di atas gaun putih itu ada si cacing yang sedang tidur.
Siti merasa ke bingungan, akan siapa yang membawa baju itu ke dalam rumah mereka.
“Hei cacing, baju siapa ini? kalau ada yang kehilangan, aku tidak mau di tuduh jadi tersangka, yang harus menghadap baginda nanti adalah kamu ya! Tapi.. masa iya cacing menjadi tersangka?” ucap Siti pada dirinya sendiri
“Siti, baru sehari kamu bertemu dengan cacing itu, sepertinya sudah sangat akrab.” ucap ibunya yang baru saja datang ke dapur.
“Enggak bu, coba ibu lihat, inikan baju yang sangat mahal, hanya orang dermawan dan kerajaan yang dapat memilikinya.” ucap Siti, seraya menunjukkan gaun putih yang ia maksudkan.
“Benar juga ya! Tapi, kita bisa jualkan? lumayan, biar kita bisa makan?” usul ibunya memberi ide.
Si cacing yang mendengar ide dari ibunya Siti merasa senang.
“Ternyata ibunya Siti pintar juga,” batin si cacing.
“Siapa yang mau membelinya bu? Yang ada kita akan di bawa ke penjara karena baju ini, belum tuntas kasus pembakaran ku dulu, sekarang jadi kasus maling baju nantinya.” ucap Siti.
“Oh iya, kamu benar juga ya nak,” sahut ibunya.
“Maka dari itu bu, jangan,” ucap Siti.
“Tapi, apa cacing mu ini punya kekuatan ajaib?” sahut ibunya.
“Enggak mungkinlah bu,” ucap Siti.
Tiba-tiba dari belakang mereka Ahmat datang, yang memberi saran, agar baju itu di pakai oleh Siti saja, tidak akan ada yang melihat karena mereka tinggal di tengah hutan.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu