
Hari itu angin berhembus dengan kencang, langitpun kian mendung, Alika mulai bergegas meninggalkan kampus, dia berjalan dengan terburu-buru karena takut akan tertimpa hujan, setelah penuh perjuanhan akhirnya Alika sampai di halte bis.
Benar saja, hujan seketika turun dengan sangat deras, Alika yang merasa lelah duduk di bangku halte.
Tak berapa lama, datang seorang pemuda yang berlari dari arah utara menuju halte tersebut. Sang pemuda melempar senyum kepada Alika, Alika pun membalas senyuman itu.
“Hai, sudah lama disini?” tanya si pemuda.
“Hum... belum juga, silahkan duduk dulu?” ujar Alika.
“Terimakasih, nama saya Pino, nama kamu siapa?”
“Ah iya, nama saya Alika.” tak lama bis datang.
“Nari Pin.” mereka berdua masuk ke dalam bis, dan duduk di tempat duduk yang sama, tak sengaja Alika melihat gelegat Pino yang tidak tenang dari tadi, seperti mencari sesuatu.
“Kenapa Pin?”
“Ah.. tidak, hanya saja sepertinya dompet ku terjatuh,” ucap Pino.
“Oh.. begitu ya? Ya sudah, biar aku saja yang bayar ongkos mu.” ucap Alika, sontak Pino tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya.
“Masa iya sih Alika, inikan pertemuan pertama kita, saya juga tidak kenal kamu sebelumnya, jadi enggak enak,” ucap Pino berbasa-basi.
“Enggak apa-apa, santai saja, lagian kitakan harus saling membantu,” terang Alika seraya tersenyum. Itulah awal perkenalan Alika dan Pino.
Pada Hari selasa, Alika dan Pino berjanji akan bertemu di taman kota jam 14.00, tapi Pino tak kunjung datang, Alika yang tak sabar mengambil telpon genggamnya.
📲 “Halo, sayang kamu ada dimana sekarang? Inikan sudah jam 15.00, kamu kemana saja sih, lama sekali,” Alika.
📲 “Maaf sayang, aku masih dirumah,” Pino.
📲 “Kenapa masih di rumah? Kamu tidak lupa janji kitakan?” Alika.
📲 “Enggak dong sayang, tapi.. tahu sendirilah sayang, aku ngak punya ongkos kesana.” Pino.
📲 “Apa? Ongkos?” Inikan baru awal bulan, kok bisa kamu tidak punya uang?” Alika.
📲 “Maklum sayang, keluarga di kampung belum kirim uang,” Pino.
📲 “Ya sudah, kamu sekarang ke ATM ya, aku akan transfer ke rekening kamu.” Alika.
📲 “Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik, sampai jumpa sayang,” Pino
Setelah nenutup telephon dari sang pacar, tiba-tiba dari dapur Sarah datang membawakan sate untuk Pino.
“Siapa sayang?” tanya Sarah.
“Hehehe.., adik ku sayang, dia pemarah sekali,” jawab Pino.
“Pemarah? Memangnya kenapa sayang?”
“Dia minta uang praktek sayang, kalau tidak ada, nilainya akan jelek sayang, aku pusing sekali, gaji ku kan kecil sayang di pabrik,” terang Pino.
“Wah, kasihan sekali sayang,” ujar Sarah.
“Sayang?” Pino mendekati Sarah.
“Ada apa?” jawab Sarah.
__ADS_1
“Aku boleh tidak meminjam uang, aku mohon sekali sayang? Demi adik ku,” ucap Pino.
“Ya sudah sayang, memangnya perlu berapa?”
“Rp. 2000.000 sayang.” Sarah terkejut dengan nominal yang di minta Pino, namun karena cinta, dengan berat hati, Sarah akhirnya memberikan uang tersebut, Pino yang kegirangan memuji-muji Sarah serta memeluknya.
Pino pun pamit pulang pada Sarah, kemudian menuju taman kota. Alika yang sudah lama menunggu merasa kesal saat melihat Pino yang ada di ujung jalan.
“Galo sayang!! Naaf ya sudah lama menunggu.”
ucap Pino seraya mengecup pipi Alika.
“Kok bisa selama ini sih? Memangnya kamu ke ATM yang mana? Di dekat apartemen kamukan ada.” ucap Alika.
“Akukan harus mandi sayang, lagian aku tidak punya pulsa untuk menghubungi mu,” terang Pino.
“Apa! Yang ku kirim 3 hari lalu sudah habis? Itu pulsa 300.000 loh!” ucap Alika tak percaya.
“Iya sayang, adik-adik ku kan meminta pulsa, jadi aku membaginya pada mereka, sayang nanti kirim lagi ya?” Alika yang buta akan cinta tak dapat menolak permintaan Pino, karena Alika sangat mencintai pria tak berdana itu.
“Oke sayang.” kemudian, Mereka berdua pun jalan-jalan di taman kota.
Pino dan Alika banyak mengambil photo kebersamaan mereka. Pasangan kekasih itu juga menaiki beberapa wahana yang ada di taman kota.
“Kita naik perahu yuk? Sepertinya seru sekali mengitari sudut-sudut kolam ini,” ajak Alika.
“Kamu kan tahu sayang, aku tidak punya uang,” ucap Pino.
“Ya ampun sayang, kamu tenang saja, aku yang bayar.” merekapun naik perahu menyusuri kolam yang sangat luas tersebut.
Di tengah keseruan itu, tiba-tiba telepon genggam Pino berdering.
📲 “Halo, ada apa? Apa? Sekarang, tidak bisa, aku lagi sibuk, nanti saja ya?” Pino.
📲 “Baiklah, aku segera datang,” Pino.
“Kepana sayang?” tanya Alika.
“Tante menelepon ku, katanya aku harus pulang, Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menemani mu lagi.” dengan mimik wajah menyesal, Pino mencium kening Alika.
“Tapi kita belum menaiki wahana yang lain, dan belum makan juga sayang,” ucap Alika.
“Lain kali ya sayang.” Pino mendayung perahu ketepian dengan buru-buru sekali. Tanpa merasa bersalah ia meninggalkan Alika di tempat itu seorang diri.
Sesampainya Pino di tempat yang di tuju, Kania duduk sambil menangis, Pino yang melihat peristiwa tersebut mendekati Kania, dan memeluknya, Pino juga mengusap air mata Kania dan bertanya apa yang terjadi, dengan nada terbata-bata Kania mengatakan bahwa dirinya telah mengandung dua bulan, Pino yang mendengar hal tersebut tak henti menggelengkan kepala, dia juga terus bertanya kenapa hal itu bisa terjadi kepada Kania.
“Sayang, kamu mau bertanggung jawabkan?”
“Bagaimana ya? Kamu tahu sendiri bahwa adik ku di kampung ada sembilan orang lagi, bagaimana aku bisa membiayai mu Kania, lagian kamu bodoh sekali!” pekik Pino.
“Kenapa kamu jadi menyalahkan aku seorang? Kamu juga salah sayang, pokoknya kamu harus bertanggung jawab,” ucap Kania
“Kamu gugurkan saja anak itu, sudah ya aku pulang dulu.” ucap Pino.
“Kamu jangan pergi! Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, aku akan mendatangi orang tua mu.” ancam Kania
Seketika Pino naik pitam mendengar hal itu, dan mengangkat kerah baju Kania.
“Kalau kamu sampai mengadu pada orang tua ku, bukan hanya janin ini yang akan gugur, kamu juga akan ikut menyusul anak mu.” Pino menghempaskan badan Kania ke kursi dan pergi meninggalkan Kania begitu saja.
__ADS_1
Setahun setelah kejadian itu, Alika berkunjung ke apartemen Pino, kebetulan Pino saat itu tidak berada di rumah.
Saat Alika masuk, ia melihat ruangan itu sangat kotor sekali, kemudia Alika membersihkan semua ruangan, serta mencuci pakaian-pakaian Pino
Setelah pakaian Pino kering, Alika menyetrikanya, dan memasukkannya ke dalam lemari, Ketika akan memasukkan baju Pino kedalam lemari, Alika melihat lima buah handphone di dalam lemari sang kekasih, Alika merasa heran sekali. Diapun mengambil semua handphone tersebut, namun batraynya kosong. Alikapun mengacuhkannya.
Alika kemudian beranjak dari kamar dan duduk di sofa, karena lelah, Alika mengatur posisi duduk yang nyaman, di depan sofa ada beberapa tumpukan komik, Alikapun membacanya, lembaran demi lembaran..
Itu cukup menghibur hatinya, saat akan meletakkannya kembali, Alika melihat di sampul bagian belakang ada nama Kania Suzy, karena merasa penasaran, Alika mengambil handphonnya dan membuka akun facebook Kania, dan mencari nama Kania Suzy, tapi yang dia lihat adalah photo seorang wanita yang menggendong bayi kecil.
Alika mengklik nama Kania dan melihat photo-photonya, sungguh mencengangkan, Alika melihat photo Pino dengan Kania sambil menggendong bayi.
Alika yang tak sabar, langsung menghubungi Pino, namun nomor Pino tidak aktif.
Perasaan Alika sangat hancur melihat photo-photo tersebut “sudah pasti itu bayi Pino, karena di dalam album ada photo pernikahan mereka, tega sekali dia pada ku, dua tahun menjalin hubungan dengan ku, bisa-bisanya dia berbohong, dasar lelaki tidak tahu malu. selama berpacaran, aku selalu yang membiayai dia dari yang palin besar, sampai yang terkecil sekalipun.” Alika tak hentinya menangis, diapun keluar dari apartemen Pino dan menelepon Pino lagi.
📲“Halo, ada apa sayang?” Pino
📲 “Kamu ada dimana sekarang Pin?” Alika.
📲 “Aku lagi di rumah tante sayang, kenapa ya?” Pino.
📲 “Alamat tante kamu dimana? Aku mau datang,” Alika.
📲 “Jangan sayang, aku saja ya yang datang ke rumah mu! Tapi aku butuh ongkos sayang,” Pino.
📲 “Ya sudah, kamu datang saja ke taman kota sekarang,” Alika.
“Baik sayang.” satu jam kemudian, Pino pun sampai ke taman kota, dia melihat mata Alika berkaca-kaca. Dengan mimik wajah iba, Pino memeluk Alika dan menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa sayang? Kenapa kamu bersedih?” tanya Pino.
“Enggak apa-apa, ngonong-ngomong berapa ongkos mu kesini?”
“Hehehe... hanya Rp. 50.000 sayang,” Alika langsung mengeluarkan semua uang dari dompetnya. Fengan perasaan emosi, dia melemparkan uang tersebut ke wajah Pino.
“Apa segitu cukup? Atau masih kurang? Butuh berapa? Katakan saja!” hardik Alika
Sontak Pino merasa malu, karena semua orang memperhatikan mereka. “apa-apaan sih kamu? Ada masalah apa?”
“Ada masalah apa? Hah!!! Apa kamu tidak sadar dengan semua kejahatan mu!! Dasar keparat kau! Mempermainkan ku seenaknya!”
Tak cukup dengan makian, Alika memukul Pino dengan tasnya, menampar wajah Pino dengan cacian yang tak jelas lagi arahnya. Pino menghempaskan Alika ke tanah.
“Teganya kamu pada ku, Dasar keparat!” teriak Alika.
“Wanita gila! Apa yang sebenarnya terjadi pada mu? Menjijikkan sekali keadaan mu!” pekik Pino.
“Gila Ya! Aku memang gila, gila karena mu! Diam-diam kamu berselingkuh! Dan sudah mempunyai anak!bSebenarnya kamu hanya ingin uang ku kan bangsat!”
“Aku tidak butuh uang mu! Pungut semua uang mu ini, dasar kurang ajar! Jangan membuat aku malu!” pekik Pino.
“Tidak butuh? Yang membeli apartemen mu adalah aku, yang membiayai mu sehari-hari adalah aku, ongkos mu kemana-mana aku, mana pernah kamu mengeluarkan biaya sedikit pun! Kamu bilang tidak butuh, hah! Kmu lebih dari butuh pada ku parasit!” Alika terus berteriak histeris di keramaian orang yang memperhatikan mereka berdua.
“Dasar wanita jalan*, tak punya harga diri!” pekik Pino.
“Apa! ******? Tak punya harga diri Apa kamu tak sadar, siapa yang jalan* dan tak punya harga diri? Ingat, harga dirimu selalu bisa aku beli, bahkan nyawamu untuk bertahan di kota ini ada pada ku, kamu lebih rendahan dari pelacu*! Yang tahunya hanya terima bersih dari jerih payah orang lain.” Alika mengeluarkan kartu ATMnya, dan melemparkannya ke wajah Pino.
“Nih! Ambil itu, masih banyak, cukup untuk membeli rumah baru untuk keluarga mu pengemis.”
__ADS_1
Alika pergi setelah meludahi wajah Pino, Pino tak dapat menegakkan kepala di tengah sorotan halayak banyak. Semua orang menggelengkan kepala dan mencemoh Pino.
Selesai